
Ayunda lelah dan lemah, ia ingin menyerah pada kepenatan yang melanda dirinya.
Ayunda membiarkan Nindyra masuk, setelah gadis itu berdiri di depan pintu rumahnya dan berteriak akan memanggil polisi jika Ayunda tidak membukakan pintu untuk membuktikan kalau dirinya masih hidup.
Ia membuka pintu dan menghadapi keterkejutan dan kemarahan Nindyra yang mendapati dirinya masih mengenakan piama dari malam sebelumnya, dengan dilengkapi mata bengkak dan rambut kusut
"Baj*ngan itu melakukan ini kepadamu! Sudah ku katakan jangan pernah mendekatinya lagi, dia hanya bisa menyakitimu," ucap Nindyra, meluapkan segala emosinya.
Ayunda mencoba menjelaskan kalau Samudra bukanlah baj*ngan, meski apa yang telah di perbuat oleh Samudra menyakiti hatinya tapi ia tak suka jika ada orang yang mengatakan hal buruk terhadap suaminya.
Nindyra duduk dihadapan Ayunda, ia diam untuk beberap saat, dan mendengarkan Ayunda berbicara.
"Terserah kau sajalah, ayo makan!! Tubuhmu butuh tenaga"
Nindyra membawakan sup dan memanaskannya sementara Ayunda membersihkan diri di kamar mandi, Nindyra menolak untuk pergi sampai mangkuk itu setengah kosong.
"Nanti aku akan kemari lagi untuk mengecek kondisimu," Nindyra mencium kedua pipi Ayunda "Aku yang akan menghandle semua urusan pameran, kau istirahat saja." kemudian Nindyra pergi meninggalkan kediaman Ayunda.
Ayunda sendirian lagi, seperti yang ia inginkan. Selain kesendirian, tidak ada lagi yang mencegah pikirannya untuk mengenang semua momen kebersamaannya dengan Samudra. Semua kesempatan yang gagal diraih, ketika ia menahan diri untuk berpisah tapi malah menyerah pada godaan kenikmatan yang Samudra tawarkan.
Ayunda ingin tidur, tapi entah bagaimana bayangan saat Samudra memeluknya terlalu berat untuk dipikul. Namun pada akhirnya, matanya terpejam dan kepalanya bersandar di lengan sofa, dan ia menyerahkan dirinya pada perasaan mati rasa.
Tak lama kemudian tiga gedoran keras terdengar di pintu menyentak Ayunda hingga membuat Ayunda beranjak dari sofanya sambil memegang jubah tidurnya dengan linglung. Untuk sesaat, kabut kebingungan memisahkannya dari realitas, tapi kemudian gedoran itu terdengar lagi.
Samudra.
Samudra seharusnya tidak datang, tapi saat Ayunda memikirkan itu, jantungnya berdegup dengan kencang.
"Buka pintunya, Ayunda!" Kata-kata itu terdengar berat melewati panel kayu yang memisahkan mereka, memberikan peringatan kepadanya bahwa Samudra telah habis kesabaran. Setelah menjalani penerbangan selama satu jam, ditambah dengan semua yang Samudra lakukan agar bisa terbang, pria itu pasti telah habis kesabaran.
Ayunda memasukkan anak kunci, dan baru saja akan memutar gagang saat Samudra sudah membuka pintu, meraih pinggulnya, dan menggendongnya masuk ke kediamannya, namun ia tidak lupa untuk menutup pintu dengan kakinya.
Ayunda tersentak oleh gerakan yang tak terduga itu, juga saat melihat ekspresi Samudra yang kelelahan. Ayunda mencengkeram lengan baju Samudra untuk mencari keseimbangan. "Apa yang kau lakukan di sini? Aku bilang kau tidak usah datang semuanya sudah di urus oleh pengacara."
“Aku tahu,” ucap Samudra, sembari menurunkan Ayunda di sudut ruangan.
Jantung Ayunda berdegup kencang, tenggorokannya kaku karena terlalu banyak emosi yang dirasakan dalam beberapa jam terakhir ini. “Lalu untuk apa kamu kemari?”
Samudra tersenyum getir kepadanya. "Ayolah. Seperti kau tidak tahu saja?"
__ADS_1
"Penyelesaian," jawab Samudra, sembari melonggarkan dasi dan membuka kancing kemeja di bawahnya. "Apa yang menjadi tujuan kita sejak awal."
"Maksudmu?" tanya Ayunda.
"Aku ingin meminta hakku, sebelum sidang perceraian kita di gelar minggu depan."
"Tidak," protes Ayunda.
Jemari Samudra berhenti di kancing keempat, matanya yang gelap menyipit saat Ayunda menatap bahu bidang berkulit putih bersih dan sedikit bulu dada yang telah tersingkap.
"Tidak apa? Aku masih berhak atas dirimu?" ucap Samudra, sembari menumpukan satu tangan di dinding di samping kepala Ayunda. Mengunci Ayunda tanpa menyentuhnya sama sekali.
Suara Samudra semakin berat, semakin pelan dan berbahaya. "Aku tidak boleh menyentuhmu Atau 'tidak' yang berarti jangan berhenti sampai aku memelukmu erat dan membuatmu menjerit menyebut namaku?"
Ayunda mengembuskan napas dengan marah dan mencibir, tanpa memberikan respons apa-apa.
Tinju Ayunda yang terkepal di sisi tubuhnya kini menempel erat di perut Samudra.
“Aku menginginkanmu, Ayunda…” Jari Samudra menyentuh dengan ringan menuruni sisi leher Ayunda, mengikuti kerah sutra jubah tidur Ayunda ke ujung V di lekuk leher Ayunda.
Samudra mengaitkan jarinya di jubah itu dan terus menariknya hingga menampakkan ranumnya payud*ra telanjang Ayunda, kemudian ibu jari Samudra mengusap puncak payudar*nya yang mengeras, memaksa bibir Ayunda mengerang.
Ayunda tidak dapat menolak kenikmatan yang di berikan oleh Samudra, kepuasan berdenyut di telinga Ayunda saat gairah kental dan hangat meleleh dari pusat tubuhnya. "Mengapa kau tidak minta pada wanita itu?" bisik Ayunda.
Kedua tangan Samudra sudah ada di tubuhnya, menangkup payudar*nya yang semakin membesar, yang satu masih dilapisi kain sutra, satunya lagi telah telanjang. Halus sutra dan kasar kulit Samudra berpadu kontras dalam harmoni yang sensual, menarik rasa ingin di titik sensitifnya. "Berikan kepadaku malam ini," bisik Samudra.
Tangan Ayunda mencengkeram erat sisi kemeja Samudra, seketika ia menginginkan ini, bahkan mungkin lebih dari yang Samudra inginkan.
Samudra menarik rambut di tengkuk Ayunda, menarik kepala Ayunda ke belakang sehingga Ayunda tidak punya pilihan selain menerima tatapannya. “Aku ingin mengucapkan selamat tinggal. Apakah kau juga tidak ingin mengucapkannya untukku?”
Sembari menatap Samudra, tenggorokan Ayunda kaku dan tiba-tiba ia mengerjap karena sengatan air mata.
“Ya,” bisik Ayunda ragu-ragu, sembari membelai wajah Samudra dengan telapak tangan. Lalu dengan lebih berani membiarkan ujung jarinya menelusuri lekuk wajah pria yang dicintainya itu. Untuk mengingat ujung hidung mancung Samudra, tulang pipinya yang tinggi, dan bulu matanya yang tebal.
Samudra memejamkan mata, rasa tegang di tubuhnya terlihat melemah bersama embusan napasnya lalu kembali menegang menjadi sesuatu yang baru.
Tarikan di rambut Ayunda semakin erat, perlahan-lahan kembali membawa kepalanya ke belakang hingga Ayunda terbuka untuk Samudra, terekspos dan menanti ciuman dari Samudra.
Tatapan Samudra hanyut akan posisi Ayunda di depannya, Samudra menarik napas tenang dan terkendali. “Ketika aku memelukmu malam ini, aku tahu ini untuk yang terakhir kalinya. Aku akan memanfaatkan waktuku bersamamu.”
__ADS_1
Seolah ingin memberikan penekanan, Samudra menundukkan kepala di mulut Ayunda dan menjil*t pelan mengelilingi bibir Ayunda yang merekah, kemudian Samudra menyelipkan lidahnya, memenuhi mulut Ayunda sedikit demi sedikit hingga tubuh Ayunda bergidik.
Dorongan kasar lidah Samudra kembali mengisi mulut Ayunda, diikuti dengan gesekan gigi di rahang, leher, dan satu titik di bawah telinga Ayunda.
Tangan Samudra bergerak ke pinggul Ayunda, mempersiapkan Ayunda untuk menerima gairahnya yang sudah mengeras. "Bersiaplah!! Tidak ada satu inci pun dari tubuhmu yang tidak kucicipi dan kusentuh."
Hasrat bergejolak dalam diri Ayunda, membuat napasnya terengah, tangannya berusaha menggapai, membuka kancing yang tersisa di kemeja Samudra, kemudian turun ke bawah bergumul dengan ikat pinggang dan ritsleting sampai Samudra menangkap pergelangan tangannya dan menariknya meninggalkan ruangan tamu kediaman Ayunda.
Di kamar Ayunda, Samudra menelanjangi tubuhnya dan tubuh Ayunda. "Astaga, Ayunda, aku ingin membuatmu menjadi milikku sekali lagi.”
Ayunda memejamkan matanya saat tubuh Samudra menekannya, setiap kali dirinya akan memulai bercinta selalu diawali dengan rasa sakit, terlebih saat Samudra menghunjamnya dengan bobot tubuh Samudra di sekujur tubuhnya.
Biasanya saat tubuh Samudra terus menekan, jari- jemari Ayunda menggapai-gapai punggung lebar Samudra, bergerak ke sana kemari, dan meminta Samudra untuk menahan sebentar atau bergerak perlahan.
Namun malam ini berbeda. Ayunda berpegangan pada bahu kokoh dan lebar pria yang dicintainya, ia menyadari bahwa setiap detik yang berlalu akan semakin dekat mereka pada perpisahan. Ia ingin menikmati berat tubuh yang menindihnya, ia ingin mengingat degup jantung dan lembapnya kulit Samudra, serta pelukan hangan Samudra.
Namun baru beberapa kali hentakan, Samudra mendorong dengan satu siku dan berguling ke sisinya. Tangan hangat terselip di punggung Ayunda saat mata cokelat tajam dan teduh itu menatapnya. "Kau baik-baik saja Ayunda?"
“Ya.” Bibir Ayunda gemetar saat mencoba tersenyum pada Samudra, menegaskan bahwa Samudra memang benar. Bahwa Ayunda yang menginginkan perpisahan ini, namun otot wajahnya memberontak, menolak tunduk atau patuh pada kebohongan yang tidak dipahaminya.
Inilah detik-detik terakhir dari impian yang dulu ia bayangkan akan berlangsung selamanya.
"Mungkin ini tidak mesti diakhiri, Ayunda. Meskipun sudah berantakan, tapi apa kau sudah benar-benar memikirkannya?"
Ayunda sudah memikirkannya, ini terlalu indah untuk diakhiri, dan terlalu indah untuk dihentikan. Gumpalan emosi menyumbat tenggorokannya saat ia mulai memaksakan kata-kata yang tidak ingin diucapkannya. "Sejak awal kedatanganmu ke Jogja, bukankah kita sudah sepakat untuk mengakhirinya? Hubungan yang sekarang ini hanya sampai malam ini. Kita telah mencoba hidup dalam pernikahan, tapi lihatlah, kita gagal kan?”
Samudra membelai rambut Ayunda dengan lembut, kemudian ia mengecup alis Ayunda. "Benar" Suara napas tercekat mengisi ruang di antara mereka.
Ayunda memejamkan mata, menelan semua kata bohong yang memaksa untuk dilepaskan.
Sambil menggeleng, ia berbisik, “Aku tidak tahu caranya.”
Yang ia tahu adalah bahwa hatinya hancur pada setiap detak jantungnya dan ia takut membiarkan dirinya jatuh terlalu dalam, bahwa ia tidak akan bisa menyatukan kembali kepingan-kepingan itu.
Samudra menangkup pipinya, menyapukan ibu jari di kulit Ayunda yang berurai air mata "Tidak ada orang yang bercerai tanpa terluka perasaannya. Bahkan jika hati itu telah terluka satu dekade lamanya, tetap tidak akan menyembuhkannya. Ini tidak akan mudah.”
“Tidak. Ini tidak akan mudah. Tidak akan mudah.”
__ADS_1
Samudra mencium lembut bibir Ayunda. Memeluk Ayunda saat menariknya mendekat untuk satu pelukan terakhir.
Lalu semuanya pun berakhir.