
Kamar nomor 128, hanya selisih empat pintu dengan kamar yang ditempatinya, Kandyla, dan juga Denia. Jasmine dan pria yang tak lain adalah kembaran Austin tersebut, kini sudah berada di dalamnya.
Dengan penuh kasih, Jasmine menuntunnya untuk merebah. Wajah pucat dengan keringat dingin itu nampak jelas, bahwa pria itu tak sedang baik-baik saja.
Mungkin efek dari takaran alkohol yang ditenggaknya terlalu banyak, Jasmine berasumsi. Ia duduk di sampingnya memerhatikan. Sepasang mata terang keemasan itu telah terkatup.
Sekali lagi kejeliannya bermain, ada yang berbeda dari sosok Austin. Rambut blonde-nya kini terlihat agak pekat kehitaman. Bulu yang membingkai di sekeliling matanya pun nampak terlihat lebih lebat. Dan juga ... sikap kakunya ... seperti asing ketika menghadapinya di koridor tadi.
Apakah dia bukan Austin?
Tapi mana mungkin!
Pria itu pasti akan mengelak jika benar dia bukan Austin.
Jasmine tercenung, bingung harus bagaimana harus menyikapi.
Kembali ditelisiknya sosok yang merebah tenang itu, untuk menguatkan keyakinannya--ke sekian kali.
Selain tadi yang disebutkannya, selebihnya dari pria ini ... tak ada yang berbeda.
Mulai dari garis wajah, hidung, bibir, bentuk rahang, bahkan sepasang mata terang keemasan yang indah ... semuanya telak dimiliki oleh Austin--sama persis.
"Ah!" Menepis segala perasaan bodohnya, Jasmine menggeleng-gelengkan kepala cepat-cepat. "Aku pasti sinting! Jelas-jelas dia itu Ben!" racaunya mengembalikan diri pada perasaan normal. "Mending aku balik ke kamar, deh. Biarin dia istirahat tenang di sini." Ia akhirnya memutuskan.
Namun baru sempat tubuhnya terangkat untuk berlalu ....
"Jangan pergi!"
Jasmine terkejut tak tanggung-tanggung. Tubuhnya terpelanting dengan cepat, setelah lengannya ditarik cukup kencang hingga menghasilkan posisi menelungkup tepat bersejajar dengan tubuh telentang berotot kekar, milik pria yang dikiranya Austin tersebut
Padahal Andrew, ya ....
"Temenin aku di sini!" kata Andrew ringan saja. Ia tak peduli siapa wanita itu. Yang terpenting, malam ini akan membuatnya cukup hangat. Tak ada teman dan wanita ini, anggap saja pendapatan yang lumayan.
__ADS_1
Susah payah Jasmine menelan salivanya. Matanya yang melebar nampak bergilir kiri dan kanan, mengabsen wajah indah milik si pria. Dan semakin melebar ketika sepasang tangan kekar itu mulai mengunci pinggang kecilnya.
"Ben ... kamu ...."
Dia merasakan akan tak beres. Kembali meronta kuat berusaha melepaskan diri. Tapi pria itu jelas lebih kuat walaupun dalam keadaan setengah sadar.
Bukan saatnya membuang waktu, gerak lihai dan cepat sekali hentak, Andrew membuat posisi mereka langsung berbalik. Kini Jasmine berada di bawah kungkungannya. Tanpa melontar banyak kata, apalagi berbasa-basi, ia gegas melahap bibir manis itu, melakukan kecupan dalam penuh gairah yang menggebu-gebu.
Satu persatu kancing piyama Jasmine dibukanya. Lantas ditariknya tubuh wanita itu untuk duduk.
Seraya mengecupi jenjang lehernya, busana Jasmine ia sibak secara cepat, lalu mendarat serampangan di bawah lantai.
Seiring lahar libido yang secara cepat menjalari kelelakiannya, Andew telah dikuasai bi rahi tanpa akal sehat.
Dan Jasmine ....
Meskipun cukup terkejut, pada akhirnya ia pun mengalah juga. Mulai ikut tenggelam di dalam permainan panas yang diimbanginya cukup setara. Toh, dulu pun ia dan Austin sering melakukannya.
Apalagi teruntuk Austin.
Pukul 22.45 saat ini.
Kegiatan menguras keringat Andrew dan Jasmine telah terhenti, setelah melewati banyak ronde yang terasa tak ada puas.
Mereka tertidur cukup lelap setelahnya, dengan posisi saling merekat peluk.
Andrew benar-benar menikmati apa yang dia dapat.
Drrttt ... drrrttt ....
Suara vibra yang berasal dari ponsel milik Jasmine yang tergeletak di atas nakas, berhasil mengusik lelaki itu.
__ADS_1
Ia membuka mata dan menguceknya sekian detik. Mengangkat sedikit tubuhnya untuk meraih benda tersebut dengan kiri tangannya.
"Denia?" gumamnya setelah melihat nama yang terpampang. Tanpa pikir panjang, Andrew menggeser icon hijau di layar lalu menempelkannya di depan telinga.
Belum setitik kata dilontarkannya, suara Denia sudah meledak seperti kembang api di udara pergantian tahun. Sampai-sampai ia menjauhkan sedikit benda itu dari telinganya dengan wajah meringis.
Suara Denia terus meracau.
"Jangan cemas, dia sedang bersama saya ...." Sejenak dia berpikir. “Ah, saya Ben, pacarnya!" Dia mengingat jelas nama itu sedari awal pertemuannya dengan Jasmine. Wanita itu bahkan tak henti meracaukan nama yang sama saat kegiatan unakhlak mereka.
Setelah mengatakan demikian, Andrew menutupnya sepihak, tanpa tertarik untuk mendengarkan lanjutan kalimat serapah dari wanita di seberang telpon.
Kesadaran dan vivid pandang telah didapat, seiring pengaruh alkohol yang mulai menghilang dari kuasanya.
Masih di menit yang sama, seperti halnya penipu, yang di suatu saat pasti menunjukkan keasliannya, belum sempat benda itu ditaruh Andrew kembali ke tempat semula, sesuatu yang kongkret ditemukannya.
Menegakkan tubuhnya cepat hingga terduduk sempurna, Andrew terperanjat di angka paling maksimal. Seakan ditampar berulang kali, lalu ditendang-tendang hingga terkapar, pria itu dikejutkan oleh foto wallpaper yang terpasang di ponsel milik Jasmine yang digenggamnya saat ini.
"Austin ... Lily ...." Wajahnya menghentak cepat ke arah wanita yang terlelap di sampingnya tersebut dengan mata nyaris tercongkel. "Oh, God ... jadi dia ... Jasmine ibunya Lily?!" Kegusaran yang hakiki seketika melimbungi diri Andrew. "Pantas aja dia gak lawan, ternyata dia ngira aku Oztin. Apa yang udah aku lakukan? Dia wanita milik adikku!" Seketika kepalanya merayang frustrasi diiring deru jantung yang berlarian.
Sedikit terusik dengan perangai Andrew, Jasmine bergeliut membalik tubuhnya menjadi telentang, namun tetap dengan mata terpejam.
Posisi itu menggerakkan Andrew untuk menatapnya lebih lekat, dan lebih lekat lagi. Sampai perlahan ... ada yang lebih besar dari sekedar mengetahui bahwa wanita itu adalah milik adiknya, sesuatu yang dengan cepat menciptakan tombak tajam, lalu menghujam seisi jantungnya hingga berdarah-darah.
....
Kali ini pria itu merasakan jiwanya terpental sekeras-kerasnya. Bukan lagi bentuk kata sekedar, melainkan benar-benar ... mati!
"Wanita ini ... bukankah dia ... wanita yang aku culik dan kuperkosa di Markas Bogor, dua tahun lalu?!"
Kerongkongan Andrew makin tercekat. Napas tak bisa mengalir sebaik biasa. Keterkejutannya bukan lagi hanya sekedar.
Dia turun dari ranjang itu dengan perlahan dan kaku. Wajah Jasmine di matanya terlihat seperti hantu, dia takut. Namun bukan takut karena itu, melainkan karena dosa besar pada wanita di hadapan yang telah dia hancurkan kedua kali---atau lebih.
__ADS_1