Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 77 - E N D


__ADS_3

Austin bingung. Cindy tiba-tiba menangis. Dia cemas dan bertanya bagian mana yang sakit, Cindy hanya menjawab dengan gelengan. Dipaksa mengatakan, wanita itu terus menggeleng saja.


Sekarang Austin paham, benar-benar ada yang tak beres dengan istrinya.


Dia harus berbicara dengan Walter dan juga Aaron, kata Austin dalam pikirnya. Demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Cindy hingga tenggelam ke kolam renang dan berdampak ketakutan seperti ini.


Sebenarnya Cindy sendiri bukannya tak bisa berenang. Dia menjelaskan pada dokter dan juga Austin, kakinya tiba-tiba kram saat tercebur itu. Alhasil dia kehabisan napas dan berakhir di tempat ini sekarang--rumah sakit.


Baiklah!


Obat baru saja diberikan seorang perawat. Dia bilang Cindy pasti akan tertidur sebentar lagi.


Dan benar, wanita itu sudah saja tenggelam dalam pejam mata yang nampak tenang sekitar beberapa menit setelah itu.


Kesempatan tersebut dimanfaatkan Austin untuk menemui Walter. Cindy dia titipkan pada suster yang berjaga.


Acara reuni tetap dilanjutkan. Semua yang terlibat tetap bersenang-senang hingga waktu yang ditentukan berakhir. Kecuali di antaranya Aaron, Austin dan juga Walter, berikut Claire dan tiga temannya.


Aaron izin kembali dulu tempat itu untuk mengambil motornya, setelah itu dia akan melakukan sesuatu. Sedang Walter saat ini, dia sedang sibuk mengecek semua cctv di kolam renang dan beberapa titik bagian hotel.


"Sial!" umpat Walter, semua bukti rekaman telah dihapus. Cctv yang berada di pojok kolam bahkan sudah dalam keadaan rusak.


"Jangan membuatku bertindak kasar, Claire!" kata Walter pada wanita yang baru saja disemburnya dengan nada dingin.


Claire, ditemani tiga orang temannya yang berada di kolam renang, berdiri jejer di dekat dinding. Walter memintanya menjelaskan banyak hal terhubung apa yang dia lihat.


"Aku bilang aku tidak tahu apa pun!" kukuh Claire. "Kau terlalu melebih-lebihkan. Tadi itu aku hanya ingin mengerjai Austin dengan cara mengajal istrinya ke kolam renang." Itu adalah penjelasan sama kedua kali yang dia lontar demi memperjelas.


Walter menggeram kesal. Alasan kenapa dia mencurigai wanita itu, dirinya menangkap ketika Claire berbicara dengan wanita paruh baya yang mendorong Cindy ke kolam renang. Mereka nampak serius seperti merencanakan sesuatu.


"Kalian bertiga!" Teguran Walter berpindah pada ketiga teman Claire yang nampak takut. Mereka merunduk tak berani mengangkat wajah.


"Ka-kami ... kami tidak tahu apa pun, Walter," satu memberanikan diri untuk bersuara.


Walter menegakkan tubuh, kemudian bersilang tangan. Tatapannya masih saja mengintimidasi. "Baiklah, kalian boleh pergi." Dia merasa belum ada bukti yang menguatkan asumsinya. Jadilah Claire dan ketiga temannya dilepaskan sementara ini.


Claire berlalu dengan wajah kesal. Dia merasa diperlakukan seperti seorang psakitan. Sedang tiga temannya langsung berlanting girang, tanda mereka terlepas dari cekikan Walter.


Namun belum sempat keempatnya benar-benar keluar, Austin menjegal di ambang pintu. "Siapa yang menyuruhmu melepaskan mereka, Walter?!"


Claire dan tiga temannya terkejut setengah mati.


Sedang Walter yang kembali sibuk dengan bagian CCTV melengak sontak, lalu menghela pandang ke arah pintu. Didapatinya Austin sudah berdiri di sana dengan wajah tak bersahabat.


"Ozt!"


"Bawa mereka kembali masuk!" pinta Austin.


Claire dan ketiga temannya menggeleng.


"Apa yang akan kamu lakukan, Austin? Aku sudah bilang aku tidak tahu. Walter juga sudah melepaskan aku!" dia tak terima.


Menggantikan cakapnya, satu tangan Austin tergerak ke belakang, seolah meminta sesuatu pada seseorang.


Aaron muncul kemudian. Dalam cekalan tangannya, seorang pria nampak naas seperti baru habis dipukuli.


Otomatis mengejutkan Claire, tidak terkecuali Walter.


"Hampir saja dia berhasil menyebarkan gosip!" ujar Aaron seraya mendorong tubuh pria itu ke bawah kaki Walter.


"Apa maksudmu?" tanya Walter.


Austin melempar sebuah ponsel. Walter menerimanya tangkas.


"Dia merekam seluruh kejadian hingga istriku didorong ke dalam kolam," terang Austin. Pintu sudah dikuncinya. Sekarang dia melihat ke arah Claire yang sepertinya mulai tak nyaman.


Sesuai cerita si pria yang merekam. Bagian kolam renang memang sengaja disterilkan oleh Claire. Selain teman-teman wanita itu yang memang diikutperankan.


Video diputar dan langsung mendapatkan respon kelam dari Walter. "Menjijikkan!" komentarnya.

__ADS_1


"Kita harus segera mencari wanita itu!" kata Aaron.


Yang dimaksudnya adalah wanita paruh baya dalam video yang menuduh Cindy tak pakai otak.


"Aku akan menemukannya!" tekad Walter. "Untuk sementara kalian akan kukurung di hotel ini. Sampai semuanya jelas."


Claire dan tiga temannya tentu tak setuju.


"Aku mohon keluarkan kami." Satu memohon, ditimpal lainnya dengan ucapan sama.


Sedang Claire, "Kalian semua ... menjijikkan!"


Austin menatapnya masih sedingin salju.


"Aku harus menemui istriku! Kau urus mereka, Walt!"


...****...


Mereka kecolongan. Video labrakan Cindy oleh wanita tua atas tuduhan perselingkuhan, sudah tersebar di media sosial. Orang yang menyebar pasti menggunakan akun palsu. Tak siapa pun yang terdekat mengenalinya.


Ekspresi Austin padam memerah. Ia harus mengklarifikasi semua sebelum Cindy terserang mental.


Tapi tenang, ada Walter dan juga Aaron yang siap mendukung, dan kerja mereka selama tiga hari ini sudah membuahkan hasil.


"Maafkan saya, Tuan. Saya butuh uang. Sayang terpaksa melakukannya!"


Pengakuan itu dilontarkan oleh wanita paruh baya yang tersebar di jagat media.


Sebelum menyerahkan hasil buruannya ke depan Austin, Walter dan Aaron sudah mengorek pengakuan lebih dulu.


Iya! Claire adalah biang keladinya.


Austin menyorot tatapan tajam. Wanita yang terduduk tunduk di bawah kakinya masih tak berani mengangkat wajah.


Dia berpikir kemungkinan terburuk. Setelah ini pasti akan berakhir dalam dinginnya jeruji tahanan, karena telah membuat Cindy hampir kehilangan nyawa. Meninggalkan anaknya yang masih berusia empat tahun juga yang duduk di bangku SD.


Wanita itu melengak terkejut. "Benarkah, Tuan?"


Austin bangkit dari duduknya. "Lakukan sebelum aku berubah pikiran!" Lalu melenggang pergi dari sana meninggalkan keadaan yang terasa konyol dalam pandangan Aaron dan juga Walter.


Keduanya sudah menduga akan berakhir seperti ini.


Austin manusia tidak tegaan. Terlebih pada manusia tua yang memiliki banyak anak untuk diurus.


"Bangunlah, Nyonya Hudson. Kami akan bantu kau melakukannya," kata Aaron.


Wanita itu mengangguk. "Baiklah."


Dalam waktu satu jam, video pengakuan Nyonya Hudson tentang setting tuduhan perselingkuhan atas Cindy dan suaminya, sudah tersebar. Dalam rekaman itu dia mengaku sambil menangis. Mengatakan anaknya butuh uang yang banyak untuk mengobati penyakit kulit yang belum juga diberi sembuh oleh waktu. Nama seseorang disebutnya sebagai penawar uang.


"Maafkan saya, Nona Cindy, saya terpaksa." Kalimat penutup Nyonya Hudson di video itu.


****


Tiga hari kemudian. Di Bandara internasional California.


Austin dan Cindy memutuskan untuk pulang setelah semua masalah selesai.


"Selamat jalan, Ozt. Jika suatu hari aku berkunjung ke Indonesia, aku ingin melihat Bennedict Junior yang lucu dan menggemaskan."


Austin menerima tos yang dijulurkan Aaron. "Akan kupastikan. Anakku yang akan mengalungkan bunga di lehermu saat kau datang."


Cindy yang berada di sampingnya tersenyum-senyum membayangkan itu.


"Haha, itu bagus!" kata Aaron senang. "Sampaikan salamku pada Andrew kembaranmu itu. Ya, walaupun dulu dia dan kita berbeda sekolah, tapi aku rindu spageti buatannya saat bermain ke rumahmu!"


Kalimat itu memancing kekehan Austin. "Pasti!"


Kini giliran Walter.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi, Kawan." Dia melakukan tos yang sama seperti Aaron.


"Yeah, Bung. Kutunggu undangan pernikahanmu!" ujar Austin.


"Jangan cemas. Akan kukirim berikut sekebun anggur milik Tuan Stuart!"


Aaron mendelik. "Ayahku takkan memberikan anggurnya padamu walau sebiji pun."


"Haha!"


Tidak di Indonesia, tidak di Amerika ini, Austin selalu dikelilingi teman-teman yang gesrek-gesrek, Cindy tak habis pikir dan geleng-geleng.


...👻👻👻👻👻👻...


Lima tahun kemudian ....


"Wesley, apa yang kamu bawa, Nak?" Cindy bertanya pada putranya.


Di punggung anak itu terselempang tas gendut yang entah apa isinya. Topi loreng menancap lucu di kepalanya. Di tangannya, boots berwarna kuning tertenteng apik.


"Aku mau berburu aligator bersama Daddy, Mommy!" Wesley Bennedict, menjawab.


"Tapi kamu harus pergi les matematika, Sayang." Cindy mengikuti anaknya yang kemudian duduk di sofa. Sepatu boots kuning mulai dikenakan Wesley satu persatu tanpa meminta bantuan ibunya.


"Libur sehari dari les nggak akan bikin dia bodoh, Sayang." Austin datang dengan pancingan di tangan kanan.


"Tapi, Sayang ...." Cindy tak setuju. "Ini akan jadi kebiasan buruk. Kalau dia ketagihan gimana?"


"Gak akan, Mommy," sanggah Wesley. "Aku pinter ngitung kok. Uang jajan kurang seribu aja, aku minta lagi, 'kan?"


Cindy melengak dengan jawaban putra kecilnya. Pandangannya kini jatuh pada Austin yang mesem-mesem menahan tawa.


"Sebenernya kalian mau kemana, sih?"


Austin menjulurkan telapak tangan pada Wesley yang sudah siap. "Cuma ke pemancingan Haji Samedi, Yang," dia menjawab pertanyaan Cindy. "Wesley, are you ready?" tanyanya kemudian pada anaknya.


"Ready, Daaaadd!"


.............


Dua jam kemudian. Anak dan ayah itu sudah kembali.


Ternyata di dalam rumah sudah ramai saja.


Ada Tara Kandyla, Jasmine dan juga Andrew di sana. Mereka lengkap membawa anak-anaknya.


"Hallo, Brokid!" Tara menyapa Wesley si bocah gembul dengan semangat.


"Hallo, Uncle!" Wesley membalas senang.


"Kata Mommy, kamu sama Daddy mancing aligator yak?" Kandyla yang bertanya.


Austin tertawa kecil di belakang istrinya setelah menaruh segala jenis alat pancingan.


Yang lain geleng-geleng saja, termasuk Lily yang mulai besar.


"Iya, Uncle!" jawab lantang Wesley.


"Mana aligatornya, Sayang?" Jasmine penasaran.


"Bentar, aku ambil dulu!" Wesley berlanting pergi ke luar ruangan, lalu kembali satu menit kemudian. "Ini dia, Om!"


Semua pandangan terarah pada plastik bening yang diangkat Wesley ke depan wajah.


Tara menatap plastik itu dengan wajah mendekati plastik di tangan Wesley. "Ajaran bapak laknad!" ujar pria itu. "Belutt segede kelingking orok dikata aligator!"


...*********...


...S E L E S A I...

__ADS_1


__ADS_2