
Ayunda terbangun dari cahaya redup lampu tidur dan pelukan tangan Samudra di perutnya. Hanyut dalam gerakan panggul yang saling bergesek, mengusap ringan di kulit telanj*ng dengan sentuhan lembut yang hampir tak terasa. Bahu bidang Samudra menegang saat menahan bobot tubuhnya dengan satu siku, lalu bergerak mendekat mengikuti gerakan tangannya dengan tatapannya.
Samudra tidak sadar Ayunda sudah terjaga.
“Tidak ada,” ucap Ayunda, bisikannya bergemuruh dalam kesunyian malam.
Samudra terbangun dan menatap mata Ayunda dengan mantap, sembari meraba perut Ayunda.
“Bekas guratan. Kau mencari itu, kan?” tanya Samudra, ia langsung mengetahui apa yang di maksud oleh Ayunda. Biasanya pria memang tidak melihat hal-hal semacam itu ketika sedang terangs*ng, tapi tidak dengan Samudra, ia selalu memperhatikan dengan detail setiap inci tubuh Ayunda.
Selama bertahun-tahun Ayunda mencari jejak garis putih yang menjadi tanda seorang ibu, entah kenapa ia ingin memilikinya walau hanya segaris. “Tidak ada.”
“Kehamilanmu kan memang tidak besar.”
Samudra mendaratkan ciuman lembut di bidang cekung perut Ayunda, lalu memejamkan mata dan beringsut naik. Tubuh mereka berjajar, beristirahat bersama dalam kesempurnaan.
Selama bertahun-tahun Ayunda tidur sendiri, sulit dipercaya betapa cepatnya mereka larut dalam kenyamanan tubuh mereka satu sama lain. Dalam hitungan detik Ayunda berada di pelukan Samudra, ia seolah melayang, pikirannya terpisah dari raga, realitas menjadi kabur mengelilingi batas kesadaran.
“Apa setelah berpisah nanti, kau akan berkeluarga lagi?” tanya Samudra.
Ayunda mungkin mengira pertanyaan yang tak terduga itu adalah bagian dari imajinasinya, yang menyusup di antara rambutnya.
Matanya berkedip membuka, ia langsung terjaga. Membeku oleh rasa takut akan percakapan yang belum siap ia hadapi.
Ayunda tidak ingin menanggapi, ia tetap berbaring dan berpura-pura sudah tertidur, Namun Samudra merasakan reaksi Ayunda saat mendengar kata-kata itu, karena lengan yang tadi tersampir di tubuh Ayunda dengan cepat ditarik kembali, lalu membelai pinggul dan paha Ayunda dengan gerakan menenangkan.
“Aku tahu kau sudah bercerita kepadaku tantang ketidak tertarikanmu kepada pria lain selama bertahun-tahun ini. Tapi kepada anak-anak tentu itu berbeda.” ucap Samudra.
Ayunda tentu saja tahu apa yang Samudra maksud, jika seorang wanita tidak perlu merasa bergair*h untuk bisa hamil. “Sudah malam, ayo tidur” Ayunda bergumam kepada bantal sembari bisa meredam ketegangan dalam suaranya. “Besok kau mendapatkan jadwal penerbangan pertama."
“Aku bisa tidur di pesawat.” ucap Samudra.
Waktu pun berlalu cukup lama hingga Ayunda bisa merasakan lamunan yang bergulat di dalam pikirannya. Samudra menangkap keengganan Ayunda untuk membahas masalah tersebut. Namun ia ingin tahu, jawaban atas pertanyaannya tadi.
“Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” jawab Ayunda sambil menahan napas, berpura-pura merasa lelah.
Samudra memegang pinggul Ayunda, memutar punggung Ayunda agar Ayunda bisa melihat wajahnya, dan agar Ayunda tidak bisa bersembunyi lagi.
“Ayunda.” Samudra menyebut namanya seolah-olah menghakimi.
“Sebentar lagi kau bukan suamiku lagi. Jangan hanya karena sekarang kita tidur bersama bukan berarti kau berhak mengetahui apa yang akan aku lakukan nanti.” ucap Ayunda.
Rahang Samudra terkatup dan mata lembut itu menatap tajam pada Ayunda, menembus dirinya dengan tekad pantang menyerah. “Mungkin nanti aku bukan suamimu, tapi malam ini aku masih menjadi suamimu.”
Tubuh Ayunda menjadi kaku di bawah impitan tubuh Samudra. Kata-kata itu mengirisnya bagai sebilah pisau.
“Kau pikir bisa seenaknya seperti itu, Samudra? Malam ini kau suamiku tapi besok bukan? Apakah seperti itu caranya?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu caranya. Yang aku tahu, kau lebih suka ribut dari pada berkata jujur kepadaku."
“Aku lelah, Samudra. Lebih baik kau menjauhlah.” Ayunda melepaskan tangan Samudra dari tubuhnya, kemudian bergeser.
“Menjauh?” bentak Samudra, sembari kembali mendekatkan tubuhnya, “Aku akan pergi enam jam lagi, seberapa jauh kau memintaku untuk pergi?”
“Aku tidak tahu, seberapa jauh yang harus dibutuhkan?” Samudra menatapnya tajam hingga rasa dingin meluncur di punggung Ayunda.
“Aku bertanya soal keluarga kepadamu karena jelas betapa kau sangat menyukai anak-anak. Apa yang salah dari pertanyaanku?"
Samudra bisa menyadarinya jika Ayunda tidak ingin membicarakannya, namun Samudra benar-benar ingin tahu.
“Apa kau akan melakukan inseminasi buatan?”
Ayunda melotot mendengar tebakan pertamanya "Tidak, Aku tidak bisa hamil.”
Tubuh Samudra seketika membatu, ia hampir tak bernapas, menatap kosong dalam sekejap.
“Tapi dokter waktu itu mengatakan kita tetap akan bisa punya anak lagi”
Kita. Kata 'kita' justru semakin membuatnya merasa buruk.
“Setelah aku pergi dari rumahmu, Kistanya pecah lagi…” Ayunda menarik napas untuk menenangkan diri dan mengangkat bahu dengan pasrah atas apa yang telah ia alami. “Ada komplikasi.”
Komplikasi, Samudra menurunkan alisnya. “Seberapa serius?”
Samudra sedikit pun tidak tersenyum atau berkedip, dan memang tidak ada yang bisa ditertawakan. “Kau seharusnya meneleponku saat itu, Aku akan ada di sana untukmu, menemanimu dan menjagamu.”
Ayunda tahu itu. “Aku tidak ingin membuatmu khawatir, atau merasa kasihan kepadaku.”
“Apakah ada yang menjagamu? Nindyra?”
Ayunda beringsut duduk di sandaran tempat tidur, menyembunyikan geliat keresahan di balik apa yang ia lakukan.
“Aku baik-baik saja, aku tidak sendirian.” Kebenaran yang tidak di ungkapkan sepenuhnya. Ia baru bertemu Nindyra satu tahun berikutnya, tapi apa yang terjadi waktu itu sangat berat untuk diceritakan, sehingga ia tetap diam.
Namun, caranya mengelak tidak cukup halus.
"Berarti kau tidak bersama Nindyra.”
Sial, Samudra mengetahuinya “Tidak.”
Tatapan mata Samudra terlihat suram sekaligus menyalahkan, ia kembali bertanya. “Berapa lama kamundi rawat?”
Dengan putus asa Ayunda berpaling, ia enggan untuk membahasnya. Namun kemudian Samudra mencengkeram bahunya. “Berapa lama? Dan jangan pernah berpikir untuk berbohong kepadaku, Ayunda. Aku bisa melihatnya dari wajahmu dan aku bisa mendapatkan jawabannya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Jadi ceritakan kepadaku.”
Samudra tidak main-main.
Ayunda merosot dalam perasaan kalah dan cengkeraman yang menguncinya beberapa detik lalu kini memeluknya erat.
__ADS_1
“Hampir satu bulan.”
Wajah Samudra berkerut, berubah menjadi penuh rasa sakit. Samudra yakin kejadian itu sesaat sebelum Ayunda menelepon dan mengatakan kepada Samudra bahwa Ayunda tidak akan kembali.
“Sudahlah toh pernikahan kita sudah berakhir.”
Dengan wajah memerah dan mata menyala, Samudra mengacungkan telunjuk ke udara di antara mereka. “Belum berakhir sampai kau menelepon! Dan mengatakan hal itu."
Kekuatan kata-kata Samudra seperti sesuatu yang menampar hati Ayunda. Memang menyakitkan dan mengejutkan, tapi Ayunda tidak akan mundur karena ia tahu bahwa apa yang ia lakukan memang sudah benar.
Ayunda selama ini sengaja tidak menceritakan apa yang terjadi karena ia merasa Samudra tidak perlu bertanggung jawab untuk menjaga dirinya, Samudra pantas mendapatkan lebih.
“Aku ingin kau mendapatkan kehidupanmu kembali.”
“Astaga, Ayunda.” Samudra menatap Ayunda seakan-akan tidak percaya betapa Ayunda tidak memahaminya. “Aku sudah punya kehidupan, kehidupanku kamu!!”
“Tidak. Tidak denganku.” Mungkin begitu sebelum mereka kehilangan bayi mereka. Namun tidak setelahnya, tidak setelah Ayunda mengalami komplikasi.
Ayunda menghapus air mata dengan punggung telapak tangannya, dan memberikan satu-satunya pembelaan yang ia miliki. “Aku ingin kau mendapatkan wanita yang lebih...."
Samudra mengacak-acak rambutnya, memandang turun ke perut Ayunda sebelum kembali ke mata Ayunda. “Lebih dari yang bisa kau berikan.”
Apalagi yang bisa dikatakan? “Ya.”
Ayunda memejamkan mata, menempelkan wajah ke lututnya yang dirapatkan dan membiarkan seprai katun yang lembut menyerap air mata yang tidak bisa ia tahan.
Kasur melesak, lalu lengan Samudra pun terasa, menarik Ayunda ke dadanya dan kembali memeluknya, menyandarkan dagu di atas kepala Ayunda.
Waktu berlalu ketika mereka berbaring bersama dalam gelap, terjaga tapi tanpa berkata-kata.
Lalu tangan Samudra membelai bahu Ayunda saat ia mencium rambut Ayunda.
“Oke. Sekarang aku sudah tahu.”
Samudra menatap Ayunda meringkuk di balik selimut, alis Ayunda terlihat berkerut bahkan saat tidur. Mereka berbaring terjaga sepanjang malam, tapi di sekitar pukul lima akhirnya Ayunda bisa merasa nyaman dalam pelukannya, napas Ayunda bergerak teratur dalam irama tidur. Lebih dari satu jam berikutnya, Samudra merasa tidak tega untuk membangunkan Ayunda saat ia mengemas barang-barang bawaan selama tinggal dua malam di sini.
Sekarang sudah waktunya untuk pergi dan Samudra masih tidak bisa menghampiri Ayunda, ia tidak mengganggu tidur Ayunda.
Samudra pikir dirinya tahu apa yang terjadi pada pernikahan mereka. Bahwa ia telah bisa menerima kehilangan dan kegagalan yang mereka rasakan, bahwa telepon terakhir itu ada karena Ayunda merasa lebih bahagia tanpa dirinya. Bahwa keretakan hubungan yang disebabkan oleh kehilangan bayi mereka, oleh dirinya yang menerima tawaran kencan settingan demi popularitas.
Namun ternyata bukan itu yang terjadi.
Melainkan sebuah pengorbanan.
Ayunda menyembunyikan kebenaran darinya, dan pergi dari hidup Samudra agar Samudra mendapatkan wanita yang bisa memberinya apa yang tak bisa di beri oleh Ayunda.
Samudra berpaling dari tempat tidur Ayunda yang menggoda lalu pergi meninggalkan kediaman Ayunda.
__ADS_1