
Ayunda memungut kembali pakaian yang telah dilucuti Samudra dan mengenakannya kembali dengan cepat.
Samudra membantu Ayunda mengenakan pakaiannya, ia mengulurkan tangan dan meluruskan lengan baju yang entah bagaimana bisa terbalik.
"Terima kasih"
“Aku pernah sekali ke Jogja untuk menemuimu, meminta maaf dan memintamu kembali.” Gigi Samudra bergemeretak saat ia menarik napas melalui hidung. “Aku mengambil penerbangan malam, dan ketika aku sampai di tempatmu, aku melihatnya. Melihatmu mengantar pria itu ke depan pintu rumahmu, dan kemudian kau melingkarkan lenganmu di lehernya.” ucap Samudra.
Seandainya saja Samudra tahu kalau Ayunda tidak pernah tidur dengan Djiwa, Ayunda tidak pernah tertarik kepada pria lain, Ayunda juga tidak tertarik pada Djiwa. Samudra akan menemui Ayunda dan memintanya untuk kembali.
Rasanya seperti ada sebilah pisau karatan yang mengiris perutnya, membuat Samudra mundur dan menjauh dari kediaman Ayunda sebelum Ayunda melihat Samudra berada di depan kediamannya.
Padahal malam itu Ayunda dan Djiwa tengah mengerjakan project kerja samanya hingga larut malam, kemudian secara tak sengaja Djiwa tidur di sofa, bukan di tempat tidurnya, dan Ayunda tidak mungkin melakukan hubungan intim dengan pria yang tak membuatnya tertarik.
Ya Tuhan, memikirkan Samudra melakukan penerbangan malam untuk menemuinya dan malah melihat hal itu. Seandainya Ayunda tahu jika Samudra datang menemuinya, ia bisa memberikan penjelasan.
Tidak. Tidak ada seandainya. Ia telah berhenti mengatakan hal semacam itu sejak lama.
“Aku dan Djiwa sedang ada project kerja sama. Tapi, kami tidak…” Kata-kata Ayunda terhenti. Ia tidak bisa mengatakannya.
Samudra melihat bayangan Ayunda di cermin. “Karena aku, kamu tidak melakukannya?”
“Bukan kau. Tapi aku.” Sebagian karena Ayunda belum merasa tertarik dengan Djiwa.
Namun itu hanya setengah dari alasannya.
Ayunda memeluk dirinya sendiri, berusaha melawan pikiran betapa hangatnya saat ia berada dalam pelukan Samudra beberapa menit lalu.
Semua itu telah hilang sekarang.
“Apa yang terjadi di antara kita. Bagaimana semuanya berubah setelah aku kehilangan bayi kita. Bagaimana aku tidak menanggapimu lagi… Itu alasannya, Samudra. Aku nyaris tidak ada, seolah-olah seluruh duniaku menjadi gelap” Ayunda mengangkat bahu. “Aku telah lama berusaha untuk kembali hidup, bukan hanya terlihat ada, tapi bagaimanapun juga…” Ayunda bernapas pelan, lalu melepas pelukan pada tubuhnya sendiri.
Ayunda hendak mengulurkan tangan kepada Samudra, tapi ia mengurungkan niatnya. Pada detik-detik terakhir, lebih baik ia pergi. Diam-diam Ayunda mengambil tasnya, lalu mengamati ruang berantakan.
Map dan laporan berserakan di lantai, hanya ada selembar kertas yang masih tertinggal di atas meja yang hampir saja tertutupi tubuh mereka. “Terima kasih telah berbagi di malam terakhir kita bersama, berbagi sesuatu yang menyenangkan."
Beberapa saat setelah melihat Ayunda berjalan menuju kamar tamu, Samudra masuk ke kamar tidur utama, tapi samar-samar ia mendengar suara pintu di banting di belakangnya. Dengan langkah cepat, Samudra melangkah mondar-mandir, berusaha mengendalikan adrenalin dan testosteronnya, yang telah bercampur menjadi racun, meredam tekanan di pembuluh darahnya. Memukul gendang telinganya dengan raungan yang memekakkan.
Selama tiga tahun, ia merasa menjadi orang bodoh. Bayangan tentang Djiwa yang keluar dari kediaman Ayunda, seperti sebuah senjata yang mencoba menggerogoti kenyamanan hidup yang telah ia bangun.
__ADS_1
Mungkin karena Samudra tidak memiliki seorang figur pria di rumah masa kecilnya dulu yang mengajarkan kepadanya tentang cara menjadi seorang ayah atau suami, cara untuk selalu ada saat istri membutuhkannya, dan belajar memahami komitmen dan tanggung jawab.
Samudra membenci hal itu, ia membenci dirinya sendiri dan membenci Ayunda karena menghancurkan realitas yang telah dengan mudah dipercayainya, karena membuatnya bertanya-tanya, ragu. Karena memberinya satu kegagalan lagi untuk ditumpukkan di atas segunung kesalahan sejak hari pertama ia bertemu dengan Ayunda.
Kenapa ia tidak keluar saja dari mobil sialan itu? Berjalan ke pintu kediaman Ayunda dan menegur Ayunda. Ayunda akan mengatakan yang sebenarnya, dan mereka bisa melangkah maju setelahnya.
Tapi sudah terlambat, pernikahan mereka telah mati bertahun-tahun, tidak ada yang bisa membangkitkannya kembali.
Bagian cerita itu tidak akan berubah.
Dan sekarang Ayunda tidak lebih dari sebuah kenangan.
Sial, Samudra masih bisa merasakan kulit Ayunda di lidahnya. Mencium aroma rambut Ayunda di pakaiannya. Merasakan panas tubuh Ayunda di tangan, dada… sekeliling pinggul. Panas, basah dan begitu berhasrat.
Pasrah, padanya.
Karena dalam tiga tahun ini, Ayunda tidak pernah merasakan sentuhan pria lain.
Kenapa itu begitu penting bagi Samudra? Ketika mengetahui bahwa dirinyalah satu-satunya. Ayunda masih menjadi miliknya.
Taman ini, dan semua yang ada di dalam rumah ini, adalah mahakarya yang seimbang antara warna, tekstur, dan aroma. Bambu muda setinggi pinggul, ramping dan berwarna hijau cerah, berdesir dalam tiupan angin malam di seberang tiang fondasi jembatan batu yang terpahat setinggi dua belas kaki dan berasal dari sebuah sungai khas Tiongkok. Bunga-bunga berwarna cerah menjulur di atas tanaman merambat berdaun lebat. Dan kulit kakao terkubur di bawah bermacam dedaunan dan semak belukar yang menyerap udara air laut dengan aroma pekat yang memberikan kenyamanan yang memabukkan.
Kenyamanan yang tidak bisa Ayunda rengkuh.
Ini sungguh sebuah bencana ia tidak ingin menambah rasa bersalah dan tanggung jawab yang telah Samudra pikul karena dirinya.
Suara klakson berbunyi dua kali, taxi yang di pesan Ayunda sudah datang.
Ayunda berdiri dari bangku, lalu berjalan ke pintu gerbang. “Tunggu sebentar, Pak.”
Namun, setelah sesaat merasa bingung, ia menyadari kalau ia tidak tahu cara membuka pintunya.
Setiap kali datang atau pergi, ia masuk melalui jalan samping dengan pintu elektrik yang ia tidak tahu cara mengaksesnya. Pintu ini lebarnya enam kaki, panel yang diukir dalam bentuk bunga yang rumit dan berwarna hitam pekat ini sangat menakjubkan sekaligus membingungkan.
Ayunda menarik gagangnya dengan sekuat tenaganya, namun pintunya sama sekali tak bergerak. Ia mencari gerendelnya dengan putus asa dan wajahnya memanas saat memikirkan harus mencari Samudra hanya agar bisa keluar dari rumah pria itu Tidak. Pasti ada cara lain.
“Tunggu sebentar, Pak” seru Ayunda kepada taxi yang sedang menunggu, lalu menjinjit untuk merasakan kunci yang tersembunyi. Tidak ada.
“Seperti ini caranya.” Gumaman berat datang dengan mengejutkan tepat di belakangnya, dan Ayunda melonjak saat Samudra mendekat untuk menekan tombol yang tersembunyi dan pada saat yang bersamaan menarik gagangnya. Pintu gerbang itu membuka tanpa suara, memaksa Ayunda melangkah mundur ke arah Samudra. Namun pria itu sudah menjauh darinya, mata pria itu menatap sebentar kepadanya.
__ADS_1
“Kita belum selesai.”
Samudra berlari ke taxi yang sudah menunggu lalu menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu melalui jendela yang terbuka dan meminta maaf atas ketidaknyamanan telah memesan taxi.
Kemudian Samudra berjalan kembali, tampak seperti siluet gelap di tengah bayang-bayang, ekspresinya tidak terbaca, tapi ketegangan terpancar dengan jelas. Menakutkan.
“Aku yang membawamu ke sini, jadi aku yang akan mengantarmu pulang.”
Ayunda mengatupkan bibir, dan mengangguk. Ia berfikir jika ia dan Samudra memang harus bisa menyelesaikan pembagian aset ini sebagai satu tim. Menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat. Menyelesaikan semuanya.
Keheningan terasa dengan tegang hingga suara Samudra menyela, “Apakah kau masih merasa sakit, Ayunda?”
“Apa?” Ayunda terkejut dengan arah pertanyaannya yang tak terduga.
“Jiwamu, hatimu. Kau kini terlihat kuat, hidup. Tapi aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya, jadi aku harus bertanya. Apakah kau masih merasa sakit?”
Hati Ayunda bergetar, gemetar di dadanya.
“Tidak…” Ayunda hampir mendapatkan kehidupan seperti yang diharapkan. Namun, pada saat yang bersamaan… “Tidak seperti dulu, saat bersamamu”
“Djiwa?” tanya Samudra, "Apakah ia membuatmu merasakan… sesuatu?”
“Tidak.” Ayunda menelan ludah. “Tapi aku ingin merasakannya, aku ingin belajar mencintainya dan menjalin hubungannya.”
Ayunda tidak bisa melihat karena bayang-bayang yang pekat, tapi sepertinya ia melihat rahang Samudra menegang. “Karena menurutmu ia menarik.”
“Aku menginginkan hidupku kembali, dan melupakan semuanya.” Tenggorokan Ayunda tercekat karena emosi yang dibumbui harapan dan impian yang tidak ingin dibayangkannya.
“Dan bersamaku?” tanya Samudra, sembari mendekat dan menarik Ayunda keluar dari gejolak hatinya. Samudra berdiri menghalangi cahaya bulan, rahang yang keras dan tegang di wajahnya terlihat jelas. “Kau merasakan cinta saat bersamaku?”
Samudra sedang berusaha mencari kebenaran yang layak didapatkannya.
“Aku tidak ingin merasakannya.”
Bibir Samudra menyeringai kecut. “Tapi bukan itu yang kutanyakan.”
Ayunda mengangkat dagu, kemudian menatap mata Samudra. “Ya.”
“Aku tahu kau ingin lepas dariku, tapi aku ingin kau tahu satu hal, Ayunda.”
Ayunda menggigil di bawah embusan napas panas yang membasuh lehernya. Bibir Samudra menyentuh bahu Ayunda "Aku menginginkanmu lagi"
__ADS_1