
Santa Clarita California.
Rumah berlantai dua lingkungan pinggiran kota itu dibeli oleh Austin dan Andrew sebagai tempat singgah saat mereka ke Amerika, baik untuk menziarahi makam orang tua atau berlibur mengisi waktu luang.
Austin dan Cindy ada di sana sekarang untuk kali pertama sebagai pasangan suami istri.
Rumah orang tua mereka yang terjual dulu, anggap saja ini gantinya.
Pagi yang cerah.
Austin baru saja membuka mata saat jam menunjuk angka 7.15.
Kepalanya menoleh ke kiri ranjang yang ia rebahi. Kosong. Cindy sudah tak ada di sana, selain bantal putih yang tergolek rapi dengan sebuah ikat rambut kecil berwarna biru tertumpang di atasnya.
Austin mengucek mata seraya menegakkan tubuh. Kaki diturunkan menapak lantai, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk setidaknya menggosok gigi dan mencuci muka.
Selanjutnya ia keluar kamar dengan bertelanjang dada setelah sesaat bercermin melihat kondisi wajahnya yang tetap edan--tampannya.
Menuruni tangga mencari keberadaan Cindy yang ia yakini ada di taman depan, bermain bersama sekelompok bunga seperti hari kemarin saat mereka baru saja tiba di rumah ini.
Nyatanya tidak. Di sana pun tak ada Cindy. Austin mengerut kening dengan pandang tetap mengedar.
Jadi di mana Cindy?
Keadaan terasa lengang. Pembantu yang biasa mereka pekerjakan akan datang esok harinya.
Langkah kaki berikutnya membuat pria itu tersenyum.
Suara denting alat masak terdengar nyaring dari arah dapur. Cindy pasti di sana.
Benar.
Hotpants dipadu kaos crop dengan bagian dada lebar dipakai istrinya. Rambut dicepol sembarang membuat Austin tertarik untuk mendekat. Aroma wangi meski belum mandi selalu membuat Austin tergoda.
Cindy terperanjat, ketika sepasang lengan kekar seseorang tiba-tiba melingkari pinggangnya yang ramping tanpa gumpalan lemak. Wajahnya menoleh sontak ke samping. Otomatis membentur hidung mancung suaminya.
“Kamu!”
Austin menanggap dengan cengiran kuda tanpa melepaskan lingkar peluknya. “What are you cooking, Babe?”
Cindy mendengus. Spatula di tangan yang mengaduk sayuran di atas wajan masih dia mainkan. “Jangan ganggu. Lepasin aku, gak!" Jawabannya lain dengan pertanyaan Austin.
“Gak mau!”
Austin tahu, istrinya masih merajuk karena masalah kemarin terhubung Claire. Tapi dia tak akan minta maaf, karena memang merasa tak ada salah. Cindy hanya merajuk pada egonya sendiri.
Tak akan mudah melunturkan keras kepala istrinya, Austin tahu itu dari sang kakak ipar--Sigi.
“Iihh! Nanti masakan aku gosong!” Cindy menyemprot, mulai meradang.
__ADS_1
Namun ....
TREK!
Austin malah mematikan kompor, menunda makanan yang belum matang dimasak Cindy.
Sekali tarikan, tubuh wanita itu naik ke gendongangannya, spatula di tangan terpelanting lalu mendarat di bawah lantai.
“Kamu mau apa?!” Cindy berontak. “Lepasin!”
“Aku mau ngasih pelajaran karena kamu cuekin aku semaleman!” terang Austin. Kaki panjangnya terus melangkah tanpa merasa berat dengan tubuh Cindy dalam gendongan.
Sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat sebuah tungku perapian, Austin membawa istrinya ke dalam sana.
Permadani berbulu rasfur premium terbentang di bawah sofa yang ditujukan khusus untuk menonton televisi.
“Kita ngobrol di sini," kata Austin. Cindy tetap dia tahan dalam dekapan menduduki lahunannya.
“Aku belum mandi, Austin.” Kembali wanita muda itu menggeliut ingin melepaskan diri. Mendorong dada polos berbulu yang sebenarnya sangat menggoda. Hanya saja Cindy ingin dulu memasang harga.
“Kemana panggilan sayang kamu, huh?!" hardik Austin, sedikit tak suka dengan sapaan itu. Dari panggilan 'kakak', Cindy merubahnya menjadi 'sayang'. Austin yang meminta, karena tak ingin dianggap tua. Mana bisa suami menjadi kakak! Tak setujunya kala itu.
Wajah Cindy dia tarik hingga berhadapan dengan wajahnya, jarak yang terbentang sisa beberapa inci saja. “Kamu masih marah, hmm?”
Cindy terdiam.
Aslinya dia hanya kesal saja. Benar-benar tak suka Austin menoleh wanita lain, terlebih ada pancaran tak biasa yang ia tangkap dari seorang Claire.
Embus napas pria itu menerpa wajahnya hingga menembus ke pori-pori.
“Aku tu cuma sayangnya sama kamu. Gak usah marah. Claire cuma bagian masa lalu yang bahkan gak pernah ada di kepala aku.” Austin menjelaskan dengan suara halus. Helai teracak rambut Cindy di depan wajah dirapikannya ke balik telinga. “Percaya sama aku, 'kan?”
Cindy tercenung sekian saat. Mencari secuil saja kebohongan dalam mata Austin. Tapi dia tak menemukannya. Merasa rasa kesalnya mulai turun, dia membuang wajah. Sayangnya lagi-lagi, bayangan Claire yang cantik dan menatap suaminya dengan memuja penuh, tetap saja membuat ulu hatinya berdesir. Terlebih Austin sama menyadari walaupun dia bertingkah tidak peduli sama sekali. Cindy merasa dipermainkan.
Beruntung sekarang hatinya bisa menerima. Dia percaya Austin takkan mudah untuk tergoda.
“Sayang ....” Suara bujuk Austin terdengar lagi.
Tangannya kembali menarik wajah Cindy untuk menghadap. Bertemu tatap saling menusuk pandang hingga bayangan keduanya ada di bola mata masing-masing.
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Cindy. Terkunci dan mulai redup.
Gemas dengan itu, Austin menggunakan cara liarnya.
Dalam satu detik, bibirnya sudah maju untuk mengecup bibir istrinya yang mungkin masih kesal itu. Lalu dilepasnya di lima detik kemudian. Kembali ditatapnya wajah Cindy yang kini berubah merah. “Ngomong dong, Sayang," pelan suara Austin, lebih terdengar seperti desis.
Cindy terpekur sekian saat, lalu bersuara beberapa detik kemudian, “Aku cuma gak suka kamu deketan sama cewek lain,” ungkapnya. "Aku maunya kamu cuma liat aku aja."
Austin tak tahan untuk tak terkekeh. Cemberut lucu wajah Cindy membuatnya semakin gemas.
__ADS_1
Tangannya naik ke wajah. Dibelainya pipi Cindy penuh sayang. "Yang penting sayang aku cuma kamu, 'kan?" Mereka masih berleseh dengan posisi Cindy di atas pangkuan Austin di depan tungku perapian.
Dari jendela terbuka, angin menerobos ke dalam ruangan memberi sejuk. Suasana damai seketika.
Di antara itu, dua sejoli yang mula berseteru, sudah berlari dari tema itu. Kini mereka asyik saling mengecup, membelit lid4h bertukar saliva penuh rasa. Mata terpejam menikmati melodinya semakin dalam.
Leher Austin dibelit Cindy dengan kedua tangan, sedang sebelah tangan Austin betah di antara pinggang dan lainnya naik ke tengkuk istrinya yang polos karena rambut naik tinggi dibuat cepol.
Dalam dua menit gerak berubah menjadi rebah, semakin jauh menggugu hasrat. Berguling-guling saling berkait erat, tak ingin lepas.
Lantai kosong jadi sasaran busana yang dilempar dengan sembarang. Suara-suara menggelora menerjang kebisuan.
Pada akhirnya waktu menukar resah dengan peluh des4h tanpa amarah.
Time skip----------
Sore harinya.
Puas bergulat mandi keringat, Cindy dan Austin tertidur pulas karena lelah. Tak sadar, matahari sudah condong melewati angka dua belas siang.
Wanita itu membuka mata.
Walaupun seluruh badannya terasa remuk karena habis dilahap Austin hingga banyak ronde digilas, dia tetap memaksa diri untuk bangun. Lengan Austin digesernya perlahan agar terangkat dari perutnya.
Seperti bayi, Cindy merangkak meraih satu per satu pakaian yang tercecer di beberapa titik, lalu mengenakannya.
Austin yang tel4njang dia selimuti dengan taplak meja yang menganggur di atas meja. Haha!
Setelah terkikik lucu, Cindy melanting pergi menuju dapur untuk melanjutkan acara masaknya yang tertunda sekian waktu.
Tapi kebetulan, saat langkahnya melewati ruang depan, bell pintu ada yang menekan. Tiga kali banyaknya.
Cindy terpaksa berbelok langkah.
Pintu dibukanya.
KLEK!
Seperti mendapati hantu, Cindy terkejut.
Wajah Claire menguasai penglihatannya.
“Hai," wanita cantik itu melambai tangan dengan senyuman riang. “Senang bertemu denganmu lagi.” ----Menggunakan bahasa Inggris, ya!
“Kamu ... ada apa kamu ke sini? Bagaimana kamu tahu rumah kami?” cecar Cindy tanpa peduli sapaan hangat wanita itu.
Claire tersenyum tanpa dosa. “Itu bukan masalah, Nona. Ini bukan zaman romawi kuno," ujarnya sedikit bercanda.
Cindy diam.
__ADS_1
“Apa aku tidak ingin kau ajak masuk, Mrs. Bennedict?”