Sebelum Berpisah

Sebelum Berpisah
Chapter - 06


__ADS_3

Selesai mengemas seluruh pakaiannya, Samudra membantu Ayunda membawa kopernya masuk ke dalam mobilnya dan keduanya berangkat menuju bandara.


Ayunda menatap kaca jendela mobil, menyusuri jalan raya hilir mudik orang dengan berbagai tujuannya masing-masing, serta lampu-lampu jalanan yang semuanya tampak indah meskipun nuansa kelabu akan cuaca buruk mempergelap pemandangan sekitar.


Entah kenapa cuaca suram itu tampak pas, seolah menguarkan ekspresi merengut di udara sekitar. Tidak ada angin topan yang ribut dan bergejolak atau bahkan hujan deras. Hanya suasana melankolis, gambaran yang tepat untuk akhir pernikahan yang telah berakhir bertahun tahun lalu.


Suara deheman menarik perhatiannya kembali ke pria yang duduk di sebelahnya di dalam mobil. Samudra bersandar dengan kaki terjulur. Dasi longgar dan sedikit miring, kancing atas terbuka di bagian leher, lengan kemeja digulung hingga setengah dan kedua lengan terlipat di belakang kepala. Ipad yang masih menyala di tangannya, dan dengan berbagai berkas di pangkuannya, memberi kesan kalau pria itu sangat sibuk, namun ia mencoba untuk tidak mengabaikan Ayunda. “Jadi, bagaimana kalau kita membicarakan hal lain?” ucap Samudra tanpa melihat ke wajah Ayunda.


Komunikasi di antara mereka terbatas percakapan membosankan setelah satu momen krusial tadi di kamar Ayunda, sesuatu yang membuat Ayunda harus berusaha ekstra keras untuk menyingkirkannya dari kepalanya.


Ayunda menatapannya, menyusuri detail tubuh Samudra, ia pun kembali bertanya-tanya, kenapa harus Samudra? Bagaimana mungkin itu, setelah bertahun tahun ini?


Lebih dari sekali Samudra menangkap basah lirikan mata Ayunda, mata mereka saling memandang seolah sedang berlomba untuk tetap membisu. Saling menguji kekuatan dari hubungan yang membingungkan yang tersisa di antara mereka, dan kemampuan mereka untuk menahan kedekatan jarak yang ironisnya menjadi awal perceraian mereka. Lalu Samudra akan berpaling, dan kembali larut dalam pekerjaannya.


Sesaat kemudian Samudra, meregangkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain sembari mengembuskan napas dengan terburu-buru, dan merenung. "Jadi baimana menurutmu? Kau mau bercerita?"


Ayunda menelan ludah, berusaha menahan kedutan di sudut mulutnya agar tidak terulas menjadi senyuman. “Baik.”


"Lalu?" Samudra ingin mengetahuinya lebih lanjut.


"Semuanya berjalan dengan lancar, bukankah kamu sudah tahu?"


"Ya, aku dengar kau akan mengadakan pameran di Jakarta, kenapa kamu tidak tinggal saja di Jakarta? Di rumah kita."


"Tidak." tukas Ayunda sembari mengibaskan tangannya dengan ringan, baginya cukup seminggu ke depan saja ia bersama Samudra untuk menyelesaikan masalah mereka setelah itu ia akan kembali ke kehidupannya.


"Okay baiklah." Samudra tak memperpanjang obrolannya setelah ia mendapatkan notifikasi email masuk.


Ayunda menguap dengan sikap tak acuh ke arah jendela, rasanya perjalanan ke bandara kali ini terasa sangat membosankan. Ia teringat pada masa ketika mereka terbiasa berbicara sepanjang malam di atas tempat tidur, di mana percakapan itu begitu menarik. Sambil berbincang tangan Samudra bergerak lembut di pinggul Ayunda, kemudian mendekapnya, lalu dengan mendetail menggambarkan betapa ia ingin bercinta dengan Ayunda di tengah hujan. Samudra menangkup tubuhnya, menjil*t dan menghi*ap payuda*ahya, membuatnya mengerang.

__ADS_1


Puncak payud*ra Ayunda mengerut saat mengingat Samudra menghunjam dengan panas ke dalam dirinya, dan membuatnya terengah.


Oh, tidak. Ini tidak benar.


Ayunda sudah tidak ingin berpikir tentang bagaimana hal itu pernah terjadi.


"Mau kemana kita? bukankah seharusnya kita ke bandara?" tanya Ayunda, menyadari arah mobil yang membawanya tak menuju Bandara Internasional Yogyakarta.


"Aku akan mengajak istriku kemana pun aku mau," Samudra tersenyum simpul penuh misteri sembari mematikan Ipad dan merapihkan dokum-dokumennya yang berserakan.


Tak lama kemudian sopir yang membawa Ayunda dan Samudra menepikan kendaraannya di sebuah atap gedung.


"Yuk turun," Samudra mengajak Ayunda turun dari mobilnya.


Ayunda di kejutkan dengan sebuah helikopter di hadapannya.


"Santai saja. Cuaca sepertinya aman,” ucap Samudra, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam helikopter miliknya.


"Ya" Samudra menganggukan kepalanya, sambil membantu Ayunda memasangkan sabuk pengamannya. "Kau aman bersama suamimu," bisiknya di telinga Ayunda.


Setelah ia berbicara dengan Air Traffic Controller, Samudra membuka throttle secara perlahan, kemudian ia menarik collective ke atas, lalu menginjak pedal kiri di lanjutkan mendorong collective.


"Jika tidak gerimis, ini akan jauh lebih indah." ucap Samudra.


Ayunda tersenyum menganggukan kepalanya, meski di cuaca gerimis ia tetap bisa menikmati pemandangan yang indah dari atas.


Ini terlalu romantis, bahkan terlewat romantis. Cuaca mendung di tambah dengan pemandangan indah, sangat cocok untuk sepasang kekasih.


__ADS_1


Setelah satu jam berada di udara, akhirnya mereka tiba di Jakarta. Samudra berhasil mendaratkan helikopternya dengan mulus.


Malam itu Ayunda di buat terkagum-kagum bukan hanya karena pemandangan indah dari atas helikopter, namun juga akan kemampuan Samudra yang sama sekali tak ia ketahui.


"Ayo turun!! kamu masih mau di sini?" ucap Samudra yang sudah berdiri di depan pintu helikopter sambil mengulurkan tangannya, hendak membantu Ayunda turun dari helikopter.


"Eh!" Ayunda tersadar dari lamunan, ia menerima uluran tangan Samudra, kemudian turun dari helikopter dan keduanya masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya di helipad.


Di dalam mobil keheningan kembali terjadi, Samudra kembali sibuk dengan Ipadnya mengurusi bisnis properti barunya.


"Pak, tolong antar aku ke IHG hotel saja ya." ucap Ayunda kepada supir yang mengantarnya.


Samudra yang semula fokus pada Ipadnya, langsng menoleh ke arah Ayunda, “Apa?”


“H-hotel,” Ayunda tergagap dengan bodoh, rasanya ingin segera menampar dahinya dan berharap agar otaknya menjadi encer.


“Hotel tempatku untuk menginap,” Ayunda menjelaskan, berusaha menahan bola matanya agar tidak berputar dan seolah-olah berkata 'betapa bodohnya aku,'


“Tidak ada hotel,” ucap Samudra sembari mengibaskan tangan dengan tak acuh, dengan ekspresi wajahnya yang datar. “Kau akan tinggal di rumah kita!!"


Samudra tidak mungkin serius. “Itu bukan ide yang bagus.”


“Kau akan lebih nyaman tinggal di rumah kita, karena di sana ada chef dan asisten rumah tangga yang akan selalu bersedia membantumu kapan pun kau membutuhkanya, dan juga ada mobil untukmu di garasi.”


“Tidak.” Satu kata itu terlontar lebih keras dari yang Ayunda inginkan, tapi tiba-tiba ia merasa terpojok.


Setelah tadi menghabiskan waktu hampir dua jam perjalanan menuju Jakarta, Ayunda terperangkap dalam aroma tubuh Samudra yang lembut, seksi, dan maskulin.


'Aku tidak ingin terjebak dalam kediaman Samudra, aku tidak mau akan menghirup aroma pria itu selama tujuh hari berturut-turut,' batinnya.

__ADS_1


“Aku tidak ingin membahas masalah ini, kau akan tinggal di rumah kita!!” ucap Samudra, kejengkelan terdengar jelas dalam nada bicaranya.


__ADS_2