Sebelum Berpisah

Sebelum Berpisah
Chapter - 08


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, dengan mata terbelalak kagum, Ayunda melangkah melewati pintu depan rumah pantai di Pantai Mutiara, Jakarta Utara. Yang pernah mereka tempati bersama. Rumah itu kini menjadi sangat luar biasa karena Samudra telah merenovasinya.


Samudra menambah tiga lantai baru. Baja, dan kaca membentang dari gerbang depan, menyusuri taman pribadi yang rimbun, menuju hamparan pasir pantai di dekatnya. Arsitekturnya sendiri terkesan sangat maskulin—garis-garis yang tegas dan ruang terbuka, tangga gantung dan lantai batu. Namun warna interior dan dekorasinya terkesan minimalis dan kaku.


Susunan warna yang mengadaptasi lautan dan matahari terbenam dengan kontras menghiasi setiap kamar dan menghasilkan kesempurnaan yang sangat pas. Dan karya seni yang terpajang begitu spektakuler, memadukan budaya Timur kuno dan budaya Eropa modern.


Denah utama rumah berkonsep terbuka, menawarkan pemandangan laut yang tidak terhalang dari pintu masuk utama, ruang tamu, dapur, juga bar, dengan sedikit sektor berdinding di bagian kiri. Karena rumah ini dibangun di atas tanah bergradasi, yang seharusnya menjadi lantai dasar di pintu depan sebenarnya adalah lantai dua, menghasilkan ilusi seolah-olah terasnya melayang di atas lautan luas.


“Ini menakjubkan, Samudra.”


Samudra berdiri di dekat jendela tinggi dan tersenyum. “Ada yang lebih bagus. Ayo kutunjukkan.”


Setelah membuka gerendel satu demi satu, Samudra mengayun panel kaca lebar itu sejauh sembilan puluh derajat dan mengubah ruang tamu menjadi sambungan dari teras luar. Angin laut nan sejuk bergulung ke dalam rumah, membawa suara gemuruh ombak, dan menciptakan kurva berwarna krem dalam tarian cahaya, gerak, dan suara yang membubung.


Samudra sangat bangga dan puas terhadap rumah yang telah ia renovasi. “Cukup hebat, bukan?”


Ya. Cukup untuk membuat Ayunda gatal ingin melepas kucir rambut di atas kepalanya, lalu membentangkan kedua lengan dan membiarkan angin berembus hingga ke bagian belakang lehernya dan membuat pakaiannya berkibar. Alih-alih melkukan hal tersebut, Ayunda justru hanya mengangguk setuju sembari tersenyum tulus. “Ya.”


“Dapur, ruang makan, dan ruang tamu ada di lantai dasar. Kamarku di lantai tiga. Kalau kau mau bersih-bersih, aku akan menunjukkan kamar tamunya.”

__ADS_1


Di lantai bawah, Samudra membuka pintu paling ujung di sebelah kiri, memperlihatkan area duduk, kamar mandi lengkap, kamar tidur, dan satu lagi pemandangan laut luas yang spektakuler. Karena tertarik dengan kemewahan kamar yang ia rasa sebagian besarnya belum pernah digunakan, Ayunda melangkah ke bagian belakangnya, dan sesuai dengan kebiasaannya, ia memperhatikan setiap karya seni dan dekor elegan di sepanjang koridor. Koleksi Samudra sungguh spektakuler.


Kamar tidur ini terhubung ke teras kedua yang lebih rendah, yang sebagiannya dinaungi teras di bagian atasnya. Sembari melangkah ke jendela, Ayunda berpikir bagaimana Samudra bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan pemandangan seperti ini disuguhkan dari setiap sudut rumah.


Lalu Ayunda pun teringat. “Kau tidak benar-benar tinggal di sini, bukan?”


Samudra berdiri bersandar di dinding, lengan disilangkan ke dada. “Tidak. Ini lebih sebagai tempat menyepi. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di Jakarta Selatan, tapi sekarang aku pikir kita lebih baik berada di sini, agar tidak terlihat.”


“Kau mau mencoba mengurungku diam-diam?” Ayunda menggoda dengan senyuman jahil, sadar sepenuhnya kalau apa yang di lakukan Samudra untuk kebaikan dirinya. Dialah yang akan merasa rugi jika hubungan mereka menjadi konsumsi publik. “Apakah aku sekarang menjadi rahasia kecilmu?”


“Benar,” jawab Samudra sambil tertawa singkat. “Reputasiku akan hancur jika mereka mengetahui aku memiliki istri yang masih anak-anak,"


“Aku bukan anak-anak, saat kita menikah udiaku dua puluh tahun dan kini usiaku dua puluh tiga tahun." protes Ayunda.


Mata cokelat gelap Samudra terpaku pada bibir Ayunda, kemudian berpaling ke arah cakrawala.


“Ya, benar" ucap Ayunda.


Kata-kata itu cukup sederhana, tapi seperti hampa, tandus, sama seperti sesuatu di dalam jiwanya. Ayunda tidak ingin mengingatnya, namun tanpa disadari, kenangan itu hadir di sana. Kenangan indah, buruk, pahit, dan memilukan. Ketika semakin berat dan gelap, kenangan-kenangan itu membanjirinya dengan emosi yang tidak lagi dipahaminya. Membebani bahunya dengan gema keputusasaan yang nyaris merenggut hidupnya.

__ADS_1


Pandangannya kabur dan ia pun melangkah gontai menjauhi pintu kaca, merasakan lantai seolah rapuh dan dunia berjalan lambat.


“Ayunda!” Samudra mendekat ke arah Ayunda, satu tangan memegang erat lengan atas Ayunda, tangan lain memeluk pinggangnya.


Saat Samudra memeluk tubuhnya, kesadaran Ayunda pun kembali dalam sentakan napas ketika ditekan di impitan dada Samudra. Tubuh tegap Samudra merangkul tubuhnya, hingga kepingan kenangan yang dulu sejenak dilupakan kini berkumpul bersama dalam harmoni tegas dan lembut yang berbahaya.


Keseimbangan tubuhnya kembali dan Ayunda pun memantapkan pijakannya.


“Maafkan aku,” Ayunda mengucapkannya dengan lemah, berusaha membebaskan diri dari lengan yang merangkulnya, tapi Samudra terus memegangnya dengan cepat. “Aku baik-baik saja.”


“Jangan bohong, aku tahu kau sedang tidak enak badan”


Samudra masih menahan tubun Ayunda dalam pelukan yang nyaris erotis. Ayunda memejamkan mata, tapi masih bisa merasakan panas tangan itu di tubuhnya, juga kokoknya tubuh Samudra. Ia teringat ketika tangan itu bergerak di atas tubuhnya seperti yang dulu mereka lakukan. Satu tangan menangkap, meremas dadanya… sementara tangan yang lain meluncur lebih bawah di pangkal pahanya.


'Ya Tuhan, apa yang sedang aku pikirkan' batin Ayunda.


“Sepertinya, aku mabuk perjalanan karena tak terbiasa naik helikopter.” ucap Ayunda.


“Kau butuh obat?”

__ADS_1


Napas berat terdengar di atas kepalanya, dan dengan gerakan yang tiba-tiba, Samudra menarik Ayunda ke dalam gendongannya dan membawanya beberapa langkah ke tempat tidur, lalu membaringkannya tanpa perlawanan.


“Tunggu di situ!! Aku akan kembali."


__ADS_2