Seberkas Cahaya Sang Sajadah

Seberkas Cahaya Sang Sajadah
Eps 24


__ADS_3

"Kalau begitu aku juga mau kembali!"bangkit saja menarik tasnya dan memakainya.


Tunggu!


Deg...saja menoleh ke bawah menatap tangan pria itu berani menyentuh tangannya. Karena saking kagetnya saja secara kasar menarik tangannya.


"ma-maaf aku gak sengaja ujar nya beranjak menstabilkan perasaan nya.


"Saja aku kan sudah janji akan mengantar kamu pulang, ayo aku antar,"ujar pria itu, mengikuti langkah saja yang lebih dulu ke luar.


"Kayaknya gak perlu deh mas,.saja naik taksi saja, kita juga bukan muhrim, takutnya seseorang melihat kita dalam satu mobil bisa menjadi fitnah," tutur saja tak enak. Bukan ia wanita suci atau apa setidaknya ia berusaha menghindari hal tidak baik, ia juga tak ingin jika pria berharap lebih padanya secara uminya begitu sangat antusias dengan pria ini. Mereka tengah berada di luar, pria itu sudah di atas mobilnya dan baru saja membuka pintu mobil namun saja menolaknya dengan halus.


"Tapi saja mereka menitipkan kamu padaku,"rehan tidak mungkin membiarkan saja pulang sendiri, ia sudah berjanji pada orangtuanya, apa kata mereka nantinya.


"Ia saya tahu, tapi mereka itu orang yang mengerti, jangan khawatir umi dan Abi gak mungkin mempermasalahkan masalah ini,"saja dengan percaya akan perkataan nya, ia benar-benar tak bisa hanya pulang berdua dengan pria itu.


"Baiklah kalau begitu aku duluan,"Rehan hanya mampu mengulum senyumnya dengan wajah yang terpaksa bagaimana pun ia tak ada hak untuk memaksa saja agar pulang bersama nya. Saja mengangguk membuat pria itu segera masuk ked dalam mobilnya.


Rehan mendesah panjang pergi dengan rasa kecewa, ia sebenarnya ada rasa senang bisa jalan dengan saja, tapi mau bagaimana lagi saja menolak, tapi ia merasa saja selalu ingin menghindari nya, kenapa apa karena masih masalah di mana saat saja mengatakan jika pria itu suka sahabat nya tapi itu kan kesalahan, ia harus mengatakan lagi pada saja jika orang yang ia suka itu dirinya bukan Karin, tapi hari ini ia akan pulang lain kali saja tidak mungkin ia akan bertamu di sore hari yang sebentar lagi malam petang tiba.


Bugh! Pria itu kaget segera rem dadak mobilnya, ia seperti menabrak seseorang. Astaghfirullah Al-adzim! pria itu kaget ia merasa sedang menabrak sesuatu untuknya ia tidak berkendara dengan kencang. Rehan segera turun dan melihat seorang pria muda seperti nya.


ah! ringis seseorang terjatuh dengan luka di sikunya, ia melihat luka memar di siku tangannya.


"Mas! mas maaf aku tak sengaja!" Rehan terburu-buru membantu nya berdiri. "Mas gak apa-apa kan?"tanya rehan dengan wajah panik dan khawatir ia takut jika sampai terjadi sesuatu hal pada pria itu karena kecerobohannya yang tak memperhatikan jalan sebab saking sibuknya memikirkan hal tak penting seperti tadi.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok mas cuma luka sedikit!"ucap Adnan setelah berdiri.


"Tapi itu tangannya berdarah kita ke rumah sakit yah mas!"tunjuk rehan tidak bisa hanya tinggal diam, bagaimana pun ia harus tanggung jawab dari perbuatannya.


"Tidak perlu, saya bisa obati nanti, kelihatannya mas sedang terburu-buru,"kata Adnan tersenyum kecil ia tak mempermasalahkan hanya luka kecil seperti itu, ia bisa mengobati nya sendiri tak perlu merepotkan orang, lagian ia juga salah karena lupa menyalakan lampu arah.


"Baiklah kalau begitu mas saya permisi saya harus kembali ke kota besar.,"ujarnya merasa lega pria ini sangat baik menurut nya dan mengerti keadaan.


"Oh ya sudah silahkan mas," ujar Adnan mempersilahkan nya.


"Oh ia, ini motornya!"pria itu segera membantu memarkirkan motor Adnan.


"Ia terimahkasi!"Adnan mengangguk.


"Sekali lagi saya minta maaf, Assalamualaikum,"


"Sekarang bawa motor nya bagaimana caranya yah!" bingung nya. Ia tak bisa menggunakan satu tangannya, jika ia gerakkan itu hanya akan menimbulkan rasa perih, dan ia lebih memilih mencari tempat beristirahat di pinggir jalan.


Saja sedang berjalan ke arah luar di jalan raya kecil dan ia melihat seseorang yang berjalan sedikit pincang dan duduk di samping jalan.


"Astaghfirullah mas kai! melihat siapa orang itu dengan segera saja berlari ke arah sana dengan wajah panik, pasti terjadi sesuatu dengan nya, sangat jelas yang ia lihat.


"Assalamualaikum mas ! tangan kamu kenapa!"s?panik saja melihat luka memar itu.


"Gak sengaja di tabrak orang,"Adnan.

__ADS_1


"Siapa mas!"tanyanya segera duduk melihat luka di tangan pria itu tanpa sadar ia telah menyentuhnya, ia lupa karena saking khawatir nya.


"Aku tidak tahu dia pake masker jadi gak tahu siapa!"ucap Adnan.


"Sabar mas," saja mengeluarkan sebuah perban dan juga Betadine kecil untungnya ia selalu membawa ke mana-mana benda penting jadi saat ada butuh pertolongan ringan seperti ini dia bisa segera mengatasinya.


"Tunggu bentar!" saja pergi dengan berlari dan beberapa saat kembali membawa air mineral lalu menyiram luka pria itu, perlahan ia membersihkan sisa darah itu dengan kain kasa yang sudah ia olesi Betadine. Lagi-lagi saja menyentuh lengan pria itu, ia lupa akan ha itu, sedang pria itu diam-diam memandang wajah saja, wajah yang selalu membuat hatinya terasa teman dan damai, bahkan sangat ia rindukan setiap saat. Sungguh beruntung ia mendapatkan hati saja yang bagaikan malaikat di hatinya. Malaikat dunia maksudnya, ia tak ingin berlebihan.


Merasa wajahnya telah di intimidasi seseorang, perlahan mendongak kecil melihat wajah mereka terlihat dekat. Detak jantung ke duanya berpacu seakan dunia berhenti. Pria itu tak henti-henti nya menatap saja penuh kekaguman dan ia senyum-senyum akan hal itu.


"Ah,!teriak pria itu merasa perih di sikunya ternyata saja telah menekan nya akibat ia masih saja melamun dan tersenyum seperti orang gila.


"Jaga mata kamu,"sahut saja segera membalut luka itu dengan pelan tanpa merasa bersalah, ia kesal padanya, saja khawatir tapi pria itu hanya memasang tampang biasa.


"Untuk luka di kaki mas bisa obati sendiri,!"ujar saja melihat jika di pergelangan kaki pria itu juga terdapat luka, namun tidak terlalu parah.


"Terimakasih!"sahut Adnan tersenyum bangga.


"Sama-sama kalau begitu, aku pulang yah mas,!"ujarnya beranjak untuk pergi.


"Biar aku antar kamu pulang,"Adnan ikut beranjak berniat mengantar nya pulang.


"Gak usah, tukang ojek nya sudah ada tuh!"tunjuk nya ke arah pria berseragam gojek yang baru tiba, "lagian tangan mas kan sakit, bagaimana cara bonceng nya,"kata saja di selingi tawa dan pria itu ikut tersenyum.


Melihat saja sudah pergi, Adnan beralih duduk di kursi taman yang ada di tempat itu, lagi-lagi Adnan tersenyum mengingat kejadian barusan di mana saat saja mengobati nya dengan penuh kehangatan, dan lagi ia curi-curi pandang pada akhirnya mereka saling pandang. Hati Rehan tak bisa berdiam diri ia sangat bahagia hanya dengan hal kecil itu, bagaimana jika ia sudah menjadikan saja miliknya sudah pasti kebahagiaan nya berkali-kali lipat.

__ADS_1


"Ya Allah aku sangat bahagia bisa menjadi orang yang ada di hati nya, semoga engkau merestui hubungan kami, kelak kami adalah jodoh dunia akhirat! aamiin."


Adnan gembira dan penuh harap atas keinginannya akan terkabul kan ia berharap saja ada jodoh nya kelak bukan hanya di dunia ini tapi melainkan sampai akhirat.


__ADS_2