
Beberapa Minggu telah berlalu bahkan bulan telah terlewati, tidak terasa waktu terus berjalan, semester akhir telah memasuki, kini semua mahasiswa semester akhir pada sibuk dengan urusan skripsinya sibuk bolak-balik ke ruangan dosen pembimbingnya sekedar untuk Konsul, bahkan ada beberapa siswa yang tampak masam dan sedikit kesal, ia telah menunjukkan pada temannya jika banyak coretan di skripsi nya. Saja hanya mampu menghela nafasnya berat menjadi mahasiswi tidak kah mudah sangat susah apalagi jika harus dihadapkan dengan hal seperti ini, apalagi ini adalah penentuan hidupnya baginya, bahkan beberapa kasus di kampus lain ada beberapa siswa yang menyerah sebelum bertarung bahkan juga ada yang hampir depresi dengan perkara seperti ini, tapi baginya tidak akan ada hasil yang memuaskan tanpa berani dan kerja keras. Jika dilihat teman-temannya banyak coretan bukan berarti ia tidak, beberapa skripsinya pun ada beberapa coretan, terlihat jelas sekali di atas meja besar dan panjang di depannya. "Semangat!" gumam nya menyemangati diri sendiri, ia harus bekerja keras dan berjuang untuk mendapatkan hasil memuaskan. Tidak masalah jika tak mendapat nilai cumlaude nantinya yang jelas sudah lulus saja dengan baik itu sudah cukup.
Di sisi lain seorang pria tak lain rehan sedang menatap dalam saja yang sedang mengamati laptop dan laporan skripsi nya secara bergantian tak lupa sesekali mengetik.
"Karin biasanya wanita suka makan apa!" ia sedang mengirim sebuah pesan.
Karin yang berada di kantin menerima notifikasi pesan dan membuka. "Terserah makanan apa saja yang bisa di makan!" Karin dengan wajah cerah dan girang. Setelah membalas pesan dengan cepat ia menghabiskan makanannya.
Setelah mendapatkan balasan rehan keluar sebentar menuju Alfamidi, dan membeli beberapa cemilan dan juga minuman. Dan segera mungkin menuju kasir untuk membayar nya.
"Dek! bisa minta tolong!" Reyhan tiba di kampus besar itu lalu menyuruh salah satu mahasiswa untuk memberikan makanan pada saja yang sedang duduk di meja memantau komputer nya, ia menunjuk ke arah saja dan mahasiswa itu mengangguk dan menerima beberapa minuman dan cemilan kecil pengganjal perut.
"Permisi Kak ini ada titipan!" gadis muda itu menyodorkan pesanan pria tadi.
"Titipan!" bingung saja pasalnya ia tak memasang sesuatu.
"Tapi saya tak memesan apapun, mungkin orang itu salah kirim"ucapnya benar-benar bingung.
"Tidak kak ini dari seseorang,"ujarnya.
"Siapa?"tanyanya.
"Aku juga tidak tahu, permisi kak," setelah memberitahu gadis itu segera pergi.
__ADS_1
"Wah, ada banyak makanan tuh, milik siapa?" tanya Karin pada temannya, setelah tiba.
"Gak tau!" ujar wanita itu, ia memang, ia juga baru tiba. "Hem... baiklah!"tanpa aba-aba Karina memakannya tanpa tersisa tinggal satu cemilan terakhir di tangannya.
"Astaga! Karin!" saja tak percaya semua makanan nya telah dihabiskan oleh sahabatnya, ia berniat memakan nya tapi sebelum itu ia ke WC dulu, tau-tau saat kembali sudah tak ada.
"Kenapa!"ujar Karina dengan wajah tak bersalah, memang ia tidak tahu ada apa dengan saja
"Itu milik aku, kamu menghabiskan nya," cemberut saja.
"Mana aku tau, soalnya si itu sih, gak bilang-bilang kalau ini punya kamu!" Karina jadi kesal ia melirik Sisca wanita tadi.
"Kok gue sih! kamu tuh harusnya, main makan-makan saja, dasar aneh!" Sisca pergi malas dengan hal seperti ini, dia kan ga salah, Karina aja yang ceroboh.
"Gak usah, gak apa-apa kok, aku bawa bekal, ayo kita makan!"ujar saja mengeluarkan bekal dari dalam tasnya.
"Makan aja, aku sudah kenyang, aku takut jika lanjut makan, dipastikan aku buang besar sekarang!"Karina tertawa, membuat saja ikut tertawa.
Di sisi lain
"Bagaimana?"
"Sudah diterima Kak,"ucap wanita itu.
__ADS_1
"Terimakasih," sahut rehan.
"Sama-sama kak," wanita itu meninggalkan rehan yang tersenyum karena pemberiannya di terima dengan baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam panjang telah terlewati, Karina baru saja pulang dari luar saat ia masuk ke dalam kos nya menuju ke kamar ia tak menemukan siapa pun di sana, tidak ada saja.
ke mana dia!
apa yang dilakukannya!
ia bertanya tanya di dalam hatinya. ia berusaha menelpon saja namun beberapa saja tak mengangkat nya cukup lama akhirnya dari kejauhan ia melihat sebuah mobil berhenti di depannya, ia tahu betul siapa pemilik mobil itu. Dan turun lah pria itu. tampak tercetak wajah senyum di wajahnya detik berikutnya saat pria itu membuka pintu lain dan saja keluar terlihat sangat jelas wajahnya berubah datar dan masam. ada rasa kekecewaan. Tapi yang lebih mengkhawatirkan pria itu berusaha membantu saja berjalan, ada apa! Dari mana mereka .
Karina melihat saja diantar oleh pria itu, saja berjalan linglung dan tak seimbang dibantu oleh pria itu untuk berjalan menuju kontrakan nya.
tidak mungkin! bibir Karina bergetar hebat dengan wajah merah dan sendu, Tampak ia berkaca-kaca.
"Apa yang sudah loh lakukan pada saja!" Marah Karina tampak berapi-api, ia bergetar hebat ditambah lagi melihat saja mual dan muntah, ia tak lagi berkata baik pada pria itu, ia tak bisa menahan dirinya. Apa kamu sudah!" Karina sangat syok ia tak percaya dengan apa yang pria itu telah lakukan, ia telah kecewa. saja orang baik-baik tapi pria. oh tidak!
Karina menatap nyalang pria itu lalu menarik paksa tubuh saja. " Kamu jangan pernah lagi temui saja, aku tidak terima," bentaknya berlalu meninggalkan pria itu yang hanya termenung, ia baru saja akan mengatakan sesuatu namun pintu itu sudah ditutup kencang oleh Karina, dengan berat hati pria itu pergi dengan perasaan bingung dan juga bersalah. Meski ia tidak tahu apa kesalahannya.
Sebelumnya saja berada di kampus sampai tengah malam, ia harus lembur tidak boleh ketinggalan waktu, semua teman-temannya berada di kampus mengerjakan laporannya, hanya Karina yang tidak ada, ntah ke mana ia, saja sudah menghubungi nya berulang kali, namun tak diangkat, memang anak itu selalu keluyuran dan hilang. Karena itu ia memutuskan saja mengerjakan skripsinya tak perlu menunggu Karin, padahal Karin mengatakan ingin juga mengerjakan laporannya di sini.
__ADS_1
Sudah seharian ia mengerjakan laporannya hingga ia lupa untuk mengisi perutnya sampai-sampai berakhir seperti itu menjadi tubuh tidak stabil. Saat ke luar dari kampusnya, kebetulan pria itu melihat nya dan menawarkan tumpangan namun saja menolaknya alasan mereka bukan muhrim tapi karena rehan mengatakan ini sudah sangat larut takutnya yang tidak-tidak terjadi dan saja akhirnya menyetujui sebab ia juga merasa pusing, dan saat tiba ia malah mual dan berakhir muntah besar. Dan pada akhirnya Karin salah paham pada mereka