Sebelum Berpisah

Sebelum Berpisah
Chapter - 19


__ADS_3

Kedatangan Ayunda, berikutnya.


Kemajuan dalam urusan pembagian aset bergerak pelan tapi pasti, tanpa batas waktu yang jelas, mereka tenggelam dalam kebiasaan menjadikan pagi hari sebagai waktu untuk menikmati berbagai aktivitas seperti: joging di pantai, bermain air laut, atau menikmati secangkir kopi. Apa pun yang bisa dilakukan sebagai selingan antara meninggalkan tempat tidur dan mengurus berkas perceraian.


Hari ini, Samudra mengajak Ayunda mengunjungi pulau kecil yang berada di kepulauan seribu.


"Kau tidak takut mabuk lagi kan?" ledek Samudra, ia teringat saat malam pertama kedatangan Ayunda ke Jakarta bersama dirinya, Ayunda mabuk perjalanan.


"Bukankah ada kau yang akan memberiku obat, atau segelas teh hangat?"


Samudra tersenyum, sembari membuka throttle secara perlahan, kemudian ia menarik collective ke atas, lalu menginjak pedal kiri di lanjutkan mendorong collective.


Samudra terlihat sangat mahir menerbangkan helikopter ke udara, membuat Ayunda tak hentinya di buat kagum oleh pria yang berada di sampingnya, namun separuh darinya selalu mengingatkan jika ini hanya sementara, sampai hakim mengetuk palu putusan perceraian mereka.


Ayunda menatap keluar melihat indahnya kota Jakarta yang di padati oleh rumah-rumah dan gedung-gedung tinggi, kemudian menyusuri teluk Jakarta. Semuanya nampak sangat indah, meski hanya perjalanan singkat yang kurang lebih hanya memakan waktu 15 menit.


Samudra mendaratkan helikopternya di villa pribadi miliknya, yang juga merupakan salah satu asset yang sedang mereka hitung.


Sembari turun dari helikopter, Ayunda menilik ke arah villa yang dulu pernah menjadi salah satu tujuan berlibur menghabiskan akhir pekan bersama suaminya, villa dan pulau itu memiliki sejuta kenangannya bersama Samudra.


"Kau masih ingat dengan pasar dadakan di belakang villa kita?" tanya Samudra, ia berjalan menghampiri Ayunda.


Ayunda tersenyum sembari menganggukan kepalanya, ya tentu saja ia ingat semua tentang pulau ini, sama sekali tidak ada yang hilang dalam ingatannya. Termasuk taman bermain sekolah dasar yang menjadi tempat digelarnya pasar dadakan setiap hari minggu.


Samudra mengelus permukaan kulit Ayunda yang terbuka di antara celana jins low-rise dan ujung crop top tinggi yang Ayunda kenakan. “Mari kita ke sana."


Ayunda menatapnya sekilas, kemudian keduanya berjalan menuju pasar dadakan di belakang villa mereka.


Langkah Ayunda terhenti ketika perhatiannya tertuju pada stan penjual bunga dan aneka pot bunga yang menciptakan spektrum warna cerah, bunga dan kelopak yang hampir selembut kulit yang diusap Samudra.


“Bunga mawar," ucap Ayunda sambil menunjuk ke arah bunga itu dengan senyuman.


Ketika Ayunda hendak mengambil uangnya, Samudra memutar bola mata, lalu mendekat ke telinga Ayunda sembari menahan tangan Ayunda. “Biar aku saja yang membayar, anggap saja ini kencan, oke?" bisik Samudra.


“Kencan?”


Samudra bisa mendengar nada geli dalam suara Ayunda dan tahu bahwa pada akhirnya hari ini ia akan beruntung karena Ayunda menerima tawaran kencannya. “Ya. Sudah lama kita tidak berkencan.”


Samudra membayar buket bunga mawar favorit Ayunda, lalu menyerahkannya kepada Ayunda, yang tersenyum ke arahnya dari balik bulu mata tebalnya dengan rona malu mewarnai pipinya.


Jantung Samudra berdegup keras saat melihat itu.


“Terima kasih, sayang.”


Sial, Samudra hampir tidak bisa menahan dengusan napasnya, apalagi mencoba berkata-kata ketika Ayunda, memanggilnya dengan sebutan sayang sambil menatapnya seperti itu. Ketika rona manis mengalir melalui pembuluh darahnya dengan sesuatu yang bukan naf*u.


Sambil menelan ludah, Samudra mengantar Ayunda semakin jauh ke tengah labirin para pedagang, sembari berharap semoga Ayunda tidak menyadari bahwa pria di sampingnya telah dibodohi oleh satu senyuman manis wajah Ayunda.

__ADS_1


Reaksi semacam itu telah dengan sekuat tenaga Samudra hindari, namun tetap saja muncul. Dan satu hal yang membuatnya lega adalah bahwa Ayunda akan pulang ke Jogja besok, Ayunda kembali ke kehidupan galerinya di Jogja dan berpisah dengannya.


Jadi bagaimana jika Samudra menginginkan lebih dari apa yang diinginkannya dari Ayunda. Waktu kebersamaan ini hanyalah sebagian kecil jika dibandingkan dengan lamanya mereka berpisah, dan terlepas dari perasaan apa pun yang ditimbulkan oleh senyuman kecil itu, mereka berdua tahu bahwa hubungan ini tidak ditakdirkan untuk selamanya.


Saat ia dan Ayunda nantinya resmi bercerai, maka waktu kebersamaanya dengan Ayunda akan berakhir.


Tidak, Samudra tidak berharap hari itu tiba.


Ia melirik ke arah Ayunda yang sedang berjalan di sampingnya, yang terlihat menawan bahkan dengan penampilan yang sangat sederhana, dan berpikir apakah ia memiliki kesempatan untuk mempertahankan semua ini.


Senggolan pinggul Ayunda membuat pikiran mengawang-awang Samudra jatuh ke tatapan mata Ayunda yang antusias sedang menatapnya.


“Pasar yang luar biasa. Begitu banyak godaan jajanan makanan berkumpul di satu tempat.” ucap Ayunda


“Ya, mana yang menurutmu paling sulit ditolak?” tanya Samudra sambil tersenyum.


Ayunda menunjuk beberapa pedagang, kelemahan Ayunda dimulai dari kue talam ikan, sampai kerajinan kerang, permadani dinding, dan semuanya. Samudra melihat ke sekeliling, menikmati pasar dengan sudut pandang yang baru saat Ayunda memotong jalan dengan melewati kerumunan hingga mereka sampai ke area kedai makan di lahan rumput terbuka. Stan-stan berjajar dan di tengahnya orang-orang berkumpul menikmati makan ala piknik di atas rumput sambil mendengarkan penyanyi solo wanita bermain gitar dan bernyanyi dengan suara yang begitu merdu, membuat para pendengarnya memejamkan mata dan berbaring.


“Lapar?” tanya Samudra, ia sendiri sedikit merasa lapar. “Kau duduk saja dan aku akan membawakanmu sesuatu.”


Tangan Ayunda menggosok perutnya, dan untuk sesaat dunia Samudra seolah terhenti. Terlalu banyak kenangan dari gerakan itu di dalam pikirannya, namun Ayunda hanya menggosok telapak tangannya di atas perutnya yang datar. “Sebenarnya, aku kelaparan. Makanan apa yang enak ya?”


Beberapa menit kemudian Samudra kembali dengan membawa tiga nampan tipis berisi anekan makanan laut, dengan dua botol air minum yang dijepit di ketiaknya. Ia mengamati kerumunan orang, mencari wanita berambut cokelat gelap dan bertopi yang disambarnya dari lemari Samudra pagi ini. Tawa keras menarik perhatiannya dari ujung pasar. Sebelum berbalik, Samudra sudah tahu apa yang akan dilihatnya.


Hula hoop.


Hamparan rumput luas di belakang baris terakhir kios dipenuhi wanita dari segala usia, ras, bentuk tubuh, dan pekerjaan. Masing-masing memutar pinggul dengan senyum berbinar secerah hoop warna-warni yang melingkari pinggul. Dan di tengahnya sana ada Ayunda.


Ayunda melirik, matanya berkilau gembira ketika melihat ekspresi Samudra. “Kau menyukainya. Aku tahu kau pasti suka.”


Samudra mengangguk kaku. “Aku akan membelinya.”


Ayunda mengangkat alis, kemudian menyelipkan tangannya ke saku depan celana Samudra untuk mengambil uang suaminya. Ayunda tertawa sembari melotot terkejut setelah jemarinya menyentuh sesuatu.


"Hahaha... Punyamu..."


“Kau hanya punya waktu dua detik sebelum makan siangmu aku buang ke tempat sampah, dan kau bersama hula hoop-mu akan kugendong di bahuku.”


“Benarkah?” goda Ayunda, sembari membelaikan jemarinya di kejantanan Samudra. “Pria tampan ini ternyata senang mengancamku.”


Nampan di tangan Samudra hampir terlempar ke tanah, namun Ayunda justru cekikikan dan dengan cepat menarik tangannya berserta beberapa lembar uang keluar dan berhasil membantu menyeimbangkan nampan itu sebelum terjatuh.


“Kau benar-benar nakal.” ucap Samudra.


Ayunda kembali mengedipkan mata dengan jahil “Kalau begitu pukul saja bok*ngku.” ia berlari menjauh dari Samudra, membayar hula hoop yang ia pakai.


Rahang Samudra terkatup rapat, dan suara gemeretak terdengar dari gerahamnya yang seolah ***** jadi debu, ia terpaksa berpaling. Begitu berhasil membawa Ayunda ke villa, ia pasti akan melakukannya.

__ADS_1



Sambil duduk di dalam lingkaran hula hoop barunya yang indah, sisa-sisa makan siang mereka ditumpuk di samping, Ayunda menyipitkan mata ke langit biru di atasnya.


Angin lembut menggelitik leher dan telinga Ayunda. “Betapa indahnya tempat ini, pantas saja kau membangun villa di sini."


“Dulu ada seorang teman memperkenalkanku pada tempat ini, cukup dekat dari pusat kota Jakarta bahkan masih menjadi bagian dari Jakarta, tapi tempat ini cukup jauh untuk menghindar dari keramaian.”


Sembari memain-mainkan daun rumput yang tebal dengan jarinya, Ayunda bertanya, “Keramaian Jakarta?”


Hening sejenak sebelum terdengar, “Ya.”


Ayunda mengangguk, lalu berpaling.


Ia pernah melihat sebuah tabloit yang memuat foto Angelia dan Samudra, sedang berada di villa ini, dan itu cukup membuat hati Ayunda sakit.


“Ayunda, apa kau tahu jika mantanku juga memiliki tempat tinggal di sini? Sehingga aku ingin sekali menjual villa kita."


“Oh ya? aku tidak peduli.”


Ayunda membungkuk sambil berbisik ke arah Samudra. “Aku ke sini untuk mendapatkan uang dan sebagian assetmu.”


Samudra tertawa, lalu menyandarkan tubuhnya dengan kedua lengan. “Tidak, sampai kita menyelesaikannya.”


“Apakah kau sedang terburu-buru?” tanya Samudra.


“Tidak. Ini harus segera diselesaikan, tapi aku tidak sedang terburu-buru.”


Ayunda mengamati tatapan Samudra, ia dengan mudah memahami kebersamaan mereka. Hubungan yang hangat ini belum sepenuhnya mati, dengan lembut ia menjawab, “Aku juga tidak.”


Mereka berbaring telentang di atas rumput, berselimutkan hangat sinar matahari, dan mendengarkan lagu pengantar tidur siang dengan musik dan tawa berbaur di sekitar mereka.


Mungkin sudah setengah jam, atau mungkin hanya sepuluh menit, tapi ruang dan waktu yang sempit dan beban dunia yang berat seakan terangkat, dan hanya ada kesenangan yang melayang dalam suasana antara tidur dan terjaga.


Ayunda merasa segar, ia duduk dan melipat satu kakinya ke samping. Samudra berbaring di sampingnya, napasnya pelan dan teratur. Ayunda bisa melihat ketenangan di pahatan wajahnya,merasakannya dalam kesunyian di antara mereka.


Tangannya bergerak ke dada Samudra, dan ia memejamkan mata. Merasakan detak jantung Samudra yang berdebar di ujung jemarinya, melingkupi ujung sarafnya dan memunculkan denyutan berirama di lengannya hingga keberadaan Samudra menyatu dengan jantungnya sendiri.


Sesuatu yang membuncah di dalam dirinya, melawan batasan yang Ayunda paksakan, meski terasa sangat menyesakan dadanya ketika mengingat Angelia namun ia tetap percaya pada Samudra dan hatinya mengatakan.


Aku masih mencintaimu.


Ayunda menelan kata-kata itu kembali, menyimpannya dalam sudut gelap pikirannya. Tempat harapan usang dan impian lama berserakan dalam benaknya dengan segala kemungkinan.


Hal-hal yang tidak bisa Ayunda miliki dan seharusnya tidak diinginkannya.


Panas tangan Samudra menyelimutinya dan Ayunda menarik diri untuk memutuskan kontak itu. Namun Samudra menariknya dan memeluknya, menempelkan telapak tangannya di dadanya, di tempat yang dibiarkan Ayunda untuk disentuh oleh Samudra.

__ADS_1


“Tinggallah. Berbaringlah bersamaku lagi. Ini terlalu sempurna untuk disudahi.” ucap Samudra.


Ayunda mengangguk. Ini memang terlalu sempurna untuk disudahi, bahkan jika hanya ilusi.


__ADS_2