
"saja!"panggil seorang mahasiswa tak lain teman nya sendiri.
"Itu tangan kamu! memar!" tunjuknya pada arah jari saja. Saja melirik jika benar saja tangannya merah, dan berbintik. tiba-tiba saja merasa ia melupakan sesuatu tapi apa itu. " cincin ya cincin nya mana!" saja segera berlari ke arah tempat wudhu wanita tadi.
"Di mana yah" perasaan aku taruh di sini!" ia ingat-ingat jika tadi sebelum wudhu jari tangan terasa perih, dan ia melepaskan cincin nya itu, lalu ia meletakkan di tempat ini. Saja ingat betul ia bukanlah orang muda lupa. tapi di mana! saja terus mencari di lantai namun ia tak menemukan apapun.
"Bagaimana ini!" saja tidak tahu harus bagaimana lagi, ia sudah berusaha mencari namun tidak menemukan, apa yang harus ia katakan sama Karin, pasti sahabatnya kecewa karena itu adalah cincin persahabatan mereka.
"Karin! maafkan aku! aku sudah ceroboh! tidak seharusnya aku melepasnya!"saja merasa sangat sedih. dan bersalah ia harus minta maaf pada Karin, semoga saja Karin mau memaafkannya.
Malam hari saja tidak bisa tidur, ia gelisah sedari tadi ia berguling, di tambah lagi Karin belum kembali ia tidak bisa tenang jika belum mengatakan nya.
Hingga pukul 21.00 ia belum tidur juga.
Ceklak! saja terbangun dan keluar dari kamarnya saat mendengar suara pintu terbuka.
"Kamu kenapa!"Karina di tarik saja dan duduk di sofa.
"Karin!"saja memegangi tangan saja dan cemberut sedih.
"Kamu kenapa sih!" bingungnya, saja tak mengatakan apa-apa hanya menunduk.
"Maafkan aku! cincinnya hilang! aku benar-benar minta maaf."sedih saja.
"Bagaimana mungkin saja! itu kan pemberian aku! kamu mengecewakan aku!" Karin bangkit segera menuju ke kamar. Saja ikut masuk dan duduk di tepi ranjang. Melihat Karin melepaskan jaket dan tasnya, segera setelah itu ia berbaring di kasur dan membelakangi nya. Kasihan saja jadi terpuruk, jelas pastinya karina akan kecewa padanya.
"Karin maafkan aku benar-benar tidak sengaja menghilangkan cincin itu. seingat aku letakkan di tempat itu, tapi sudah tak ada!" bingung saja memang ia tadi melepaskan dan meletakkannya tapi seingat nya memang di tempat itu tapi sudah tak ada.
"Karin aku harus bagaimana! supaya kamu mau memaafkan aku!"karena Karin terus mendiami nya, saja berdiri dan hendak keluar namun segera ditarik olehnya.
__ADS_1
"kamu mau ke mana?"
"Aku mau mencari cincin itu,"
"ha ha ha!"Sesaat kemudian Karin tertawa ia tak bisa menahan untuk tidak tertawa melihat wajah sahabat nya.
"saja! saja sudah lah itu hanya cincin biasa, kamu pikir aku akan marah sama kamu, tidak mungkin lah kamu kan sahabat ku!"ucapnya tersenyum.
"Terus kenapa kamu mendiami aku," cemberutnya.
"yah aku sengaja! ingin mengerjai Kamu, seperti apa yang pernah kamu juga lakukan sama aku,"
"ehm Karin, kamu tahu bagaimana perasaan ku" saja ambruk ke dalam pelukannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sajadah cinta S. ked dengan IPK 3, 8 predikat cumlaude. Saat nama nya disebutkan lengkap dengan IPK yang ia dapatkan ia tak menyangka, saja sangat bahagia dengan berbinar tidak berharap mendapatkan IPK sebagus itu, tapi itulah kenyataannya.
Sajadah bangkit, ia merasa ragu tak percaya ia mendapatkan IPk cumlaude sungguh luar biasa! Berbalik ke arah abinya dan mendapatkan senyum berbinar-binar, sajadah segera berjalan maju dengan bangganya tidak sia-sia kerja kerasnya selama ini, tidak luput dari itu semua ada cinta dan doa dari kedua orang tuanya. Ia mendapat ucapan selamat dari direktur universitas dan juga beberapa dosen, sajadah duduk dengan gembira di meja sebelumnya, setelah namanya di sambut, semua mahasiswi dipanggil secara bergantian. wajah berseri-seri diantara mereka tercetak jelas dengan penuh kebahagiaan dan juga air mata yang membanjiri kelulusan nya, itu adalah bentuk apresiasi kesedihan nya, terharu akan perjuangan yang tak sia-sia.
Setelah penyelenggaraan kelulusan selesai, mereka dipersilahkan untuk menyatu dengan keluarga masing-masing. dengan bangganya sajadah bangkit dari duduknya dan segera berlari kecil ke arah orang tuanya! Orang tua kebanggaan nya, yang memberikan support dan kasih dalam setiap usahanya saat ini itu semua berkat kedua orang terkasih! Ia tersenyum di depan nya sembari menciumi dan memeluk keduanya! "Terimakasih Abi umi!" Lirihnya dibalas anggukan mereka, sang Abi membelai putrinya jelas' raut bangga yang sangat mendalam penuh rasa terharu.
"Akhirnya yah umi anak kita wisuda juga,"terharu oak Rahman melihat putrinya.
"Iya Abi, umi bangga deh, anak kita dapat nilai bagus. luar biasa 'sekali anak umi!" umi dan Abi itu tidak tahu bagaimana mengekspresikan kebahagiaan nya hari ini. putri yang dulu masih sangat kecil tidak terasa sudah dewasa dan mendapatkan toga di kepalanya. Ia juga sangat senang putri semata wayangnya menyelesaikan kuliahnya dengan sebaik mungkin, sangat bangga mereka menjadi orang tua dari saja.
Diantara kebahagiaan terharu mereka, diantara kebahagiaan yang besar, ada diantara mereka seorang peserta wisudawati yang masih diam di kursi tanpa bergerak sama sekali untuk mencari keluarganya, yang melihat mereka semua bahagia, dia Karina, air matanya ikut tumpah, ia sedih ia tak memiliki keluarga, ayah nya sudah tiada, ibu pun sejak lama pergi, bibinya saudara ayahnya,.ia tak tahu di mana mereka, jika ada kesempatan ia akan mencarinya. Karin terus saja menangis air mata jatuh di pipi nya. mungkin sebagian orang berkata jika ini adalah hari kebahagiaan yang tidak bisa ia lupakan seumur hidupnya, tapi bagi seorang Karina, ini adalah kesedihan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Ya dia tak memiliki keluarga, dia anak yatim piatu, pada akhirnya merayakan kelulusannya seorang diri, ia jadi terpojok dan sedih ia tak punya siapa-siapa semua teman-teman nya tampak jelas sekali lengkap dengan keluarga hatinya teriris sakit andaikata ayahnya masih hidup mungkin ia merasa sedikit lebih baik, ia sejak tadi diam dan memandang setiap orang di ruangan itu.
Karina bangkit dan berjalan ntah ke mana. Dada Karin terasa sesak tercabik-cabik, ia tidak tahan lagi, saja memilih keluar untuk menghindari kebahagiaan orang-orang. Karina lebih memilih masuk ke dalam kamar kecil untuk menumpahkan rasa sedih dan kemarahannya.
__ADS_1
Sejak kecil ia dibesarkan oleh ayahnya seorang diri, demi untuk dirinya tetap sekolah ayahnya bekerja paruh waktu , tak kenal siang maupun malam, semua itu untuk melihat anak satu-satunya sukses agar suatu saat nanti tidak menjadi orang susah seperti nya. jika ayahnya di sini bersama dengan nya, pasti Karina akan merasa sangat bahagia,.meski bukan dengan keluarga lengkap dan kaya selama itu ada ayahnya, tapi Tuhan telah mengambil dan memisahkannya, Karina tidak menyalahkan siapapun tapi ia belum bisa membuat ayahnya bangga.
"Ayah! sekarang Karin lulus pah, lulus dengan predikat terbaik pak!, ayah bangga kan sama Karin,. aku sayang ayah!" lirih Karin ia sedang bersandar di dinding.
"Karin!" panggil seseorang tak lain saja, ia mendekati Karin baru saja dari luar.
"Kamu di sini selamat yah!" Ujar saja memeluk nya, dengan membawa sebuah buket bunga disertai boneka beruang kecil.
"ini untuk mu,"saja memberinya sebuah hadiah kecil atas kelulusan nya.
"Terimakasih saja!"lirih Karin.
"Sama-sama."
Ayo kita berfoto bersama!" Karin mereka berfoto bersama. Karin terharu ternyata sahabatnya tidak melupakan nya, ia merasa jauh lebih baik sekarang, dan saja tidak tahu jika ia telah menangis.
"Nak rehan,"sahut Abi ia seperti mengenali orang itu dan saat berbalik memang ia tahu siapa pemuda itu. Pemuda yang sedang duduk di sebuah kursi.
"Kamu nak rehan kan!"ucap pak Rahman mendekati nya.
"Ia pak, bapak siapa yah," bingung rehan ia tidak tahu siapa pria itu dan kenapa bisa tahu namanya.
"perkenalkan nak saya pak Rahman sahabat lama ayah kamu pak Abraham kan!"
"Ia ayah saya pak Abraham, jadi bapak sahabat ayah maaf Abi saya sudah tak mengenal Abi!" sahut rehan tak percaya orang di depannya adalah sahabat lama sang ayah.
"Kalau sama umi, masih kenal gak!"sahut umi tersenyum.
"Masih umi,"rehan tersenyum dan menyalami sang umi menanyakan perihal siapa dirinya.
__ADS_1