Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 73


__ADS_3

“Duduklah, aku ambilkan minum.” Tamu adalah raja. Cindy melanting menuju dapur sesegera mungkin untuk mengambil segelas air.


"Iya, terima kasih." Claire menurunkan tubuh duduk mengisi satu bagian sofa kosong yang melingkar di ruang tamu.


Senyuman hangat yang dia pasang seketika berubah kelam, ketika Cindy sudah berlalu dari hadapannya lima detik lalu.


Satu tangannya mengepal ketat hingga urat-urat di bagian itu menonjol kuat. Claire marah bukan tanpa alasan.


Kiss mark di leher Cindy, tidak hanya satu. Begitu otomatis pikirannya tergerak pada hal yang sangat sesak untuk ia bayangkan.


Mereka bercinta!


Claire geram sekaligus sakit dengan itu.


Austin dan wanita Indonesia itu, mereka menghabiskan waktu di satu ranjang yang sama, satu tempat yang sama. Saling mengecup, saling menyentuh, saling berbagi peluh, saling ....


Aaarrggh tidak! Hati Claire menolak keras. Dia tak suka membayangkannya, tapi juga tak bisa menepis semudah inginnya.


Bagaimana bisa dia terlambat? Menyesali lagi.


Kenapa harus ada wanita lain? Sangat benci.


Kenapa Austin tak pernah bisa melihatnya walau sekali saja? Apa yang salah darinya yang jelas begitu sempurna?


STOP!


Kekesalan di wajah Claire berganti senyuman senang, manakala dilihatnya Austin muncul dari suatu arah dengan dada telanjang dan rambut acak-acakan.


“Tuhaan ... bukankah dia sangat seksi?” gumamnya mengagumi luar biasa. Dia ingin memanggil, tapi urung. Sebelah tangannya hanya melayang di udara tepat di depan dada.


Sayangnya Austin tak menyadari keberadaannya. Pria itu lewat saja ke arah yang lurus, menuju dapur.


Tapi tak sampai juga, karena dari arah berlawanan, Cindy pun datang dengan nampan berisi satu gelas minuman berwarna orange untuk tamunya.


Lagi-lagi Claire berganti mimik. Pemandangan indahnya dihalau oleh kehadiran Cindy.


Dari kejauhan terlihat Austin menoleh ke arahnya. Cindy mungkin baru saja memberitahu.


Cepat-cepat wanita itu mengganti ekspresi. Senyum lebar seraya melambai tangan tipis saja pada Austin. "Hai, Aust."


Austin tak banyak respon. Hanya anggukan kecil untuk membalas seadanya.


Cindy mulai kembali berjalan ke ruang tamu menghampiri Claire, menarik Austin untuk mengekor di belakangnya.

__ADS_1


"Silakan diminum, Nona Claire," kata Cindy seraya menaruh gelas itu di depan Claire. Lanjut menurunkan tubuh untuk duduk. Sofa di seberang wanita itu dipilihnya.


"Ada apa kamu ke sini, Claire?" tanya Austin dengan nada datar. Posisi kosong di samping istrinya ia duduki.


Hati Claire sangat tak nyaman sebenarnya, melihat Austin mengecup kuping dan memeluk pundak istrinya dengan tak malu.


Cindy membiarkan itu. Hati jahatnya seketika mencuat ke permukaan. Dia ingin menunjukkan dengan gamblang pada Claire bagaimana Austin mencintainya. Austin adalah milik yang tak siapa pun boleh mengganggu. Rambut yang tadi masih teracak kini diikat rapi seluruhnya demi memamerkan hasil kecupan sang suami yang nyaris menyerupai macan tutul di lehernya yang jenjang.


"Sial!" umpat Claire dalam hati. Tapi terus berusaha ditutupinya demi menjaga harga diri yang sebenarnya sudah terjatuh. Dengan cara tetap tersenyum pamer gigi putihnya. "Umm ... kalian harmonis sekali. Aku jadi iri," katanya seraya menyelipkan helai rambut ke balik telinga.


Claire ini dilihat dari sisi mana pun memang menarik dan anggun. Cindy bisa menilai itu dengan jelas.


Tapi dia bertekad tak boleh sampai mengalah, walau Claire berubah jadi Hulk sekali pun.


"Begitulah. Kami tidak akan menyiakan kesempatan sekecil apa pun untuk tetap seperti ini. Tidak ada membuang waktu demi lain hal, apalagi yang tidak perlu," tutur Cindy terus menekankan dan memanasi. "Ya, 'kan, Sayang?" Pandangan ia hela ke wajah Austin seraya menaikkan satu telapak tangannya membelai pipi pria itu.


"Hmm? .... Ya, Babe?" Austin jelas tak fokus. Entah apa yang ada di dalam isi kepalanya sekarang. Entah kemacetan Jakarta, atau danau di Siberia.


"Kamu gak dengerin aku tadi ngomong apa?!" tanya Cindy sedikit kesal. Diliriknya Claire melalui ekor mata. Wanita itu sedikit terkikik kegelian.


Tapi detik berikutnya ....


"Aku denger kok, Babe. Nanti malem kita lanjut lima ronde lagi. Gitu, 'kan?!"


"Ouh ... umm ... ah, iya. Begitu! Aku bahkan mau lebih dari itu, Sayang." Dikecupnya pipi Austin sekilas saja. Keadaan konyol demikian justru dimanfaatkan Cindy untuk terus melancarkan aksinya membuat Claire kesal.


"Ouh, really?!" Austin terperanjat sampai mengangkat diri dari sandaran sofa. Lilitan jarinya di rambut Cindy dilepasnya seketika.


"Hmm ... sepuluh!" Cindy merentangkan dua telapak tangannya ke depan wajah Austin. "Aku mau sampai sepuluh ronde!"


"Wooooo!"


Di posisinya, wajah Claire memerah padam.


"Shittt!" umpat hatinya. "Drama yang menjijikkan!"


Sesaat dia mengatur napas untuk kembali membuatnya stabil. Tak boleh terlihat konyol di depan dua orang sinting itu.


"Ekhm!" Dia berdeham.


Austin dan Cindy yang sibuk bercokol dan menganggap dunia seolah hanya milik berdua, langsung teralih ke arah manusia di hadapan mereka.


"Oh, ya, Nona Claire. Maaf, kami melupakanmu," kata Cindy tersenyum malu, seolah menyesali. Yang aslinya dia lumayan puas.

__ADS_1


Austin memang pakar kegilaan. Tidak perlu susah payah membentuk skenario, pria itu sudah terbawa nalurinya sendiri.


Claire yang begitu besar teronggok, dianggapnya mungkin hanya seekor semut yang tak terlihat.


"Ahh, tidak apa-apa, Nona Cindy. Mungkin saya datang tidak di waktu yang tepat," ujar Claire tersenyum maklum, merasa tak enak--dari segala sisi.


Cindy hanya membalas dengan anggukan juga senyum sama tipisnya.


Terlihat Claire merogohkan tangannya ke dalam tas yang sedari tadi dia taruh di atas meja.


"Umm ... ini." Sehelai kertas berpita yang cukup tebal, disodorkan wanita itu ke dekat dua pemilik rumah.


"Apa itu?" Kali ini Austin yang bertanya, mewakili Cindy yang juga ingin tahu. Wajah si bule melihat cover benda itu lalu meraihnya. "Apakah ini undangan pernikahanmu, Claire?"


"Ahh, bukan!" Claire mengibas tangan di depan wajah. Menepis dengan tegas apa yang baru saja ditanyakan Austin.


"Lalu?" tanya Cindy.


"Itu undangan reuni SMA angkatan kita, Aust," jawab Claire.


Austin memerhatikan lebih detail, dibacanya huruf-huruf yang berderet di depan undangan itu. "Malam lusa?" Matanya bergulir pada Claire untuk memastikan.


"Iya! .... Acaranya dibuat mendadak oleh Walter dan juga Aaron. Kau tidak lupa 'kan kalau mereka berdua teman baikmu? Aku mengatakan kau pulang ke Amerika. Mereka senang dan ingin bertemu denganmu segera, Aust. Tidak masalah, 'kan?"


Austin mendalami pikir dan menggali setidaknya secuil bait kenangan di kepala, tentang masa SMA yang sebenarnya tak pernah ada yang menarik sejauh ia mengingat. Walter dan Aaron, nyatanya mereka memang pengecualian. Dua kunyuk itu adalah teman kabur yang paling bisa membuatnya melupakan apa itu fisika dan matematika.


Ada rasa rindu menyeruak seketika jauh ke dalam dada Austin.


Pria itu menoleh Cindy yang masih diam. Seperti meminta izin untuk bertemu teman-teman yang lama tak dia jumpai.


Cindy tahu, suaminya berharap dia mengiyakan. Tapi Claire ....


Dari wajah Austin, beralih menatap wanita di seberangnya itu, Cindy berpikir.


Lahir kebimbangan kemudian.


Ekspresi wanita cantik itu lebih dari sekedar berharap.


Dan Austin, dia juga pasti rindu teman-temannya.


Jadi ....


"Kalau begitu aku ikut!"

__ADS_1


__ADS_2