
"Ayunda, apa kau yakin?" tanya Nindyra, matanya tertuju pada benda yang berada di ujung jemari Ayunda.
Sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu yang sangat tipis, yang bisa dengan mudah jatuh meski hanya disentuh ringan. Ayunda jarang melihat kotak tersebut, bahkan terkadang ia berpikir kotak ini tersimpan di tempat yang aman, jauh tersembunyi di ruang pakaiannya. Namun kotak ini memang ada, kotak harta karun dari impiannya yang hancur.
Dengan melipat satu kaki, Ayunda duduk di tepi tempat tidur dan membuka tutup kotaknya, ia melihat beberapa barang di dalamnya yang sanggup menariknya ke tempat-tempat gelap di jiwanya, membebaskan rasa cinta yang berbahaya yang membuatnya ingin mendekap kotak itu erat di dadanya hingga hancur ditekan perasaannya.
Nindyra duduk di hadapan Ayunda, kemudian, dengan satu jari, ia menyentuh tonjolan berwarna hijau pucat di satu sepatu bayi yang sudah hampir setengah jadi, yang ada di dalam kotak itu, lalu berbisik, "Lembut."
Ayunda tersenyum kepada Nindyra. "Ini adalah sepatu yang aku rajut, sebelum Galen pergi tanpa sempat ia mengenakan ini di kaki mungilnya." ucap Ayunda. Kemudian ia mengambil sebuah foto dan memberikannya kepada Nindyra, yang dengan hati-hati memegang tepiannya.
“Oh, wow, ini kau dan Samudra?” tanyanya sambil menunjuk foto wanita di hadapannya yang tengah memegang perutnya yang mulai membuncit. "Kalian nampak sangat bahagia"
Ayunda mencoba tersenyum. Benar, cinta yang dirasakan Ayunda ketika foto itu diambil juga terasa sangat bahagia, ia tidak pernah bisa percaya jika rasa bahagia itu bisa hilang.
Ayunda menaruh kembali foto tersebut dengan hati-hati, Ayunda berpaling pada benda yang dicarinya. Sebuah cincin emas yang ramping, menipis di bagian bawahnya, dan bertatahkan lima butir berlian. Cincin pernikahan milik nenek Samudra.
Cincin pernikahan milik Ayunda.
Ayunda masih bisa merasakan saat Samudra memasangkan simbol keabadian itu di jari manisnya. Masih bisa merasakan lubang sempit yang menganga di perutnya ketika menyadari Galen tidak berada di sana.
“Kau tidak perlu melakukan ini, Ayunda. Maksudku, apakah Samudra memintanya?”
Ayunda menggeleng. Samudra tidak akan pernah memintanya kembali, tapi bukan berarti Samudra tidak berhak mendapatkannya. Cincin ini milik keluarga Samudra, entah Samudra akan menikah lagi atau tidak, Ayunda mengembalikannya.
"Aku sudah menyimpannya cukup lama." Sudah waktunya Ayunda melepaskannya.
Nindyra membuka tutup kotak beludru kecil berwarna hitam yang mereka beli dari toko perhiasan pagi ini.
Ayunda mengelus cincin indah itu untuk terakhir kalinya, merasakan jejak dingin air mata menyelinap di pipinya. Dengan terkejut, ia tertawa dan menyekanya.
“Ayunda?”
Ayunda mengabaikan Nindyra yang semakin khawatir akan kondisi hati Ayunda yang tengah rapuh, ia menaruh cincin itu di bantalan sutranya dan menutup kotak itu. “Aku akan baik-baik saja. Aku baik-baik saja sebelum mengenal Samudra dan aku akan kembali baik-baik saja.”
__ADS_1
Mungkin kalau Ayunda mengatakannya berulang kali, akhirnya ia akan bisa meyakini jika dirinya baik-baik saja.
Jadi bagaimana menurut Pak Samudra?” Kepala Samudra tersentak dan tatapannya terkunci pada Tn.Wijaya, pria yang duduk di seberang meja rapat. Kemudian beralih menatap Daniel, yang memberi isyarat anggukan pelan saat satu pesan singkat muncul di laptop yang terbuka di depannya.
"Pak Samudra tinggal sebut saja. Mereka telah menyetujui setiap poin, kecuali hak atas air bersih."
Daniel tidak membiarkan apa pun terlewat dalam meeting tersebut, termasuk ketika bos yang paling menyebalkannya itu melamun di tengah negosiasi penting perusahaannya.
“Terima kasih, kupikir kita bisa menyelesaikannya. Aku akan memberikan angka-angka baru dan kita akan bicara lagi pada hari Senin.”
“Baiklah kalau begitu, Pak Samudra.” Tn. Wijaya pun beranjak dari kursi dan menjabat tangan Samudra "Project ini akan sangat menuntungkan dan akan membuat kita mendapatkan banyak uang, Pak Samudra.”
Ya, jika saja Samudra cukup memperhatikan dan tetap fokus sampai kesepakatan ini ditutup.
Setelah Tn. Wijaya pergi, Daniel melayangkan tatapan dingin kepadanya.
" Pak Samudra yakin? Aku tidak pernah melihat Pak Samudra membuang kesempatan seperti itu, tidak pernah!!"
Geraham Samudra berdetak saat rahangnya terkatup penuh frustrasi yang dibuatnya sendiri. “Aku tahu.” Seperti yang ia tahu, jika kinerjanya akan memengaruhi orang-orang di sekelilingnya. Samudra harus berhenti berputar-putar pada bayangan Ayunda yang tidak bisa ia lepaskan.
Daniel mengehembuskan napas dan menatap langit-langit, terlihat jengkel dari yang pernah Samudra lihat sebelumnya.
Oke, Samudra memang mengacau hari ini, tapi mereka telah bersama selama tujuh tahun, jadi tentu Daniel paham akan sifat Samudra "Ada lagi yang ingin kau katakan, Daniel?"
“Kulihat beberapa minggu terakhir ini Pak Samudra banyak masalah. Dan aku berharap—” Daniel merapikan kerah bajunya sebelum menatap cemas penuh simpati kepada Samudra “— Pak Samudra bisa… membagi sedikit masalah itu dengan bercerita denganku.”
Persetan. Tentu tidak.
Rasanya Samudra ingin muntah. Daniel, asistennya yang ia kenal agresif dan memiliki naluri bisnis hebat, bisa bertanya apakah bosnya butuh pelukan dan es krim.
“Seburuk itukah aku kelihatannya?”
__ADS_1
Daniel menimbang pertanyaan itu cukup lama padahal jawabannya sudah jelas, Samudra terlihat sangat kacau sejak sidang pertama perceraiannya di gelar.
“Lupakan saja. Berikan kepadaku revisi penawaran Tn. Wijaya dan pergilah.”
Daniel mengangguk dan segera keluar, Samudra pun kembali ke ruangannya.
Setelah masuk ke dalam ruang kerjanya, Samudra melihat surat kabar yang berada di atas meja kerjanya. Dalam surat kabar tersebut nampak manajement Angelia mengkonfirmasi berita yang beredar jika Samudra bukanlah ayah dari bayi tersebut, tapi mereka tidak mengungkapkan siapa ayah dari bayi yang di kandung Angelia.
Samudra tak menghiraukan surat kabar tersebut karena Ayunda tetap bersih keras melanjutkan proses perceraian mereka, ia mengambil surat panggilan sidang ke duanya yang berada di sebelah surat kabar tersebut. Samudra sudah tahu surat itu akan dikirim hari ini oleh pengacaranya, ia terus meyakinkan dirinya bahwa itulah yang terbaik, begitu selesai sidang yang kedua makan hakim akan memutuskan perceraikan pernikahan mereka, ia akan bisa melupakan Ayunda.
Ia akan bisa memejamkan mata tanpa melihat senyuman sedih, dan kepasrahan juga kerinduan yang membaur menjadi satu saat Ayunda mengamati Aviran di studionya. Rambut Ayunda berderai bagai pita hitam yang diterpa angin saat Ayunda membungkuk di atas kolam air pasang, mengagumi bintang laut yang ada di dalamnya. Samudra akan bisa berhenti bermimpi tentang Ayunda setiap malam, menghubungi Ayunda setiap pagi dan menganggapnya sebagai angin lalu jika ia ingat bahwa dari apa yang terjadi ini, tak satu pun dari mereka yang menginginkannya, dan bahwa erangan sensual dan tawa terengah itu hanyalah gema waktu yang datang dan pergi.
Bagi Samudra.
Suatu hari, Ayunda akan memberikannya kepada orang lain. Ayunda akan beralih ke pria tol*l yang telah siap menunggunya karena itulah yang akan dilakukan oleh semua wanita kuat, cerdas, seksi, dan menggoda, mereka pada akhirnya melupakan masa lalunya.
Sial, lagi-lagi ia memikirkan Djiwa!
Samudra beranjak menjauhi meja kerjanya, dan surat sidang perceraian keduanya, ia menatap keluar jendela.
Sisa-sisa cahaya pada hari ini dan kota Jakarta terbentang di bawahnya dalam cahaya bisu senja. Taksi dan mobil saling memotong melewati jalanan dan trotoar, yang kini dipenuhi orang berpakaian kerja. Para wanita tertawa sambil berjalan menuju tujuannya, para pasangan berjalan bersama, ada yang bergandengan tangan, ada yang membangun keintiman dengan merangkul pundang si wanita, terlihat sangat jelas bahkan dari lantai empat ruang kerja Samudra.
Samudra dan Ayunda pernah menyusuri jalanan itu, mereka pernah makan malam di satu restoran terkenal beberapa blok dari kantornya. Menghabiskan malam dengan membuat banyak rencana. Mereka begitu bahagia. Samudra memiliki segalanya. Karier yang menanjak, istri yang dicintainya, dan bersiap menerima kedatangan buah hati mereka. Coba lihatlah sekarang, ia hanya bisa menatap dan kehilangan semua hal yang bermakna.
Ia berpikir seandainya ia bisa kembali ke masa kecil dan memperingatkan dirinya soal kegagalan, kesedihan, dan kesia-siaan yang telah ditakdirkan untuknya, seandainya ia bisa menolak masa-masa indah bersama Ayunda untuk mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan.
Tidak. Karena ia di masa kecil belumlah belajar menemukan jalan keluar, atau menghadapi kegagalan. Dan tentu saja ia menjalani masa-masa indahnya bersama Ayunda.
Brengsek, bahkan setelah mengalami langsung semua rasa sakit itu bertahun-tahun, kemudian Samudra mencoba melakukannya lagi, mencoba untuk bangkit dari rasa kehilangannya terhadap Ayunda.
Samudra berjalan tak tentu arah di dalam ruang kerjanya, menghantamkan tangan ke dinding dan memejamkan mata.
"Aku harus bisa melupakanmu."
__ADS_1