
Setelah delapan belas jam dan empat kali meeting secara terus-menerus mengikat dirinya di meja kerja, ia sudah tidak sanggup meski hanya satu menit lagi terkurung di dalam kantor yang benar-benar menjemukan, setelah kopi pun menyerah pada dirinya beberapa jam sebelumnya.
Sembari mengusap bagian atas kepalanya, ia berjalan ke ruang pribadinya, hanya setengah menyadari ketika para karyawannya menatapnya dan memelankan obrolan mereka saat ia melewati barisan meja karyawan menuju ruangan pribadinya di ujung kantor. Ruangan itu tidaklah mewah, tapi dilengkapi pakaian dan peralatan mandi, juga tersedia makanan kaleng yang cukup untuknya melewati hari.
Samudra memutar keran di kamar mandi dengan satu tangan, dan menarik dasinya dengan tangan satunya.
Ia akan mandi, bercukur, dan mengganti pakaiannya.
Ia bisa menunda tidur sampai nanti malam, tapi tidak dengan menghubungi Ayunda. Bayangan tentang Ayunda terus menghantui dirinya sepanjang hari.
Drrrt.. Drrrt...
Satu panggilan masuk dari Daniel. Samudra melepas sepatunya, sembari menjawab, "Astaga, kau ini benar-benar tidak ada lelahnya."
Daniel tertawa sedikit tegang lalu berdeham, dan Samudra langsung menepis rasa kantuknya. “Ada apa?” tanya Samudra.
"Pak Samudra membuat berita heboh pagi ini, aku baru saja melihatnya."
Uap di kamar mandi yang menunggu seolah sudah memanggilnya, Samudra menghela napas berat, dengan segera masuk ke kamar mandi dan mematikan keran. "Surat kabar mana?
"Semuanya, Pak"
"Ya sudah, kau abaikan saja dulu." Samudra mematikan sambungan teleponnya kemudian ia mengistirahtakan tubuhnya sambil membersihkan diri.
“ANGKAT!”
__ADS_1
Sekali lagi terdengar deringan dan buku jemari memutih di gagang telepon yang digenggamnya. Dengan jas dijepit di bawah lengannya, ia berlari melintasi lobi kantor, mengabaikan tatapan staf kantornya.
Hanya terdengar pesan suara di ponsel Ayunda, Samudra mencoba menghubungi Nindyra, tak jauh berbeda dengan Ayunda, Nindyra pun tak menjawab panggilan dari Samudra.
Ayunda pasti sudah melihat berita itu, tidak mungkin Ayunda tidak tahu. Setiap media cetak dan online di seluruh negeri telah memberitakan kehamilan Angelia dan pernikahannya. Bahkan kedua berita itu telah dikonfirmasi oleh manajer Angelia. Sayangnya, tidak ada klarifikasi dari identitas sang mempelai pria, yang berarti Ayunda telah menghabiskan sebagian besar harinya dengan berbagai alasan untuk memercayai hal itu.
Pesan suara lagi.
Sial! Perut Samudra melilit mendengar suara yang mengarahkannya untuk meninggalkan pesan.
Segera Samudra memutus sambungan dan menelepon lagi, sembari masuk ke dalam mobilnya.
Satu deringan. Menyalakan mesin mobilnya dan perlahan mengemudikan kendaraannya.
Satu deringan lagi. Samudra menyelipkan perangkat handsfree ke telinga.
“Halo,” Ayunda menjawab pada deringan ketiga, terdengar lelah dan tidak bertenaga. Namun setelah semua panggilan yang tidak dijawab itu, suara yang tiba-tiba tersambung menyentak Samudra seperti sengatan listrik.
"Ayunda, percayalah apa yang beredar di media itu tidak benar.”
Samudra menyentak setir, memotong jalur bersama tarikan napasnya, terdengar suara isak tangis yang menyayat dirinya.
“Dia hamil. Aku mendengar rumor itu, itulah sebabnya aku datang menemuinya. Untuk mencari tahu. Tapi percyalah jika bayi itu bukan anakku.”
Ya Tuhan, Samudra harus berada di Jogja untuk memeluk Ayunda sambil menjelaskan. Ia ingin mendekap Ayunda dengan erat karena, Samudra tidak ingin berpisah.
Namun karena tadi ada beberapa meeting yang harus ia selesaikan, terpaksa ia menunda penerbangannya ke Jogja. Tapi pertama-tama ia ingin memastikan jika Ayunda baik-baik saja, bisa mengerti dan percaya dengannya. "Aku bersumpah itu bukan anakku, aku akan menceritakan semuanya kepadamu apa saja yang kulakukan selama menjalani 'kencan settingan' bersamanya. Ayunda, aku tidak ingin—" Samudra terdiam sambil mengumpat. Ia tidak ingin Ayunda membaca berita itu sama sekali, karena Samudra tahu itu akan menyakiti Ayunda.
__ADS_1
Mungkin menghancurkan hati Ayunda.
Ayunda hanya terdiam, mendengar semua ucapan Samudra.
“Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku sedang dalam perjalanan menuju bandara sekarang.” ucap Samudra.
Meski Samudra belum merampungkan seluruh perkerjaannya, Samudra tetap meninggalkan kantornya. Tdak ada yang lebih penting dari pada Ayunda. "Aku akan berada di sana malam ini, kita akan membicarakannya."
"Tidak." Bisikan pelan suara Ayunda seolah berteriak kepadanya dari keheningan yang mengelilinginya.
Otot-otot leher dan bahu Samudra yang sudah tegang semakin bertambah tegang, mengirim rasa sakit langsung ke tengkoraknya. “Apa maksudmu tidak?”
Napas gemetar terdengar dari jarak bermil-mil jauhnya dan sekujur tubuh Samudra menegang, kaku. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah, jangan. Jangan lakukan itu Ayunda.
"Kau tidak perlu datang, kau tidak harus datang." ucap Ayunda.
Samudra menepi ke sisi jalan, dan meninju setirnya. Napasnya terembus keras melewati sela giginya.
Jangan lakukan itu!
“Kau marah padaku? Aku berjanji padamu hal ini tidak akan pernah terjadi lagi." Selama bertahun-tahun, ia selalu membiarkan wartawan mengikutinya dan memberitakan apa pun tentang dirinya bersama 'pacar settingannya' tapi sekarang ia merasa ia harus menghentikan itu. Demi Ayunda, Samudra akan melakukannya.
"Biarkan pengacaraku yang menyelesaikan soal pembagian aset terakhir, dan proses perceraian kita. Kita lanjutkan hidup kita di jalan masing-masing." ucap Ayunda dengan tegas.
“Terima kasih telah memberitahukanku soal Angelia, aku minta maaf aku tidak tertarik dengan dunia keartisanmu” Ayunda mematikan sambungan teleponnya.
Samudra menarik kabel ponsel dari telinganya dan melemparkannya ke kursi kosong di samping, ia kembali melajukan mobilnya menuju belokan jalan.
__ADS_1
Ayunda tidak berubah sama sekali, ia tidak pernah memberikan kesempatan untuk Samudra mengemukakan pendapat.
Namun Samudra akan merasa bodoh jika membiarkan hal ini berakhir dengan cara yang sama, dengan kembali menelepon untuk basa-basi sementara jarak luas terbentang di antara mereka. Persetan dengan itu.