Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 75


__ADS_3

"Bantu aku menaikkan perempuan ini, Ron!" teriak Walter.


Aaron bergegas menuruti. Ditariknya pelan tubuh wanita itu hingga rapi terbaring di bibir kolam.


Walter sudah naik. Kucuran air dari tubuhnya membasahi sekitaran. Dia ikut merendahkan diri untuk mengecek keadaan wanita yang baru saja dia selamatkan. Aaron mengambil posisi di dekat kaki. Sedang yang lain hanya bisa mengerumuni seraya saling melempar kata dengan bisikan.


Rambut panjang dan basah yang menutupi wajah si wanita naas disibak Walter. Dia sedikit terkejut. Menemukan warna Asia di wajah cantik itu. Tapi jelas, wanita ini bukan bagian dari reuni SMA yang dia adakan, Walter menyadari. Tapi ... ada yang menggelitik perasaannya. Melihat wajah ini, seketika dia ingat seseorang di masa lalunya.


"Apa kalian mengenal dia?!" tanya Walter kemudian, mendongak lalu mengedar pandang. Bertanya pada semua orang. Bukan saatnya dia menenggelamkan diri dalam bayangan orang yang jelas tak akan lagi bisa dia temui.


Kesemuanya menggeleng, termasuk Aaron dan juga Russel.


"Walt, denyut nadinya melemah!" seru Aaron setelah memindah posisinya ke samping wanita yang tak sadarkan diri. Pergelangan tangan wanita itu baru saja dia cek keadaannya.


Walter tersentak.


Ditekan-tekannya dada wanita itu untuk mengeluarkan air yang mungkin sudah tertelan. Tidak ada respon. Wanita itu masih diam dengan kelemahannya.


"Coba kau beri napas buatan, Walt!" Russel menyarankan.


"Russel benar! Cobalah, Walt!" Yang lain mendukung dan mengangguki--termasuk si kurus Aaron.


Sekian saat Walter terdiam untuk berpikir. Ada keraguan yang tak bisa ditepisnya. Dia tidak mengenal wanita di hadapannya sama sekali. Tapi bagaimana, wanita itu benar-benar butuh bantuan.


"Ayolah, Walt! Kau yang paling pantas! Jika aku, Russel atau Tody yang memberikannya, aku cemas dia malah langsung mati!"


Yang lain terkekeh-kekeh. Tody adalah sosok kawan mereka yang bergigi obside. Lelaki itu kini berdiri di samping Russel. Dia pemarah, tapi tak berani berekspresi demikian jika yang dia hadapi adalah Walter.


"Jelas saja, Ron. Yang kau, Russel dan Tody makan adalah kepala tikus yang mati terlindas motor seminggu lalu!" Seorang lelaki di kerumunan menambahkan receh. Yang lain kembali tergelak. Melupakan betapa mencekamnya situasi yang dihadapi si wanita yang tercebur.


Namun tidak dengan Walter, kalimat Aaron tadi ditanggapi lelaki itu dengan dengusan dan mendelik, tapi berubah iba ketika kembali menatap wajah cantik yang semakin pucat di hadapannya.


"Walter, ayolah!" Russel kembali mendorong. "Dia bisa mati." Barulah semua ingat itu.


Walter mendongak kemudian berpikir lagi. Dan ....


Baiklah, setidaknya demi kemanusiaan, pikir pria itu pada akhirnya.


"Walt, kenapa harus kau?" Seorang wanita tiba-tiba bersuara. Semua pandangan menyorot dirinya spontan.


Wanita berkacamata tebal itu sontak melotot, lalu membekap mulut, menyadari dia baru saja keceplosan. "Maaf. Aku ke belakang dulu!" Dia melanting pergi secepat yang dia bisa.


Dia Betty. Semua tahu, wanita culun itu suka pada Walter sejak SMA. Sampai sekarang meski dia akan menikah dengan seorang makelar tanah, tetap saja, melihat cinta pertamanya akan mencium wanita lain walau itu termasuk darurat, Betty tetap merasa cemburu.

__ADS_1


"Sudah! Jangan pedulikan si culun itu, Walt!" Aaron bersuara.


Walter terdiam sesaat, lalu berkata, "Baiklah."


Perlahan, kepalanya mulai ia turunkan setelah hidung mencuat kecil milik wanita itu dipencetnya dengan kedua jari.


Semakin dekat, semakin dekat, hingga menyisakan setidaknya dua inci lagi.


Namun ....


"JAUHI ISTRIKU, SIALAN!"


Suara itu menggema keras. Semua terkejut dibuatnya dan berbalik pandang.


Austin muncul dengan wajah kelam membesi penuh amarah.


"Austin!" Russel memundurkan tubuh sedikit takut.


Dia yakin sebentar lagi keadaan akan memburuk.


Dan benar!


"Ozt! Jangan, Ozt!"


DAG!


Aaron gagal menahan. Matanya melotot saking terkejut. Sekali hentak, kaki milik Austin menendang Walter hingga pria itu tercebur kembali ke dalam air.


"Walt! Kau tak apa?!" tanya Aaron.


Walter mengangguk tipis. Diusapnya wajah yang kuyup setelah berdiri kembali di dalam kolam.


Tanpa peduli apa yang baru saja dilakukannya pada Walter, secepat mungkin Austin menyongsong tubuh Cindy yang masih dalam keadaan belum bergerak.


"Cin! Cindy! Sayang!" Tubuh lemah Cindy diangkatnya dalam dekapan. Ditepuk-tepuk pipi istrinya itu penuh cemas yang tak tertolong. "Cindy bangunlah!" Dia merunduk untuk memberikan napas buatan, sedikit dengan emosi terhubung kecemasannya. Berulang kali dilakukannya hal itu. Seraya memompa pula dadanya untuk mengeluarkan air. "Cindy, kumohon, Sayang...." Ketakutan menyergap diri Austin seketika tanpa kendali.


"Seseorang tolong panggilkan ambulans!" Aaron berteriak melihat bagaimana rapuhnya Austin.


Satu orang bergerak cepat dengan ponselnya dan langsung menghubungi ambulans.


Ambulans?!


Tolol!? Menunggu ambulans sama dengan menunggu mati.

__ADS_1


"Siapkan mobil, Ron!" pinta Austin pada Aaron.


Dia semakin kalang kabut. Tubuh Cindy terasa makin membeku.


Aaron berlanting pergi menyanggupi pintanya Austin.


"Cindy Sayang ... bangunlah. Kumohon ...." Dipeluknya erat tubuh menggigil wanita itu hingga baju yang ia kenakan terbawa basah.


Denyut nadinya masih ada, tapi siapa pun pasti yakin, perubahan yang terjadi di waktu berikutnya tak akan baik, mengingat wajah wanita itu semakin pucat seperti mayat.


Semua menatap iba. Austin sudah menangis seraya mulai mengangkat tubuh Cindy untuk dibawanya ke halaman parkir.


Walter berdiri di air terdiam menyikapi pemandangan itu.


"Istri Osten," hatinya berdesis. "Jadi wanita itu istrinya Osten!"


Air yang merendam sebagian tubuhnya ditatap nyalang. Ada reruntuhan tak kasat mata jauh di sanubari. Walter seperti terdepak keras.


Hatinya sempat riang melihat sosok Cindy yang ternyata mirip dengan mantan tunangannya yang meninggal dua tahun silam karena kecelakaan pesawat di Venezuela.


Bodohnya, tadi sekilas Walter sempat berpikir, bahwa wanita itu adalah yang dikirim Tuhan untuk menggantikan Ishita Wang--tunangannya yang mati itu. Entah sejak kapan dia menjadi konyol. Atau cinta memang segoblok itu.


Tapi ya, harus bagaimana lagi. Seribu sayang ... ternyata wanita Asia itu adalah Cindy, istri sahabatnya sendiri yang sangat ingin dikenalnya ketika melihat video pernikahan Austin dengan wanita itu. Wanita yang berhasil mencuri hati si raja introvert. Yang dalam hitungan menit, berhasil juga mencuri hatinya.


Sebenarnya Walter memerhatikan Cindy dari beberapa saat lalu sebelum wanita itu tenggelam ke dalam kolam. Sesuatu penting bahkan tertangkap penglihatannya sebagai saksi kejadian. Itu akan diungkap di waktu berikutnya.


Di saat yang sama ketika Austin akan mengangkat tubuh Cindy untuk dibawanya pergi, Claire datang bersama dua orang teman wanitanya, membawa serta wajah cemas yang entah apa makna sebenar yang tersirat.


"Austin! Apa yang terjadi pada istrimu?!" tanya Claire.


Austin hanya melihatnya sekilas saja, lalu meneruskan niat dengan wajah tetap dalam mode cemas bukan kepalang. Dibawanya pergi tubuh Cindy yang melemas tanpa peduli raut wajah Claire dan lain-lain. Pusat rasa dan hatinya hanya untuk Cindy. Dia akan membawa segera istrinya ke rumah sakit.


Aaron dan Russel mengikuti dari belakang.


Geram wajah Claire menatap kepergian lelaki yang sangat dikaguminya.


"Claire!"


Panggilan itu menarik cepat pandangan Claire ke belakang.


Walter, dengan tubuh kuyupnya sudah berdiri di sana--di belakang Claire.


"Wa-Walter! Ada apa?!"

__ADS_1


Mata tajam Walter selalu berhasil membuat siapa pun terintimidasi, termasuk Claire sendiri.


"Kau harus bertanggung jawab!"


__ADS_2