
Samudra mendorong pintu kediaman Ayunda, kakinya menahan bingkai pintu, Samudra mengacak rambutnya yang kusut dan berkeringat.
Sial, ini gila. Ia sudah gila karena ia membatalkan kontrak kerja sama iklan senilai 2M hanya demi menemui Ayunda. Ini adalah pertama kalinya Samudra lebih memilih seseorang ketimbang bisnisnya.
Setiap hari ia semakin gila, semakin gelisah. Ia ingin menemui Ayunda, tapi jadwal mereka berbenturan. Dan akhirnya, setelah semalam tidak bisa tidur, Samudra menyerah dan memutuskan untuk pergi menemui Ayunda di Jogja meski pun ia harus kehilangan uangnya senilai 2M.
Ayunda kini berada dalam pelukan hangatnya, yang tak ingin ia lepas.
Rengekan pelan terdengar dari bawah dagunya dan Ayunda membenamkan satu tangan di dadanya, syal wol tergantung berantakan di pergelangan tangan Ayunda saat ia menjauh dari pelukan Samudra. Satu kancing pada jaket Ayunda masih terpasang, tapi entah bagaimana Ayunda bisa mengeluarkan tangannya dengan bebas. Roknya terangkat sampai ke batas pinggul, kerah sutra blusnya menggantung terbuka, memamerkan mangkuk bra yang teronggok di bawah payudar*nya.
Samudra sudah melakukannya. Menandainya, meninggalkan bekas merah besar di lekuk lembut payudar*nya.
__ADS_1
Samudra seharusnya merasa jijik, tapi rasa puas menjadi pria posesif melebihi segalanya. Samudra tergelak pelan.
Ayunda menatapnya dengan kelopak mata sayu, dan bertanya, “Apa yang lucu?” tanya Ayunda.
Samudra meraba telapak tangan di atas kulit telanjang paha Ayunda dan menangkup bok*ngnya, memeluknya erat agar tubuh mereka tetap menempel. “Sudah hampir tiga puluh menit aku di sini dan kita masih belum melakukan apa-apa selain melangkah masuk ke dalam kediamanmu.”
"Belum melakukan apa-apa? Kau sudah menelanj*ngiku" Ayunda menutup puncak payudar*nya dengan ibu jari, kemudian melihat ke sekeliling ruangan dan pakaian mereka yang berantakan. Senyum kemenangan, meskipun terlihat lelah, menyapu bibirnya dan Ayunda sekali lagi meringkuk ke pelukan Samudra. Rambut gelapnya tersibak ke dada Samudra.
“Aku akan memberikan semuanya yang kamu mau dalam perceraian kita kalau kau bisa membuatku tetap berada di tempat ini," ucap Samudra
“Tidak akan. Setelah memberikan seluruh hidupku, aku lebih memilih tempat tidur…” sembari memikirkan bagaimana mereka pernah bersama sebelumnya, Samudra menutup pintu dengan kakinya, lalu meminta, “Dan kau.”
__ADS_1
Dengan enggan, Samudra beranjak, memisahkan tubuh mereka kemudian menarik Ayunda ke pelukannya, dan membawa Ayunda ke kamar dengan tempat tidur ukuran queen yang satu sisinya menempel di dinding. Kaki Samudra mungkin akan menggantung di sepanjang malam, tapi bersama Ayunda dalam pelukannya, itu tidak masalah.
Dengan lembut Samudra menelanjangi Ayunda dan menariknya ke bawah selimut tebal, dan merangkak masuk ke sampingnya. Ayunda menggeliat di pelukannya, mendesah di tangannya saat tubuh mereka saling menekan. Ayunda akan segera terlelap, tapi Samudra harus tetap memeluknya sedikit lebih lama.
Mulutnya menyapu lekuk mulus bahu telanjang Ayunda. “Ayunda.”
Ayunda kembali mendes*h. Napasnya melambat, semakin berat.
“Ayunda.” Satu gigitan lembut. Kali ini Samudra mendapatkan erangan dan perhatian penuh Ayunda.
“Apa?” sahut Ayunda, sembari mencoba berguling menjauh darinya. Namun Samudra menahan pinggul Ayunda dan menariknya kembali, memeluknya erat.
__ADS_1
“Jangan ada lagi kencan dengan pria lain. Tidak sampai kita menyelesaikan perceraian kita.”
Ayunda terdiam di pelukannya, sebelum berkata, “ Aku tidak akan jalan dengan pria mana pun lagi.”