
Setelah meninggalkan kota Jogja, Samudra langsung menyibukan dirinya dengan menyelesaikan tumpukan pekerjaannya, ia ingin sejenak sisihkan Ayunda dalam pikirannya, namun sepertinya tidak berhasil, Ayunda betah berlama-lama mengisi setiap relung pikirannya.
Samudra berencana menelepon Ayunda hari ini, untuk memastikan Ayunda baik-baik saja dan merumuskan beberapa kesepakatan mengenai masa depan mereka.
Itulah rencananya sebelum ada panggilan dini hari dari asisten pribadinya.
Sekarang hampir pukul setengah enam dan Samudra sudah menghabiskan waktu setengah jam di telepon. Kabar yang diterimanya tidak baik, dan waktunya tidak tepat.
“Dengar, Daniel!! aku sudah putus dengan Angelia tiga bulan yang lalu.” Dan Samudra mengutuk dirinya sendiri, kerena tidak kembali menghubungi Angelia setelah panggilan tak terjawab yang terakhir itu.
Berbagai artikel telah menyebarkan berita mengenai dirinya dan Angelia ke seluruh negeri, kehebohan ini semakin menjadi karena Samudra tetap diam. “Tidak lebih dari apa yang telah kuceritakan kepadamu. Angelia selalu melebih-lebihkan masalah demi eksistensi di dunia infotainment.
Berkali-kali Angelia menjadikan Samudra sebagai bagian dari rencana Publisitas Angelia, hingga membuat Samudra gerah. Samudra menggosokkan tangan di otot lehernya yang kaku, dan memejamkan mata. “Oke, aku akan menghubungi Angelia, dan pergi menemuinya."
Samudra menutup telepon, dan membiarkan kepalanya terkulai ke belakang kursi.
Kehamilan.
Dari semua hal buruk di dunia, kenapa harus itu, dan mengapa Angelia begitu bangganya mengumumkan kehamilan di luar pernikahan, padahal semua wanita justru menutupinya.
Ini tidak mungkin benar, dan kecil kemungkinan bayi itu adalah anaknya tapi mungkin saja. Ia butuh jawaban dan membutuhkannya sekarang, terlepas dari apa yang dikatakan Angelia.
Samudra menyisihkan serbet makannya “Kau positif?”
Angelia tertawa lepas, dunia entertainment menyebut itu sebagai senyum yang menghibur, matanya tampak berkilat. “Ya aku hamil"
Angelia mencondongkan tubuhnya, lalu menangkup wajah Samudra. Gerakan itu terlihat lembut dan intim, tapi sebenarnya Angelia sudah biasa melakukan itu. Orang biasa menyebutnya dengan 'Aksi panggung'. Dan Angelia tidak hanya melakukannya dengan Samudra, tapi kepada seluruh pria.
Samudra tidak keberatan dengan berbagai kepalsuan yang selama ini mereka perlihatkan ke public, karena terkadang bumbu 'settingan' semacam itu membantu mempelancar usahanya dan menaikan popularitasnya. Ia mendapatkan sorotan pers karena ada seorang wanita menakjubkan di sisinya, pasangan yang menarik dengan obrolan yang memesona, seolah semuanya sempurna.
Tapi itu semua hanyalah skenario, di balik pintu yang tertutup,
Samudra merasa hubungannya dengan Angelia hanya hubungan sambil lalu yang terpisah jarak. Namun ketika hubungan sambil lalu itu tidak cukup bagi Angelia, ia mulai menginginkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari apa yang bisa Samudra tawarkan, sehingga Samudra pun memutuskan hubungan mereka.
"Apa kau senang dengan kehamilanmu?"
__ADS_1
Senyum yang menghiasi wajah Angelia pada saat ini belum pernah Samudra lihat sebelumnya. Senyum itu asli, ada emosi yang terlalu besar untuk ditampung. Tatapan Samudra turun ke perut Angelia yang sedikit membuncit, membuatnya memikirkan Ayunda dan rasa sakit yang berada jauh di dalam dadanya.
"Ya, aku sangat menikmatinya karena sebentar lagi aku akan punya baby."
Samudra meraih tangan Angelia dari pipinya, dan merema*nya lembut. "Maaf aku harus pergi, kita akan bertemu lagi nanti."
Samudra beranjak dari tempat duduknya, sebelum meninggalkan restoran ia melirik sepintas ke arah wartawan yang diam-diam meliputnya.
'Aku harus menghubungi Ayunda,' batinnya.
Meskipun pikirannya belum jernih, ia harus mendengar suara Ayunda, memastikan jika Ayunda baik-baik saja.
Namun, telepon dari kantor mendahului.
“Kita mendapat masalah dari project properti di Bekasi” ucap Daniel tanpa basa-basi.
Lagi-lagi properti di Bekasi. Berbagai rincian muncul saat Samudra memusatkan perhatiannya, ia melangkah masuk ke dalam mobilnya. “Informasi apa yang kau punya?”
Daniel menyampaikan poin-poin terbaru dengan cepat, meninggalkan pertanyaan pada diri Samudra soal apakah project yang telah ia kerjakan selama enam bulan terakhir ini bisa diperbaharui. Namun pikirannya telah berputar mencari solusi, mengevaluasi kembali risiko dan keuntungan dan menemukan jawabannya.
Menelepon Ayunda, ia dikesampingkan dulu.
Samudra sedang menatap lembut ke wajah gembira Angelia, yang pada saat bersamaan sedang menangkup rahang kokoh Samudra dengan telapak tangannya. Itu adalah momen intim antara dua orang yang difoto secara diam-diam oleh pers. Dua orang yang sedang membuat rencana untuk masa depan.
PERSIAPAN PERNIKAHAN PASANGAN SAMUDRA DAN ANGELIA YANG SEDANG MENANTI KELAHIRAN BAYI MEREKA
Ayunda memejamkan mata, seakan-akan itu membuatnya bisa melupakan artikelnya, atau setidaknya itu bisa membuatnya tidak begitu nyata.
Ini tidak adil.
Tiga malam lalu Samudra masih tidur di tempat tidurnya, memeluknya sepenuh hati dan mengatakan bahwa, ia masih menjadi suami Ayunda. Bahkan Samudra memengelus perutnya dengan lembut, tepat di tempat yang seharusnya ada bekas bayi mereka yang hilang di tubuh Ayunda, dan hari berikutnya janin itu telah tumbuh di rahim Angelia.
Ia telah ditakdirkan untuk patah hati sejak hari pertama mengenal Samudra.
Sambil mengangkat surat kabar itu, Ayunda memaksakan diri untuk menghadapi kenyataan.
__ADS_1
Samudra terlihat bahagia. Senyum di wajahnya terlihat tenang, puas, dan seolah-olah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Seorang anak. Anak Samudra.
Ayunda begitu takut untuk bertemu dengan Samudra, ia belum siap mendengar berita kehamilan Angelia secara langsung dari mulut Samudra.
Kenangan masa lalu mereka berputar seperti kepingan film menuju masa saat ini, menuju kehamilan yang lain, yang bukan berada di rahimnya.
Kehamilan itu memang telah mengubah segalanya. Pertama dengan cara yang paling membahagiakan kemudian dengan cara yang paling menyakitkan. Dalam hitungan hari, Ayunda kehilangan orang tuanya karena tak menerima anaknya hamil di luar nikah. Dalam hitungan bulan, ia kehilangan Galen, dan kemudian ia kehilangan Samudra. Ayunda teringat di saat-saat awal, kehamilan membawa kebahagiaan dalam hidupnya. Ekspresi Samudra yang biasanya beku berubah menjadi senyuman lebar begitu mengetahui Ayunda mengandung anaknya, Samudra menarik Ayunda ke dalam pelukannya, menggendongnya, dan memutar tubuhnya sambil tertawa.
Samudra mengatakan bahwa ia tidak merencanakan hal itu sama sekali, tapi ia selalu beranggapan bahwa keluarga adalah bagian dari hidupnya. Samudra memandang kehamilan Ayunda sebagai hadiah yang harus dibuka sebelum hari Natal, dan tanpa menunggu waktu lama, hari itu juga Samudra meminta Ayunda untuk menikah dengannya.
Kini, mata Ayunda terasa perih, tenggorokannya terasa kaku untuk menelan emosi yang terlalu besar. Samudra tidak perlu menunggu lagi untuk mendapatkan hadiah yang dengan begitu kejam telah direnggut darinya. Hadiah yang tidak pernah bisa Ayunda berikan.
Sembari berdoa agar anak itu lahir tanpa masalah, Ayunda mengepalkan tangan dan menekannya di bibir, mencoba menahan suara keputusasaan yang mencekik.
Ponselnya berdering lagi, tapi bukan dari Samudra, melainkan Nindyra.
Ayunda mengabaikan ponselnya, sebenarnya ia berharap jika telepon itu dari Samudra yang mengatakan kalau hubungan mereka telah berakhir, dan perceraian dan kesepakatan yang telah mereka kerjakan selama ini akan segera diselesaikan dalam waktu singkat.
Ya, minggu depan mereka akan menjalani sidang pertama.
Kemudian Angelia akan menjadi istri Samudra. Wanita yang mengandung bayi Samudra. Dan jika Samudra pernah begitu protektif kepada Ayunda, maka ia pun akan melakukan hal yang sama kepada ......
Ayunda tertawa lemah, suaranya menyelinap melalui jemarinya dan bergema ke ruangan kosong tempat ia terduduk merosot di dinding saat membuka surat kabar, Angelia akan tinggal di rumah pantai mereka yang telah Samudra renovasi.
Yang masih baru itu.
Sementara Ayunda… yah, Samudra memang selalu peduli kepadanya, tapi kini Ayunda bukan lagi siapa-siapanya ‘semuanya telah berakhir’.
Berakhir. Kata itu bergerak gelisah dalam pikirannya, tidak ingin diam atau tertanam.
Namun penolakan tidak akan mengubah fakta bahwa mereka telah melangkah dari kehidupan yang dulu.
Terlepas dari berbagai persimpangan yang ada di sepanjang jalan pernikahan mereka, tujuan akhirnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Ayunda seharusnya tidak pernah membiarkan dirinya masuk begitu dalam. Ia telah begitu bodoh dan ceroboh dengan membuka celah hatinya kembali, padahal Samudra tidak pernah memberikan satu kata pasti bahwa hubungan ini tidak akan menuju ke mana pun selain perceraian.
Betapa bodohnya Ayunda, setelah bertahun-tahun berusaha menggapai keluar dari jurang yang gelap, saat ia akhirnya bebas, ia malah menjatuhkan dirinya kembali ke celah sempit itu karena tergelincir ke dalam cinta kepada pria yang telah dengan jelas berkata perpisahan.
__ADS_1
Ayunda telah dengan rela memberikan bagian terlembut dari hatinya, dan lihatlah apa akibatnya, ia menatap ke dalam kegelapan yang sama.