
Dalam perang melawan godaan hasratnya, Samudra kalah bertempur. Padahal Samudra harus menjelaskan seluruh asset dan pendapatan yang dimilikinya. Meskipun Samudra berusaha untuk kembali fokus, otaknya tidak mau bekerja sama.
Ia tergoda dengan atasan tipis tanpa lengan, berbahan sutra halus berwarna putih yang terlihat manis sekaligus menggoda, yang di kenakan Ayunda. Di tambah dengan Syal senada tergantung longgar dan rendah di lehernya. Konyol, syal dengan blus tanpa lengan adalah hal yang paling konyol di dunia, dan kenapa hal itu sangat mengusiknya, Samudra sendiri tidak tahu.
Ayunda merentangkan kedua lengan di atas kepala dan menautkan jemarinya dengan cara yang bisa membangkitkan bayangan mesum dalam pikiran Samudra. Kemudian, sembari berdiri dari tempat duduknya, Ayunda membawa gelas kosong ke bar kecil. Celana berpotongan pinggang tinggi dan bertali putih menggantung di pinggul Ayunda, dan telapak tangan Samudra terasa gatal ingin meremas bok*ng bulat yang menggoda itu.
Ayunda telah berada di kediamannya selama dua hari. Gairah gila ini seharusnya telah memudar. Sial, Samudra berharap seharusnya rasa itu telah memudar di saat pertama kalinya mereka bercinta atau setidaknya berubah dingin agar di pagi harinya konsentrasinya tidak terganggu oleh tubuh Ayunda yang bisa dengan cepat ia dapatkan. Mengalihkan perhatian Ayunda dan memposisikan kaki Ayunda untuk melingkari tubuhnya, dan mulut mahir Ayunda mengecupnya di semua tubuhnya.
“Kita harus segera menyelesaikan ini," ucap Ayunda. Sikunya bertumpu pada bar di belakangnya, sembari mengisi kembali gelas di tangannya. Sikapnya santai, tapi tatapan matanya tajam dan penuh perhatian. Ayunda tahu persis ke mana arah pikiran Samudra.
“Pikiranmu sepertinya teralihkan.”
Ketegangan menyelinap perlahan melewati bahu Samudra, mencekik lehernya dengan erat. Pikirannya tidak pernah teralihkan oleh semua teman kencannya. Samudra tidak pernah mengabaikan bisnisnya demi menghabiskan waktu bersama mereka. Ia tidak perlu bersusah payah membuat mereka telanjang dan memeluk dirinya. Ia tidak pernah merasa terganggu seperti ini dan ini tidak masuk akal.
Namun begitulah kenyataannya.
Tapi saat bersama Ayunda, pikirannya hanyalah makan, minum, tidur, dan meniduri Ayunda setiap saat.
Pikiran itulah yang membuatnya tidak mengacuhkan gejolak ketertarikan di mata Ayunda dan berusaha untuk fokus mengerjakan berkas di tangannya. “Selanjutnya properti di Pondok Indah”
Ayunda mengerutkan hidung, tapi ia tidak sedang menggoda Samudra. Kecuali, mungkin, dengan menggerakkan pinggulnya secara berlebihan saat kembali ke meja, atau mungkin itu karena Samudra hanya melihatnya terlalu dekat.
Samudra menggoreskan pensil di berkas yang terpampang di depannya, ia memutar-mutar pensilnya di satu tangan agar tangannya tidak reflek menarik tubuh Ayunda saat wanita itu lewat dan kembali duduk di kursinya sambil cemberut, membuat Samudra ingin menyingkirkan berkas-berkas dari atas meja dan membaringkan Ayunda di atasnya. Menciumi setiap inci tubuhnya, mulai dari jemari kaki, sampai wajah cemberut yang manis itu meneriakkan namanya dengan erangan sensual.
Lupakan erangan. Samudra akan membuat Ayunda menjerit.
Namun mereka telah kehilangan waktu berjam-jam untuk mengerjakan berkas-berkas yang berserakan di lantai saat pertemuan pertama membahas asset.
Pensil Samudra patah.
“Samudra?”
Tatapan Samudra beralih dari Ayunda ke serpihan di tangannya kemudian kembali lagi ke Ayunda.
Samudra harus berhenti memikirkan tentang se*s, ia merasa lebih buruk dari anak remaja yang sedang kasmaran. Seolah ada sakelar yang dijentikkan dan membuat otaknya memikirkan keinginan bercinta selama 24/7. Ia menjadi budak dari gairahnya sendiri, padahal ia bukanlah pria kesepian. Ini memalukan.
Namun lebih buruk lagi, ini bukan hanya tentang se*s. Ini tentang semuanya. Cara Ayunda berbicara, tertawa, bercerita tentang galeri dan perjuangan yang telah Ayunda lakukan untuk mencapai semua ini. Samudra tidak pernah merasa cukup dengan Ayunda.
Kombinasi memabukkan antara diri Ayunda yang dulu dan diri Ayunda yang sekarang sangat membiusnya membuatnya ketagihan.
Dan Samudra tidak ingin begitu.
Itu berarti ia tidak boleh menyerah pada dorongan di pembuluh darahnya. Ia harus kembali sadar dan mengingat kalau, betapa pun nikmatnya, ini tidak berlangsung selamanya.
Rahang Samudra terkatup dan patahan pensil hampir menancap di telapak tangannya. Ia berdiri, lalu melempar pensil itu ke tempat sampah tanpa melihat.
“Properti di Pondok Indah?” ulang Ayunda, ujung jemarinya bergerak malas di dekat cekungan di bawah lehernya. “Mungkin kau… ya… lupa atau bagaimana.”
Dan sekarang Ayunda mengoloknya. “Terima kasih. Tapi, aku tidak lupa.”
__ADS_1
Pengendalian diri, itulah kuncinya. Secara fisik itu adalah hal sulit yang akan Samudra lakukan sekarang. Samudra membolak-balik berkas di tumpukan paling atas, mengangkat bahu, dan mengembuskan napas dengan kencang. “Properti di pondok indah.”
Terdengar suara pensil diketukkan ke atas meja dengan tempo cepat, menarik perhatian Samudra kembali kepada Ayunda, yang menguncinya dengan tatapan serupa. “Sudah sadar? Bisakah kau mencoba untuk fokus?” ucap Ayunda sambil tersenyum lebar. Senyuman yang membuat Samudra ingin tahu seberapa dalam ia bisa melum*tnya.
Kemudian Samudra mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan siku bertumpu di atas meja. “Jadi kau ingin bermain, ya?”
Ayunda mengangkat alis, tantangan berkilat di matanya. Samudra tersenyum, menatap tepat ke arah Ayunda, beberapa dektik kemudian ia membopong tubuh Ayunda masuk ke kamarnya.
.
Satu minggu kemudian, Samudra melangkah keluar balkon kamarnya, dan menyodorkan ponselnya “Coba kau lihat berita terbaru ini.”
Ayunda berdiri dari tempat duduknya di sofa panjang, lalu mendekat, dan terkekeh saat membaca berita itu. “Dari mana kau mendapatkan berita ini?”
“Situs berita gila."
Samudra mengaduk-aduk isi tas untuk mencari keripik kentang favoritnya dan memperhatikan dengan cermat saat Ayunda mengusap ponselnya untuk membaca artikel itu, senyuman di wajah Ayunda semakin lebar setelah beberapa saat.
Akhirnya Ayunda menggeleng dan kembali menyerahkan ponsel itu, lalu tersenyum. “Lucu. Jadi begitu caramu meyakinkan semua orang kalau kau begitu sibuk sepanjang waktu? Melihat aplikasi lucu ini terus-menerus dengan berita-beritanya yang aneh.”
Samudra memasukkan keripik ke mulutnya, mengunyah sembari berbicara, "Soal pekerjaan itu semuanya bohong, di sini aku hanya bermain bersamamu."
"Lebih tepatnya kau menggangguku.”
“Kau tidak perlu merasa begitu senang!” ucap Ayunda sambil mencari-cari sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dan mengambil benda pertama yang ditemukannya di dalam tasnya. “Aku hanyalah selingan sementara.”
Samudra bersandar di kursi sembari mengamati Ayunda dari seberang meja dengan senyuman lembut di bibirnya.
Inilah saat-saat yang berbahaya, ketika mereka merasa nyaman dengan hembusan angin kencang yang memenuhi udara saat percakapan mengalir lancar seolah-olah tidak ingin berhenti. Ketika mereka terasa begitu tenang, tanpa mereka sadari. Menyelinap diam-diam ke dalam diri Ayunda, diteruskan dengan sentuhan fisik.
Alunan tenang sebuah lagu cinta yang murung menyadarkan pikirannya, yang terdengar dari ponsel di pangkuannya.
Alis Samudra turun, sikapnya yang bermalas-malasan berubah menjadi siaga. “Sini, berikan kepadaku.”
Ayunda akan menyerahkan ponsel itu dari seberang meja, tapi kemudian melihat foto kontak yang menampilkan wajah si penelepon, dan jemarinya pun berhenti. Ia mengenal mata lembut berwarna kelabu itu dan senyum yang hampir terlalu lebar, seperti ingin menelan seluruh negara dan mungkin juga dunia. Angelia Barinda Gabriella.
Mantan kekasih Samudra. Aktris yang selalu putus-nyambung dengan Samudra selama dua tahun terakhir ini. Dan Samudra sudah bersumpah bahwa hubungan mereka telah berakhir. Bukan hanya putus-nyambung. Namun kini Angelia menelepon dan tiba-tiba jantung Ayunda serasa berada di tenggorokan, perutnya melilit dengan cemas.
Tapi, ia berhak untuk itu.
Sembari berusaha terlihat santai, Ayunda mengulurkan perangkat kecil itu. “Ini untukmu,” ucapnya dengan bodoh.
Untuk siapa lagi? Itu ponsel Samudra. Dan wanita yang mengubunginya adalah mantan kekasih Samudra.
Samudra mengambil ponselnya tanpa berkata-kata, lalu mengalihkan panggilan itu langsung ke pesan suara.
“Kau tidak menjawabnya?” ucap Ayunda dengan lirih dan kata-katanya yang bergetar.
__ADS_1
“Tidak."ucap Samudra, sembari menatap Ayunda sebentar. “Aku akan menelepon balik nanti.”
Kapan tepatnya nanti? Apakah Samudra akan menunggu sampai Ayunda di kamar mandi? Atau nanti pada saat makan malam, diam-diam Samudra keluar dan Ayunda hanya akan menatap daun pintu setelah suaminya keluar untuk menelepon kekasihnya?
Rasa panas membakar pipinya, dan ia hampir tersedak saat pikiran itu melintas.
Samudra bukan lagi suaminya.
Tatapan Samudra membatu. “Hubunganku dengan Angelia sudah berakhir. Aku sudah mengatakannya kepadamu. Jadi apa pun yang sedang kau pikirkan, hentikanlah!”
Ayunda tidak tahu apa yang sedang dirinya pikirkan, seolah arah angin telah berubah, membawa pergi rasa nyaman bersama embusannya, dan meniup ketidakpastian yang tidak ingin Ayunda rasakan.
Ayunda sudah mengetahui semua cerita tentang para wanita lain yang dekat dengan suaminya, baik yang nyata maupun yang settingan. Sejak bertahun-tahun lalu, gosip itu sama sekali tidak mengganggunya. Namun sekarang Ayunda menatap wajah Samudra, bahu kokoh dan lengan kuat Samudra. Ayunda juga mengamati jemari panjang Samudra, kulitnya yang cerah, dan bulu hitam di tangannya. Ia membayangkan tangan itu meluncur di pinggul telanj*ngnya setelah mereka bercinta.
Ia mulai kembali menatap Samudra dan berpikir, “Pria itu milikku!!”
Samudra pernah menjadi miliknya, dulu. Namun sekarang tidak lagi. Selama bertahun-tahun mereka telah berpisah, Samudra menjadi milik para wanita lain.
Dan Ayunda cemburu.
Mereka mendapatkan tubuh Samudra, hati Samudra dan kasih sayang Samudra.
“Ayunda?”
Ayunda menatap Samudra, agak tertegun karena isi pikirannya. “Kau tahu, mungkin ini terdengar gila, kurasa sebagian diriku merasa nyaman dengan memercayai semua tulisan tabloid itu tentang dirimu dan para wanitamu.”
Kening Samudra berkerut dan ia mencondongkan tubuhnya di depan kursi. “Kenapa begitu?”
“Jika kau menjadi pria brengsek yang senang main perempuan dan tidak bisa menjaga ritsleting celanamu tetap terpasang, akan lebih mudah bagiku untuk meyakinkan diri bahwa kamu sudah bukan milikku lagi."
Ayunda tidak boleh mengekang Samudra seolah pria itu miliknya, ia menyadari jika kebersamaan ini hanyalah sesaat sampai hakin mengetuk palu perceraian mereka.
Samudra menatap mata coklat Ayunda. “Aku tidak akan pernah menikahi satu pun dari mereka.”
Ayunda sudah kembali ke Jogja dan Samudra kembali ke kantornya untuk bekerja, ia lembur untuk mengganti waktu yang telah ia habiskan pada saat Ayunda datang ke Jakarta. Sudah pukul sembilan lewat, tapi Samudra masih menambahkan waktu beberapa jam lagi untuk bekerja sebelum ia pergi tidur.
Disela-sela kesibukannya Samudra, beristirahat sebentar dengan menghabiskan roti gandum sambil mencoba menghubungi Angelia.
Angelia tidak menjawab, sebenarnya itu tidak mengherankan. Wanita itu memang sulit dihubungi, bahkan ketika mereka masih berpacaran. Dan biasanya Samudra tidak merasa terganggu akan hal itu, tapi hal itu sekarang mengusiknya.
Karena tidak biasanya Angelia menelepon dirinya.
Ini tidak masuk akal.
Manajer Angelia-lah yang biasanya selalu menghubungi Samudra ketika ada berita di media yang harus ditangani. Jadi kenapa, saat sudah tidak berhubungan lagi selama berbulan-bulan dan mereka berdua relatif aman dari liputan pemberitaan, wanita itu malah menghubunginya sekarang?
'Apakah Angelia akan meminta untuk balikan?' batin Samudra.
__ADS_1