
Selaksa waktu merantai jadi kenangan.
Dua minggu sudah, Jasmine ikut bergelut di dunia Kandyla. Dunia sore hari hingga menjelang pagi, yang tanpa sadar semakin membuat ia dan gadis tomboy itu, bak saudara sepersusuan.
"Siap?" tanya Kandyla seraya menyelempangkan gitarnya ke balik punggung.
"Siap, dong!" sahut ceria Jasmine seraya mengacungkan jempol ke depan wajah.
Saat ini waktu menanjak angka lima, dengan semburat jingga yang mulai samar terwujud di ketinggian sana.
Setelah mengunci pintu kontrakan, kedua wanita manis-manis itu mulai berjalan menyusur jalanan beraspal menuju mata pencaharian mereka yang syarat debu.
"Sore ini kita lawan arah deh, Jas!" kata Kandyla sekilas melirik Jasmine yang berjalan di sampingnya, memastikan temannya itu setuju atau tidak.
"Boleh. Terserah kamu aja,” kata Jasmine tak keberatan. Kandyla lebih tahu segala tentang profesi ini dibanding dirinya, termasuk urusan tempat.
"Sip." Kandyla senang.
Sebuah batu seukuran kepalan tangan bayi ditendang asal-asalan kaki Kandyla hingga melesat jauh, kemudian membentur pagar pembatas sebuah rumah, sontak menimbulkan bunyi berdebam yang cukup keras.
....
"Woooyyy!" Suara seorang pria berwarna bariton pekat, berteriak dari dalam rumah. "Siapa itu?!"
Jasmine dan Kandyla saling beradu pandang dengan wajah tersentak, kemudian ....
"Lariiiiii ...!"
....
....
"Hahaha ...!"
"Kamu tuh ya, adaaa aja kelakuan!" Dengan napas terengah, Jasmine membungkukkan setengah tubuhnya dengan kedua telapak tangan menumpu di atas lutut, menetralkan sesak di dadanya akibat berlari cukup cepat dan lumayan jauh.
Sedangkan Kandyla, memilih bersandar ke tembok tinggi sebuah bangunan di belakangnya, sama ngos-ngosan.
"Itu Babeh Sabeni, jawara daerah sini, Jas! Kalo ketauan, berabe kita!" Ia memberitahu masih dengan napas memburu.
"Lagian kamu, udah tahu rumah jawara, maen tendang-tendang aja tu batu."
Kekehan kecil di bibir Kandyla. "Gue gak tahu bakal kena pager rumahnya!"
"Dasar! Untung aja gak ketangkep!"
"Gak bakal!" kata Kandyla enteng saja. "Udah, ah! Ayo jalan."
Keduanya kembali melanjutkan langkah setelah napas mereka tenang kembali.
__ADS_1
"Kita masuk bus, apa kios?" Jasmine bertanya.
"Bus aj--" Sesuatu mengusik pandangan Kandyla hingga membuat kalimatnya terpotong. "Jas, Jas!" Ia menepuki lengan Jasmine tanpa menoleh, karena tatapannya tertarik oleh sesuatu di depan halaman sebuah gedung, yang dilihat dari plang di depannya, bangunan tersebut merupakan sebuah Stasiun Radio. Banyak orang bejubel di dalamnya.
"Apa, sih?" Jasmine merespon tak mengerti.
"Kita masuk sana, yuk? Sapa tau masih bisa, yekan?"
Mengambil jarak pandang Kandyla, Jasmine memiringkan kepalanya ingin tahu. "Ngapain ke sana?" tanyanya mengerut kening.
"Lo liat bacaan segede gaban di atasnya?" Telunjuk Kandyla menjulur ke depan sedikit tinggi, menunjuk apa yang dilihatnya. "Audisi nyanyi, Jas. Kita coba, yok?!" ajaknya penuh semangat.
Jasmine menatapnya bimbang. "Kamu yakin?" tanyanya dengan kernyitan. "Kita 'kan gak modal apa-apaan. Baju aja kumel kayak gini." Ia jelas tak yakin.
"Gak apa-apa, coba aja dulu. Rezeki siapa yang tahu sih!"
Dengan langkah mantap, Kandyla menyeret lengan Jasmine memasuki gedung radio tersebut.
Tak berselang lama ....
"Maaf, Mbak-Mbak, kalian terlambat. Audisinya sudah selesai. Para juri sedang melakukan penilaian akhir di dalam."
Pemberitahuan itu disikapi Kandyla dengan raut sesal. "Gitu ya, Mas?"
"Iya, Mbak. Kalau kalian datangnya tadi pagi, pasti tinggal nunggu keputusan."
"Besok ada lagi nggak, Mas?" Kandyla masih mencoba.
Tatapan semua orang--mungkin peserta, yang terduduk memadati kursi-kursi yang tersedia di aula itu, seluruhnya jatuh pada Jasmine dan Kandyla. Tak sedikit dari mereka yang menanggap tak sedap dengan ekspresi mencemooh. Namun juga ada yang menyayangkan dengan raut iba.
"Tampilan mereka aja kayak gembel."
"Kasian. Padahal kasih aja kesempatan."
"Kayaknya mereka berdua anak jalanan."
Ragam kata-kata itu ditangkap jelas telinga Jasmine. Ia tentu tak nyaman karenanya. Cukup berdesir hatinya menyikapi.
Melalui sudut mata, ia mengedar pandang dengan perasaan malu. "Kita pulang aja, yuk, Dy." Ia mengajak dengan suara pelan. "Kita lanjut ngamen aja."
"Ya udah," kata Kandyla masih menyayangkan. "Makasih, ya, Mas."
"Sama-sama, Mbak."
Namun baru saja Jasmine dan juga Kandyla berbalik badan hendak pergi, suara derap langkah kaki terdengar dari arah koridor di sisi kanan aula.
"Ada apa, ****?"
Seorang pria berkulit putih dengan jas biru dongker, muncul dengan sejuta karismanya. "Saya dengar dari Meta, ada dua orang yang terlambat ikut audisi?"
__ADS_1
Sedetik setelah kemunculannya, ruangan aula itu langsung terdengar gaduh meneriaki dan mengelu-elukan namanya penuh kekaguman.
"Iya, Mas." Pria bernama Dicky itu mengangguk. "Itu mereka, Mas."
Jasmine dan Kandyla yang memang belum beranjak, saling beradu pandang. Ditatap keduanya pria yang tak lain merupakan salah satu petinggi penyelenggara audisi tersebut, penuh tanya.
Mereka sangat manis, batin pria itu. Hanya sedikit tidak terawat. Ia lalu tersenyum. "Saya akan berikan kalian kesempatan," cetusnya seraya menyilangkan kedua lengan di depan dada.
"Beneran, Mas?!" Kandyla terperanjat penuh semangat.
"Ya," jawab pria yang tak lain adalah ....
Bastian Sigi.
Ya, selain seorang pembalap, pria itu juga merupakan seorang yang duduk di kursi paling tinggi sebuah perusahaan lebel musik ternama di tanah air--Bass Intertaiment.
"Tapi kalian tidak akan bernyanyi di ruang audisi seperti yang lainnya," kata Sigi melanjutkan kalimatnya.
"Maksud, Mas?" Kandyla tak paham. Pun Jasmine yg juga ikut mengernyit.
Sigi tersenyum ringan. "Kalian harus bernyanyi di sini."
Suasana kembali terdengar gaduh menyikapi perkataan Sigi.
"Ke-kenapa di sini, Mas?" tanya Kandyla lagi seraya mengedar pandang ke arah ratusan manusia di depannya.
"Ya, supaya semua orang tahu, sedalam apa kualitas yang kalian miliki sampai nekat menerobos audisi yang sudah selesai."
"Ta-tapi kita gak nerobos, Mas. Kita emang beneran gak tahu, kalau audisinya udah selesai." Yang kemudian diangguki Jasmine penuh keyakinan.
"Ya, apa pun alasannya, saya tetap ingin kalian bernyanyi di sini." Sigi bersikukuh. Dari rautnya, ia jelas tengah mempermainkan mental kedua gadis itu. "Itu pun kalau kalian mau."
Kembali, Jasmine dan Kandyla saling beradu pandang.
Dan dalam lima detik, sebuah ide muncul di kepala Jasmine. Ia menegakkan kepalanya, menatap tegas ke wajah oriental milik Sigi. "Oke, saya sanggupin. Tapi kita nyanyi barengan. Gak kepisah-pisah," putusnya menoleh sekilas pada Kandyla.
"Gak bisa gitu, Mbak! Mana ada audisi barengan. Saya sama adek saya aja beda nomor peserta!" Salah seorang wanita yang duduk di barisan depan meneriaki tak setuju.
"Sayangnya, Mbak, saya sama temen saya bukan peserta. Kita ngamen gratis aja di sini," tutur sarkas Jasmine. Ia hafal benar, wanita itulah yang tadi menyebutnya dan Kandyla, gembel. "Ayo, Dy."
Kandyla cukup terkejut, ketika tiba-tiba Jasmine menarik lengannya ke arah depan di mana sebuah piano lengkap dengan alat musik lainnya, berkumpul.
Sebuah kursi tersandar tembok ditarik Jasmine. "Duduk, Dy. Maenin gitarnya. Kita nyanyiin lagu yang kemaren kamu kulik kuncinya." Sedangkan ia telah siap di depan piano yang entah kapan pernah disentuhnya sebelum ini.
Sesaat Jasmine menarik napasnya, sejenak memejamkan mata, lalu mulai disentuhnya tuts-tuts piano di hadapannya.
Sedangkan Kandyla, usai menaruh gitar lusuhnya lebih dulu tentu saja, ia kini duduk dengan gitar listrik milik tempat itu di pangkuannya, tersenyum menatap takjub ke arah Jasmine, lalu mulai memetik alat musik itu perlahan dan hati-hati, menyusul nada yang telah diambil Jasmine melalui piano-nya.
🎼 🎼 🎼 ....
__ADS_1
Innocent - Avril Lavigne