
Suasana hati Ayunda sedang buruk untuk memulai hari, Ayunda harus membatalkan penerbangannya ke Jakarta karena ada satu masalah kesepakatan yang telah Samudra langgar dan mereka masih belum membuat jadwal pertemuan kembali.
Ditambah lagi banyaknya masalah yang terjadi di galeri milik Ayunda.
Nindyra menelepon Ayunda dengan panik ia memberi tahu kalau jadwal pameran yang seharusnya dua pekan lagi akan di gelar ternyata harus mundur lantaran Ayunda kurang teliti dalam memilih kontraktor yang mengerjakan stand pameran.
Ayunda menghabiskan waktu seharian penuh berusaha membereskannya. Sebelas jam kemudian, ia kelelahan baik secara fisik maupun mental, sehingga membuat Ayunda sangat frustrasi.
Di tengah kesibukannya tiba-tiba saja Damar muncul. Pribadinya yang selalu ramah, menyenangkan dan mencerahkan hari Ayunda dengan gurauan lucu dan tiket konser BTS yang ingin mereka saksikan bulan depan di Korea.
Damar Jati adalah klien yang memiliki hubungan pertemanan khusus dengannya selama bertahun-tahun, mereka memiliki selera yang sama dalam dunia lukis, teater, seni, dan musik. Mereka bertemu setiap beberapa bulan sekali ketika pria itu sedang berada di Jogja.
Karena tidak ingin mengecewakannya, Ayunda tidak bisa menolak ajakan Damar untuk keluar.
Mereka membahas masalah pameran di sepanjang makan malam yang terlambat, mereka tertawa bersama sambil minum kopi dan menyantap hidangan pencuci mulut. Malam ini ternyata menyenangkan dan cukup bisa mengalihkan pikiran Ayunda dari Samudra, dari kenyataan bahwa ia tidak bisa ke Jakarta bertemu dengan Samudra, dan betapa buruknya keadaan saat ini.
“Kau tampak berbeda malam ini?" tanya Damar, sambil melirik saat menunggu lampu merah.
Rintik gerimis masih membasahi kota Jogja, Ayunda menggigil, menggosok-gosok lengan atasnya. “Berbeda?”
“Ya" Lampu hijau menyala, Damar melajukan kembali kendaraannya, kemudian tangan Damar bergerak ringan ke punggung Ayunda “Berbeda dalam arti yang baik.”
Ayunda tidak terlalu yakin apa yang membuatnya seperti itu. Ia memang merasa berbeda, banyak hal telah berubah dalam dirinya sejak malam pertama bersama Samudra, namun Ayunda tidak menyangka ternyata orang lain bisa melihatnya.
“Seperti senyummu yang lebih lepas, kau terlihat lebih happy” Damar mengangkat bahu “Aku menyukainya.”
Damar menepikan kendaraannya di depan kediaman Ayunda, dan kemudian ia langsung turun dari mobilnya untuk membukakan pintu mobil Ayunda.
"Terima kasih" Ayunda mengulurkan tangan untuk bersalaman seperti yang biasa mereka lakukan, namun kali ini ketika Damar menjabat tangannya, pria itu tidak melepaskannya, malah menarik tangannya dan kemudian kepalanya menengok ke ke kanan dan ke kiri seperti kebingungan.
Ayunda mulai tertawa, menunggu apa yang akan di lakukan Damar, namun ketika menatap mata Damar, Ayunda menyadari bahwa pria itu tidak sedang bermain-main.
“Aku sangat menyukainya, Ayunda.”
Sebelum Ayunda sempat memprotes, Damar menncium pipinya dengan satu lengan memeluk punggungnya.
Tiga hal menyerang Ayunda pada saat yang bersamaan. Pertama, ia seharusnya sudah tahu ini akan terjadi. Jika perhatiannya tidak terpecah antara di mana ia kini dan di mana ia seharusnya berada 'dalam pelukan Samudra' Ayunda mungkin akan menyadari perubahan perilaku Damar.
Kedua, meskipun Damar adalah seorang pria yang menarik, ciuman pria itu membuat Ayunda sama sekali tidak terpengaruh. Satu-satunya respons yang muncul adalah betapa Ayunda semakin ingin segera mengakhiri kontak fisik ini.
Dan ketiga, mereka tidak berdua.
Satu suara menerobos malam di dekat mereka.
“Ayunda.” Satu kata, hampir tak terkendali, benar-benar mengancamnya.
__ADS_1
Ayunda membeku di tempatnya berdiri, terpaku meskipun ia berusaha melepaskan diri. Namun berbeda halnya Damar yang dengan cepatnya merespon, seketika Damar melepaskan Ayunda sembari tersenyum malu karena tertangkap basah telah mencium Ayunda.
“Samudra.” Rasa senang melambungkan hati Ayunda begitu mengetahui bahwa Samudra ada di sini, lalu ia merasakan hantaman rasa takut.
Samudra baru saja melihat pria lain menciumnya, Samudra menariknya lembut ke pelukannya seolah memiliki Ayunda, dan Ayunda bahkan sama sekali tidak menolak.
Bibirnya mati rasa, tenggorokannya kering saat Ayunda berada di dekat Samudra..
Samudra berdiri hanya beberapa langkah dari Damar, tatapannya yang datar dan sikapnya yang santai berbanding terbalik dengan otot rahangnya yang berkedut.
Ayunda mengatakan kepadanya bahwa ciuman itu bukanlah apa-apa melainkan hanya kesalahpahaman dari seorang teman, tapi sekarang, bukanlah waktu yang tepat untuk menyatakan klarifikasi itu.
Dengan berdirinya dua orang pria di hadapan Ayunda, yang satu menatap penuh harap, yang lainnya… Yah, Ayunda tidak tahu harus berbuat apa ketika menghadapi ekspresi wajah Samudra yang berubah menjadi mematikan.
Dengan cepat Ayunda mengatakan “Damar, terima kasih untuk malam ini. Sekali lagi, aku minta maaf soal masalah pameran dan sepertinya kita tidak bisa ke Korea karena jadwalku sangat padat. Aku akan meneleponmu besok.”
Damar tersenyum kepadanya, seakan kepergiannya kali ini terasa menggelikan. Kemudian pria itu mengalihkan perhatiannya kembali kepada Samudra, dan mengernyit sebelum menepuk dahi. “Tunggu dulu, kau Elang Samudra Ginting, kan?”
Damar mengulurkan tangannya untuk memberi salam. “Damar Jati. Kita pernah bertemu di peluncuran proyek kondominium di Jakarta Selatan, tiga bulan lalu. Aku tidak mengenalimu pada awalnya.”
Samudra menjabat tangan Damar, kemudian ia melepas jabatan tangannya tanpa insiden apa-apa, dan tanpa sepatah kata pun.
Hening, Damar menatap bingung kepada Ayunda dan Samudra. “Samudra?”
“Kalian berdua tidak memiliki hubungan apa-apa, kan?” tanya Damar.
Bibir Samudra menyunggingkan senyuman masam sambil terang-terangan merangkul Ayunda, ia melingkarkan lengan di bahu Ayunda dengan posesif. “Hubungan pernikahan.”
Jawaban itu tampaknya memuaskan dan menggembirakan Damar, tapi menyengat Damar hingga diam tertegun.
“Fiuh. Pantas saja ada kesan ‘kakak yang protektif'," ucap Damar.
Kilatan gigi putih dan rapi dalam bayang-bayang malam membuat darah Ayunda membeku saat senyuman itu berubah menjadi seringai.
“Seperti itulah,” jawab Samudra, nadanya datar. “Hanya saja, aku bukan kakaknya.”
Damar menghentikan gerakannya, ekspresinya ragu-ragu saat melirik mereka berdua. Mematung dan terus seperti itu, pria itu menduga-duga hubungan antara Samudra dan Ayunda.
Ayunda tidak sanggup menerima tatapan yang mengamati itu, ia menundukkan kepala. “Sekali lagi, terima kasih, Damar."
“Ya, tentu saja, Ayunda. Aku akan meneleponmu nanti.”
Sesaat kemudian Damar pergi meninggalkan mereka dan hanya tersisa Samudra dan Ayunda dalam udara dingin yang tenang di teras depan rumah Ayunda, keduanya menatap jalanan kosong di depan mereka.
Samudra yang pertama kali bergerak, menarik tangan Ayunda dan menyeretnya perlahan ke arah pintu.
__ADS_1
Ayunda melangkah terseret-seret dan perutnya melilit cemas menghadapi konfrontasi yang akan terjadi.
“Kuncinya mana Ayunda?" tanya Samudra. Ayunda memberikan kunci rumahnya tanpa berbicara.
"Kau sudah mengubah sikapmu soal mengumumkan dan menunjukkan kemesraan di depan publik. Apa dia pacar barumu?”
Oh, Ya Tuhan, sudah dimulai. Serangan pertama dari Samudra. "Kami hanya berteman.”
“Sebenarnya ada berapa banyak teman seperti itu yang kau miliki?” Lengkungan alis Samudra mengingatkan Ayunda pada ciuman yang di berikan Damar tadi.
“Tidak ada. Ia bahkan tidak pernah mengisyaratkan ketertarikan sebelumnya, tapi malam ini ia bilang aku terlihat… berbeda. Aku tidak menyadari kalau ia menafsirkan sikapku berbeda karena menyukainya, padahal tidak sama sekali.” Ayunda menggeleng, mata coklat besarnya memohon kepada Samudra untuk bisa percaya. “Salah paham.”
“Aku mengerti.” Samudra memutar kunci pintu kediaman Ayunda.
Tatapan Ayunda yang menerawang dan ekspresi yang syok dengan ciuman itu bisa menjelaskan semua yang tidak bisa disampaikan Ayunda. Jika saja Damar membuka matanya dua per sepuluh detik sebelumnya, pria itu juga pasti melihat itu. Namun pria itu terlalu berna*su untuk mendapatkan keinginannya.
Sama sekali tidak indah.
Itu menjelaskan kenapa Samudra tidak melemparkan pukulan telak dan melempar Damar ke dinding terdekat. Karena melihat respon Ayunda yang tidak merasa tertarik pada Damar.
Namun yang membuat hati Samudra sakit, bagaikan pukulan palu yang menghantam perutnya adalah kenapa ia harus menyaksikan itu terjadi. Seorang pria lain berusaha memiliki apa yang selama ini hanya menjadi miliknya, Samudra tidak suka itu.
Ayunda begitu cantik dan menggairahkan tidak seperti sebelumnya saat pertama kali Samudra berkenalan dengannya.
Apa yang Damar katakan bahwa Ayunda terlihat berbeda. Itu benar.
Sesuatu telah berubah dalam diri Ayunda, seolah ada benteng tak terlihat yang sebelumnya Ayunda bangun dan tak terlihat tapi bisa dengan mudah dirasakan, benteng yang telah dirobohkan hingga membuat Ayunda bisa didekati, dan didapatkan.
Ayunda meliriknya. “Kau tidak marah padaku?”
“Tidak.” Samudra tahu Ayunda tidak meminta ciuman itu dan Damar sama sekali bukan ancaman. “Tapi, aku tidak akan bohong, melihat pria lain menyentuhmu membuatku merasakan sesuatu yang aku tidak suka. Itulah kenapa aku membawamu ke dalam.”
Ayunda menarik dagunya, dan suaranya menjadi pelan. “Agar kau bisa memarahiku?”
“Tidak.” Rahang Samudra mengatup dan suara napas bersiul melewati giginya. “Agar ketika aku mendorongmu ke dinding, sebelum kau sempat melepas jaket, karena aku harus membuktikan kepada diriku sendiri kalau, untuk saat ini kau masih milikku, semua tentangmu adalah milikku.”
Napas Ayunda bergetar, pupil matanya melebar memunculkan godaan tak berujung. “Aku masih milikmu.”
Tidak cukup. Kata-kata saja tidak cukup, tidak ketika tangan Ayunda mengusap dada Samudra, bergerak ke bahu dan melingkari lehernya untuk menjerat rambutnya. Tidak ketika pinggul Ayunda bergerak di pinggul Samudra, terang-terangan mengundang untuk memberikan apa pun yang diinginkan Samudra.
Tangan Samudra mengepal ingin mengambil tawaran Ayunda. Mengklaim, menandai, dan memastikan tidak ada orang lain yang mengambil Ayunda kecuali dirinya.
Ayunda lagi-lagi menggerakkan pinggulnya dan menarik kasar rambutnya.
Ya. Ini dia wanita milik Samudra, menggodanya dengan hal-hal yang Samudra inginkan.
__ADS_1