Seberkas Cahaya Sang Sajadah

Seberkas Cahaya Sang Sajadah
Eps. 10


__ADS_3

Di kontrakan, saja melihat Karina pulang larut malam. Namun ia tidak tahu apa yang dilakukannya di luar sana, ia tidak ingin campur urusan orang lain tapi dia sahabat nya tidak bisa ia tidak menegurnya. Dan mereka juga tinggal bersama sudah seharusnya ia harus menasehatinya untuk tidak pergi larut malam, jika bukan urusan kuliah.


"Aku lihat beberapa bulan ini kamu selalu pulang malam! Apa yang kamu lakukan di luaran sana" tatapnya penuh selidik, sembari melanjutkan mengerjakan penelitian nya di tempat tidur.


"Saja!" Karin duduk di sampingnya setelah menyimpan tasnya dan menarik selimut sambil melihat nya. "Kamu kan tahu aku gak suka kesepian jadi itulah aku cari angin'.ucapnya dengan memelas.


"Serius cari angin'!" Sahut nya tak percaya, mana ada cari angin' sampai selarut ini. sahabatnya ini ngomong nya gak jelas.


"Karin gue kan selalu peringatan sama kamu,. Jangan aneh-aneh deh, loh boleh aja ke luar tapi hindari yang namanya laki-laki. apa loh gak tahu sekarang ada banyak kasus pelecehan. Hati-hati!"ujar saja memperingati, ia tak ingin sampai sesuatu hal terjadi pada sahabatnya. Ia seringkali mendengar bahkan melihat di sosial media beberapa wanita sedang sekarat dan trauma akibat pelecahan. justru itu ia tak hal seperti itu terjadi pada Karina. Ia juga pernah sekali tak sengaja melihat Karina jalan sama pria, saat di mana dia dan teman kuliah nya bernama Sinta di cafe mengerjakan tugasnya. Waktu itu terbilang 1 tahun lalu saat mereka belum kenal jauh.


"Tenang aja lah! Aku bisa jaga diri kok. Lagian siapa sih siapa sih ingin macam-macam , selain kepincut minta nikah denganku," Karina jahil dan malah tertawa.


"Kam! Belum selesai berbicara Karin sudah memotong nya.


"Ah sudahlah gue ngantuk." Saja mengelus dadanya. Karin memang sedikit keras kepala. Daripada memikirkan itu lebih baik ia juga tidur besok ia harus segera menyelesaikan skripsinya untuk segera maju ujian meja.


Seorang pria di sebuah kamar yang cukup besar sedang memainkan hp nya, sedari tadi pria itu tersenyum memandangi layar hp nya yang menyala, ia melihat seorang wanita cantik tersenyum. itu adalah foto milik Karin dan saja, tadi sempat ia memotret mereka saat berada di kantin kampus. ia mengedit lalu memotong foto Karin dan menghapus tinggallah foto saja seorang.


Karina adalah seorang mahasiswa yang sama seperti nya, hanya saja Karina anak yatim-piatu ayahnya telah meninggal saat ia masuk semester 3 , ibunya juga telah tiada, sejak kecil ia tak merasakan kasih sayang orang tua itulah yang membuatnya sedikit keras kepala. Sebenarnya ia wanita baik-baik tapi setelah ayahnya tiada ia akhir-akhir ini sering kali keluar malam, tapi sebenarnya ia sedang mengambil kerjaan paruh waktu untuk biaya kuliahnya, ia hanya tak ingin saja mengetahui nya takut merepotkan sebab saja sudah sering kali membantunya, ia ingin berusaha sendiri tanpa bantuan siapapun.


......................


Dara berjalan ke arah ruangan dengan membawa sebuah nampan berisi minuman dan makanan.

__ADS_1


Tok tok "permisi!"Dara melihat celah jika pak Adnan super tampan sedang sibuk dengan berkasnya. Memang yah selain tampan bosnya juga pekerja keras itulah yang membuatnya semakin tertarik dengannya.


"Ada apa yah,"ujarnya saat wanita itu sudah di depannya, masuk tanpa dipersilahkan.


"Ini mas eh maksud saya pak. Saya membawakan bapak makanan."ujarnya meletakkan makanan itu di meja dengan tersenyum, matanya selalu fokus dengan wajah pria itu.


"Saya kan tidak pesan,!" pak Adnan masih saja sibuk tanpa meliriknya sedikitpun, tapi dari suaranya ia tahu siapa itu.


Mmmm....... tersenyum, "saya tahu tapi saya kasihan, bapak belum makan, ini sudah jam makan!" ia berharap bos-nya terharu padanya apa pada perlakuan dan perhatiannya, mana ada sosok pegawai sebaik dirinya.


"Ya! sudah kamu boleh pergi,"datar pria itu.


"Ada lagi?"tanya bos nya, sebab melihat dara tak ada tanda-tanda untuk ke luar.


"Mm...Pak apa bapak tidak lelah bekerja seharian," dara berusaha mengulur waktu untuk bisa membuat rencana dekat dengan pria ini, dara tersenyum sumringah.


"Mm, saya siap jadi tukang pijat bapak, saya bisa dan jago, bapak mau coba, saya akan melakukannya sekarang,"dara bergegas ke belakang pria itu untuk memulai melakukanya.


"Tidak perlu," tolak Adnan.


"Bapak jangan malu-malu!, saya kan pelayan bapak, bapak bisa meminta apapun dari saya!" ujar dara tidak mau mengalah, pikirannya kali ini, umpan tidak boleh lepas. Dan ya tangannya sudah menyentuh pundak itu, ia pun sudah memijatnya perlahan. Diam-diam dara tersenyum senang.


"Dara! Apa kamu tuli!"ucap pria itu meninggikan suaranya, pelayan nya yang ini tidak bisa diajak kompromi. Seketika pria itu menghentikan kegiatannya, mood nya jadi tidak baik dan ia pergi meninggalkan pelayan kurang ajar itu.

__ADS_1


"Ingat dara, sekali lagi kamu berulah seperti ini, saya akan memecat mu!" ujar Adnan sebelum keluar ia marah, ia tak suka di sentuh seperti itu.


"Maaf pak!" ia tak sengaja menyentuh dadanya tapi tetap tersenyum meski dibentak barusan. Dara hanya terlihat cuek saja. Pria seperti ini tidak mudah di dekati semakin tertantang ia mendapatkan nya.


Waktu istirahat tiba, biasanya para mahasiswa berkumpul di kantin, dan juga ada yang lebih memilih di perpus. Sedang saja lebih memilih di perpus , ia sedang duduk tenang membaca sebuah buku besar, sedikit demi sedikit ia buka, buku tak lupa pula sebuah laptop di depannya, ia sedang mencari referensi untuk skripsinya.


"Maaf boleh saya duduk di sini!" ujar seorang pria tiba-tiba saja sudah di samping dan menunjuk di meja sebelah nya. Saja ingin menolak hanya saja ia tak punya hak sebab tempat itu bukan miliknya, tak ingin membuat pria itu menunggu lama akhirnya ia setuju dengan mengangguk.


"Terimahkasi banyak!" Sahut nya dengan tersenyum, saat pria itu duduk saja sedikit menggeser kursinya, ia tak ada niat hanya saja itu tidak baik.


"Ooh, yah kenalkan nama aku rehan!" pria itu tampak memajukan tangannya meminta berjabat sebagai perkenalan namun saja hanya sibuk pada bukunya. Ia sebelumnya sudah memperkenalkan nama nya, namun ia tidak tahu siapa nama wanita ini, makanya ia kembali memperkenalkan namanya berharap bisa tahu nama wanita di sampingnya dan mereka bisa saling kenal dan kalau perlu berteman, kalau pun bisa ia ingin kenal lebih dekat.


"Saja!" teriak seseorang berlari ke arahnya dan ia melihatnya Karina berlari kecil ke arahnya dengan buru-buru, saja baru menyadari pria itu, pria yang kemarin tak sengaja bertemu dengan nya. Pantas saja suara yang tak asing. Tapi kenapa pria ini di sini!


Saat sampai Karina menoleh pada pria itu, ntah kenapa jantung nya berdetak kencang, ia terpesona padanya, bukankah pria ini, adalah senior di kampus ini, dia adalah seorang ketua organisasi, tapi sekarang sudah selesai. Karina!" ujar Karina mengambil tangan pria itu dengan tersenyum, dia saja sahabat ku," ucapnya lagi melihat saja.


sekarang mereka duduk bertiga, karena Karina datang, saja menggeser tubuhnya dan Karin yang duduk di samping pria itu.


"Mm, maaf kamu kan sudah tidak kuliah di sini!" ujar Karina basa-basi sambil melihat setiap inci wajah pria di depannya, ini adalah pria impiannya selama ini, tampan sekali menurut nya. 11 12 lah para aktor.


"Aku masih menjabat ketua organisasi di sini, dan aku sedang menjabat sebagai asisten dosen," Karina mangut-mangut.


"Mas boleh tukaran no hp nya nggak!" cicit Karina penuh harap padanya, pria bernama rehan itu sebenarnya agak ragu, namun karena dia adalah sahabat dari wanita di sampingnya tidak ada salahnya ini bagus, kemungkinan ini cara supaya ia bisa dekat dengan wanita itu.

__ADS_1


"Boleh kan mas."Cicit Karina penuh harap.


"Ini!"Mereka akhirnya tukaran nomor. Saja tak melihat interaksi mereka sebab saja kembali mencari buku di rak perpus.


__ADS_2