
Hyatt Regency Valencia - Santa Clarita, Los Angeles - California.
Austin dan Cindy menapakkan kaki di halaman luas hotel itu, setelah keluar dari dalam mobil yang sudah terparkir baik di tempat yang disediakan.
Keduanya berjalan bergandengan melewati beberapa gapura dedaunan yang melengkung sepanjang jalan menuju pusat acara.
Cindy begitu cantik dengan dress outer polkadot berwarna putih dan inner hitam polos setinggi lutut. Rambutnya tergerai begitu saja. Dia nampak sederhana namun elegan.
Austin sama santainya. Hanya kemeja panjang berwarna biru yang digulung hingga ke sikut, memantaskan celana chino abu di panjang kakinya yang beralas sepatu hitam.
"OZTIN!"
Keduanya sontak menghentikan langkah untuk menyorot arah dari mana suara panggilan itu berasal.
Ada di sebelah kiri. Saat memanggil Austin, orang itu tengah asyik berbicara dengan seseorang di dekat tiang.
Austin menyipitkan mata untuk memperpejas penglihatannya. Ditelisiknya sosok yang jelas seorang pria itu lebih detail.
"Ron," desisnya kemudian.
"Yeaahh!" Pemanggil yang ternyata adalah laki-laki itu berseru senang. Langkah cepat membawanya ke hadapan Austin dan juga Cindy. "Wuhuuuuu! Kemana saja kau, Sialan!" Pria itu langsung menerjang Austin dengan pelukan.
"Wooee! Lepaskan!" Austin berusaha mendorongnya sekuat tenaga. "Kau bisa membunuhku, Bajingan!"
Pria itu adalah Aaron Smith. Salah seorang teman yang menjadi alasan Austin bersedia datang ke tempat ini. Kedekatan yang luar biasa dulu, membuatnya langsung mengenali Austin sekali lihat walau dari jarak yang tak dikatakan dekat, namun tidak juga terlalu jauh.
"Apa kabarmu, Ozt?!" tanya Aaron. Tangannya berpindah merangkul pundak Austin. Refleks saja dia bergerak mengajak Austin menyusun langkah memasuki sebidang pintu yang sudah terbuka lebar. "Kau sangat berbeda!"
"Apanya yang berbeda?" tanya Austin. "Aku masih belum mau memakai celanadalam di luar celana!"
"Haha!" Aaron tergelak seketika mendengar lelucon itu. "Mungkin saja kau suka celanadalam bergambar monyet," balas pria kurus itu tak ingin kalah.
"Aku lebih suka Smurfette."
Aaron makin terbahak. Bahagia sekali dia rupanya.
"Ayo temui Walter! Dia akan senang melihatmu yang luar biasa ini!"
__ADS_1
Austin tak banyak cakap. "Baiklah."
Eh, tapi tunggu! Austin sontak menghentikan langkah, menoleh ke belakang dengan gerak cepat. Dia melupakan sesuatu.
"Di mana dia?!" Seraya mengedarkan pandang berkeliling badan.
Keadaan di dalam ternyata sangatlah ramai.
Aaron ikut menghentikan langkah. "Kau mencari siapa, Ozt?"
"Istriku!"
Pria itu sontak melengak, Aaron terkejut. "Istri kau bilang?" Wajahnya mengernyit heran. "Apa dia baru saja mengatakan istri?"
Aaron adalah manusia yang ahli menyibukkan diri, terlebih di kebun anggur milik ayahnya. Dia tidak suka menonton televisi, memerhatikan gosip di media sosial, atau kabar apa pun yang menurutnya tak perlu dan hanya menyita waktu. Jadi pernikahan Austin yang ramai di Indonesia, tak sampai ke telinganya. Walter atau siapa pun tak juga ada yang mengabarinya.
Bukan mengobati keingintahuan sahabatnya, Austin malah melangkah pergi. Melerai kerumunan orang seraya terus berkeliling mencari-cari.
"Ostin!" Aaron mengejar, dan berhasil digapainya karena Austin sudah berhenti. "Siapa sebenarnya yang kau cari?!"
"Aku bilang istriku!" sergah Austin tak sabar.
Austin sudah berjalan lagi, dia kembali mengikuti dengan langkah imbang.
"Hey! Apa kau Austin yang dulu tak pernah bicara?!" Seorang pria gendut mencegah langkah Austin dan juga Aaron di dekat pintu keluar. Beragam desert memenuhi piring yang dia bawa.
"Aku tak menyangka kau jadi pembalap hebat di negeri orang!"
Otomatis terhenti kegiatan mereka mencari Cindy, Austin teralihkan oleh sosok tambun itu.
Seulas senyuman tanpa minat dihadiahkan Austin. "Ingatanmu bagus, Russel. Apa kau mulai suka mengkonsumsi kepala kakap berbumbu kunyit?" selorohnya.
"Haha!" Russel tertawa. "Ya, kau benar. Kepala kakap yang enak. Sedikit kutambahkan mentega untuk kutaruh di atas roti buatan Bibi Talula. Lumayan membuat gigiku bertambah kuning."
Bibi Talula adalah ibu kantin sekolah yang sering menggratiskan makanan untuk Austin, karena si bule pernah membantu suaminya memperbaiki motor mereka yang rusak hingga rapi kembali. Motor malang yang diseruduk anjing tetangga.
"Itu bagus," Austin menanggapi Russel. "Jadi kau tak perlu lagi memasang gigi emas seperti impian masa kecilmu!"
__ADS_1
Aaron membekap mulut menahan tawa. Olokan itu dilontarkan teman-teman mereka pada Russel saat SMA, tapi Austin sedikit pun tak pernah terlibat di antaranya. Aaron takjub sendiri menyikapi perubahan Austin. Dia tak menyangka Austin sekarang lebih konyol dari yang dia duga. Kekonyolannya dulu hanya tentang memanjat pagar sekolah untuk menghindari Mrs. Dorothy dan Mr. Champ, guru fisika dan matematika. Selebihnya dia diam dan kembali dingin seperti boneka salju.
Russel tertawa lagi. "Kau masih mengingat lelucon sialan itu rupanya. Jadi katakan padaku, bagaimana bisa kau menjadi pembalap terkenal dan menikahi wanita cantik bernama Cindy itu?!"
Ya, setidaknya Russel lebih baik dari Aaron tentang hal demikian.
Karena itu Aaron terpaksa melengak lagi. Russel yang kerjanya makan saja tahu mengenai pernikahan Austin. Bahkan dengan lantang menyebutkan nama wanita yang sudah resmi menjadi istri sahabatnya itu tanpa salah.
"Cindy." Mendengar nama Cindy disebut-sebut, ingatan Austin kembali lagi dan mulai tersadarkan. Bukankah dia sedang mencari istrinya?
Aarggh! Russel sialan!
"Maaf, Russel, aku harus per--"
"Hey! Ada yang tercebur ke kolam renang!"
Belum sempat Austin melanjutkan kalimat pamitnya pada Russel, teriakan seorang wanita menginterupsi.
Orang-orang yang hadir di acara itu berhambur semua ke arah kolam renang. Aaron ikut terbawa, namun tak sampai lari, diikuti Russel si gendut yang sibuk dengan piringnya di belakang. Tapi Austin tak peduli, dia tetap ingin mencari Cindy. Arahnya berbelok ke bagian taman. Berharap mungkin saja Cindy ada di sana.
Lainnya ....
"Ada apa di sana?!" tanya Aaron pada salah seorang pelayan pria yang kebetulan berpapasan.
"Seorang wanita tercebur ke dalam kolam, Tuan!"
Tak ada dialog lagi, mendengar informasi itu, Aaron dan si gendut gegas menuju tempat yang diramaikan.
Semua orang yang hadir mengelilingi kolam. Ekspresi mereka mulanya bermacam-macam. Ada yang kasihan, ada yang mengolok dan ada juga yang tertawa karena merasa terhibur. Tapi itu sementara, karena menit selanjutnya mereka berubah panik. Wanita di dalam kolam tak juga menampakkan diri ke permukaan setelah sekian saat berselang. Itu di luar kewajaran.
"Heyy, kau tak apa?!"
BYURRR!
Seorang pria berperawakan tinggi tegap dan juga tampan datang ke bibir kolam, bertanya cepat, dan langsung menceburkan diri setelah melepas jas hitam yang dia pakai, untuk mengecek keadaan orang yang tercebur itu.
Aaron dan Russel baru saja sampai. Perhatian mereka satu arah sama--dengan semua orang.
__ADS_1
Pria di dalam kolam muncul ke permukaan beberapa detik kemudian. Wanita yang tercebur sudah berada dalam gendongan depannya dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Walter!" seru Aaron. Ternyata pria penyelamat itu adalah Walter. Teman yang berniat Aaron dan Austin temui beberapa saat lalu.