Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 76


__ADS_3

"Keadaan napasnya sudah stabil, Tuan. Beruntung Anda membawanya kemari tepat waktu. Hanya saja, istri Anda belum sadarkan diri."


Austin mengembus napas lega. Keringat bercucur mengolok keadaannya yang sungguh rapuh. "Terima kasih, Suster."


Perawat itu mengangguk kemudian berlalu pergi.


Beruntung lagi, letak rumah sakit tak terlalu jauh dari hotel di mama reuni itu digelar.


Aaron menepuk pundak bidang Austin memberi dukungan. "Dia kuat pasti karena dirimu, Ozt!" katanya. "Dia tak ingin mati dengan cara tak adil. Meninggalkan pria sekeren dirimu, mana rela!" Lalu terkekeh kecil. "Aku pun kalau jadi istrimu, pasti sama--sama-sama tak rela. Kalau mati, kau harus kuajak menemani agar tak kawin lagi dengan yang lain."


Austin menolehnya sesaat, tak berminat menimpal kata. Tak tepat membuat lelucon di suasana seserius ini. Tapi Aaron boleh juga. Austin cukup terhibur sebenarnya. "Terima kasih sudah mau menemaniku, Ron."


"Yeah, itulah gunanya teman."


Keduanya berdiri di depan ruang ICU di mana Jasmine ditangani.


Pintu kaca itu didekati Austin. Dia menempelkan kedua telapak tangannya di sana seperti cicak. Pandangannya lurus menatap Cindy yang terbaring lemah dengan mata terpejam di dalam sana.


Pikiran dan hati Austin mulai disapa penyesalan, karena sampai membuat istrinya berakhir di rumah sakit dalam acara yang bahkan belum resmi dimulai.


Sekaligus ada tanya di sana; Bagaimana bisa dia sampai terpisah dari Jasmine? Tidak mungkin istrinya itu berlalu tanpa izin terlebih dulu padanya, 'kan?


"Aku minta maaf untuk yang tadi!"


Suara itu menyentak Austin dan melengakkan Aaron yang sibuk dengan ponselnya.


"Walt!" Aaron.


Sedang Austin terdiam. Menatap pria itu dengan sirat masih ada kemarahan.


"Saat aku bertanya siapa dia, tidak ada yang mengenalinya. Penampilannya saat memakai baju pengantin dengan yang tadi, jelas berbeda. Aku sungguh tidak tahu dia istrimu, Ozt. Aku melakukannya hanya atas dasar kemanusiaan. Maafkan aku." Walter mengutarakan penyesalannya.


Ya! Cindy memang tidak dikenalkan pada media ketika masih melalui waktu percobaan sebulan itu oleh Austin. Karena dia sendiri menolak untuk dipublikasikan. Pertama kali dia diboyong ke depan kamera oleh Austin, tahu-tahu sudah mengenakan baju pengantin.


Austin masih diam tak menggubris teman lamanya. Arah pandangnya kembali pada Cindy yang masih terbaring lemah.


"Ozt," Walter menegur. Masih berharap maafnya disambut.


Dia sadar apa yang hendak dilakukannya pasti dan sudah jelas membuat Austin atau lelaki mana pun akan marah.


"Tidak apa-apa, Walt! Aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan istriku dari dalam air. Maaf merepotkanmu. Akan kuganti semua baju dan atributmu yang basah."

__ADS_1


Walter melengak mendengar itu, dengan tegas dia mengatakan, "Tidak, Ost! Tidak sama sekali merepotkan. Aku juga tidak ingin kau mengganti apa pun. Aku hanya tak ingin ada kesalahpahaman saja di antara kita."


Mengadakan acara itu semata hanya untuk mengenang kenakalan mereka. Sebenarnya ide makan bertiga bersama Walter pun sudah cukup. Tapi Claire memaksa, bahkan wanita itu juga yang turun soal urusan biaya.


"Kalau begitu lupakan. Sekarang aku ingin tahu apa yang terjadi dengan istriku." Suara Austin terdengar horor. "Apa kau tahu kenapa?"


Aaron mengangguki seraya memandang wajah Walter.


"Akan aku cari tahu. Tetap tenang dan tunggu istrimu sadar. Aku tahu kau sangat menunggu untuk itu. Kita bertemu nanti," ujar Walter.


Austin berbalik hadap dan didapati punggung Walter yang mulai jauh.


"Aku rasa dia tahu semuanya," kata Aaron.


Austin menolehnya, lalu kembali menatap Walter yang kini hilang di balik belokan. Tak ada kata yang dia ucap, semua masih abu-abu.


...*****...


"Apa yang terjadi sama aku, Sayang?" Cindy bertanya dengan suara parau dan lemah, sesaat setelah habis puas Austin mengecupi seluruh wajahnya saking senang dia tersadar. Bahasa Indonesia yang kini dia gunakan. "Ada di mana aku?" Pandangan dia edar ke sekeliling hanya menggunakan kedua bola mata.


Pria itu--Austin, sudah kembali menegakkan badan. Senyum dipasangnya semanis mungkin. "Kamu cuma masuk angin, Babe. Dan ini di rumah sakit."


"Hmm," singkat Austin menyahut. "Jangan banyak pikiran dulu, nanti aja kalau kamu udah baikan."


Cindy tahu, tersirat makna tak sederhana dari balik kalimat Austin. Dia diam, tapi pikirannya mulai bekerja. Tak dia indahkan kata-kata Austin sesaat lalu.


Bayangan ter-skrol panjang di kepalanya tak lama kemudian.


Dia ingat, saat berjalan masuk ke ruang inti acara, seseorang menarik tangannya cepat ke belakang dengan telunjuk ditaruh di depan bibir, pertanda Cindy diminta jangan berisik. Austin diliriknya mulai asyik bercokol dengan teman prianya--Aaron.


Claire. Wanita itu mengatakan ingin melakukan prank untuk Austin karena istrinya tiba-tiba menghilang. Dengan raut senang, Claire nampak yakin dengan idenya. Cindy bahkan sampai menghilangkan mindset tentang kecemburuannya pada wanita itu saking terpukau. Tidak buruk kalau mereka menjadi teman, pikirnya.


Tentang ide prank untuk Austin, Cindy sempat menolak, tapi Claire tetap memaksa dan melontarkan kata-kata yang membuat Cindy mengalah.


Saat itu dia dibawa ke arah kolam renang yang letaknya sedikit jauh dari keramaian acara. Di sana dia dikenalkan dengan teman-teman Claire yang hanya terdiri dari beberapa orang saja. Acara belum dimulai dan kebanyakan masih asyik menyantap makanan di ruang inti. Sekitar kolam renang nampak masih dalam keadaan sepi.


Cindy tak sempat mengatakan kalau dia adalah istri Bennedict. Orang-orang itu juga tak ada yang bertanya.


Di sana Cindy langsung merasa aneh atas sikap teman-teman Claire yang nampak sinis memperlakukannya. Seperti terdoktrin oleh sesuatu yang tidak dia pahami.


"Huhh, pantas saja. Hanya wanita seperti itu."

__ADS_1


Cindy bisa mendengar kalimat bisikan itu. Tapi dia tak ingin berpikir buruk dulu. Mungkin saja kalimat itu tidak ditujukan teruntuknya.


Saat itu Claire berkata, "Mrs. Cindy, kau pasti haus. Aku akan ambilkan minum untukmu. Aku ke dalam sebentar."


Cindy menolak halus, "Tidak usah, Nona Claire. Aku juga ke dalam saja untuk mencari suamiku."


"Jangan, Mrs. Cindy. Biarkan suamimu yang mencari." Claire tetap kukuh dengan idenya.


Sebenarnya Cindy tak suka lelucon ini. Tapi dia mengalah karena ini acara milik mereka. "Baiklah."


Claire tersenyum senang. "Begitu lebih manis. Tunggulah, aku tak akan lama," katanya, lalu melanting masuk ke dalam seperti yang tadi dikatakannya.


Cindy menatap punggung wanita itu. Claire sangat seksi. Kecantikannya pun luar biasa. Sesaat dia sempat ragu, benarkah Austin sama sekali tak tergoda oleh mahakarya seindah itu? Tapi berhasil ditepisnya dan kembali berusaha mempercayai Austin lebih dari apa yang dia dengar dan dia lihat dari orang lain.


Mengesampingkan itu juga pandangan sinis teman-teman Claire di belakangnya, Cindy berjalan sedikit ke depan, menghampiri sebuah patung dengan air mancur di bagian tangan. Dia memandangnya sedikit takjub.


"Hey, Wanita Jalan9!"


Cindy terkejut setengah mati, seseorang tiba-tiba saja menarik punggung bajunya dari belakang hingga dia terhuyung-huyung.


"Dasar wanita kurang ajar! Akhirnya aku menemukanmu, huh?! Bisa-bisanya kau menggoda suamiku! Bernard itu suamiku, kau tau itu, Jal4ng Sialan?!"


Sebelum menjawab, lebih dulu Cindy menegakkan badan yang sempat limbung.


Teman-teman Claire yang berjumlah tiga orang itu mulai mendekat.


"Siapa yang kau maksud, Nyonya?!" Cindy tak mengerti. Dia mengelak cepat saat wanita itu akan memukulnya lagi. "Aku tidak kenal siapa Bernard!"


"Masih mengelak kau, huh?! Lalu saat anakku mendapati kau dengan suamiku bertelanjang di kamar, apa itu hantu?!"


Cindy menggeleng makin tak mengerti. "Kau pasti salah orang, Nyonya! Aku baru saja sampai di sini dua hari lalu!"


"Oh, jadi kau juga menggoda suami Nyonya ini?!" Salah satu teman Claire mencibir. "Luar biasa sekali kelakuanmu, Nona!"


Semakin kebingungan dengan situasi, Cindy tak tahu harus bagaimana lagi. Dia bahkan tak mengenal semua orang-orang itu. "Aku tidak seperti itu. Kumohon kalian percaya."


"Sialan!"


BYURRRR!


C

__ADS_1


__ADS_2