
Ayunda tidak bisa berpikir rasional, semuanya lenyap seketika, ketika ia mendapatkan serangan secara tiba-tiba dari seorang pria yang begitu dikenalnya sekaligus begitu asing baginya.
Merekahkan bibirnya dalam ciuman yang meluluhlantakkan dan membuatnya bergetar, sementara dirinya terjepit di antara dinding dan tubuh Samudra.
Oh, Ya Tuhan, sudah lama sekali Ayunda tidak dicium seperti ini, ia telah melupakan gairah ini. Hasrat dari Samudra begitu bergairah dan menggebu, meluncur ke mulutnya, membelai lembut lidahnya.
Berbagi rasa dan tekstur akan na*su Samudra
Begitu nikmat. Ini begitu nikmat, dan Ayunda tidak ingin memikirkan apa-apa.
Ayunda mengalungkan lengannya di leher Samudra dan memeluk pria itu seolah ia tidak akan pernah melepaskannya, ia ingin meminta lebih banyak kenikmatan yang telah begitu lama tidak pernah dirasakannya, dan lebih menyambut ciuman yang seharusnya tidak diterimanya.
Ini memang gila, tapi sejak awal Ayunda telah melemah. Ia selalu membuat-buat alasan dan mencoba memungkiri apa yang tidak bisa dipungkiri. Ia memang menginginkan Samudra.
Ia ingin merasakan kenikmatan Samudra di mulutnya. Impitan tubuh Samudra di atas tubuhnya. Ia menginginkan apa yang ia pikir telah hilang selamanya, ia menginginkannya untuk terakhir kalinya, dan ia menginginkannya malam ini.
Satu malam.
Napas yang selama ini ditahan Ayunda tanpa disadari lepas seketika. Kemudian ia memeluk Samudra. Ia melengkungkan punggung hingga bahunya menempel di dinding dan payuda*anya mengusap dada Samudra. Sementara dirinya terus mengisap bibir dan lidah Samudra, meminta lebih.
Tangan Samudra menelusuri pinggang Ayunda, mengikuti lengkung rusuknya sampai menangkup busung payudar*nya di antara tubuh mereka, lalu membisikkan kenikmatan dengan suara geraman berat yang memenuhi mulut Ayunda. Tangan Ayunda mencengkeram baju kemeja Samudra.
Namun kemudian Samudra berhenti. Jemari kukuh itu mencengkeram rahang Ayunda memiringkan wajah Ayunda ke wajah tegang Samudra. “Tatap aku, Ayunda. Jika kau tidak menginginkannya, hentikan aku sekarang.”
Ayunda hampir tidak bisa bernapas karena sangat menginginkannya. Jangan ada kata berhenti. Jangan sekarang!!
Samudra pasti bisa membaca jawaban itu di matanya, karena mulut Samudra pun kembali memagut mulutnya, lidah Samudra menyusup keras dan dalam, keluar dan kembali masuk. Samudra mengangkat tubuh Ayunda, menarik paha Ayunda mendekat, menempelkan tubuh mereka hampir dengan sempurna, sebelum menggendong tubuh Ayunda ke seberang ruangan.
Ayunda tidak puas. Tangannya mencengkeram rambut Samudra, menarik pakaian Samudra, menyusuri otot-otot padat yang terpahat di bawah sentuhan tangannya. Seharusnya ini bukan dengan Samudra. Ayunda berharap begitu, ia berharap seharusnya sosok di depannya adalah salah seorang dari pria-pria yang selama tiga tahun ini telah bersaing untuk mendapatkan perhatiannya, namun bukan itu kenyataannya.
Ternyata ini adalah Samudra. Hanya Samudra yang bisa membangunkan gairahnya. Rasa panas di antara mereka terasa begitu nikmat, begitu menggairahkan, begitu liar, begitu melampaui apa pun yang pernah Ayunda rasakan sebelumnya.
Jemari Samudra terentang di balik paha yang terbuka lebar, ia menariknya mendekat hingga Ayunda mengenai pangkal pahanya yang telah menegang.
Ayunda sudah begitu bergairah, Samudra bisa merasakannya lewat rok mini berbahan tipis seksi yang dikenakan Ayunda.
Samudra bergerak mengikuti insting, ia membaringkan tubuh Ayunda di atas meja, lalu ia membungkuk sambil menyapukan satu lengan di atas meja, menyingkirkan semua yang berada di atas meja, termasuk dokumen-dokumen yang akan di serahkan kepada pengacara mereka untuk proses perceraian mereka, semuanya jatuh berserakan.
__ADS_1
Dan mereka bisa membereskannya nanti.
Prioritas utamanya kini adalah menikmati kenikmatan ini.
Kedua kaki Ayunda mengunci erat di pinggul Samudra, tangan Ayunda menyentak lepas kancing kemeja Samudra.
Mereka melepas pakaian yang menghalangi, lalu bergerak dengan gelisah menunggu penyatuan yang terasa begitu lama.
Lenguhan nikmat mengalir keluar dari bibir Ayunda penuh hasrat, ditambah pinggulnya yang terangkat, ciuman basah di leher Samudra, dan genggaman tangan yang kalut, tegang dan meraba, di balik kemeja Samudra yang terbuka.
Samudra mencengkeram baju tipus Ayunda, yang telah mengganggu konsentrasinya di sepanjang hari ini, ia melepas dari atas kepala Ayunda. Rambut Ayunda tergerai lembut di bahunya yang ramping, kemudian Samudra melepas B*a berenda yang menutupi payudar* Ayunda.
Telapak tangan Samudra menangkup gumpalan padat itu, menjepit puncaknya yang mengeras.
Ayunda begitu cantik. Ayunda menekan tubuhnya ke tangan Samudra, sementara bibirnya merekah untuk melenguh dengan pasrah.
Sensitif. Menggoda. Ayunda begitu senang disentuh oleh Samudra.
Gema jeritan lembut dari ratusan malam yang berbeda yang pernah mereka lalui pun membuat punggung Samudra tegang, mendesaknya kembali merasakan kenangan-kenangan itu pada saat ini.
“Kita hanya bersenang-senang sejenak di sini.” bisik Samudra.
“Dua orang dewasa yang melakukan aktivitas orang dewasa.” Samudra menarik puncak payuda*a Ayunda, membuat Ayunda semakin menikmati sentuhan Samudra.
Kemudian ia memilin puti*g Ayunda yang mengeras, dan menatap mata Ayunda. Ayunda yang begitu, indah, nakal, feminin.
Tangan Samudra mulai turun kebawah melucuti rok mini yang sedari tadi sudah mengganggu pikirannya. Tatapannya menelusuri tubuh Ayunda, lekukan padat yang menggoda. Lalu Ayunda bangun menyodorkan bulatan sempurna dan lembut miliknya kehadapan Samudra, sehingga Samudra semakin tergoda untuk mengis*p, menggigit, dan memutar lidahnya pada tonjolan yang tegang itu sampai Ayunda memekik memohon, memohon untuk mendapatkan lebih.
Samudra menarik kain terakhir, celana dal*m berenda Ayunda, ke sepanjang kaki yang jenjang. Tangan Samudra menggenggam pergelangan kaki Ayunda dan meluncur hingga ke betisnya, memegang bagian belakang lututnya. Merentangkan kaki Ayunda
Samudra menyentak ritsletingnya dengan satu tangan, lalu melangkah ke sela kaki Ayunda, bersiap untuk......
Samudra menarik udara ke paru-parunya, melawan aroma tubuh Ayunda yang menggoda, kemudian menatapnya.
“Kenapa? Kumohon jangan berhenti. Tidak apa-apa, Samudra. Sekali ini saja, malam ini saja. Jangan berhenti.”
“Tidak, Sayang. Kond*m, kita butuh kond*m.” Samudra tidak menyangka bisa sampai kelupaan memikirkan kond*m. Sebenarnya ia tidak pernah memakainya saat dulu bersama Ayunda, karena Ayunda dulu minum pil sebelum akhirnya berhenti karena masalah menstruasi yang menjadi tidak teratur.
__ADS_1
“Aku tidak akan hamil, jika hanya sekali saja melakukannya” ucap Ayunda.
“Baiklah,” jawab Samudra, tanpa membuang waktu ia kembali melakukan aksinya.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Ayunda dan Samudra.
“Ayunda...” Samudra mengusapkan ibu jarinya di kulit telanjang pinggul Ayunda. “Dengarkan aku, apa yang tertulis di surat kabar itu sama sekali tidak benar. Apa pun yang kau baca, itu tidak benar.”
Sebenarnya Samudra tidak ingin membahas wanita lain, ia tidak ingin memikirkan dan membahas siapa pun selain Ayunda. Dan yang ingin Samudra pikirkan hanyalah Ayunda. Namun ia harus meluruskan ini, agar Ayunda tak selalu menganggapnya pria brengsek.
“Yang tadi kau katakan kalau aku ‘putus’ dengan seorang wanita, itu benar. Aku benar-benar sudah putus dengannya. Sekarang sudah lebih dari satu bulan."
Samudra berharap bisa meluruskan bahwa dirinya bukanlah bajingan seperti yang ditulis surat kabar, tapi sepertinya Ayunda tak mempercayai ucapan Samudra.
Dengan perlahan Ayunda bertanya, “Apakah kau ingin aku menceritakan kehidupan percintaanku?”
“Tidak,” Samudra tersedak karena rasa cemburu tiba-tiba menyumbat tenggorokannya. Ia memejamkan mata, berusaha menghapus bayangan yang dengan cepat memenuhi pikirannya. Ia tidak ingin mendengar soal itu.
“Aku tahu ada pria lain, tapi aku tidak peduli."
Samudra meraih dagu Ayunda dan kembali mencium bibir manisnya.
“Aku sudah lelah Samudra,” ucap Ayunda, sembari mencoba melepas sentuhan Samudra. Ayunda sudah menangkap gelagat Samudra yang menginginkannya lagi.
“Katakan Ayunda aku salah! Katakan jika tidak ada orang lain, selain aku." Samudra kembali menyentuh payuda*a Ayunda.
“Samudra, please. Aku benar-benar lelah.”
“Baiklah.” Samudra kembali mengenakan pakaiannya. Ia tidak bisa memaksa Ayunda karena sekarang sudah berbeda.
“Ayunda, apakah kau pernah menungguku untuk kembali kepadamu?” tanya Samudra.
“Tentu saja, tidak!”
Ayunda berusaha untuk tidak membuka luka lama yang dengan susah payah dikuburnya
__ADS_1
“Untuk apa aku menunggumu, setelah kita kehilangan Galen—” Bayangan tubuh kecil itu menampar Ayunda, menyesakan dadanya. Sambil menggeleng, Ayunda berusaha menarik napas, tidak ingin menyerah pada emosi gelap yang berusaha menenggelamkannya ketika ia menggali luka lama terlalu dalam. “Aku hancur. Sampai ke dalam jiwaku.”
"Maafkan aku Ayunda...."