
Hujan deras turun diluar jendela. Hawa dingin mengaliri udara malam Yogyakarta, benar-benar terlihat kontras dengan sinar matahari Jakarta yang baru saja Ayunda tinggalkan pagi itu.
Sembari mengetatkan sweater tebal ke tubuhnya, Ayunda berpaling dari jendela dan kembali ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke bantal empuk saat teriakan Nindyra terdengar dari jauh.
“Kau tidak pernah membuat keputusan seburuk ini sebelumnya, Ayunda. Apa yang ada dalam pikiranmu?”
Memangnya apa. Tapi kemudian Ayunda menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam lima menit ini, Nindyra sudah berhenti berbicara dan mengharapkan jawabannya saat ini juga.
Hanya ada satu hal yang bisa Ayunda katakan.
“Aku menginginkannya. Aku tahu kedengarannya gila, tapi sejujurnya aku tidak bisa menahan diri. Aku bahkan tidak ingin menahan diri.” Ayunda menyelipkan kaki di bawah tubuhnya, kembali meringkuk di sudut sofa dan mendesah. “Rasanya seperti ada sesuatu yang belum selesai di antara aku dan Samudra”
“Dan sekarang semuanya selesai? Sekarang wanita bijak yang kukenal dan kusayangi seperti saudariku sendiri telah kembali, mengusir penipu gila **** yang menyetubuhinya kemarin. Apakah benar begitu?”
“Tidak juga.” Ayunda masih bisa mendengar suara Samudra, mendes*h di atas tubuhnya. “Belum cukup.” Pengakuan parau yang telah membuat bergairah lagi dan, bahkan saat ini, membuatnya panas dan hanya akan bisa di puaskan sampai mereka bertemu lagi.
“Apa sebenarnya maksudmu dengan tidak juga?” Nindyra menuntut penjelasan, membuat Ayunda ingin menertawakan drama sok melindungi yang tidak sabaran ini.
Biasanya yang terjadi pada mereka justru sebaliknya. Nindyra adalah orang yang ceroboh yang selalu Ayunda jaga. Selalu seperti itu sejak ia bertemu denga Nindyra tiga tahun yang lalu di luar galeri. Tersesat dan ditinggalkan oleh pacarnya yang telah menjanjikan isi dunia kepadanya dan membawanya ke Jogja, tapi kemudian malah meninggalkan Nindyra dengan uang kurang dari seratus ribu rupiah ketika kekasihnya menemukan wanita lain yang ri anggapnya lebih menarik dari Nindyra. Ayunda menerima Nindyra. Memberinya pekerjaan dan menyekolahkannya. Dan Nindyra telah memberikan semua yang dimilikinya sebagai balas budi. Mereka lebih mirip saudari kandung ke timbang teman atau atasan dan karyawan. Dan Ayunda selalu berperan sebagai kakak. Tapi hari ini, peran itu telah berbalik.
Sebagian dari diri Ayunda bertanya-tanya apakah perubahan itu ada hubungannya dengan Raden, pria yang kemarin bersama Nindyra, yang sekarang enggan Nindyra bahas dengan alasan, “Kita tidak sedang membicarakan diriku.”
Ayunda tidak tahu bagaimana menjelaskan ketertarikan yang ia rasakan kepada Samudra. "Samudra itu berbeda, dan cara kami mengakhiri pernikahan ini pun berbeda, masih banyak yang belum terselesaikan di antara kami.”
Dulu Samudra adalah segalanya bagi Ayunda. Matahari terbit, tawa di bawah sinar matahari siang, dan cinta di sepanjang taburan bintang malam. Namun setelah Galen pergi... Ayunda tidak bisa bersama Samudra, tidak bisa berbicara dengan pria itu, hatinya benar-benar telah hancur, tubuh dan pikirannya telah tertutup untuk segalanya kecuali kesedihan dan kebencian pada Samudra.
Rasa kesedihan dan kemarahan telah memakannya hidup-hidup hingga yang bisa ia lakukan hanyalah menutup diri pada semua orang dan segala sesuatu. Yang bisa ia lakukan hanyalah pergi.
“Jadi masalah apa yang sedang kau selesaikan dengannya?” tanya Nindyra.
Mungkin Ayunda hanya sedang menutup luka dengan ucapan selamat tinggal.
__ADS_1
Nindyra gusar karena diamnya Ayunda. “Ayunda, telepon pengacaramu dan minta ia menyelesaikan semua ini karena apa yang kau lakukan ini salah.”
“Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Kau bahkan belum pernah bertemu Samudra, apalagi melihat kebersamaan kami. Kami melakukan ini dengan sadar. Percayalah kepadaku.”
“Aku tidak perlu bertemu Samudra hanya untuk mengetahui dia seperti apa. Aku sangat mengenalmu, Ayunda. Aku melihat caramu menjalani hidup dan aku melihat wajahmu setiap kali kamu melihat wajah Samudra bersama teman kencannya terpampang di beberapa sampul tabloid.”
Ayunda merasa geram, ia berdiri dari sofa. “Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Ya, aku peduli dengan Samudra, dan tetap akan peduli sampai akhir hidupku. Tapi bukan berarti aku berkhayal atau memimpikan untuk bersamanya lagi. Kejadian kemarin hanya untuk mengakhirnya.”
“Kau hanya akan melihatnya pergi sementara hatimu hancur lagi karena dia?”
“Tidak. Kami berdua sama-sama pergi.”
“Dan hatimu?” Napas berat Nindyra memenuhi kalimat itu. “Ayunda, bagaimana kau merasa yakin bisa menghabiskan waktu dengan orang yang kau cintai hingga menikah dengannya, dan tidak jatuh lagi?”
“Karena aku lebih tahu!” bentak Ayunda lagi, ia tidak sanggup mendengar pertanyaan, bantahan, atau tuduhan lainnya. Tidak mau mengakuinya karena, bagaimanapun masuk akalnya semua yang di katakan oleh Nindyra, ia tidak akan berhenti. Ia tidak bisa!
Ayunda pergi meninggalkan Nindyra, menuju kamarnya.
Mereka menghabiskan malam bersama yang luar biasa. Progres soal penghitungan aset sangatlah sedikit, hanya merapikan berkas-berkas yang berserakan di seluruh lantai ruangan sebelum ciuman pertama yang membakar itu.
Namun tak satu pun dari mereka merasa khawatir, mereka akan menghitung neraca dengan lebih baik di lain waktu, setelah mereka sedikit membakar ketegangan awal di atas seprai.
Satu perjalana lagi ke Jakarta, namun kali ini Ayunda hanya sendirian.
Jadwal Ayunda sangat padat, terlebih sebentar lagi ia akan mengadakan pameran. Namun ketika menyadari bahwa ia harus segera menyelesaikan urusan asset bersama Samudra, sehingga mau tak mau Ayunda melakukan sedikit perubahan jadwal. Dan Samudra pun melakukan hal yang sama, menyediakan waktu, dari hari minggu sampai selasa ini untuk melihat kemajuan apa yang bisa didapatkan.
Ayunda membayangka, jika mereka akan fokus pada pembagian aset di sepanjang hari dan menyisakan malamnya untuk… Mungkin bersantai sejenak.
Jarak dan waktu telah membantu Ayunda mendapatkan kembali sudut pandangnya, memantapkan batasan-batasan apa yang akan mereka lakukan bersama. Ia memikirkan Samudra, sudah pasti. Mungkin lebih dari yang seharusnya ia pikirkan, tapi mustahil untuk tidak begitu. Kembalinya gairah Ayunda tampaknya akan menebus waktu yang hilang, berlari dengan kecepatan penuh di sepanjang waktu bangun dan tidur. Jadi, ya, Samudra telah memenuhi pikirannya secara fisik, bukan emosional.
__ADS_1
Ayunda tidak akan lupa bahwa apa yang di lakukannya bersama Samudra, sama sekali tidak melibatkan perasaan. Tak satu pun dari mereka akan melibatkan perasaan. Itu satu hal yang digaris bawahi setelah mereka berpisah Samudra tidak akan menjemputnya di bandara, karena dirinya bukan lagi tanggung jawab Samudra.
Mobilnya melaju ke arah jalan keluar dan denyut nadi Ayunda berdetak kencang. Ia melirik ke arah kursi kosong di sekelilingnya, ia baru sadar kalau ternyata ia bahkan belum mengeluarkan laptop dari tasnya. Bahkan handphonenya saja masih terselip di saku tas kecil, dan ia menghabiskan waktu dua puluh lima menit terakhir dengan hanya memikirkan Samudra, seperti anak SMA yang tergila-gila dengan orang yang ditaksirnya.
Bukan berarti Ayunda tidak tahan untuk segera bertemu Samudra, tapi ini tentang hubungan intim yang ia lakukan bersama Samudra sejak tiga tahun mereka tidak melakukannya. Jadi tentu saja Ayunda merasa gelisah, menebak-nebak akan seperti apa nanti setelah kemarin beberapa hari berpisah dengannya. Yang ia tahu, chemistry menggila yang tak bisa tertahankan saat terakhir kali mereka bersama tentu akan berbeda.
Gerbang elektronik membuka di depannya dan mobil pun masuk. Samudra berdiri di sebelah kiri garasi, kaki terpentang lebar, tubuhnya berbalut celana hitam, kemeja yang terbuka di bagian leher dan bagian lengannya digulung hingga setengah lengan, dan tangan terkepal di pinggul. Mata gelap itu terlihat seksi seolah mengunci Ayunda melalui jendela mobil.
Chemistry yang menyedot oksigen dari udara dan memuat molekul di dalamnya sampai akhirnya mulai terbakar.
Ayunda menyampirkan tas kecilnya di bahu dan meraih tas laptopnya, ia diam sejenak untuk menenangkan saraf yang tiba-tiba menjadi kacau.
Namun kemudian, pintu mobil terbuka dan Samudra membungkuk di depannya, menekannya ke bantalan kursi sembari mencium bibirnya dengan rakus.
Mata Ayunda terpejam menghadapi gairah Samudra, ia ingin melupakan semuanya selain Samudra dan aromanya yang kuat. Kehangatan tangan Samudra menangkup lehernya, dan lidah Samudra mengusap lidahnya.
Gerakan lidah yang sensual dan perlahan itu membuat Ayunda melengkungkan tubuhnya hingga menempel ke dada Samudra, menyambut lebih hangat dan mengusapkan jemarinya ke rambut pendek dan lembut Samudra. Payudar*nya terasa sesak di balik b*a, dan Ayunda menekannya ke dada Samudra, berusaha mencari kenikmatan yang hanya bisa ditawarkan dengan keintiman. Erangan Samudra gemetar di lidah Ayunda, mengisi mulutnya dengan gairah yang ia inginkan.
Samudra melepas ciuman mereka, dengan lembut menjauhkan bibirnya meskipun Ayunda berusaha menariknya kembali.
Senyum merekah di bibir Samudra dan kepalanya terkulai ke depan sembari menggeleng lemah. “Itulah sebabnya aku tidak menjemputmu di bandara.”
Ayunda mengerjap, ia merasa bingung, kemudian dengan cepat merasa terkejut, ia baru tersadar dengan kondisi mereka saat ini.
Dalam hitungan detik, mereka sudah setengah terbaring di kursi belakang mobil dengan rok Ayunda yang tersingkap terlalu tinggi dan tumitnya terangkat mengunci bagian belakang betis Samudra. Sementara itu, sopir di depan mereka beringsut canggung di kursinya, berusaha mengalihkan pandangan, tapi dilihat dari rona wajahnya, ia pasti tahu apa yang sedang terjadi di belakang.
Samudra berdeham pelan, Samudra seharusnya menjauh dari Ayunda, keluar dari mobil, dan mengantarkannya ke dalam rumah. Namun Samudra malah tidak beranjak dari paha Ayunda.
Ayunda melirik dengan kalut ke sekeliling mereka, melihat tas tangannya, lalu mengulurkan tangan untuk meraihnya. Sembari memegang tasnya di sela-sela jarak rapat tubuh mereka, Ayunda mengangkat sebelah alis. Samudra memutar bola mata sembari menggumam, “Astaga.” Kemudian merapikan sesuatu di belakang Ayunda, kepuasan terlihat dari penampilannya. Samudra meraih tas laptop milik Ayunda, lalu memegangnya dan keluar dari mobil, pada saat yang sama ketika Ayunda terkulai ke belakang sambil tertawa terbahak-bahak.
Namun kemudian telapak tangan yang hangat itu mengelus paha Ayunda, merapikan roknya, sebelum meraih tangannya untuk membantunya berdiri. “Ayo keluar dari mobil sekarang, kita lanjutkam di dalam!"
__ADS_1
Ayunda membiarkan dirinya ditarik keluar dari mobil dan langsung menuju ke dalam kediaman Samudra. Hatinya melambung bersama dengan segala kekhawatiran akan memudarnya chemistry ini oleh ciuman mereka, Ayunda pun menaiki anak tangga, ia melepaskan pakaiannya di anak tangga ketiga, dan roknya di anak tangga ketujuh. Beberapa detik kemudian, mereka sudah berada di kamar “Kau ingin bermain di tempat tidur, Sayang?" tanya Samudra.