Sederhana Namun Istimewa

Sederhana Namun Istimewa
#Untuk Aku?#


__ADS_3

"Ooh, tugas tadi, yaudah aku bantu cari nanti di internet." jawabnya santai yang membuatku melongo.


"Hah? beneran?" tanyaku meyakinkan, karena beliau ini gemar sekali bercanda.


"Iya, beneran. besok aku kasih ke kamu yah,"


"Tapi beneran kan?" tanyaku lagi memastikan.


"Iya Nisaa, kenapa sih? udah ah aku mau ke kantin dulu sama yang lain, kamu juga gabung sana jangan sendiri mulu," ujarnya sambil berlalu meninggalkan ku dengan sejuta pertanyaan.


"Iya iya, makasi duluan ya," ucapku berterimakasih padanya.


Dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, tidak lupa dengan senyuman manisnya yang mampu membuatku lupa akan dunia beserta isinya, haha.


Bikin hatiku jedag jedug aja ini orang.


"Ini dia ga lagi bercanda kan? serius dia mau nyari? demi apa coba, dia aja jarang nugas,"


Tapi yasudahlah, orang niat baik terima aja. Aku kembali membaca novelku. Aku tidak bergabung dengan yang lain, malas.


Jam istirahat selesai, saatnya belajar kembali.


Tring...


Bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan, berlomba menuju gerbang sampai berdesak desakan.


Mereka ini senang sekali berdesak desakan. Apakah mereka sudah se lapar itu sehingga tidak sabar untuk tidak berdesak desakan? Apakah mereka se rindu itu memakan masakan Ibu di rumah? Ah, mengingat tentang masakan Ibu, aku juga ingin segera pulang agar lekas sampai di rumah.


Aku sudah terlalu lapar mengingat kata 'masakan Ibu.'


*****


"Ini tugas nya gimana ya? Ferdinan udah nyari ga sih?" aku saat inu sedang berada di meja belajarku setelah makan malam bersama Ayah dan Ibu tadi.


"Hadeh, gimana nanya nya, kuota ku aja ga adaaa," aku bermonolog lagi.


"Yaudah deh, cari di buku aja. Semoga aja ketemu.


Akhirmya aku memutuskan untuk mencari di buku paket. Bukannya tidak percaya pada Ferdinan. Tapi dia orangnya sedikit malas jika menyinggung tentang tugas, jadi aku sedikit ragu.


Lagi pula aku tipikal orang yang gak akan puas sama hasil, jika bukan aku sendiri yang berusaha dan menemukannya.


Akhirnya setelah sekian lama mencari, aku mengobrak abrik lemari buku dan sedikit kabar gembira, aku menemukan sebuah buku oaket Bahasa Indonesia milik sepupuku yang pernah aku pinjam.


"Yeay, untung ada. aku lupa kalau aku pernah minta buku sama dia," gumamku dalam hati.


Kebetukan sepupuku ini sudah tamat SMA, jadinya aku bisa memiliki buku itu.


Aku lekas mencari artikel, membuka daftar isi mencari di halaman berapa pembahasan mengenai artikel.


Setelah sekian lama mencari, dan ya, aku menemukannya. Aku lekas memindahkannya ke dalam buku catatanku.


"Ah akhirnya selesai, aku bisa tidur malam ini dengan nyenyak," kataku sambil meregangkan otot-otot ku.


Aku lekas beranjak dari meja belajarku menuju dapur untuk mengambil air putih. Aku cukup haus. Setelah meneguk segelas air putih, aku kembali ke meja belajarku, membereskan buku buku dan menyusun buku sesuai jadwal besok.

__ADS_1


"Eh, Ferdinan gimana ya? dia jadi nyarinya ga sih? liat besok aja deh,"


Selesai menyusun buku, aku langsung menuju kamar ku untuk istirahat. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, sudah memang saatnya aku tidur. Aku tidak ingin kesiangan.


Aku melihat Ayah dan Ibu masih berbincang di ruang tengah, aku lekas menghampiri mereka.


"Yah, Bu, beluk tidur?" sapaku pada mereka.


"Eh nak, iya belum, sebentar lagi," jawab Ibu sambil tersenyum.


Aku teramat bahagia saat saat seperti ini, apalagi saat Ayah dan Ibuku tersenyum. Rasanya duniaku baik baik saja jika melihat mereka baik baik saja.


"Kamu gimana nak? belum istirahat? tugas kamu udah selesai apa belum?" kali ini Ayah yang bersuara.


"Udah Yah, ini Nisa mau istirahat. tadi Nisa lihat Ibu sama Ayah masih disini, makanya Nisa samperin,"


"Yaudah nak, istirahat saja, besok kan sekolah," ujar Ibu


"Iya Bu. yaudah Yah, Bu, Nisa ke kamar yah, selamat malam,"


Ayah dan Ibu tersenyum saja, dan kembali berbincang. Aku berlalu dari sana, rasanya aku sudah sangat mengantuk.


*****


Pagi harinya aku berangkat ke sekolah, dan sepanjang pagi ini mulai dari bangun pagi, pikiranku hanya tentang tugas semalam.


"Bagaimana jika dia memang mencarikannya untukku?" itu itu saja yang aku pikirkan.


*****


Aku berjalan menyusuri koridor sekolah meuju kelas ku. Setelah sampai, aku langsung menyapu karena hari ini jadwalku piket kebersihan kelas di bantu teman teman yang lain.


"Eh, pagi Nan," sapaku sedikit kikuk. Pasalnya dia sepagi ini menyapaku, kenapa? Seketika aku langsung tersadar. Pasti tugas semalam, pikirku.


"Tugas semalam, kamu udah selesai?" tanyanya


"Hehe udah, nyari di buku," jawabku sambil nyengir sedikit merasa berdosa.


"Ooh, yaudah deh, gapapa." jawabnya terlihat lesu. Jangan jangan? Astagaaa


"Kamu nyari buat aku?" aku sedikit tidak menyangka.


"Iya, ini nih, dan ini punya aku," katanya sambil menunjukkan bukunya.


Aku langsung terdiam, merasa bersalah. Ku kira dia bercanda, tapi ternyata? Dan sejak kapan dia peduli dengan tugas?


"Pinjam bentar boleh?" aku meminta bukunya, ingin membacanya sebentar.


"Boleh, nanti antar ke meja aku ya," katanya sambil tersenyum, berlalu dari sana.


Ahk, senyuman itu. Udah ganteng, manis, cool, keren, baik lagi. Makin sayang deh. Eh


Aku membaca artikel yang dia maksdukan untukku, dan juga artikel miliknya. Aku sedikit heran memgapa tiba tiba dia berniat mengerjakan tugas mata pelajaran yang satu ini. Biasanya jika mapel Bahasa Indonesia, dia hanya akan bermain main. Terkesan tidak peduli. Dia akan baru serius jika mapel Matematika, kimia, fisika.


Tapi apa ini? Manusia satu ini mengherankan. Gemes sendiri aku, huh.

__ADS_1


"Eh Nis, tugas semalam udah siap ga? bagi dong," Tresya, teman semejaku baru datang saat aku sedang asyik membaca artikel dari Ferdinan.


"Udah Ca. tapi masa punya aku? kan kata Ibu nya ga boleh sama," jawabku mengingatkannya tentang Bu Guru yang mengatakan tidak ada yang boleh sama.


"Iya juga ya, jadi gimana dong akunya?"


Aku tidak habis pikir dengan teman se meja ku ini. Bisa bisanya dia tidak mengerjakan.


"Ya gatau, cari aja di internet," usulku


"Aku mana bawa hp, lagian kan ga dibolehin ke sekolah bawa hp,"


Iya juga sih


"Gatau deh," aku menyerah melihat kelakuannya yang hampir semua tugas tidak pernag di kerjakan dia di rumah, selalu saja di sekolah, pagi pagi. Dan itu pun masih sempat sempatnya dia bersantai.


"Eh itu buku kamu? itu kok ada dua artikelnya, bagi satulah," ujarnya melihat buku yang aku pegang.


"Enggak, ini bukunya Ferdinan. kalo kamu mau, kamu minta aja sama dia, aku gak enak ngasi tanpa dia tahu."


"Udah ah, sini aja, lagian dia mana tau,"


"Yaudah nih," ujarku memberikan buku tadi kepadanya dengan sedikit kesal. Bagaimana tidak, dia maksa, kesal dong. Padahal itu untukku, huhu..


Saat Tresya sedang menyalin artikel itu, Ferdinan datang ke meja kami.


"Ehm Nis, buku aku udah selesai? boleh aku ambil sebentar?" itu bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan. Dia meminta bukunya kembali.


"Eh Nan, ini bukunya sama Tresya.. katanya dia belum selesai," jawabku sedikit takut.


Mampus kan Nis.


"Yaudah sini Ca, buku aku,"


Tresya hanya diam saja, dia mungkin terkejut karena Ferdinan langsung saja mengambilnya. Aku hanya meringis saja melihat kejadian itu.


Dia pergi tanpa sepatah kata pun.


Huff, aku hanya mampu menghela nafas. Aku melihat wajah Tresya kasian, miris sekali, haha.


"Tapi kok gitu ya? masa iya artikel itu ga boleh di miliki orang lain? harus aku gitu?" batinku bertanya tanya tentang sikapnya tadi yang seolah olag enggan untuk berbagi.


Seperti ingin mebagi cinta saja. Padahalkan ini hanya tugas, tapi dia sampai segitunya.


Apa dia tadi ngeliat aku sama Tresya ya makanya pas Tresya nyalin itu artikel dia langsung datang?


Entahlah, yang tau isi hatinya hanya dia. Terserah dia saja.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hai gaes,, tinggalin jejak yah😘


__ADS_2