Seberkas Cahaya Sang Sajadah

Seberkas Cahaya Sang Sajadah
Eps 22


__ADS_3

Tampak dua orang wanita berbeda usia satu wanita sedang duduk sibuk dengan kuku nya satunya lagi bersedekap dada menatap nya tajam. dia adalah sepupu dan bibi Karin.


"Dari mana kamu Karin?"tanya sang bibi tanpa menoleh ia sibuk dengan kuku-kukunya.


"Dari luar ketemu teman bi," balas Karin melihat bibinya sedang mewarnai kuku tangan dan kaki nya di sofa teras.


"Siapa orang tadi?" wanita muda itu ikut bergabung dan duduk di sofa sambil memainkan hp nya. Wanita itu bernama dara. Wanita yang sama yang bekerja di restoran pak Adnan.


"Teman aku!"ucapnya datar, Karin mendesah pasrah ia lelah dan ingin beristirahat.


"Hebat banget baru sehari aja tinggal di sini, sudah punya teman, kamu main pake apaan!"dara mengindahkan hp nya lalu menatap nya dengan penuh selidik, ia ingin tahu kenapa Karin dengan mudahnya mendapat teman baru apalagi orang kaya Sebab ia melihatnya diantar dengan menggunakan mobil.


"Apaan sih, kagak jelas,"kesal Karin tak suka dengan pertanyaan yang aneh. ingin rasanya ia menjahit mulut dara itu terlalu mengurusi urusannya, ia tahu jelas dara tak terlalu suka padanya, ia tak tahu apa masalah nya.


"Dia itu teman kuliah aku dulu." Ujar Karina acuh tak acuh, dan ingin segera masuk ke dalam.


"Oh! Tapi kelihatannya kaya yah so bermobil dia!"ujar dara lagi, ia benar-benar penasaran.


"Dia memang orang berada , tapi dia itu Wanita sederhana," ucapnya sudah sangat kesal, tak ingin lagi mengurusi pertanyaan dara yang membuat nya pertanyaan tak bermutu pikir nya.


"Cowok atau cewek?" lagi dan lagi dara penasaran dan mulai mengintrogasi nya terus-menerus, karena tak melihat siapa yang mengantar nya.


"Cewek lah!" Ucapnya merasa malas! ia tak suka jika harus diinterogasi seperti ini.


"sudahlah aku mau istirahat."ujar Karin sudah sangat malas meladeninya, benar-benar dara jika tak tahu sampai akarnya ia tak akan berhenti.


"Aish!!" Rani melihat kukunya berantakan gara-gara Karin tak sengaja menyenggol nya dengan tasnya. "Kamu gak punya mata yah!"bentak sang bibi membuat Karin kaget dan wanita itu tak lain dara diam-diam tersenyum menertawakan nya kesialan nya. "Syukurin!"gumamnya kecil tapi masih tetap di dengar olehnya.


"Karina! lain kali kamu harus belajar sopan santun! gak diajari kamu yah sama orang tua mu!"sahut bibi Rani melihat Karina berdiri yang membuat chat kakinya jadi kacau, wanita itu marah dengan mata yang melotot padanya

__ADS_1


"Maaf bi, aku gak sengaja," ujar Karin dengan berat hati sambil menunduk, Karin kesal itu juga karena dara yang terus menerus ingin tahu sehingga ia menjadi kesal dna berakhir seperti ini.


Di kamar Karin menangis, mengingat perkataan bibinya tadi, bagaimana mungkin bibinya berkata seperti itu, padahal ia tahu jika ia tak pernah tahu diajari oleh seorang ibu, bahkan selama hidupnya tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang seorang ibu, ia hanya punya seorang ayah yang sayang padanya, tapi kasih sayangnya juga luar biasa. Bukan ayahnya tak pernah memberi nya pengajaran, ayahnya selama ia habiskan hidupnya untuk mencari nafkah untuk biaya makan dan kuliah nya.


"Ayah!" kenapa ayah pergi! Karin tidak punya orang yang sayang sama Karin!" Karin meremas selimut yang menutupi tubuhnya,ia menangis dalam diam. mungkin bibinya gak sengaja melakukan itu tapi bagaimana pun ia punya harga diri dan punya perasaan.


...----------------...


Pagi hari yang menyingsing, satu keluarga di pagi hari sarapan dengan tenang, di dalam keluarga yang damai yang penuh kasih sayang untuk seorang anak perempuan satu-satunya. Di mana kalau bukan dalam keluarga sajadah Khumaira..


"Abi!'saja melihat mereka berdua setelah melihat semua telah menyelesaikan sarapan nya.


"Ada apa nak?"tanya sang Abi yang juga menatapnya.


"Umi dan Abi ada waktu sebentar gak?"saja berkata sambil menaikkan kedua alisnya, ia seperti ingin melakukan sesuatu.


"Emangnya kenapa nak?"ucap sang umi yang mulai penasaran dengan pertanyaan anaknya yang tiba-tiba saja.


"Kan bisa di rumah!"ucap sang umi, tak biasanya saja mau makan dan mengajak nya pergi.


"Tapi saja pengen deh, ajak kalian ke suatu tempat,.pokok nya umi Abi tenang aja pasti Abi dan umi suka, di sana juga tempat nya sejuk! pasti umi paling suka deh, lagian kan kita gak pernah jalan-jalan!"cemberut saja mengutarakan isi hatinya, ia! memang selama beberapa tahun tak pernah lagi jalan-jalan semenjak saja sudah melanjutkan pendidikan nya di ibu kota, dan menurutnya ini hari bagus kapang lagi ada kesempatan bersama untuk mereka.


"Baiklah kalau itu mau kamu!"sang Abi pada akhirnya menyetujui nya, ia tak ingin membuat anak semata wayangnya jadi cemberut, demi saja ia akan melakukan nya, memang selama ini mereka tak ada waktu bersama hanya selain di rumah.


"Siap! Abi memang terbaik deh! kalau begitu saja pamit ya!"ujar saja tersenyum cerah mendapatkan Jawaban yang diinginkan sejak tadi,. perlahan ia beranjak dan mengambil tangan mereka.


"Assalamualaikum,"saja pamit pergi.


"waalaikumussalam,"sahut mereka berdua.

__ADS_1


Di rumah lain di kota yang sama seorang wanita menarik sebuah tas berisi pakaian hendak pergi. Dia Karina membawa sebuah tas berisikan pakaian di tangannya, rencana ia akan menginap beberapa hari namun ia merasa tak enak, dan takut merepotkan bibinya dan lagian juga bibinya tidak begitu terbuka padanya. Ia sebenarnya datang ke sini ingin cuma ingin tahu dimana tempat tinggal saudara ayahnya, dan ia juga ingin mencari tahu tempat tinggal saja, karena sebelumnya saja mengatakan jika rumah berada di kota B, maka dari itulah Karina ke kota ini, tapi sudah bertemu saja kemarin, ia belum tahu sih di mana rumah saja tapi setidaknya tempat tinggal sudah ia kenali. Dengan berat hati ia meninggalkan rumah ini, tapi jika ia tinggal lagi beberapa hari sudah dipastikan ia tak akan sanggup.


"Mau ke mana kamu!"tanya wanita paruh baya itu melihat keponakannya ke luar membawa tasnya dan terlihat rapi. Wanita itu perlahan bangkit dari duduknya di kursi teras.


"Bi! hari ini Karin memutuskan untuk pulang, terimahkasi yah bi, sudah membuka rumah untuk aku!"ucap sopan Karin Melihat sang bibi mendekat, meski merasa kecewa dengan sikap bibinya kemarin tapi tetap saja ia berterimakasih.


"Yah! apa yang kamu katakan! kenapa terburu-buru! kamu marah sama bibi!"bibi itu Tampak tak senang melihat Karin ingin pergi.


"Maafkan bibi yah! pasti karena masalah kemarin bibi gak sengaja! kamu jangan pergi yah!"Karin dapat melihat bibinya berkata tulus dan menyesal, meski sebenarnya bibinya itu keras dan suka berkata tak memperhatikan keadaan tapi bibinya begitu sayang padanya, di dunia ini mana ada seorang bibi tak sayang dengan keponakannya sendiri. wanita itu terlihat pucat Pasih ia berbalik wajah tak melihatnya.


"Ia Bi! masalah itu Karin sudah maafkan kok! tapi aku harus tetap kembali, bibi kan tahu sekarang aku sudah bekerja, aku tidak mungkin tinggal lama di sini,"Karin menenangkan dirinya agar tak mengecewakanmu nya dengan perkataan yang akan membuatnya semakin sakit.


"hah! yah sudah kalau itu keputusan mu, kamu jaga diri baik-baik,"ujar sang bibi yang sekarang mulai tersenyum kecil. karin mengangguk mengerti.


"ini tempat yang kamu maksud!"lihat uminya ke arah sekeliling tempat itu, memang jika dilihat sangat indah dan sejuk,. karena saja memiliki tempat di mana bisa melihat pemandangan alam, di atas bukit yang indah. sebuah restoran yang cukup ramai pengunjung. Restoran yang baru beberapa bulan di bangun tapi sudah banyak peminatnya


"ia bagaimana bagus kan!"sahut saja tersenyum,. mereka telah duduk dan memilih kursi.


"iya bagus kan Abi!" umi saja merasa senang ia terlihat sangat mengagumi tempat ini. matanya sekeliling menatap pemandangan di samping mereka.


"Sebentar yah umi Abi!" perlahan ia bangkit dari tempat duduknya, ia melangkah beberapa meter dan menelfon seseorang.


"Assalamualaikum!"sapa nya, sesekali saja melihat mereka yang masih sibuk dan tersenyum terpukau dengan restoran itu. Mereka tampak sangat mengagumi nya.


"Waalaikumussalam!"Balas seseorang dari seberang sana.


"Mas, aku ada di cafe tempat baru kamu!'saja memberitahu Adnan perihal ia ada di mana, yah restoran itu milik Adnan, restoran yang ia baru bangun, jadi ia telah memiliki dua tempat makan yang berbeda lokasi.


"Serius!"ujar pria itu senang, ia sedang berada di rumah nya, baru hendak berangkat.

__ADS_1


"Ia mas,"balas nya.


"Yah udah aku ke sana yah,"kata pria itu hendak ke restoran itu untuk menemuinya, ia segera menuju motor nya yang terparkir di depan rumahnya. Saja kaget melotot mendengar pria itu akan ke sana.


__ADS_2