Sebelum Berpisah

Sebelum Berpisah
Chapter - 16


__ADS_3

Samudra terbangun dalam cahaya samar keunguan yang membasuh langit malam saat fajar siap menyingsing.


Ia sudah tidur dengan istrinya.


Tidur! Seolah hubungan intim yang telah mereka lakukan belumlah cukup, ia menarik Ayunda ke pelukannya. Menarik lekukan elok tubuh itu ke tubuhnya dan membiarkannya.


“Terima kasih atas malam yang sangat indah, Sayang. Kau benar-benar sangat luar biasa.”


Samudra melihat Ayunda merasa damai dalam pelukannya, napasnya berirama dengan tenang dalam tidurnya, dan Samudra semakin erat memeluknya. Ia membiarkan mulutnya menempel di lekuk bahu Ayunda, hidungnya terkubur dalam helaian halus rambut Ayunda. Lengannya membalut tubuh Ayunda sementara tiupan lembut napas Ayunda bertiup di buku-buku jemarinya yang menempel di atas bantal.


Seolah waktu bertahun-tahun lalu, tahun-tahun kehilangan mimpi, hidup terpisah, di kota yang berbeda, wanita berbeda, seolah semuanya itu tidak pernah terjadi.


Dan kenapa?


Karena Samudra membuat Ayunda mendamba… membuat Ayunda klimaks… karena ia memberi Ayunda sesuatu yang telah hilang, dan sorot mata wanita itu telah membuat Samudra merasa seperti dewa?


Lucu sekali.


Samudra harus pergi.


Dengan lembut ia melepaskan diri dari pelukan erat tubuh Ayunda, dan bersiap beringsut, ketika dengkuran sensual menghentikannya selama sesaat. Suara itu. Sialnya suara itu memasuki kulitnya, menyelinap ke dalam pembuluh darahnya dan mengalir bersama jejak panas yang merasuki hatinya.


“Kau mau ke mana, Samudra?” tanya Ayunda dalam keadaan setengah sadar.


Waktu istirahat sudah selesai, Sayang. Itulah yang harus Samudra katakan. Ini hanya hubungan satu malam. Lalu ia akan mencium Ayunda lama dan pelan, manis dan lembut. Memberikan salam perpisahan yang indah untuk membungkus sisa-sisa pernikahan yang telah sering kali mereka sepakati bahwa tidak seharusnya terjadi, dengan memberikan alasan yang jelas tentang jarak dan pengharapan.


Namun Samudra tidak bisa berkata-kata. Tidak bisa melakukan apa-apa selain menyusuri lekuk tubuh Ayunda di balik selimut dan berpikir bahwa di sinilah tempat Ayunda berada.


Di tempat tidur Samudra, bersamanya menghabiskan malam di sisa usianya.


Kenyataan yang mengganggu itu mengendap di sekelilingnya. Sekarang ia telah mendapatkan Ayunda, ia tidak akan bisa meninggalkan Ayunda sendirian. Selama ia masih bisa meraih uraian rambut hitam yang halus itu, ia akan menggulungnya dalam kepalannya untuk menariknya lebih dekat.

__ADS_1


Itu tidak berarti mereka tiba-tiba akan membatalkan perceraian. Tidak akan. Ini bukanlah kesempatan kedua untuk memadamkan bara api yang hampir menghancurkan mereka. Sekarang, ini hanyalah nyala api yang masih bisa dikendalikan. Abu masa lalu mereka berperan sebagai pembatas dari kemungkinannya yang bisa merusak. Karena api tidak bisa memakan apa yang sudah tidak ada, dan semua harapan lama, emosi, dan fantasi telah hilang sekarang. Bagi mereka berdua.


Samudra bersandar pada satu lengan, menatap Ayunda yang sedang setengah tertidur di bawahnya. Samudra membelai helaian rambut dari wajah itu, kemudian mengelus ujung jarinya ke pipi Ayunda, ke kontur halus di belakang telinga, kemudian bergerak turun ke payud*ra. Menelusuri pelan lingkaran areol* berwarna merah muda, dan mengamati puncak payud*ra yang ia sentuh. Napasnya berhenti dan tertahan. Pinggiran gelap bulu mata Ayunda bergerak terbuka, memunculkan bola mata yang berat mengantuk, telah dimabuk gairah.


Bibir Ayunda merekah dan ujung basah lidahnya menyelip keluar, pangkal paha Samudra mengeras dengan nyeri.


“Kau mau satu kali lagi?” gumam Ayunda, lututnya bergeser di atas paha Samudra, mengundang dengan halus dan lembut.


Satu puntiran lagi mengelilingi puncak payud*ra yang mengeras, hampir menggoda, tapi belum terlalu. “Apakah itu maumu? Sekali lagi?”


“Apa maksudmu?”


Kepala Samudra mendekat, ia mencium Ayunda dan merasakan manisnya lidah yang membelit. Lentingan punggung Ayunda dan tekanan payud*ranya, ditambah jeritan lembutnya, adalah sikap pasrah. Jemari Samudra bergerak turun menyusuri perut dan menuju lekuk di pangkal paha yang terasa hangat dan nyaman.


“Sampai proses perceraian selesai, Ayunda.” Dengan lembut Samudra menyelipkan satu jari ke tubuh Ayunda, dan melihat mata Ayunda berkaca-kaca seakan sedang berusaha keras mendapatkan kejelasan. Tangan Samudra bergerak. Ia mengerang dalam cengkeraman erat saat Ayunda mengejang karena gerakannya yang tiba-tiba. Samudra menarik jarinya dan mengusap titik sensitif Ayunda. “Tidak lebih dari pada itu.”


“Kita masih punya waktu seminggu.” Paha Ayunda membuka semakin lebar, membuka dirinya secara utuh.


“Tidak cukup,” ujar Samudra sembari menundukkan kepala melawan kenikmatan yang membuat mereka berhalusinasi, lalu menarik diri sejauh mungkin, kemudian kembali mendorong dalam-dalam.


Ayunda menjerit, mencengkeram bahu Samudra saat rumitnya mencari pijakan di belakang paha Samudra. “Berapa lama?”


Samudra mendorong lagi, dan memutar pinggulnya sebelum menariknya kembali dan mengulanginya lagi.


Berapa lama Samudra bisa memiliki Ayunda, dan menikmati ini tanpa ada yang terluka? Seminggu tidak akan cukup. Ia tahu itu dengan pasti. Dengan batas waktu lima hari lagi, ia hanya akan membiarkan Ayunda beranjak dari tempat tidur untuk bercinta di kamar mandi, atau di atas meja, lantai, laut, pantai, di bawah tebing karang di kolam air pasang.


Jika Samudra hanya memiliki waktu seminggu, ia bahkan tidak akan membiarkan Ayunda mendekati markas perceraian mereka, dan Samudra harus benar-benar serius mempersiapkan masa depannya. Mereka membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan ini.


“Selama waktu yang diperlukan.” Samudra mendorong lagi, lalu terdiam, terkubur di dalam tubuh Ayunda. Mata coklat itu menatapnya saat ia menggerakkan tubuhnya, menyentuh titik sensitif Ayunda. Ayunda menguncinya, dan terengah saat mengangkat lutut lebih tinggi di atas tulang rusuk Samudra.


Oh, ya, Ayunda menyukainya.

__ADS_1


“Kita akan mengerjakannya sesuai jadwal.” Samudra bergerak lagi. “Bertemu di setiap akhir pekan saat kita sempat.” Ia menunduk untuk mencium, mendorong lidah seirama dengan gerakan pinggulnya sedalam mungkin. Kemudian, “Menghitung aset satu per satu.”


“Itu masuk akal,” Ayunda setengah mengerang, mengangkat pinggul di bawah tubuh Samudra untuk mengimbangi setiap dorongannya. “Kita tidak perlu terburu-buru.”


“Tidak perlu terburu-buru,” Samudra setuju, lalu kembali bergerak. Jemari Ayunda menjambak rambutnya, menggenggamnya erat-erat saat tubuh Ayunda menegang ke atas, meminta lebih. Gairah Ayunda hampir meledak.


“Kita masih memiliki banyak waktu.” Napas Ayunda kini tersengal lemah. Rona merahnya semakin gelap di pipi dan dada.


“Agar kita lebih teliti mengitung asset kita, Ayunda.” Sekali lagi Samudra mendorong dalam-dalam. Sekali lagi mengejang, sekali lagi ia perlahan bergerak di tubuh Ayunda dan Ayunda pun menyerah. Mencapai *******, meneriakkan nama Samudra saat Samudra ikut larut dalam ledakan gairah.


Beberapa saat kemudian, dengan masih ada di dalam tubuh Ayunda, Samudra berguling ke samping, dan menarik Ayunda bersamanya. “Kita berdua tahu apa yang boleh. Sama seperti kita berdua tahu apa yang tidak boleh.”


“Hubungan sesaat atau perselingkuhan.”


Berselingkuh dengan istrinya sendiri. Gila, tapi itu istilah yang tepat. “Dan ketika ini berakhir.....”


Jemari Ayunda mengusap bibir Samudra, mengikuti konturnya dengan cara menggoda yang membuat tubuhnya mengejang. Bagaimana ini bisa terjadi kepadanya?


Ayunda menatapnya, senyum lembut tersungging di bibirnya. “Ketika ini berakhir, kita berpisah, meninggalkan masa lalu, dan membawa kenangan indah bersama-sama.”


Kemudian kobaran api di antara mereka akan hilang dengan sendirinya.


Tidak lebih. Tidak ada yang terluka.


Itu yang terpenting. Dalam hidup, tidak ada yang lebih buruk dari pada amarah yang Samudra rasakan saat melihat Ayunda menderita. Pada akhirnya mengetahui kalau dialah yang menjadi penyebabnya, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki itu. Samudra membuat Ayunda hamil diluar nikah sehingga Ayunda kehilangan orangtuanya. Kemudian Ayunda kehilangan bayinya dan yang tersisa hanyalah Samudra. Si bodoh yang tiga tahun lalu berusia dua puluh tiga tahun yang merasa tahu caranya menjadi suami, tapi sama sekali tidak tahu apa-apa. Si bodoh yang menjalin kasih dengan sesama aktris demi popularitasnya di tengah istri rahasianya yang sedang mengandung anaknya. Semua yang Samudra lakukan sangat salah.


Samudra tidak akan melakukannya lagi. Tidak peduli betapa ia sangat menginginkan Ayunda.


Namun mereka tidak akan berada di sini selamanya atau mencoba membangun sesuatu yang abadi atau kukuh. Ayunda tidak membutuhkan tempat semacam itu. Ayunda telah pulih dari sakitnya dan lebih kuat dari pada sebelumnya. Ayunda tahu apa yang mereka lakukan dan ia menginginkannya. Itu sudah jelas. Itulah kenyataannya. Tidak ada kejutan. Tidak ada kemungkinan untuk patah hati.


Ketika merasa aman dengan menyadari hal itu, Samudra meraih pinggul Ayunda dan, sembari mengerang karena hasrat yang bergelora, ia kembali bercinta dengan Ayunda.

__ADS_1


__ADS_2