
Sejak subuh tadi Ayunda telah menginstruksikan kepada Nindyra untuk mengabarinya jika ada kabar terbaru tentang apa pun mengenai galerinya. Tapi siang ini, Ayunda menunggu telepon berikutnya sembari menarik-narik kerah bajunya.
Ia mundur dari meja makan yang telah mereka ubah menjadi ‘markas perceraian’, dan meregangkan leher juga bahu dengan memutarnya secara pelan.
Samudra bersandar di kursi di belakang Ayunda untuk menunjukkan detail investasi properti yang nilainya terkait dengan aset lainnya, Ayunda bisa mencium aroma tajam dan merasakan panas tubuh Samudra. Dan itu sangat mengganggu serta menjengkelkan bagi Ayunda. Sudah dua kali Ayunda menahan diri untuk tidak membentak Samudra, memintanya duduk di sudut ruangan dan memberi jarak dua belas kaki untuk membuatnya nyaman.
“Bagaimana sekarang?” tanya Samudra.
"Aku sangat lelah, bagaimana kalau kita mengakhirinya dan melanjutkannya lagi besok pagi?”
“Melelahkan? Apa kau bercanda, Ayunda?” Pena terjatuh di atas meja belakang, diikuti dengan suara gesekan kursi di lantai. “Kita mulai agak sore ya agar kau bisa cukup beristirahat, dan kau menghabiskan setengah waktumu di sini untuk menelepon. Bagaimana kita bisa menyelesaikannya dalam waktu satu minggu kalau kita bahkan belum menyelesaikan seperduabelasnya hari ini?”
“Maafkan aku Samudra.” ucap Ayunda bersungguh-sungguh.
"Kita tidak akan bisa menyelesaikan ini jika aku tidak bisa berkonsentrasi," ucap Samudra.
Samudra berada di samping Ayunda, dengan raut wajah frustrasi dan dan kekhawatiran tampak jelas di matanya. “Apakah kau lapar? Aku akan memesan makanan untukmu. Apa yang kau mau, bistik, pasta, soto atau apa?”
Ayunda menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin ada makanan lagi yang dijejalkan ke dalam perutnya. Krim keju, dan salmon asap sudah cukup mengisi perutnya pagi tadi. Ia sudah kenyang. Sangat kenyang!!
“Tidak, terima kasih. Yang kubutuhkan adalah tidur.”
Ya, yang ia butuhkan adalah istirahat agar ia bisa fokus untuk bekerja dan untuk mengabaikan godaan Samudra yang sedari tadi terus menempel dari dirinya.
“Bagaimana kalau kita beristirahat sejenak. Lalu kita mulai lagi sepuluh menit kemudian?”
__ADS_1
Ayunda melayangkan tatapan ragu, namun pikirannya teralihkan dengan leher kokoh Samudra dan kerah terbuka yang cukup membuatnya ingin melihat lebih banyak lagi.
Kenapa harus Samudra? Kenapa, setelah bertahun-tahun menunggu, hati dan tubuhnya bangkit dan bernapas kembali. Mengapa Ayunda tidak bisa mengabaikan Samudra?
Atmosfer berubah dan Samudra menyentuhnya, jemarinya yang kukuh memijat lembut leher Ayunda. Ayunda membeku, udara menjadi pengap di dada karena kepanikan merayap di sekujur tubuhnya. “Tidak perlu Samudra!!”
“Ayunda kau harus rileks.”
Namun bagaimana Ayunda bisa rileks jika Samudra begitu dekat sehingga panas tubuh Samudra terasa di kulitnya, dan napas pria itu menyibak rambut halus di belakang telinganya, mengirimkan rasa merinding yang membungkus kulitnya saat Samudra bergumam serak, “Ayolah, Sayang.”
Samudra mengumpulkan rambut di tengkuk Ayunda dengan satu tangan, lalu memutarnya dan menariknya ke samping dengan gerakan mesra yang sangat mengganggu pikiran sehingga Ayunda merasa ragu. Jika ia berbalik, ia akan mendapati Samudra menatap tajam ke dalam matanya dengan penuh rasa cinta yang pernah terhapus oleh waktu.
“Tidak.” Tiba-tiba Ayunda mencoba mengibaskan tangan Samudra menjauh.
Namun dengan cepat Samudra menangkap pergelangan tangannya, menenangkan upaya penolakannya. “Hentikan!”
Samudra berbisik lirih di telinganya, “Rileks saja ya.”
Jantung Ayunda berdebar liar di dada ya. Ya Tuhan, ini suatu kesalahan.
Sudah cukup lama Ayunda tidak merasakan sensasi yang memburunya seperti ini hingga embuatnya panas. Membuatnya merasa nyeri untuk sesuatu yang tidak terjangkau.
Ayunda tidak tahan lagi dengan sentuhan yang di berika Samudra.
“Samudra,” Ayunda terjebak di antara rasa panik akan hasratnya.
__ADS_1
"Aku tahu aku tidak memberimu waktu untuk mempersiapkan menghadapi kebersamaan kita. Tapi semakin cepat kita menyelesaikannya, semakin cepat kita bisa bangkit. Kau kembali ke kehidupanmu, dan aku kembali ke kehidupanku. Bebas dan beres.” ucap Samudra.
Ibu jari Samudra menekan kuat di bagian bawah kepala Ayunda, menyentuh titik tekanan yang tepat berbatasan dengan rasa nyeri. “Bukankah itu yang kita berdua inginkan?"
“Ya.” Ayunda menarik napas panjang lewat hidung lalu mengembuskannya perlahan, dan melepaskan diri dari sentuhan Samudra. "Tapi aku harus pergi!"
“Apakah kau ada kencan dengan pria lain? Pria yang kemarin saat di Jogja mungkin?” Rasa frustrasi dalam suara Samudra membuat Ayunda berbalik dan menatap pria itu dengan tajam. Ayunda terlalu sensitif soal itu.
“Jangan konyol, dia bukan siapa-siapa. Tapi omong-omong soal kencan, kalau kau merasa kesepian, telepon saja pacarmu. Atau kau sudah ‘putus lagi’ dengan selingkuhanmu?”
Sudut mulut Samudra berkedut, alisnya turun. “Mengapa kau bisa tahu soal itu? Kamu masih mencari tahu soal asmaraku?”
Ya Tuhan, mengapa aku keceplosan seperti itu? “Aku hanya menebaknya saja,"
“Begini, Aku benar-benar butuh beristirahat.
“Benar, karena menghitung uangmu terasa begitu melelahkan.” Samudra mengelus rambut Ayunda dengan lembut, lalu menatapnya “Ayunda kau harus serius soal ini.”
Astaga ”Aku sudah membatalkan banyak agenda kerjaku demi seorang pria yang tidak pernah kulihat selama bertahun-tahun. Apa itu tidak cukup serius Samudra?”
Jika Ayunda mengharapkan Samudra akan mundur atau terlihat menyesal, itu tidak mungkin terjadi. “Yang benar saja. Bekerja denganmu sebenarnya hanyalah duduk-duduk bersama selama lebih dari dua puluh tujuh menit. Serius, aku kagum. Antara ketidakmampuanmu untuk fokus dan orang-orang yang harus kau telepon setiap jam. Aku tidak tahu bagaimana galeri itu bisa tetap berjalan. Benar-benar hanya karena keberuntungan.”
Dagu Ayunda tersentak, ia begitu geram.
“Ya, benar-benar mukjizat aku tetap bisa membuka galeriku. Dasar brengsek kau, Samudra.” Ayunda sangat tidak suka jika Samudra meremehkan galerinya.
__ADS_1
Samudra mendengus, lalu kembali menatap ke samping dengan sinis. “Ya ampun, Ayunda, kau ini sensi sekali, padahal aku berusaha membantumu.”
Ayunda mencondongkan tubuhnya ke hadapan Samudra, dan memelototinya. “Bukankah sudah jelas kalau aku tidak membutuhkan bantuanmu? Kalau aku tidak menginginkan apa pun darimu sama sekali?”