Sebelum Berpisah

Sebelum Berpisah
Chapter - 15


__ADS_3

Kaki Ayunda menekan pinggul Samudra, lengan Ayunda melingkar di leher Samudra saat Samudra melahap mulutnya dengan lapar dan membuatnya terengah-engah.


Samudra membuat Ayunda mencapai puncak kenikmatannya, yang baru saja di lepasnya beberapa menit lalu, tapi itu tidak cukup. Ayunda menginginkan lebih. Menginginkan semua yang ada pada dirinya. Menginginkan semuanya lagi, lagi dan lagi.


Dengan bertopang pada satu lengan, Samudra membuatnya gemetar dengan ereksi sekeras baja. Satu sentuhan saja, dan Samudra sudah membuatnya ketagihan, Ayunda membutuhkan penawar yang hanya bisa diberikan oleh Samudra.


“Bajumu,” desak Ayunda, ia sangat ingin kembali merasakan tubuh telanjang Samudra dengan jemarinya.


Samudra sedikit mundur, menarik kemejanya melewati bahu dan melepasnya dari atas kepala. Getaran menyentak Ayunda saat tubuh berotot kembali terpampang nyata di hadapannya dan tubuh telanjang yang terpahat kukuh sekali lagi berada di dekatnya.


Ayunda membungkuk ke arah Samudra membiarkan lidahnya menjelajahi dan menggigit lekuk-lekuk otot itu.


Samudra menghela napas dengan mendesis, “Ayunda, aku ingin memasuki tubuhmu lagi.”


Samudra melepas baju Ayunda, dan segera melucuti rok mini Ayunda, dengan tangan yang sangat tidak sabar menunggu Ayunda melakukan itu sendiri. Dan Ayunda pun telanj*ng, hanya mengenakan sandal lembut bermanik-manik dengan hak tinggi dan jemari kaki terbuka.


“Di atas. Tempat tidur.” Samudra menarik Ayunda ke dadanya yang telanjang, berdiri, lalu menaiki anak tangga dua-dua hingga mereka sampai ke lantai tiga. Samudra mengitari sudut rumahnya, menggendong Ayunda melewati pintu lalu menggapai sakelar di dinding, membuat mereka terperangkap dalam kegelapan.


Ayunda melepas kaitan kedua kakinya yang melingkari pinggul Samudra, lalu merosot turun dan berdiri di hadapan Samudra.


Ayunda bergegas mengulurkan tangan menggapai dada yang bidang, menyentuh otot-otot di baliknya. Kemudian bergeser turun hingga menyelinap ke balik ritsleting celana. Menyentuh kejantanan Samudra yang mengeras, ia pun kemudian menggenggamnya.


“A-yun-da-," nama itu disebut dalam geraman berat.


Samudra menyingkirkan tangan Ayunda, kemudian melepas celananya dan menarik Ayunda dengan kuat ke arahnya, ia enggendong Ayunda melintasi kamar.


Kemudian Samudra menindihnya di kasur dan membuka paha Ayunda dengan lutut , kemudian Samudra menatapnya, saat pandangan mereka bertemu. “Kamu mau lagi, sayang?"


Di malam itu, Samudra berusaha merayu Ayunda dengan hati-hati dan sabar, mengerahkan seluruh kecakapan sensual yang ia miliki untuk membuat Ayunda ******* saat ia menembus penghalang tipis itu.


"Aku ingin merasakanmu di dalam tubuhku lagi, seperti tadi.” Ayunda menatap mata Samudra dan menyapukan jemarinya di kulit dada yang kencang itu. “Kumohon.”


Sedikit demi sedikit Samudra mendorong masuk ke tubuh Ayunda, memaksa Ayunda untuk menyadari gairah Samudra dari serangan sensual pada setiap urat saraf yang bersiap meledak dan menggelegak. Ini terlalu nikmat, lebih dari yang di inginkan.


“Apakah kau menikmatinya, Ayunda?” desak Samudra dengan gigi terkatup, suaranya parau, sementara kejantanannya menghunjam Ayunda dan pangkal pahanya mendesak titik sensitif Ayunda.


“Ya.” masih terasa nyeri karena ukuran Samudra yang luar biasa, meskipun ini kali keduanya mereka melakukan dan Ayunda telah dirangsang sepenuhnya, memasuki tubuh Ayunda dengan tekanan yang membuatnya memohon untuk berhenti sekaligus memelas meminta lebih.


“Katakan kepadaku,” Samudra kembali menggeram di telinga Ayunda, lalu memiringkan pinggul Ayunda untuk menghunjam lebih dalam.

__ADS_1


“Ya,” pekik Ayunda lagi. “Aku sangat menikmatinya” Begitu nikmat. Begitu dalam, Ayunda mencengkeram Samudra, otot-otot bagian dalamnya menjepit nikmatnya kejantanan Samudra.


Gesekan basah memacu saraf sensitif Ayunda untuk menjerit dalam kenikmatan yang bergelora saat bibirnya merekah, melenguh tanpa suara. Satu lagi dorongan penuh, satu lagi jeritan yang memekakkan, satu lagi tarikan mundur dan terus berulang-ulang. Juga semakin cepat.


Rahang Samudra terkatup saat berusaha bertahan dari kenikmatan yang menyiksa dalam setiap gerakannya. Ayunda begitu ketat. Begitu menggairahkan dan basah, rasa nikmat melingkupinya sehingga tidak mungkin Samudra bisa bertahan. Dalam setiap dorongan yang menyiksa ke celah lembut Ayunda, dalam setiap hunjaman yang dalam, setiap cengkeraman tubuh Ayunda yang membuatnya gila dan membelit kejantanannya semakin kencang, Samudra merasakannya.


Ayunda adalah miliknya.


Milikku.


Dalam setiap erangan kenikmatan. Setiap gerakan maju mundur dalam cengkeraman Ayunda.


Milikku.


Tak seorang pun boleh menyentuh Ayunda.


Milikku.


Tak seorang pun bisa membuat Ayunda berhasrat.


Milikku.


Milikku. Milikku. Milikku.


Samudra memompa lebih cepat, mengerang dalam cengkeraman Ayunda. Menusuk lebih dalam. Mendorong lebih keras, hingga tubuh Ayunda berdenyut dalam gairah, paha Ayunda menjepit pinggulnya sementara jemari Ayunda mencakar bahunya. Ini sangat nikmat, terlalu nikmat, dan gelombang gairah Ayunda pun terempas kuat, lehernya mendongak ke belakang, bibirnya terbuka dan terengah-engah, puas hingga kehabisan napas, sampai akhirnya Ayunda berhasil mengucapkan satu kata.


“Samudra.”


Lalu larut dalam hasrat yang kuat.


Cantik. Ayunda memesona dalam kepuasannya. Dan karena darahnya telah terbakar gairah, Samudra ingin menikmati saat ini. Ia menyelaraskan ritme hunjamannya dengan gelombang gairah Ayunda lalu menarik diri. Dan menatap Ayunda tenggelam dalam hasrat dan bersiap melakukannya lagi.


Untuk Samudra. Hanya untuknya.


Napas Ayunda kembali normal, dan tenang. Dan di bawah sapuan pucat cahaya bintang yang terpancar dari jendela tanpa tirai, Samudra melihat air mata Ayunda mengalir.


“Ah, Ayunda,” bisiknya, sembari menggeser sikunya untuk menyeka kilau lembap dari pelipis Ayunda. “Jangan sesali ini.”


Ayunda mengerjap kepadanya, mengusap lembut rahangnya dan menggeleng. “Tidak. Aku tidak mungkin menyesalinya.”

__ADS_1


“Lalu kenapa kamu menangis?”


Bibir Ayunda tersenyum gemetar, kerapuhan yang membuat Samudra semakin peduli terhadap Ayunda.


“Kebahagiaan… ” Ayunda menelan ludah, membalas tatapan Samudra, mengungkapkan emosinya dengan cara yang bisa membuat dada Samudra kehabisan napas.


Kenapa Ayunda masih bisa membuat jantungnya berdebar seperti ini? Membuatnya merasa seperti seorang raja, padahal semua bukti yang ada, mengarah pasa semua kesalahan yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun ke belakang.


Samudra menunduk menatap mata Ayunda, dan melihat harapan juga sukacita, serta merasakan respons tubuh Ayunda di tubuhnya. Ketika mengetahui kalau pada saat ini Ayunda benar-benar bahagia, Samudra memahaminya lebih daripada yang bisa Ayunda bayangkan.


Lutut Ayunda bergerak lebih tinggi di pinggul Samudra, jemarinya menjelajah di bahu Samudra. Ayunda mengangkat alis, menggoda dengan tulus. “Kau belum puas, Samudra?”


“Belum.” Samudra dengan cepat menggigit bibir ranum Ayunda, lalu mulai menggerakkan pinggulnya. “Begitu juga dirimu.” dan mereka kembali mengulanginya lagi.



Ayunda berdiri di balkon kamar Samudra, ia menyaksikan laut bergulung dan bergolak, memuntahkan buih ke langit malam. Ia terbangun setengah jam lalu, jantungnya berpacu, dan tubuhnya terasa hidup. Karena tidak bisa kembali tidur dan terlalu gelisah untuk tetap berbaring, ia menyelinap dari hangatnya pelukan Samudra dan meraba-raba dalam keremangan sampai ia menemukan sesuatu yang bisa dikenakan.


Ternyata itu salah satu kemeja formal Samudra yang ukurannya terlalu besar. Katun halus membelai kulitnya dari bahu hingga ke paha, menggoda kulit sensitifnya dengan kenangan indah yang telah mereka lakukan. Yang telah Samudra berikan kepadanya. Dan betapa utuhnya pemberian itu. Apa yang telah mereka lakukan murni sebuah kesenangan. Tanpa paksaan atau kewajiban atau tanggung jawab atau beban berat lainnya.


Ayunda menggelengkan kepalanya, berharap menemukan kata-kata yang bisa membuat Samudra mengerti betapa malam ini telah mengubah segalanya. Namun bagaimana bisa? Samudra telah menjalani kehidupannya tanpa dirinya sejak mereka berpisah. Namun tidak dengan Ayunda. Betapa pun kuatnya ia mencoba, betapa pun berhasilnya ia membangun karier, lubang itu menganga tetap ada di tengah keberadaannya, jurang gelap yang menghalangi siapa pun untuk mendekatinya.


Namun pada saat memikirkan itu, ia malah melirik pria yang sedang tidur di belakangnya, dan menahan rasa sakit yang tumbuh dalam dadanya.


Ia tidak sanggup menyerah pada rasa sakit itu.


Kebersamaan mereka kali ini, pada akhirnya, hanyalah untuk menutup pintu penantian panjang pada lembaran kehidupan mereka. Mengakhiri pernikahan mereka dengan keindahan yang mengawalinya.


Namun malam ini ia masih memiliki Samudra.


Ayunda menghampiri tempat tidur, dan melepas kemejanya, ia hanya menginginkan sentuhan kulit dengan kulit di antara mereka. Kasur di bawahnya melesak saat ia menatap Samudra yang tertidur. Samudra menarik tubuh Ayunda walau matanya masih terlelap.


Ia menarik ujung selimut untuk menutupi tubuhnya, meletakkan kepala di atas bantal dan merasakan tarikan berat lengan kuat Samudra yang merangkulnya, menariknya ke dalam pelukan.


******* pelan keluar dari bibir Ayunda dan ia memejamkan mata dalam lingkupan sensasi hangat dan intim.


Samudra setengah tertidur, bahkan mungkin tidak menyadari tubuh wanita mana yang ada di tempat tidurnya. Namun itu bukan masalah. Panas lengan yang memeluknya terasa sangat nikmat, ia akan menerimanya.


Kemudian, saat melayang turun dalam nikmatnya alam bawah sadar di tempat mimpi terliar dan paling terlarang sekali pun dapat terwujud, embusan napas mengenai rambutnya dan terdengarlah gumaman namanya.

__ADS_1


"Ayunda"


__ADS_2