Seberkas Cahaya Sang Sajadah

Seberkas Cahaya Sang Sajadah
Eps 20


__ADS_3

"Dia!" pria itu menghentikan motornya saat melihat sebuah mobil melaju di depannya, mobil yang baru saja ke rumah pak Rahman. mobil yang sangat ia kenali, mobil yang tempo hari lalu mengantar saja dan keluarga nya dari ibu kota besar, hatinya nya bertanya-tanya ntah apa yang sedang dilakukan pria itu di rumah saja,


Pria itu! Adnan pergi dengan perasaan gelisah campur aduk! pria muda itu ada apa mengunjungi rumah kekasihnya. Adnan tidak bisa tidak tenang. "Apa hubungan mereka!" gumamnya resah, hati siapa yang tak resah melihat seseorang yang mengunjungi rumah sang kekasih jika tak ada maksud, jikapun itu keluarga mereka kenapa baru sekarang pria itu muncul, itu membuat Adnan menjadi dilema dan bingung.


"Apa kabar Karin! ntah Kenapa rasanya saja lagi-lagi rindu dengan sahabat nya, ia mengirim sebuah pesan singkat padanya.


Ting! sebuah pesan masuk, Karin menghentikan pekerjaannya saat duduk di kursi ruangan nya ia hendak menulis, melihat nama siapa yang tertera itu segera ia membalasnya.


"Alhamdulillah, baik!"pesan singkat Karin.


"Kamu gak kangen apa sama aku!"rindu saja pada sahabatnya mereka tak lagi ada waktu bertemu, karena jarak mereka yang terbilang jauh dan sama-sama sibuk.


"Kangen sih ia, tapi kan kita sekarang sama-sama sibuk! tapi akan aku usahakan nanti mengunjungi mu,"balasnya.


"Hem ia aku menunggumu, assalamualaikum!"dengan segera saja menyudahi nya.


"Waalaikumussalam."


Sedari tadi pria itu tak lain Adnan kai sedang melamun di meja kerjanya, ia sedang mengingat saja, ia khawatir. Bukan tanpa sebab beberapa hari yang lalu ia lihat sangat jelas jika Abi saja sangat antusias dengan pria itu, bahkan uminya juga sangat terbuka pada nya. Apa hubungan mereka! tak berpikir panjang Adnan mengambil hp nya dan mengirim sesuatu, "saja! mas ingin berbicara kita bertemu di tempat biasa!"Adnan mengirim pesan pada saja ia tidak bisa hanya tinggal diam ia harus mengetahuinya. Apalagi tadi pagi pria itu datang lagi. Bukan tidak kemungkinan mereka memiliki hubungan yang dekat.


Ting! baru saja ia menyimpan hpnya, mungkin Karin masih kangen. saja meraba tasnya saat sebuah notifikasi masuk. Saja membuka sebuah pesan WhatsApp dan itu dari mas Adnan. Segera ia membacanya lalu sesaat kemudian ia membalasnya


"Mas ingin membicarakan apa kalau untuk siang ini aku tidak bisa, kita bertemu sore hari saja!' balasnya kembali melangkahkan kakinya mencari taksi di pinggir jalan raya yang tak jauh dari tempat ia bekerja , ia ada urusan ingin mengunjungi pasien. Saja memiliki sebuah mobil hanya saja ia lebih suka seperti itu dan dia tidak bisa mengemudi dia belum belajar, nanti saja.


Saja telah pulang dari tempat kerjanya, ia masuk ke dalam rumahnya, ia tak melihat siapa pun di sana, memang seperti itulah biasanya rumah nya kosong karena kesibukannya masing-masing. Mata saja teralihkan pada sebuah paper bag di meja. Ia beralih duduk segera memeriksa nya.


"Kue! gumam saja melihat jika itu sebuah kue nastar.


"Wah!" saja tersenyum kue itu kue kesukaannya. Ingin sekali ia mencicipi nya baru saja ia akan membukanya namun ia ingat kembali takutnya kue ini bukan milik orang tuanya. Saja ingin bertanya pada bibi tapi bibi tak ada. Saja ke luar dan melihat pak Tejo yang sedang bersandar di bawah pohon sambil menikmati kopi dan ditemani cemilan.

__ADS_1


"Assalamualaikum pak Tejo,"saja mendekat dan duduk di sampingnya.


"eh non saja! ada apa non?"tanya pak Tejo tersenyum ramah.


"Pak Tejo tau gak kue nastar ini milik siapa!"tanya saja memperlihatkan kue yang ia bawa itu.


"Ooh itu non, tadi ada seseorang yang datang terus memberi umi saja! katanya sih oleh-oleh untuk kamu,"sahut pak Tejo ia tadi tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


"Tapi dari siapa! pak Tejo kenal orang itu!'saja bingung siapa yang menitipkan oleh-oleh pada mereka.


"Kalau masalah itu, saya gak tau non."ujar nya bingung karena emang ia gak kenal sama pria itu.


"Awas aja yah non, saya rasa pria itu..!"oak Tejo tak melanjutkan perkataannya ia hanya menatap saja yang juga menatapnya ingin mendengar apa yang ingin dikatakan pak Tejo.


"Kenapa diam pak?"saja bingung dibuatnya tiba-tiba saja bapak ini jadi diam.


"Anu non, coba pikir deh, bawa kue seperti itu pasti ada sesuatu, iya kan non!"pikir oak Tejo ia tak bisa menyembunyikan apa yang sedang ia pikirkan.


"Tapi non itu kan untuk non,"pak Tejo berusaha menolaknya.


"Gak apa pak, ini masih banyak," ujar saja tersenyum menunjukkan jika masih ada beberapa kotak plastik.


"Terimahkasi non,"ujar pak Tejo begitu merasa senang, memang non saja itu sangat baik menurut nya. Selain cantik, baik hati lagi pikir nya, tapi ia sudah menganggap saja sebagai anaknya dan menyayanginya.


"Sama-sama pak,"segera setelah mengatakan itu saja pergi dengan gembira.


"Tapi ini kan dari pemuda itu, bagaimana kalau ada sesuatu nya!"pikir pak Tejo, takut kalau makanan itu ada guna-guna nya, "tapi kalau tak di makan, bisa mubasir kan sayang,"gerutunya merasa disayang kan, "ya uda deh makan aja,"sahut oak tejo tanpa berkata segera membuka plastiknya dan menyantap nya senang.


"Assalamualaikum!"sahut umi nur baru pulang dan ia melihat anaknya sedang duduk di kursi teras sambil menikmati cemilan.

__ADS_1


"Waalaikumussalam!"ujar saja menyalami uminya.


"Umi!'panggil nya sebelum uminya masuk ke dalam.


"Kue ini dari mana? kata pak Tejo ini oleh-oleh untuk kita, ini darimana umi?"tanya saja melihat uminya, ia berdiri sambil menunjukkan nya ingin tahu.


"Dari calon besan!" ujar uminya begitu bahagia nya, memang ia sangat berharap mereka bisa menjadi besan.


"Besan?"bingung saja, sedang sang umi sudah masuk. Saja memikirkan apa maksud uminya, dengan segera ia menyusul sang umi.


"Umi apa maksud umi!"saja sudah berada di dalam kamar uminya.


"Hem! itu dari nak rehan, nak rehan baik kan, sudah umi mau istirahat jangan ganggu"ujar sang umi, bergegas masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan dirinya.


"Apa maksud perkataan umi yah!"bingungnya tak mengerti.


Beberapa saat saja tersadar saat sebuah deringan masuk. Ia memeriksa nya dan melihat jika itu dari klinik.


"Assalamualaikum,"sahut seseorang dari seberang sana.


"waalaikumussalam! ada apa suster sasa"ucapnya.


"Dok, maaf sebelumnya Dokter mila sore ini gak bisa datang ada urusan mendadak, katanya ia sudah menghubungi dokter saja, tapi gak diangkat, kebetulan ada pasien dok! bisa kan dok ke sini!"sahut suster itu, sebenarnya saja ingin istirahat tapi karena ini masalah tentang kemanusiaan dan berhubungan dengan pasien Nia sukarela tak ingin mengecewakan.


"Baiklah saya segera ke sana,"Ujar saja secepatnya, sebelum ke sana ia pamit dulu dan memeriksa hpnya yang menunjukkan ada panggilan masuk dari dokter Mila, tapi ia tak mendengar nya Sebab hpnya dalam mode senyap. Dan ia baru ingat jika ada janji dengan seseorang tapi untungnya masih jam 3.


"Umi saja ke klinik dulu,"teriak kecil saja.


"iya hati-hati!"balas sang umi dari dalam kamar mandinya.

__ADS_1


"Sus! saya pergi dulu, kalau ada apa-apa sama pasiennya tolong hubungi saya!"ujar saja setelah memeriksa pasien yang sudah tertidur lelap di atas pembaringan tak lupa pula sebuah selang infus di tangannya. "Satu lagi sus, kalau cairannya sudah habis diganti aja dengan yang biasa!"ujar saja melihat cairan yang berwarna merah itu tinggal setengah, ia meminta suster itu melakukan tindakan selanjutnya, karena ia tak bisa berlama-lama di sini, sebab ia juga ada urusan, lebih tepatnya ia ada janji dengan seseorang.


__ADS_2