Sederhana Namun Istimewa

Sederhana Namun Istimewa
#Pesta#


__ADS_3

Pagi ini, seperti biasa. Aku bangun di jam 5 pagi dan itu sudah menjadi rutinitas ku, jadi tidak perlu lagi adanya alarm karena aku akan bangun tepat di jam 5. Setelahnya aku berberes, mengerjakan pekerjaanku sebelum berangkat sekolah.


Semua sudah selesai, saatnya berangkat dan pamit seperti biasa.


.


.


.


Pagi hari yang cerah, dengan sinar matahari yang begitu menghangatkan tubuh. Matahari masih nampak malu malu menunjukkan wajahnya. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelasku di IPA2. Suasana belum sepenuhnya ramai, karena masih setengah tujuh.


Aku terus berjalan melangkahkan kakiku ringan sambil sesekali bernyanyi nyanyi kecil.


Kring....


Bel berbunyi, saatnya jam pelajaran pertama.


"Pagi anak-anak," sapa bu Rama, wali kelas kami yang baru.


"Pagi Buu," jawab kami serempak.


"Hari ini sepertinya kita berdiskusi saja dulu, mengurus tentang keberangkatan kita ke pernikahan wali kelas kalian sebelumnya." ujar bu Rama, kami hanya menyimak saja.


"Oh iya, bendahara tolong berikan pada Ibu daftar nama yang telah menyerahkan dana sesuai yang kita sepakati,"lanjutnya dan disusul oleh sang bendahara kelas memberikan buku berisi daftar tersebut.


Bu Rama membaca satu per satu dalam diam, dan mulai bertanya kembali.


"Ini kita ada 30 orang, dan yang mengumpulkan masih 20 orang. Sepuluh lagi bagaimana?"


"Bu, bisa nanti aja ga? pas hari keberangkatan, nah disana kita ngumpulnya?" usul seorang teman kami, dan itu mewakili kami semua yang belum mengumpulkan, termasuk aku, haha.


"Yasudah tidak apa, nanti jangan lupa, dan Ibu harap kalian semua datang karena ini acara wali kelas kalian,"


Pagi itu benar-benar tidak ada belajar, kami sibuk membahas tentang keberangkatan kami. Mulai dari bus, kado, dan lain sebagainya. Sebenarnya bisa saja singkat, tapi yang namanya anak muda, biasalah haha.

__ADS_1


"Bu, katanya Ferdinan ga ikut sama rombongan, dia naik motor aja katanya," ujar ketua kelas kami di tengah-tengah diskusi.


"Tapi Ibu lihat dia sudah membayar disini. Jadi bagaimana dengan ini?" ujar bu Rama.


"Kasi ke yang lain aja Bu," jawab Ferdinan.


"Tentuin aja orangnya Nan," kata bu Rama.


"Rik, kamu aja gih" katanya menunjuk Riko. Namun yang ditunjuk malah ogah-ogahan, dan diam saja.


Sang ketua kelas pun sibuk mencari manusia siapa yang kira-kira cocok.


"Oh Nis, gimana kalau kamu aja?" tanya Farel, ketua kelas kami menunjukku.


"Ha?" aku melongo, kenapa aku di ikut-ikutkan?


"Kamu aja deh, lagian kamu juga kan belum bayar," lanjut Farel lagi.


"Tanya orangnya aja gih," jawabku akhirnya. Jika memang Ferdinan setuju ya, boleh-boleh aja sih.


"Nan, sama Nisa aja ya?" tanya Farel.


"Oke fiks, Anisa." kata Farel, dan diangguki bu Rama.


Aku diam, memperhatikan Ferdinan. Dia diam, dan raut wajahnya tak bisa ku tebak.


"Harusnya tadi aku tolak saja," gumamku dalam hati sedikit menyesal menerima tawaran itu. Karena jujur saja, aku merasa kami tidak lagi sedekat dulu dan akhir-akhir ini dia juga sering menghindar. Entah apa sebabnya aku pun tidak tahu. Aku yang berlebihan atau dia memang menghindar? Ah rasanya ingin aku tonjok saja wajahnya itu.


"Yaudah deh kalau gitu nanti aku kembalikan saja sewaktu di acara pesta. Kan dia juga datang," gumamku lagi dalam hati. Daripada dihantui rasa tidak enakan, lebih baik dipulangkan saja. Lagian aku juga rencananya mau bayar pas hari keberangkatan.


*****


Ting


Hp ku berbunyi, ada pesan masuk berarti. Aku lekas membukanya, dan disana tertera nama Nadia sipengirim pesan.

__ADS_1


"Nis, kamu udah siap belum?" tanyanya.


"Dikit lagi, tinggal sarapan," balasku.


"Aku ke rumah kamu ya, biar aku berangkatnya dari situ aja,"


"Boleh, datang aja,"


"Okey, otw."


Aku segera mengambil nasi dan lauk nya untuk segera sarapan. Hari ini kami akan berangkat menuju pesta wali kelas kami. Dan info dari grup, katanya bus sudah berangkat. Titik kumpulnya di kos Hana dan Putri, tapi karena rumahku searah dengan jalan kami menuju lokasi pesta, jadinya kami tidak ikut ke titik kumpul. Bukan hanya aku saja, yang lain pun sama.


Tak lama, Nadia datang. Kami duduk di teras sambil menunggu bus kami.


Lama sudah menunggu, sudah hampir satu jam, namun bus yang kami tunggu tak kunjung datang. Padahal katanya di grup busnya sudah jalan, tapi entah di jalan mana kami tidak tahu.


"Ini kok lama ya, udah hampir satu jam kota nunggu. Katanya berangkat jam 7, lah ini udah jam 8, gimana sih, ini jadi berangkat atau tidak? atau jangan bilang kita ditinggal Nis?" cerocos Nadia panjang lebar. Karena memang kesalnya bukan main. Menunggu itu hal yang membosankan, hei kawan. Mengertilah.


"Mungkin di jalan, bentar lagi juga sampai," jawabku sebisa mungkin tenang, kalau aku juga nyerocos, bisa gawat ini haha.


Kami kembali menunggu dalam diam, dengan pikiran yang entah kemana.


"Jalan mereka dimana sih? Kosan Putri udah pindah atau gimana?" Nadia lagi lagi emosi, haha.


"Pindah kali ke mars," jawabku mulai emosi juga, karena ini sudah jam berapa astaga, kami saja sudah lumutan disini. Pinggang kami sudah encok.


"Katanya udah di SMA tadi, tapi kok belum sampe sampe ya?" kata Nadia lagi.


"Padahal jarak dari sini ke SMA kita dekat loh Nis, lima menit doang sampe pasti. atau paling lama sepuluh ment. Tapi ini udah setangah jam dari mereka bilang kalo udah di SMA." lanjut nadia nyerocos emosi.


"SMA mereka lain mungkin. Mungkin SMA mereka di Korea sana makanya ga sampe sampe." jawabku kesal. Kami sudah bosan, tolonglahhh..


Dan setalah sekian lama, yang ditunggu tunggu akhirnya datang juga. Wajah kami entah sudah bagaimana bentuknya.


"Naik, naik cepat. kita udah telat ini." ujar Farel menyuruh kami naik. Ya iyalah telat, siapa suruh pindah negara. Ini telatnya parah sih ini.

__ADS_1


"Kalian yang lama, kok sewotnya sama kami," sewot Nadia sambil memasang wajah sangar. Esmosi gaesss.


Farel diam saja, malas ribut mungkin. Dan kelihatannya dia juga emosi karena pasukannya lama sekali bergerak, haha.


__ADS_2