Sederhana Namun Istimewa

Sederhana Namun Istimewa
#Wacana#


__ADS_3

*Bagaimana bisa aku membencimu sedang kan kau seolah tak memberi celah sedikitpun untuk itu*~



\*\*\*\*\*



"Nis kamu gak papa kan?" tanya Putri di sela sela kegiatan kami.



"Emang kenapa?" tanyaku balik, dan aku sudah tahu apa maksudnya.



"Manatauuu,"



"Engga ah, biasa aja," jawabku dan kami kembali melanjutkan kegiatan praktek kami, dengan Ferdinan yang sesekali datang menggoda Putri. Kalian tahu bagaimana hatiku? Hatiku sedang tidak baik-baik saja. Tapi ku coba untuk menepisnya dan fokus pada praktek kami. Setidaknya bisa meminimalisir sakit hati.


.


.


.


Tidak terasa, praktek sudah selesai. Setiap kelompok dipersilahkan untuk mengambil foto bersama sambil memegang hasil praktek dan juga corat coret nya. Kami berfoto dengan nyala lampu yang terang, sengaja agar kelihatan lebih wow gitu, haha.



Beberapa foto per kelompok telah di ambil, dan sekarang foto bersama dan juga guru pengampu mata pelajaran kimia. Berbagai gaya kami buat, mulai dari yang normal sampai pada yang alay nan lebay.



Bel belum berbunyi, berarti kami masih punya waktu untuk mengambil beberapa foto. Kami semua lekas mencari teman akrab kami agar bisa berfoto bersama, dan untuk kenang-kenangan tentunya. Dan jangan lupakan postingan media sosial teman sekelas nanti yang akan ramai memenuhi beranda, haha.



"Nis, mau foto gak?" celetuk seseorang dari belakangku.



Aku lekas menoleh dan disana sudah ada Ferdinan dengan gaya nya yang cool. Teman-teman ku langsung senyum-senyum tak jelas, seolah menggodaku.



"Oh boleh," jawabku dengan memaksimalkan wajah ku agar terlihat biasa saja.



Ketiga temanku langsung berubah profesi menjadi fotografer, mengatur posisi, gaya, dan pengambilan foto oleh kameramen jatuh pada Hana.



"Kalian masuk juga lah, masa kami berdua aja," ujarku memberi saran. Padahal hanya alibiku saja karena ini di lihat teman teman yang lain.



"Emang boleh?" tanya Nadia, membuatku menatapnya mendelik.



"Yaudah sini kalo mau, cepetan," ujar Ferdinan.


__ADS_1


Ketiga temanku langsung mengambil posisi, dan kali ini kami meminta tolong pada teman kami yang lain. Posisiku masih di samping Ferdinan, dan di sebelahnya lagi Putri. Dan itu di paksa oleh Ferdinan. Aku ayo ayo saja, lagian teman sendiri, dan juga merupakan teman sekelas, jadi tidak ada yang salah. Yang salah itu adalah pikiranku, bisa bisanya jatuh hati pada orang yang friendly seperti dia. Hufftt..



Kring...



Bel sudah berbunyi, dan saatnya kami keluar dari laboratorium, karena saatnya jam istirahat.



"Kantin?" tanya Nadia memulai.



"Engga dulu deh, lagi malas, mana lagi rame banget," tolak Putri.



"Okee,"



Kami lekas masuk ke ruangan kelas dan berkumpul di meja Putri. Ini tempat favorit kami untuk berkumpul, karena lokasi nya yang strategis cocok untuk meng ghibah, ahaha.



Putri lekas membuka galeri hp nya dan melihat lihat foto tadi. Kami melihatnya dengan seksama, dan tertawa cekikikan ketika melihat foto ku dan Ferdinan yang kata mereka lucu. Apalagi melihat ekspresiku yang, ah sudahlah. Malu tapi mauu, haha.



"Ih cocok ih, jadian napa," celetuk Nadia menggodaku dan langsung di sambut godaan kedua manusia yang lain lagi.




"Oo jadi ceriranya kalo dia nembak, kamu mau gitu? Ahayyyy, gas tross jangan kasih kendor.." goda Hana lagi, membuatku jengkel. Rasanya ingin sekali menyumpal mulut mereka berdua ini dengan sepatuku. Untung teman.



"Kayaknya dia juga suka deh Nis, sama kamu." ujar dari Putri lagi membuatku makin greget melihat semangat empat lima para sahabatku untuk mempersatukan kami dalam sebuah ikatan cinta. Eh



"Mana mungkin Put, dia itu sebenarnya suka nya ke kamu," ujarku mengelak.



"Helleh, kita tunggu saja nanti. Nis, sebenarnya dia itu suka, tapi malu aja ngungkapinnya," ujar Putri meyakinkan ku. Ini kenapa mereka jadi menjodoh jodohkan aku segala sih.



Aku hanya diam, tidak menyahut lagi perkataan Putri tadi. Namun di pikiranku sekarang sedang ramai oleh sekelebat bayangan tentang kisah ku dan Ferdinan beberapa waktu yang lalu. Jika di pikir pikir memang sikapnya seolah menunjukkan jika dia memiliki rasa. Tapi aku tidak mau terlalu berharap dulu, karena jika sudah sakit hati, pasti sakitnya tidak main-main.



Kami melanjutkan pembicaraan kami, dan masih tentang masalah hati. Hana dengan sang ketos, Putri dengan tetangga kelas yang semakin hari semakin gencar untuk mendekati Putri, diikuti oleh teman-temannya yang lain. Untuk Nadia, hubungannya sudah kandas beberapa minggu yang lalu, dan kini mereka sudah seperti musuh bebuyutan, bahkan seperti tidak pernah terjadi apa apa di antara mereka berdua. Lucu sih, namanya juga anak SMA.



"Oh ya Nis, makalah kita kapan kita kerjain nih,?" tanya Putri.



"Aku sih ngikut kapan kalian bisa, tanya yang lain aja dulu," ujarku memberi saran.

__ADS_1



"Yaudah kalau gitu, nanti kita bahas di grup." putus Putri dan setelahnya bel berbunyi, saatnya belajar lagi.



\*\*\*\*\*



Sore menjelang malam seperti biasa, jika pekerjaanku sudah selesai, aku akan memilih untuk membuat beberapa cemilan untuk menemaniku membaca novel atau untuk tarik ulur beranda.



Dan disinilah aku sekarang, duduk di depan meja belajar, di temani secangkir teh dan keripik singkong. Aku memainkan hp ku, malihat lihat isi beranda ku yang penuh dengan postingan teman satu sekolah, khususnya anak IPA yang sudah melakukan praktek.



Ting



Bunyi notifikasi hp ku saat aku sedang asyik membuka buka postingan orang.



"Gaes, manggang yok," usul Hana di sebuah grup, dan ternyata baru di buat khusu untuk teman-teman akrab kami. Pesertanya terdiri dari Hana, Nadia, Putri, Ferdinan, Dimas, Rafael, Farel dan aku tentunya.



"Yok lah gas, dimana?" balas Rafael gercep. Maklum laki laki jadi hobinya memanggang, dan berhubung ini malam minggu, jadi bebas jika mau begadang, haha.



"Di kos aku aja, udah izin kok sama ibu kos ku, dia juga sedang tidak disini" balas Hana.



"Maap ya gess ngga bisa ikut, aku pulang soalnya ke kampung," balas Putri, dan hal itu memang sudah diberitahu dia semalam saat di sekolah.



"Kalau kamu Nis, bisa kan? Ayolah,, sesekali doang kok," ujar Hana lagi.



Aku yang sedari tadi nyimak terpaksa muncul ke permukaan.



"Liat nanti aja, kalau di bolehin Ayah sama Ibu," balas ku. Karena memang ruang gerakku terbatas, aku tidak sebebas anak anak lain. Ayah dan Ibuku terlalu khawatir jika aku pergi ke luar, apalagi aku anaknya pendiam, susah bergaul pula. Mereka takut aku kenapa napa, padahal aku akan baik baik saja, karena aku juga bukan anak kecil lagi. Terkadang aku memang sedikit kesal jika saat aku akan meminta untuk keluar sebentar saja bersama teman teman ku, pasti tidak diperbolehkan, kecuali jika urusan tugas sekolah. Tapi tidak bisa di pungkiri, aku juga merasa bersyukur, itu artinya mereka benar benar menjagaku dengan amat hati hati, mereka takut putri mereka ini terluka. Dan beda orang tua berbeda cara mendidik bukan?



"Sama teman sekelas pasti di kasih izin sih menurutku," ujar Hana lagi, berusaha membujukku.



"Nanti aku kabarin," ujarku akhirnya, mempertimbangkan juga ingin meminta izin karena ini hanya sesekali saja. Jarang ada momen seperti ini. Tapi aku tidak bisa berharap lebih, terlebih lagi kondisinya malam.



"Datang ya Nis, kalau kamu Nad?" bahkan Hana mengajak Nadia yang kosannya jauh.



"Engga dulu deh, ga di bolehin sama ibu kos," balas Nadia, dan langsung di mengerti oleh Hana. Lah kenapa dia tidak di ajak ribut seperti aku? Aku di paksa paksa sedangkan Nadia lolos begitu saja? Mungkin karena Nadia anak kos kali ya, pikirku.

__ADS_1


__ADS_2