Seberkas Cahaya Sang Sajadah

Seberkas Cahaya Sang Sajadah
Eps 23


__ADS_3

"Yah udah aku ke sana yah,"kata pria itu hendak ke restoran itu untuk menemuinya, dengan segera menaiki motornya.


"Eh jangan mas,"kata saja dengan cepat, ia takut jika umi dan abinya tahu tentang pria itu.


"Kenapa emangnya!,"pria itu bingung saja tak ingin bertemu dengannya.


"Soal nya aku ke sini itu mengajak orang tuaku, maaf yah mas!"ujar saja merasa bersalah, harus nya ia tak perlu memberitahu nya, tapi sudah terlanjur.


"oh gak apa-apa aku cuma mau melihat'-lihat kebetulan aku mau ke sana, pantau kinerja karyawan!"ujarnya ia mengerti dengan situasi seperti itu, lagian ia memang mau melihat-lihat perkembangan restoran nya itu.


Setelah selesai saja kembali pada mereka,"dari mana aja?"tanya sang umi, sudah beberapa menit saja pergi tapi baru kembali.


"Terima telfon dari teman umi, Mbah!"panggil saja pada pelayan restoran, dan untungnya uminya tak lagi bertanya.


"Mbah, saya pesan,"saja melihat-lihat buku menu sebentar, "nasi goreng aja, minumnya jus alpukat, terus saya mau air mineralnya ada kan?"tanyanya setelah memberitahu apa yang ia inginkan.


"Ia ada Mbah, kalau begitu bapak dan ibu mau pesan apa!"ujar ramah dirinya.


"Saya mau, ah samain aja, tapi gak pake jus-jus, gak usah itu saya cuma mau air putih aja!'ujar sang Abi membuat wanita itu tersenyum begitu pun saja yang sudah tertawa renyah mendengar penuturan sang Abi, yang bisa melucu juga.


"Saya juga!"kata sang umi ingin sama mereka semua.


"Baik tunggu sebentar,"segera pelayan itu pergi.


"Makanannya juga enak,"ujar uminya setelah mencicipi nya. saja mengangguk kecil membenarkan. Beberapa saat acara makan mereka selesai, "Alhamdulillah,"Syukur Abi setelah memakan makanannya, ia telah selesai begitu pun mereka. Perlahan saja meminum jus milik nya.


"Tempat makan ini udah lama yah?"tanya sang umi penasaran.


"Baru kok umi, 3 bulan lalu, tapi sudah rame, karena tempatnya yang bagus dan juga strategis,"ujarnya.


...----------------...


"Terimakasih atas bantuannya pak rehan," pria itu tengah berada di sebuah kebun luas ia sedang memantau dan melihat kinerja dan perkembangan pertanian yang ada di desa itu, tempat yang tak jauh dari kota saja. Yang hanya mungkin membutuhkan 2 jam perjalanan, karena ia adalah adalah seorang anak pejabat dari kota besar dan seorang pebisnis. Di samping nya sudah ada beberapa pria tua dan juga ibu-ibu yang sedang memanen buah jeruk. Sambil berjalan-jalan rehan melihat-lihat mereka sesekali ia juga membantu memetik nya.


"Sama-sama pak!"ujar pria tua yang sedang di sampingnya dan membawa tempat untuk buah jeruk yang dipetik oleh rehan.


"Ia pak, terimahkasi sebesar-besarnya karena berkat nak rehan desa kami bisa mendapatkan bantuan pupuk yang cukup untuk tanaman kami!"pria lain berterimakasih dengan sangat bersyukur karena pria ini telah datang membantu nya.


"Iya pak, terimahkasi banyak,"ucap yang lainnya juga. Rehan tertawa kecil melihat bagaimana orang itu senang berterimakasih padanya, tiada henti.

__ADS_1


"Ia pak, tapi ini semua bukan karena saya, saya hanyalah perantara , saya mah gak ada apa-apanya!"pria itu mengulum senyum nya, ia sedikit malu di sanjung seperti itu padahal ia tak melakukan sesuatu yang besar.


"Masya Allah lah pemuda seperti bapak lah yang bisa menjadi panutan dan pemimpin, pak rehan sangat merendah diri,"ujar pria tua itu lagi dengan bangga, ia adalah bapak Arya, seorang kepala desa di tempat itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak! saya harus kembali ke kota sebelum petang!"ucap rehan bersiap untuk pulang, ia sudah beberapa hari berada di tempat itu, sudah waktunya ia ingin kembali.


"Tapi pak,.apa bapak tidak ingin tinggal beberapa hari lagi, supaya kami bisa membuat persiapan kepergian bapak,"ucap pak desa penuh harap, ia tak ingin pria ini pergi secepat itu.


"Ia betul pak!"sahut mereka semua meyakinkan.


Sebelum berkata pria itu mendesah," maaf sebelumnya, saya tak menolak saya ingin sekali bisa tinggal di tempat kalian beberapa hari lagi, tapi saya juga ada urusan, jadi saya tak bisa tinggal lebih lama!"kata Rehan, ia merasa bersalah tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena ia juga ada kepentingan di kotanya.


"Oh begitu! hati-hati pak."Ujar mereka pada akhirnya melepaskan.


"Permisi assalamualaikum!"pria itu segera berlalu.


"Waalaikumussalam!"sahut mereka semua tak rela, mereka melihat pria itu telah pergi dengan mobilnya meninggalkan desa mereka.


"Pak rehan memang baik, andai pak rehan menantu saya,"ujar salah satu wanita pekerja di tempat itu, mereka sejak tadi melihat-lihat pemuda itu.


"Jangan ngaco deh mana mau nak rehan, kita hanyalah orang desa!"sarkas wanita satu sedikit julid pada nya.


"Yah siapa tau lah, jodoh kan gak ada yang tahu, kalau jodoh tinggal tangkap atuh,"katanya lagi.


"lah ia, saya lupa!"karena perkataanya itu mereka semua tertawa, bisa-bisa nya wanita itu ingin menjadi kan nak rehan sebagai menantunya. Sampai lupa jika ia hanya memiliki anak laki-laki saja.


"Aku lapar yah," pria itu mendengar bunyi yang berasal dari perutnya, ia tak sengaja melihat sebuah resto di atas bukit sepertinya itu restoran baru, ia memarkirkan mobilnya dan naik sedikit tanjakan. Ia masuk dan melihat di dalam ruangan itu sudah penuh pelanggan, sekarang di mana ia akan duduk.


"Selamat Sore pak!"sahut seseorang mendekat ke arahnya. "silakan masuk pak!" sahut pelayan lagi dengan ramah.


"Meja nya lagi full yah?'tanya nya melihat tak ada tempat yang kosong.


"Oh bisa ke sebelah sana!'" tunjuk nya ke arah. samping di mana bisa melihat tumbuhan hijau.


"Mari saya antar,"pelayan wanita itu mengantar rehan.


"Terimakasih!"ujarnya


"Sama-sama! kalau begitu saya permisi,"ujar pelayan itu segera pergi setelah rehan mengangguk. Rehan melangkah mencari kursi kosong.

__ADS_1


Rehan!! gumam sang umi, mereka yang baru hendak makan menoleh dan melihat pria itu sedang berjalan ke arah tempat di mana mereka. Baru saja pria itu hendak duduk di tempat kosong tapi sudah lebih dulu seorang anak kecil berlari dan menduduki tempat satu-satunya yang tersisa itu, membuat rehan bingung, ia berbalik untuk pergi.


"Nak rehan!"sahut umi nur sudah di sampingnya sambil tersenyum, melihat itu umi dengan cepat ke arahnya.


"Umi! lagi ngapain di sini?"tanyanya melihat umi nur berada di tempat yang sama dengan nya.


"lagi makan sama keluarga, kamu gak ada tempat lagi kan, gabung sama kita-kita aja,"usul sang umi, ia sangat berharap rehan mau. Tanpa berkata umi sudah lebih dulu menariknya dan mendudukkan nya di samping saja yang penuh dengan perasaan resah dan was-was,.tapi ia tetap saja memakan makanannya tanpa menghiraukan sama sekali.


Sedang Adnan melajukan motornya dengan kecepatan sedang, di perjalanan ia seperti memikirkan sesuatu ntah apa itu tapi hatinya seperti tak tenang, "Ah!" seorang anak usia 8 tahun hampir saja ia tabrak untung nya ia segera merem dadakan, dan anak itu tak apa.


"Astaghfirullah Al adzim,"istighfar Adnan kaget segera mematikan motor nya dan menuju anak itu. "Dek kamu gak apa-apa,"Adnan menenangkan bocah itu dan mengelusnya, sedang bocah itu mengangguk," ia om gak apa-apa lain kali jangan melamun!"ujar bocah segera meninggalkan nya yang diam kebingungan. Adnan menggaruk asal, ia tadi melamun karena apa, ia tak sadar akan hal itu. Sebelum pergi ia mendesah terlebih dahulu untuk menenangkan jantung nya.


"Oh ya Abi dan umi naik apa ke sini?"tanya Rehan setelah menghabiskan makanannya begitu pun mereka bertiga.


"Mobil! tapi sopir nya anak umi, sekarang saja sudah bisa mengemudi,"ujar sang umi tersenyum lembut.


"Nak rehan, kamu suka nasi uduk ternyata yah!"ujar sang umi gembira melihat sisa bekas nasi uduk yang telah habis itu, jadi sebelumnya rehan memesan nasi uduk yang tertera pada buku menu, dan ia suka dengan tempat makan ini ternyata selain menyediakan makanan modern terdapat pula makan tradisional sehingga para tamu bebas memesan sesuai dengan kesukaannya.


"Ia umi, saya. memang menyukai nya!"rehan mengangguk tersenyum mengiyakan perkataan umi nur.


"Wah," umi terlihat sangat senang ntah apa yang dipikirkannya. "Coba saja kamu tinggal nya di rumah umi, pasti dibuatkan setiap hari!" terkekeh umi itu sedang Abi dan saja saling melirik-lirik, uminya suka bicara asal, membuat mereka mendesah pasrah.


"Umi ada-ada saja,"rehan lagi-lagi tersenyum merasa sedikit malu.


"Gak kok, umi ma serius,"memang umi itu terlihat serius dengan perkataannya, ia tak berbohong mengenai hal ini karena ia berharap sang anak berjodoh dengan pria di depannya itu.


Rehan menatap Abi. "jangan didengar istri Abi memang suka begitu."sahut sang Abi kemudian.


"Yah, siapa tahu kan jodoh, kan gak ada yang tahu!"sahut umi nur membuat perasaan saja tak enak, ia tak suka jika harus membahas tentang perjodohan yang tak berdasar atas sebuah cinta.


"Hah! Abi, Karena umi sudah selesai makan, Abi juga bagaimana kalau kita pulang lebih dulu aja,. soal nya umi ada kegiatan!"sahut sang umi beranjak. Umi itu melihat Rehan, Rehan yang dilihat melirik saja lalu melihat mereka berdua .


"Kalau tidak keberatan, saja pulang nya bareng saya aja umi Abi!"sahut pria itu mengerti akan maksud umi nur.


"Ya Allah makasih banyak yah Rehan, umi buru-buru soal nya umi ada pengajian,"kagum umi nur sangat bangga pada diri nya yang mengerti, baginya rehan memang pantas dan cocok jadi menantu nya.


Saja merasa gelisah tak enak kenapa uminya seperti sengaja ingin meninggalkannya berdua dengan pria ini, apa maksud uminya, membiarkan dia dengan pria yang bukan muhrim tapi melarang nya mempunyai kekasih, sebenarnya apa keinginan uminya.


"Kalau begitu aku juga mau kembali!"bangkit saja menarik tasnya dan memakainya.

__ADS_1


Tunggu!


Deg...saja menoleh ke bawah menatap tangan pria itu berani menyentuh tangannya.


__ADS_2