Sebelum Berpisah

Sebelum Berpisah
Chapter - 07


__ADS_3

Dengan mata yang tetap menatap atap mobil, Ayunda menggeleng, “Kau tidak pernah berubah.”


“Setiap orang berubah, Ayunda. Dan setiap orang tetap sama.” Samudra menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan kepalanya terkulai ke sandaran kursi. “Hanya saja tidak mudah untuk bisa melihat bagaimana hal itu bisa terjadi.”


Sambil meluruskan punggung di sandaran kursi, Ayunda memikirkan apa yang dikatakan Samudra, tentang perubahan di antara mereka.


Tentu saja Samudra memang benar, pria yang duduk di sebelahnya kini bukanlah sosok yang dilihatnya ketika ia membiarkan benaknya mencari wajah sosok suami di dalam ingatannya. Dulu saat ia mengenal Samudra, ia pria yang berpkaian santai dan banyak memiliki waktu untuknya, namun kini pria itu berpakaian rapi dengan jas dan dasi, dan melakukan beberapa pertemuan penting.


Namun jauh di dasar lubuk hati Ayunda, Samudra selamanya adalah pria yang sama, berkembang bersama optimisme dan ide yang tak terbatas. Seorang visioner yang telah mencapai kesuksesan di usia muda, antusias, dan memiliki hati yang sangat lembut, membuat hati Ayunda sakit mengingat rasa ketika menerima semua perlakuan itu.


Samudra sekarang seorang miliarder, berkeliling dunia dengan jet pribadi mewah, melintasi kota dengan helikopter pribadinya. Begitu mengagumkan dan keren. Seisi dunia mulai mengantre untuk menawarkan banyak hal kepadanya, namun itu semua hanya sebuah kesuksesan. Permukaan luar berubah, seperti garis dan kerut yang semakin terlihat jelas di sekitar mulut dan matanya.


Bagaimana dengan hati Samudra? Ayunda tidak tahu. Ada beberapa hal yang jelas terlihat. Pria itu sekarang lebih keras, lebih tidak berperasaan, sinis. Namun di luar itu, Ayunda tidak mengenalnya, dan tidak tahu apakah ia memang ingin mengenalnya lebih jauh.

__ADS_1


Ayunda membayangkan Samudra merasakan hal yang sama.


Beberapa tahun yang lalu saat usianya baru genap dua puluh tahun. Keinginan, harapan dan impian Ayunda sangat sederhana, dan semuanya berkaitan dengan Samudra. Ia nyaris tidak pernah memiliki pikirannya sendiri pada saat itu. Bahkan tidak mencoba untuk mencari tahu semua yang ada pada dirinya. Ia hanya ingin terlihat cantik, bersenang-senang, tertawa, mendengarkan musik, berpesta, dan kencan. Ia menikmati masa kuliah, mendapatkan nilai yang bagus. Namun seketika ia harus menerima kenyataan dimana keadaan mengharuskannya untuk putus kuliah dan segalanya benar-benar berubah. Ketika orangtuanya mengetahui kalau dirinya telah mengecewakan mereka, semua cinta dan dukungan yang pada saat itu telah menjadi fondasi hidupnya pun tiba-tiba menjadi pamrih.


Ayunda sangat berterima kasih kepada Samudra karena selalu ada untuknya. Berdiri di sampingnya. Samudra memberikan perhatikannya, cintainya, dan kemudian menikahinya. Membawa serta dirinya pindah ke Jakarta untuk meniti karier.


Samudra memperlakukan dirinya seperti emas, tapi Ayunda justru memperlakukan dirinya sendiri seperti semacam beban hidup Samudra, alih-alih mitra yang sejajar. Ayunda sangat bergantung kepada Samudra sehingga takut untuk melangkah keluar dari bayang-bayang Samudra. Ayunda sangat mencintai Samudra sehingga ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Samudra adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan.


Amarah yang terpendam pun menyeruak ke permukaan, membuat Ayunda memalingkan wajah dengan penuh rasa bersalah. Tidak adil menyalahkan Samudra karena dirinya sendirilah yang bodoh. Atau karena Samudra memiliki kehidupan lain sebagai cadangan saat kehidupan yang mereka jalani bersama hancur.


Samudra mematikan Ipadnya, dan kemudian memasukkannya ke tas selempang di kakinya. “Dengar Ayunda, jika kauntak ingin sekamar denganku lagi, ada kamar tamu, kau pakai saja kamar itu.Tapi kita harus mengatasi masalah ini."


Kamar tamu tidak akan cukup. “Tapi bukan itu masalahnya, aku butuh ruanganku sendiri, ruangan untuk bekerja," ucap Ayunda.

__ADS_1


“Kau sedang berlibur,” Samudra membalas dengan tenang, meskipun Ayunda tidak melewatkan tatapan dingin di matanya.


Samudra tidak suka dibantah, dan sejauh ini, itulah yang selalu Ayunda lakukan.


“Tapi aku harus tetap bertanggung jawab pada galeriku, terlebih sebentar lagi kami akan mengadakan pameran.” Ayunda menghela napas untuk menenangkan diri dan menatap wajah Samudra untuk meminta pemahaman, tapi ia hanya menemukan keteguhan yang tidak terbantahkan.


“Aku akan menyiapkan ruang kantor untukmu di rumah.” Samudra menarik ponsel dari sakunya dan menyapukan ibu jarinya pada layar. “Katakan saja apa yang kau butuhkan, aku akan suruh orang untuk menyiapkannya”


“Hotel, Samudra.”


Samudra tetap diam, ini adalah langkah taktis dalam permainan perebutan kekuasaan yang tidak tertarik untuk Ayunda mainkan. “Kau selalu bisa mendapatkan keinginanmu, bukan?”


Samudra menatapnya, sampai ketegangan di antara mereka mencair.

__ADS_1


“Tidak, Ayunda. Tidak selalu.”


Ayunda tidak akan menyerah, karena ini berhubungan dengan pengendalian diri dan harga diri.


__ADS_2