
Hari berputar dan waktu terus berjalan.
Di teras depan rumah mewah Wijaya. Suasana di sana nampak ramai.
"Jangan kasar-kasar lu nunggangin do'i!" ujar Tara seraya menepuk-nepuk pundak Austin. "Kesian! Masih amatir!"
"Amatir mah Dila!" Austin membalas olok. "Bini gua, sekali maen langsung jadi master."
Tara terbahak, "Kagak langsung legendary?!"
Cindy dan Kandyla hanya saling mendelik, enggan untuk menimpal.
Andrew menghampiri, memecah tema gesrek dua sahabat yang sebenarnya memang harus segera dilerai. "Jaga istrimu baik-baik, Ben! Jangan sampe dia nyebur ke laut gara-gara gak puas pelayanan."
"And!" Cindy memelototinya. "Apa-apaan sih!" Bisa-bisanya duplikat suaminya itu ikut-ikutan.
Tara dan Kandyla terkekeh-kekeh.
"Gua jantan super dewa, Drew!" hardik Austin. "Yang ada, pas bangun ... Cindy gak bisa ngatupin kaki!"
"Setan emang!" kata Tara. "Kagak aja dibikin peot."
Cindy semakin meradang. Kenapa bisa dia jatuh cinta pada pria sesinting itu. Kakak kembar dan sahabatnya bahkan sama gila. Sekali lagi, bagaimana bisa dia bersedia masuk di antara kekonyolan mereka, dan parahnya malah menjadi bahan olokan?
"Kalian semua sinting!" Hanya itu yang bisa dia lontarkan.
"Gua titip adek gua!" Sigi tiba-tiba muncul dari belakang Tara. Setelah santai kaos berkerah dengan celana chinos hitam, membuatnya terlihat tenang. "Jaga dia baek-baek!" lanjutnya meminta pada Austin.
Pria itu juga sudah melontarkan maafnya pada Jasmine dan Andrew atas segala kesalahannya, tepat ketika acara pernikahan Austin dan Cindy berlangsung seminggu lalu.
__ADS_1
Saat ini semua berjalan tanpa beban. Tak ada campur tangan hukum negara, meskipun yang dilakukan Andrew dan Sigi pada Jasmine bukanlah hal yang sederhana. Memerdekakan hati dari kebencian dan balas dendam antara mereka yang terlibat.
Dayhan sempat datang ke pernikahan Austin bersama Alexa yang perutnya sudah membuncit. Lagi-lagi untuk Jasmine, lelaki itu juga datang membawa maaf. Mulanya Jasmine sempat menghindar. Cemas Alexa akan bertingkah seperti dulu. Tapi ternyata tidak. Siapa Jasmine, Alexa sudah tahu jelas. Dia juga takut diserang fans fanatik Jasmine walaupun wanita itu sudah tak lagi aktif dari gemerlapnya dunia hiburan. Dendam hatinya luruh seketika hanya karena tahu Jasmine telah memilik Lily ketika live konsernya saat itu.
Yaa, anggap semua itu satu prestasi.
Kembali ke scene.
"Pasti, Bro!" Austin menyahuti permintaan Sigi seraya menerima tos manly yang dijulurkan pria yang kini resmi jadi abang iparnya tersebut. "Do'ain biar cepet numbuh calon ponakan lu!" ujarnya receh sekali--tapi anggap do'a saja ya, man teman
"Moga bibitnya kek maknya," harap Tara mulai lagi. "Kalo model bapaknya, ancur dunia persilatan berikut lobang-lobangnya!"
"Iyak dah, Tar. Gua ngalah. Yang penting bukan semp4k lu pengasih Dila yang ancur."
Disambut tawa mereka bersamaan.
"Badjingan!"
Sedangkan di sudut kiri di mana ayunan besi tertancap, Lily bersama Nimas, berada di depan sebuah troller bayi yang terbaring Sigi junior di dalamnya, asyik bermain dengan tema yang berbeda.
Suasana terasa begitu lengkap dan sempurna pagi menjelang siang hari ini.
Ya, tiga minggu lalu pernikahan Austin dan Cindy digelar secara spektakuler dan besar-besaran di lapangan Monumen Nasional, Jakarta.
Pernikahan itu melibatkan puluhan artis terkemuka ibukota sebagai bintang tamu acara juga ribuan undangan dari berbagai kalangan. Baik dari dunia hiburan pertelevisian, jagat lintasan balap, orang-orang bisnis, ataupun masyarakat biasa, serempak menikmati acara pergantian status KTP Austin dan Cindy tersebut hingga menguap lelah dan lambung mereka tak sanggup menampung ratusan jenis kudapan yang tersaji.
Benar-benar pernikahan Sultan!
Dan saat ini, adalah saatnya melindas penat bagi sepasang pengantin itu. Austin dan Cindy akan terbang ke Jepang dalam rangka berbulan madu. Merangkai mahligai baru untuk memperkaya perasaan mereka.
__ADS_1
Tak ada yang bisa memutus kehendak Tuhan. Sebanyak apa pun waktu yang terlewat, sesingkat apa pun sebuah pertemuan, se-tak lazim apa pun caranya, tak ada yang bisa menepis, jika takdir telar tergaris.
...****...
Mengarungi lautan lepas menuju Okushiri Island, Hokkaido-Jepang, di ujung runcing deck sebuah kapal pesiar, berdiri dengan posisi menantang alam di gemuruhnya angin lautan, Austin memeluk mesra tubuh ramping istrinya dari belakang.
Walaupun tak sedramatis Jack dan Rose dalam film romansa miris Titanic, kedua sejoli ini nampak menonjol dengan segala kelebihan yang mereka tunjukkan pada alam sekitar.
Senyuman tak henti tersungging di bibir masing-masing. Menikmati betapa indahnya waktu yang dianugerahkan Tuhan saat ini pada mereka.
"Apa kamu bahagia?" tanya Austin sekilas mengecup sisi kepala Cindy.
Cindy mendongak untuk meraih pandang wajah pria yang kini resmi berstatus suaminya. "Sangat," katanya dengan senyuman semanis susu. Tak ada dusta. Wajah bersemu merahnya mengusung kejujuran yang hakiki. Dia benar-benar bahagia.
Austin melepas pelukannya, lalu membalik tubuh Cindy untuk ia hadapkan ke arahnya. Ia tatap wajah cantik dengan bibir manis itu lalu membelai pipi halusnya penuh kelembutan. "Harus! Kamu harus bahagia. Karena persembahan yang aku kasih buat kamu, udah yang paling total dan sempurna," katanya seolah memperingatkan.
Walaupun terdengar receh, tapi Cindy begitu bahagia mendengarnya. Dinaikannya kedua lengan untuk kemudian mengalung di leher Austin. Dengan senyum manis memulas di bibir semerah cheri miliknya, ia lantas bertanya, "Apa cinta kamu buat aku juga sesempurna persembahan yang tadi kamu bilang?!"
Rambut panjang yang tergerai tak terikat nampak melecut-lecut sesekali menampar wajah Cindy, diselipkan Austin ke belakang telinga pemiliknya, walau pada akhirnya kembali teracak diterpa angin yang nakalnya seperti Tara.
Austin menurunkan belainya ke bagian pinggang ramping Cindy yang terbalut cardigant rajut, untuk meraih posisi lebih intim dan juga nyaman bagi istrinya tentu saja. "Biarpun gak sesempurna cintanya Romeo, aku bakal usaha sampe cinta itu terpahat kokoh gak ada cela."
Rona wajah Cindy memerah di antara haru yang menyeruak. "Aku cinta kamu, Kak!"
Yang lalu disambut Austin dengan senyum serupa. "Aku juga cinta kamu ... Sayang!"
Di tengah debur ombak yang membuih, dibelai angin yang berderu mengelilingi, di dalam ruang cinta sehangat balutan sutra, bibir mereka saling beradu, saling merengkuh, juga saling menikmati.
Membuat iri seluruh penghuni alam semesta.
__ADS_1
🤎🤎🤎🤎🤎🤎