Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 61


__ADS_3

Sulit menelaan perasaannya sendiri, Jasmine mengecap kebungkaman. Hanya mata beningnya yang terlihat mulai menggenang berkaca-kaca. Tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Yang jelas, ia merasa kacau. Antara benci, ragu, dan ... sedikit rasa yang sulit ditafsirkannya.


Melihat demikian, pria yang tak lain adalah Andrew itu, bangkit dari simpuhnya. Ditatapnya wajah rapuh Jasmine yang tertunduk dengan penuh rasa bersalah. Sementara di bawah sana, penonton terus meneriakkan, "TERIMA! TERIMA! TERIMA!"


Di mata mereka, apa lagi yang ditunggu? Dilihat dari sisi mana pun, keduanya sangatlah cocok. Yang pria tampan dengan segala kesempurnaannya, dan yang wanita adalah pemilik wajah juga pribadi kalem dambaan setiap pria, bahkan dikagumi wanita pula.


Kandyla nampak gemas di posisinya dengan mulut terus saja bersungut-sungut seperti ikan. Kelakuan Jasmine ditatapnya dengan gelengan kesal. Seperti halnya para penonton--baik yang di lokasi maupun yang menyaksikan di layar kaca, juga mengharap Jasmine menerima lamaran itu secepat mungkin.


Seorang pemuda berkumis tipis yang duduk di bangku drum, bergerak mendekat pada Kandyla. "Dy, sejak kapan mereka saling kenal? Kok gak pernah ada gosip apa pun di sosmed ato infotainment gitu?" tanyanya ingin tahu. Tidak apa, laki-laki pun tidak diaharamkan untuk kepo.


Kandyla meliriknya sekilas saja. "Gak tau, Ja," jawab gadis itu. "Gua yang deket aja kek kecolongan. Anjirr banget 'kan?” kelakarnya.


Drummer bernama Deja itu terkekeh kecil. "Kapan lu waspada emang? Sepeda walikota aja lu tabrakin pohon palm ampe penyok! " ejeknya mengingat suatu moment.


Dipukul Kandyla pundak pemuda itu lumayan keras. "Itu 'kan gua nervous, Ja! Elah, lu masi inget aja lagi," kilahnya. "Abis pengawal Pak Wali Kota itu ganteng banget. Siwerlah mata gua!"


Deja berdecih, "Liat pengawal aja lu melongo, apalagi liat biawak ngawinin ayam."


"Kampret juga lu, Ja. Bukan dikawinin, tu ayam malah abis masuk lambung biawak."


Deja terkekeh lagi-lagi. Bercokol garing Kandyla adalah yang paling seru. Lumayan mengembalikan mood yang lagi mumet.


“Aaarrgghh!”


Pada akhirnya percakapan Deja dan Kandyla terpotong dengan gemuruh suara penonton, sehubung sesuatu yang menjadi pemicunya, membuat kedua muda-mudi itu berubah merinding.


"Bangkeh! Gua mauuu," kata Kandyla dengan mimik iri dan mendamba.


Bagaimana tidak,


"Jas ... maafin aku. Maafin aku, please ...."


Seraya berkata demikian, Andrew menarik tubuh Jasmine ke dalam dekapnya. Meresapi hati. Andrew bahkan telah lupa, dia tengah berada di tengah gemuruh lautan manusia yang terus bersorak. "Aku janji bakal nebus semua kesalahan yang udah aku lakuin," sambungnya setulus hati.


Kalimat itu memang dilontarkan Andrew dengan suara lirih, tapi siapa pun akan dapat mendengar, sehubung microfon kecil yang terpasang di kerah baju pria bule itu.

__ADS_1


Demikian tentu langsung mendatangkan berbagai spekulasi dan asumsi di kepala semua orang yang menyaksikan. Apa sebenarnya yang telah diperbuat seorang Bennedict pada Jasmine, hingga meminta maaf sedemikian dalam?


Apakah sesuatu yang sangat besar?


Jasmine tenggelam dalam tangis di pelukan pria yang telah mengacaukan hidupnya itu tanpa gerak berontak. Masih tidak ada jawaban dari mulutnya saking tercekat.


Pikir dan hatinya masih terus berperang melawan ego.


Dari berbagai sudut, pemandangan itu mulai sibuk disorot paparazi yang tentu saja kehausan bahan gosip untuk berita mereka. Karena sudah dipastikan, berita lamaran disertai permintaan maaf Bennedict, akan mengguncang jagat media tanah air esok hari.


Di tengah irama menunggu, sesuatu kembali mencengangkan semua orang.


Seorang pria ber-tuxedo hitam, muncul dari sudut pentas. Sepasang kakinya terayun santai disertai senyum mengembang di bibirnya. Dinilai dari gestur, seperti langkahnya akan menuju ke arah di mana Jasmine dan Andrew berada. Namun keliru. Sosok tersebut justru melangkah ke depan, menghadap para penonton.


Suasana lebih riuh dari sebelumnya. Selain ketampanan tak manusiawi, penyebab lainnya adalah; Wajah yang bagaikan pinang dibelah dua dengan pria yang kini memeluk Jasmine--sangat tak ada beda, jika dipandang sekilas.


Siapa lagi kalau bukan Austin Blue Bennedict. Kedatangannya membius sekaligus mengacaukan situasi.


Merubah riuh menjadi tema yang bukan lagi.


"Hallo, semuanya!" Dengan ramah dan senyum mengembang manis, pria itu menyapa khalayak di bawah panggung yang masih menjerit-jerit seperti ledakan kembang api pergantian tahun.


Jasmine mendorong tubuh Andrew menjauh secara kasar. Kedua matanya terbelalak bukan kepalang--melotot ke arah yang kini jadi pusat perhatian semua mata. Jantungnya terpukul-pukul menggoda saling bertabuh.


"Ben," gumamnya terpelongo.


Bukan! Bukan hanya karena kehadiran Austin saja. Sesuatu lebih mengejutkan dari pada itu.


Ya, itu dia!


Bocah perempuan gembul di pangkuan pria itu.


Lily Bennedict!


Gaun putih dengan rok bulu angsa lebat sebatas lutut. Bandana berkeliling bunga lily melingkari kepala berambut blonde miliknya yang sedikit ikal. Alas kaki dibalut sepatu balet melintang pita putih hingga pertengahan betis. Lengkap semua yang ada pada diri bocah kecil itu. Wajah cantik dan tubuh gembulnya nampak menggemaskan.

__ADS_1


Ditatap Jasmine dengan rasa tak percaya.


Jantungnya bertalu semakin resah.


Apa yang akan dilakukan Austin?


Apakah pria itu akan mengungkapkan siapa Lily sebenarnya pada semua orang dan menghancurkan kariernya dalam sekejap mulai dari sekarang?


God ....


Ah, tidak!


Bukan! Bukan perihal karier yang lebih mengganggu pikiran Jasmin saat ini. Tetapi lebih kepada; Akan seperti apa nasib Lily ke depannya jika semua orang tahu bagaimana batita itu terlahir dari rahimnya? Sedangkan ia diketahui semua orang adalah seorang gadis, meskipun belum ada pengakuan apa pun perihal statusnya secara gamblang pada semua termasuk agency yang menaungi. Segala asumsi terlahir dari penilaian semua orang tanpa ia yang membuat.


Pasang gadis muda, pengamen jalanan.


Hanya itu mereka tahu.


Tidak akan ada yang menyangka seorang pun, bahwa Jasmine adalah seorang ibu. Ibu muda yang terpaksa menjadi ibu. Kenyataan pahit hidupnya mendorong pada takdir yang bahkan ia pun tak pernah membayangkannya.


Tidak terkecuali Kandyla, dia pun sama terkejut. Gadis tomboy itu mendekat ke samping Jasmine dengan wajah tak jauh berbeda. Bahkan semua artis dan aktor yang terlibat dalam konser itu kini mulai naik memenuhi panggung luas nan megah tersebut, untuk mengetahui apa yang terjadi antara Jasmine, dua Bennedict, juga balita perempuan setengah bule yang menggemaskan.


Semua berkumpul seperti menyaksikan kebangkitan sesuatu yang tertidur ribuan tahun.


Siapa yang tidak akan penasaran dengan itu.


Semua terjebak di antara rasa ingin tahu yang tertuju pada satu lingkup yang membingungkan.


Siapa sosok Jasmine sebenarnya?


Apa hubungannya dengan dua pria berwajah bagaikan pinang dibelah sama?


Bagaimana Jasmine akan menghadapi situasi ini?


Akankah Austin mengungkapkan semua secara gamblang?

__ADS_1


^^^NEXT PART ....^^^


__ADS_2