
"Harusnya saya tak mengatakan hal tak wajar tadi! apa yang harus saya lakukan! saya sudah membuat ibu nur marah!"tampak bibi sendu dan kecewa sendiri memikirkan kejadian, tidak seharusnya ia mengatakan itu, tapi tidak tahu, mulutnya begitu saja berkata.
"Bi!" Saja melangkah mendekati bibi yang sibuk mencuci piring! Namun arah pandang sang bibi tidak teratur itu menunjukkan jika mungkin bibi masih memikirkan hal tadi.
"Bi! Panggil nya sekali lagi, memegang tangan nya dan menghentikan kegiatan bibi,
"Bi jangan pikirkan hal tadi yah! Umi seperti itu! Tidak bermaksud kok!"Saja berusaha memberikan pengertian agar bibi tidak merasa tak enak hati dengan kejadian barusan.
"Saja! Maafin bibi yah!tadi bibi mikir nggak-nggak". Kini giliran bibi yang berkata ia merasa benar-benar tak enak. dan sudah berderai air matanya tak sanggup.
"Ia Bi! bibi tidak salah sepenuh nya, saja tahu kok bibi nggak sengaja kan" saja tersenyum membelai punggung bibi.
"Tapi non! bibi sudah kelewatan pasti bu nur kecewa sama bibi"Lirih bibi.
"Tenang bi! Kan namanya juga bercanda! Jangan diambil hati omongan umi yah bi. bibi jangan nangis dong!" saja tak kuat jika harus melihat seperti ini ia jadi ikutan mewek.
"Ia non!" Meski bibi mengiyakan namun bisa dilihat jika ia masih merasa tak nyaman. Sampai-sampai ia malu dan enggan untuk menatap nya.
"Em sini" saja memeluk bibi! Baginya bibi itu adalah orang terbaik ke-tiga di rumah ini! Tanpa bibi saja mungkin tidak akan pernah bisa belajar memasak, dulu semasa kecil saat ia memasuki bangku Sd ia seringkali kali melihat bibi memasak dan ia juga ingin tahu cara memasak dan berkat bibi ia bisa memasak juga. Meski memasak itu mudah tapi kan juga butuh belajar. Dan bibi itu sudah sejak lama mengabdi di keluarga nya sudah sangat lama.
"Bi saja pengen makan nasi goreng, kan sudah lama tidak makan buatan bibi sudah rindu." Ucap saja bergelayut Manja. setelah melihat bibi sudah membaik. Dulu saat Omanya masih ada, saat itu ia masih belia, saja sering kali berkunjung ke sana, di sana lah bibi sebelumnya mengabdikan hidupnya membantu pekerjaan sehari-hari, namun saat Omanya telah tiada saja meminta abinya untuk membawa bibi ke rumah mereka .
"Tapi non, makan malamnya sudah siap!"perasaan bibi sekarang bisa dilihat sudah semakin membaik. Ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
"Beda lah bibi, malam ini nasi putih sentar nasi goreng!" celetuk saja, " Yah bibi!"saja tampak memelas, bergelayutan di lengan nya
"Thank you bibi sayang," saja jadi senang setelah bibi mengangguk penuh alhasil bi sanum jadi tersenyum dengan tingkah nya.
"Jangan lupa telur mata sapi Nya!"
"Siap tuan putri." Saja terkekeh bibi ikut menanggapi nya. Saja memang tidak pernah berubah sejak dulu selalu baik dan perhatian.
Waktu kecil dulu saja selalu ingin dibuatkan nasi goreng jika tidak saja pasti akan menangis. Dulu ia juga pernah tak suka dengan bibi sanum, tapi seiring berjalannya waktu mereka menjadi akrab.
"Dia siapa Oma!"tunjuk saja kecil yang saat itu diperkirakan menginjak 8 tahun lebih.
"Bibi!"ucap singkat Oma nya, sembari membaca sebuah buku di sofa, lengkap dengan kaca mata nya yang bertengger.
"Bibi siapa?"Saja cemberut melihatnya.
"Saya bekerja di sini non!" ujar bi sanum yang sedang menata makan siang Oma Widya sang pemilik rumah. Ia mendengarkan arah pembaca mereka terbilang suara saja kecil cukup keras dan melengking.
__ADS_1
Memutar bola matanya malas, "kenapa tinggal di rumah oma!" saja tampak sinis menjatuhkannya tubuh di samping Oma nya dengan bersedekap dada, terlihat sangat angkuh tapi sangat lucu. Diam-diam bibi tersenyum kecil.
"Sayang! cucu Oma, gak boleh seperti itu, bibi itu bekerja di sini makanya tinggal di rumah Oma! memasak mencuci membersihkan,. semua bibi yang mengerjakannya" Saja hanya menghela nafasnya, ia tak suka ada orang asing di rumah neneknya, tak suka nanti kasih sayang Omanya terbagi. Lagian juga kenapa perlu ada orang itu, dengan ada dirinya kan sudah cukup. Dia kan juga bisa melakukan itu, apa susah nya.
"Oma lapar," rengek nya! ia tak lagi mengurusi orang itu, takutnya Oma membela nya.
"Ya udah kita makan!' Oma menyimpan bukunya dan berjalan ke arah meja di ikuti saja kecil.
"Tunggu yah! bibi ambilkan makan nya!"
"Gak usah! saja punya tangan kok!" ujarnya sedikit keras dan membuat bibi menghentikan tangannya yang ingin mengambil nasi untuk saja.
"Itu buatan nya bibi enak loh!" seketika saja menghentikan sendok yang berisi nasi goreng yang hendak masuk ke mulutnya.
"Kenapa!" tanya Oma Widya yang sudah makan.
"Nggak jadi ah, makan nasi putih lebih enak!" saja kecil menyodorkan piring nya ke depan dan menggantinya dengan baru.
"Yakin!" selidik sang Oma menaikkan alisnya, ia berusaha menggoda cucu nya, yang sangat menggemaskan itu. benar-benar lucu, bibi saja diam-diam tersenyum.
Mengangguk! saja kecil yakin dengan keputusan nya, apa bagusnya nasi goreng itu, ia bisa makan nasi goreng yang lebih enak dari itu jika mau.
"Ya sudah Oma habiskan jangan menyesal yah,"tersenyum menatap bibi
"Dasar kucing nakal,!"ujarnya melihat cucu menarik piringnya setelah bibi berlalu, tentu saja ia merasa tadi menahan diri sebab malu.
"Mana Oma! kucing nakal itu!"tanya saja sudah makan dengan lahap, benar saja ia memang malu tapi sekarang sudah tak ada bibi itu.
"Sudah pergi!"
keesokan harinya saja kecil kembali lagi setelah pulang dari sekolah.
Bibi! teriak saja saat sudah berada di dapur. Bibi pura-pura tak mendengar saja kecil ia tahu betul apa yang diinginkan bocah 8 tahun ini, kemarin ia melihat' saja menyantap nasi goreng buatannya dengan lahap. Saja bingung apa ia harus mengatakannya, ia malu dan terlalu gengsi, bukannya ia telah menolak kemarin jika tidak mengatakan nya, ia tidak bisa lagi dong menikmati nasi goreng itu.
"Bi! kita baikan, aku orang baik, jadi aku memaafkan bibi dan kita jadi teman baik!"saja kecil jadi merasa lega dan tersenyum kecil setelah mengatakan nya. Bibi tak menghiraukan nya, ia masih tetap mengerjakan pekerjaannya mencuci piring kotor di wastafel. Setelah membersihkan piring bibi mengambil sapu dan dan menyapu lantai. Saja mengikuti setiap langkah bibi. Ia kesal sedari tadi di acuhkan, dia kan gadis baik menerima bibi jadi teman, tapi Kenapa bibi tidak berkata, itu berarti bini wanita jahat. ingin rasanya ia memaki wanita jahat ini, tapi ia jika ia lakukan, bibi semkin tak ingin berbicara padanya.
"Hem.....buatin saja nasi goreng dong! Sini biar aku aja yang menyapu nya, bibi kan capek!" saja berusaha mengambil sapu itu, dan melepaskan tanpa berkata apapun, ia masih ingin mencoba keikhlasan saja.
Saja kecil menyapu dengan semangat karena sebentar lagi ia akan makan nasi goreng lagi, ia benar-benar bahagia saat melihat bibi itu sudah membuatkan nya. Sebenarnya ia bisa memakan nasi goreng yang lebih enak dari ini, tapi rasanya ini sangat enak mungkin dibuat dengan kasih sayang. Saja berniat meminta resep nya setelah itu ia tak akan lagi merengek-rengek meminta! hem lihat saja nanti, dia akan di buang.
"Ah!'Saja berbalik dan melihat bibi meringis ia segera menaruh sapunya dan mendekati sang bibi.
__ADS_1
"Bi! tangan mu luka!" ujar saja khawatir segera berlari meninggalkan bibi yang sedang meniup tangannya yang melepuh karena terkena cipratan minyak panas. Saja kembali membawa kotak P3k lalu mengobati bibi dengan sangat antusias dan perihatin.
"Terimakasih non! non ternyata anak baik!" bibi sangat terharu dengan perlakuan non kecilnya.
"Sama-sama bi! ini karena saja, coba saja aku tak menyuruh bibi! pasti gak akan begini! maafin saja yah bi!". Saja sangat merasa bersalah ia jadi cemas karena itu salah nya.
"Iya non! bibi juga minta maaf!"bibi mengulum senyumnya dam melihat jika tangannya sudah diperban dengan baik.
"Kalau begitu Sekarang kita jadi teman kan!"ujar saja kecil sangat berbinar, dan bibi membalasnya dengan anggukan.
Sejak saat itu mereka terlihat akrab bahkan seringkali kali saja menginap namun karena hari liburnya telah habis saja tak ada kesempatan lagi dan dia mengambil inisiatif untuk pindah rumah.
"Dia bibiku!"hentak kecil saja di luar teras rumah, dipunggung nya sudah ada tas berisi pakaian, jika dilihat itu terasa berat dan penuh.
"Dia orang Oma , kamu tidak bisa sembarang mengambilnya!"dan Sekarang antara Oma dan cucu bertengkar memperebutkan bibi sanum.
"Huh!" saja marah ia melipat tangannya dan cemberut.
Saja gak boleh kayak gitu sama orang tua dosa tahu!" bibi sanum berusaha memperingati nya.
"Biarin bi! nanti dia akan masuk neraka, banyak ular di sana!"ujar Omanya menakut-nakuti nya dan ia tampak menggelikan agar tampak nyata di matanya.
"Maafin saja, aku gak mau masuk neraka!" ujar nya cemberut pasrah dan juga ingin menangis.
"Gini aja deh setiap pagi bibi anterin sarapan paginya, bagaimana ok!"
"Serius bi!"saja tersenyum riang memperlihatkan gigi kecilnya mendengar bibi, dan tak lagi menangis.
"Yah!"
"Hore! makasih bibi sayang!" saja melompat riang dan memeluk bibi dan juga Omanya" Makasih juga Oma!"
Bibi itu terlihat sangat menyayangi saja, tentu saja ia suka sekali anak kecil karena ia adalah seorang ibu tunggal ia memiliki dua orang anak Jika ada waktu luang ia sering kali pulang menjenguk anak dan keluarganya, saja juga sering ikut pada bibi jika waktu libur namun sejak saja sudah masuk remaja apalagi sudah kuliah ia tak lagi ada kesempatan tapi tetap saja ia tak pernah berubah dan selalu peduli pada bibi, begitu pun bi sanum.
*****
"lagi lamunin apa non?"
"Sana cepat makan,"ujar bibi bersiap melakukan persiapan membuat nasi goreng spesial milik nya.
"Eh! gak kok bi! ya udah saja ke depan yah!" saja segera pergi meninggalkan bibi.
__ADS_1
Mereka bertiga makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan! Memang di dalam keluarga mereka tidak dibiarkan Berbicara saat makan! Sebab abinya belajar agama dengan baik maka apa Yang ia ketahui juga diajarkan dalam keluarga nya, meski masih banyak kekurangan tapi yang namanya kepala keluarga harus menjadi pemimpin baik dan contoh teladan.