
Untuk kesekian kalinya, mata Ayunda kembali berkaca-kaca, fokusnya hilang dalam lingkupan mimpi, kenangan, dan fantasi yang terus ia yakinkan kepada dirinya untuk tidak bisa ia miliki. Ayunda mengerjap mata untuk kembali fokus, membaca surat panggilan sidang yang ke tiga, yang berarti bahwa sebentar lagi hakim akan mengetuk palu perceraian mereka.
Tidak ada lagi jalan untuk kembali.
Ayunda beranjak dari tempat tidurnya, ia menghirup udara segar dari jendela yang terbuka di seberang ruangan. Semua keraguan yang ia coba tahan berkumpul menjadi satu, mencekik dirinya.
Dengan bertumpu pada lengan yang menahan tubuhnya di panel jendela, kepalanya terkulai, menghirup dalam-dalam udara malam Jogja yang sejuk dan beragam suara yang mengisinya. Pintu mobil yang tertutup, teriakan, sapaan, tawa dan suara sirene mobil polisi yang lewat di depan kediamannya dan angin yang berembus menghantam dinding bangunan.
Ayunda memejamkan mata, menunggu ketenangan datang yang mau tidak mau telah pergi mengikuti badai emosinya. Ketenangan yang didahului dengan panggilan namanya yang membelah malam.
Ia kembali tersentak, kepalanya terbentur kerasnya pinggiran jendela yang terbuka saat ia ternganga melihat jalanan di bawahnya, di tempat Samudra sedang berdiri, dengan tangan di atas kepala, menggumamkan agar Ayunda berhati-hati.
Samudra berfikir jika Ayunda, hendak lompat dari lantai dua kediamannya.
Ya Tuhan, apa yang sedang Samudra lakukan di situ?
Dalam hitungan detik, Samudra sudah ada di dalam kediaman Ayunda, berdiri di depan pintu kamarnya. Namun kali ini, saat Samudra memeluknya, ia segera menelisik benjolan yang sangat lembut di kepalanya. Bejolan saat Ayunda tadi terbentur jendela.
Samudra mendekap pelipis Ayunda dengan telapak tangan, menelusuri wajah Ayunda. “Kau baik-baik saja?”
__ADS_1
Tidak. Sama sekali tidak. Tidak saat Samudra berdiri begitu dekat hingga membuat Ayunda hampir tidak bisa bernapas atau berpikir atau menahan diri untuk menyentuh tubuhnya "Aku baik-baik saja."
Samudra mengangguk sekali, ibu jarinya menyapu tulang pipi Ayunda.
"Kamu begitu kuat," gumam Samudra.
Dengan kesadaran yang datang secara tiba-tiba, Ayunda mengerti kenapa Samudra datang. Karena surat surat penggilan putusan sidang itu, dan Samudra ingin tahu apakah Ayunda punya tuntutan lain terhadap asset mereka. Ayunda pikir sudah tidak ada tuntutan lainnya. Namun itu sebelum Samudra berdiri di depannya dengan memberikan belaian yang nyata di wajahnya.
Ayunda melangkah mundur, menyilangkan lengan di dada dan memaksakan senyuman yang tidak bisa ia rasakan di bibirnya. "Ya tentu saja, aku kuat.”
“Aku tahu dan—” Ekspresi wajah Samudra tidak bisa terbaca. Samudra terlihat sangat rapuh selama beberapa detik sebelum berpaling dan berdeham sambil menyapukan helaian rambut hitam yang jatuh ke alisnya. “Apakah itu suratnya? Kau sudah membacanya?”
“Aku sudah tidak ada tuntutan apa pun mengenai asset kita,” ucap Ayunda, mencoba membuat kata-katanya terdengar setenang mungkin. Ia menaruh seluruh dokumen itu di atas meja kerjanya.
“Apa-apaan ini?” Geraman keras menyentak Ayunda, mengalihkan perhatiannya kembali kepada Samudra dan ekspresi kejam di wajahnya.
Dengan ketakutan Ayunda mengamati tempat tidurnya sembari menduga melihat satu halaman berkas yang secara tidak sengaja tertinggal. Namun tidak ada apa-apa. Tidak ada yang bisa menjelaskan kemarahan yang berkilat di mata Samudra.
Tidak ada apa-apa kecuali kotak perhiasan hitam yang tergenggam dalam kepalan Samudra.
__ADS_1
“Begini caramu untuk bangkit?” raung Samudra, bahu dan dadanya terlihat semakin lebar saat Samudra mendekati Ayunda hingga ia terdorong ke meja kerjanya karena terlalu kaget untuk merespons.
“Siapa dia?” tanya Samudra, sembari menatap ke seluruh penjuru dunia seolah-olah ingin meruntuhkan bangunan di bawah mereka.
"Samudra, itu cincinku."
Jangan bercanda, Ayunda! Samudra pernah melihat kotak cincin sebelumnya. Samudra hanya tidak menduga akan melihat itu ada di samping dokumen perceraian mereka. Samudra sepertinya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini barang sedetik pun. Namun ini belum terlambat, Samudra tidak akan membiarkannya. Ia hanya ingin mengetahui siapa musuhnya "Ini dari Djiwa, kan?" Ia memuntahkan kata-kata itu. Ini pasti dari Djiwa, pria itu berpikir bisa mengambil Ayunda dari dirinya, Samudra ingin menemukan bajingan licik itu dan merobek tubuhnya.
Namun kemudian tangan Ayunda menggenggam tangan Samudra, menarik jemarinya agar Samudra bisa membuka kotak itu. Dan menyodorkannya di depan wajahnya.
Samudra melihatnya.
Cincin pernikahan Ayunda.
Samudra tidak melihat benda ini selama bertahun-tahun, dan juga tidak berusaha mencari tahu kapan tepatnya Ayunda berhenti memakainya. Tidak menyadari fakta bahwa di suatu hari Samudra pernah membuka sebuah majalah dan melihat foto Ayunda di sana serta kesuksesan galerinya, dan cincin itu tidak ada.
Namun sekarang cincin itu ada.
Ramping. Terasa rapuh saat Samudra menariknya dari bantalan sutranya dan menaruhnya di telapak tangan, ia bersumpah ia bisa merasakan cincin itu terasa berat dan keras hingga menghantam dadanya saat ia berdiri di depan pendeta, menunggu untuk memberikannya kepada Ayunda.
__ADS_1