
Sebentar saja pak!"Adnan dengan penuh permohonan agar sekiranya bapak-bapak tua mau diajak berbicara meski hanya sebentar.
"Baiklah katakan saja!" datar pak Tejo dengan pasrah. Mereka sekarang duduk di kursi bawah pohon
"Pak!"
"Panggil mas bukan pak, mengerti!"tegasnya tak suka, membuat Adnan ingin tertawa rasanya.
pria itu menggaruk, ada-ada saja bapak ini, pada akhirnya Adnan mendesah sebelum berkata, "Ia mas, saja ke mana yah gak ada kabar!" pria itu langsung ke intinya.
"Oh nonton saja, tadi dia pergi sama laki-laki!"
"Laki-laki?"bingungnya.
"iya,"mengangguk.
"Siapa yah pak, eh mas maksudnya!"pria itu berkata salah.
"Yah siapa lagi kalau bukan cinta nya, emang kamu gak ada cinta." katanya membuat wajah Adnan sudah tegang.
"Saja! jadi ini masalahnya."batin Adnan ia kecewa, mengira jika saja telah menduakan nya. apa pria waktu itu.
"Maksudnya itu cinta pertamanya!"ucap pak Tejo kemudian membuat Adnan menatapnya tajam, hampir saja ia salah sangka dengan wanita seperti saja, padahal saja tak mungkin menduakan nya, mereka kan pernah berjanji.
"Kenapa nggak bilang dari tadi sih pak!"kesal Adnan, ia kembali berkata pak! apa masalah nya
hah ha ha pria itu tertawa melihat ekspresi pria di samping nya yang berubah drastis setelah mengatakan hal lelucon tadi tapi apa yang salah jawabannya kan benar, dianya aja yang mudah di bodohi, seorang ayah adalah cinta pertama.
"Emang kamu Siapa nya saja yah!" tanya nya penasaran mulai serius.
"Bukan siapa-siapa nya mas, saya cuma teman nya, kok!"pria itu terpaksa berbohong, takutnya mulut bapak-bapak ini bocor.
"Teman atau demam! ngomong aja atuh jangan malu-malu sama saya itu rahasia aman."kekeh pak Tejo menggoda menaikkan alisnya.
"Oh ya mas, bisa minta tolong,"tatap Adnan penuh harap.
"Iya boleh-boleh aja," datar pak Tejo.
"Begini mas, tolong beritahu saja kalau temannya ini mau bertemu di tempat biasa, boleh kan mas!"mohon Adnan menatap penuh dirinya.
"Hem, Gimana yah, tapi kamu gak boleh macam-macam yah,!"ujar nya.
"Iya pak."
"Kalau begitu saya pamit mas, ! assalamualaikum," Pria itu segera pergi tak ingin berlama-lama pria ini terlalu cerewet dan ingin tahu.
"Waalaikumussalam!"
__ADS_1
"Kalau suka cepat atuh! jangan lama-lama nanti diambil orang. Pria itu geleng-geleng dengan sikap bapak tua itu, ia pergi begitu saja tanpa memperdulikan bapak tua itu.
"Dasar pemuda sekarang suka main rahasia-rahasia an, kalau mau membohongi aku mah , gak bisa atuh!"pak Tejo mangut-mangut membenarkan perkataan nya, ia bisa menebak kalau pria tadi ada hubungannya dengan non saja, mana mungkin datang hanya ingin tahu saja. pak Tejo kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Abi aku ke sana dulu yah!" mereka berdua sudah tiba saja menunjuk ke arah pak Tejo yang sedang tidur di atas kursi panjang di bawa pohon.
"Pak Tejo!"
"Pak Jono tidurnya nyenyak juga,"gumamnya saja .
Kebakaran! kebakaran! teriak saja pas di telinganya, sengaja untuk membangunkan pak Tejo.
"Kebakaran di mana!" teriak pak Jono gelagapan cepat terbangun membuat saja tertawa ringan.
"Mana non kebakaran nya?"tanyanya menatap meminta jawaban, yang ia tak ada kebakaran, apa hanya mimpi kah.
"Gak ada pak,"
"Non berbohong!"kesal pak Tejo padahal asyik-asyiknya ia tidur nyenyak, tapi eh malah di ganggu, padahal tadi ia bermimpi meminang bibi sanum dan cintanya di terima.
"Mauka engkau wahai menikah dengan pangeran ini!"sahut gembira pak Tejo berjongkok dengan menyodorkan sebuah bunga mawar putih pada bibi, sedang bibi malu-malu tapi ia mau mengambil bunga itu.
"Iya aku mau menikah dan hidup semati dengan mu pangeran!"balas bibi dengan wajah cerah membuat hati pak Tejo berbunga-bunga.
"Pak! pak Tejo ngapain!"ujarnya melihat pak Tejo main senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Ah!"kaget nya, "kamu sih non gangguin aja."ucapnya setelah sadar.
"Astaghfirullah bapak lupa,"sahut nya resah. Dengan menepuk kepalanya.
"Kan! begini nih! bagaimana bapak akan menemui jodoh dengan cepat."nasehat saja, sambil tersenyum kecil.
"Ini buat bapak!'saja menyodorkan sebuah bingkisan padanya.
"Tau aja kalau bapak lapar,"oak Tejo senang dapat makanan gratis dan pastinya enak. "Terimakasih non."
"Sama-sama pak," saja kembali tersenyum.
"non tadi ada orang mencari non."
"Siapa pak,"ia penasaran siapa orang yang telah mencarinya.
"Katanya sih teman, tapi bapak tidak yakin, pasti laki-laki itu ada maunya, soalnya pria itu mau ngajakin ketemu di tempat biasa gitu," ujar pak Tejo menggebu-gebu.
"Hus pak jangan diberi tahu Abi umi."pak Tejo memperingati nya, saja merasa jika itu pasti mas Adnan.
"Siap non!"ujar nya menaikkan tangannya seperti melakukan upacara, " kalau sama bapak ma aman, bapak pergi dulu, nanti jodoh nya terlambat." Pak Tejo pergi meninggalkan saja hanya geleng-geleng melihat kelalaian bapak itu.
__ADS_1
"Jangan lupa berdoa pak,"teriak kecil saja lagi-lagi ia tersenyum.
"Ok," bapak itu berlari segera mungkin dengan terburu-buru, takut waktunya habis.
...----------------...
"Mas!." saja menuju langkah ke arah samping pria itu yang tengah duduk di kursi depan danau.
"Saja!"Sahutnya setelah melihat saja di sampingnya.
"Saja kenapa kamu gak pernah lagi hubungi aku."tanya serius Adnan.
"Itu masalahnya mas! aku selalu menelfon, tapi mas nggak pernah di angkat,"ucap saja, ia juga malah bingung, sebenarnya apa yang terjadi pikir-pikir nya tanpa tahu dalam di balik itu semua karena ulah si Dara.
"Kamu serius,"tanya nya ikut bingung.
"Ia mas,"mengangguk
"Aneh! tapi aku gak pernah menerima panggilan deh,"lagi-lagi Adnan bingung.
"Coba mas liat hp nya,"sahut saja segera pria mengeluarkan hp nya dan memberikan nya pada saja.
"Kok nomor aku di blokir"kaget saja melihat nomornya telah berada di daftar hitam, ia melihat pria itu untuk meminta jawaban, padahal saja merasa tak pernah ada masalah hubungan mereka baik-baik aja, lalu apa ini.
"Aku tidak tahu saja, aku merasa tidak pernah melakukannya. Atau mungkin aku gak sengaja melakukannya."sahutnya merasa bingung.
"Mas hati-hati aja,"saja yakin ada seseorang yang sengaja melakukannya, bukan tak mungkin nomor nya di blokir begitu saja.
"Iya, tenang aja hati mas cuma buat kamu,"tawa kecil pria itu sempat-sempatnya menggoda saja.
"Mas aku serius,"ujarnya kesal ia malah serius tapi pria ini menggodanya.
Hah!! keduanya menghela nafasnya menikmati indahnya sore hari di depan danau.
...----------------...
"Saja!"panggil pria itu melirik saja sebentar sedang saja tatapan nya fokus ke depan, lagi-lagi ia mendesah, ia ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Mm iya mas kenapa!" sahutan saja menaikkan sedikit alisnya tanpa melihat ia hanya sibuk dengan urusan kakinya yang terasa keram
"Apa kita beritahu saja hubungan kita pada umi dan Abi kamu,"pria itu sudah tak bisa menyembunyikan hubungan mereka, harapan nya , Adnan ingin setelah hubungan mereka diketahui oleh orang tua saja, ia ingin melamarnya.
Saja menolehkan kepalanya " gimana yah bukan saja tidak mau, tapi kan tahu aja bagaimana umi aku, pasti dia tidak akan setuju dengan hubungan kita, mas kan sudah berjanji,"saja memperingati janjinya, sebenarnya saja mau tapi masalahnya hubungan mereka pasti tak akan. direstui secara saja tak dibiarkan pacar-pacaran, jika sampai pun hubungan mereka ketahuan sudah pasti mereka tak akan ada waktu untuk bertemu dan umi nya akan marah besar.
"Tapi kan kita sudah sama-sama dewasa dan kamu juga sudah selesai apa yang perlu ditakutkan! aku juga sudah mapan, insyaallah aku bisa membahagiakan mu"Tatap pria itu dengan penuh harap, ia tidak bisa lagi menyembunyikan hubungan nya, ia perlu pengakuan
"Mas tolong mas, Jangan dulu! saja ingin kerja dulu, setelah waktunya sudah tepat, saja sendiri yang akan memberitahu mereka."saja tersenyum meyakinkan nya, karena apa yang ia katakan memang benar, ia ingin bekerja terlebih dahulu sebelum menikah.
__ADS_1
"Baiklah! aku akan menunggu mu,"pria berusaha ikut tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya, mau bagaimana lagi ia tak bisa memaksakan wanita yang dicintainya, tapi sampai kapanpun ia menunggu waktu yang akan datang itu.
"iya mas," saja mengulum senyumnya, karena pria ini mau mengerti dirinya.