
Ting
Bunyi notifikasi hp ku mengalihkan perhatianku dari novel yang sedang aku baca. Aku lekas mengambil hp ku, dan memeriksa notifikasi dari siapa gerangan. Ternyata itu notifikasi grup yang isinya hanya kami berempat. Aku, Nadia, Hana, dan Putri. Tampak disana dia mengirimkan beberapa foto yang kami ambil saat di kolam tadi.
Aku membukanya satu per satu, sesekali aku tersenyum saat melihat wajah konyol kami. Lanjut kami mengghibah di dalam grup chat kami, tidak lupa juga membahas wajah wajah yang terkena aib.
Masih asyik membalas pesan di grup, tiba tiba ada satu notifikasi masuk, dan itu dari grup kelas kami.
"*ini hp ku kenapa yang muncul cuman notifikasi grup semua sih*..?" batinku agak kesal, bagaimana tidak jika notifikasi hp saja hanya dari grup. Jika grup tidak ribut, maka sudah bisa di pastikan hp ku akan sunyi senyap. Kecuali jika Ferdinan menghubungi, ehm.
"Gaess besok jangan lupa bawa uang nya yaa.. sesuai kesepakatan bersama, 35 ribu per orang, dan sudah mulai bisa di cicil," begitulah isi pesan dari sang bendahara.
Memang kami sudah diskusi dua hari yang lalu, bersama dengan wali kelas kami yang baru, yaitu bu Rama. Beliau sudah sah menjadi wali kelas kami seminggu yang lalu. Setelah semua biaya di perhitungkan, mulai dari sewa mobil dan juga kado, jadilah kami mengumpulkan uang 35 ribu per orang. Kelas kami ada sebanyak 30 orang, jadi terkumpul kurang lebih satu juta nantinya.
"Khusus aku bisa lah gratis.. hehe" balas Dimas. Memang anak satu ini suka sekali membuat onar.
"Maaf, tapi anda siapa ya?" balas Hana memanas manasi sayangnya tidak panas, haha.
"Ohohoo saya orang ter ganteng, imut lucu dan menggemaskan. Anda tidak senang? tidak masalah," balas Dimas lagi. Narsis sih ni anak satu.
Mereka terus berdebat tiada henti, tidak ada yang mau mengalah. Bahkan teman-teman yang lain juga ikut nimbrung, dan topik pembicaraan mereka entah sudah sampai ke belahan bumi bagian mana.? Begitulah keadaan jika grup kelas sudah berbunyi. Tidak di kelas, tidak di grup, selalu saja berdebat. Tapi tak apa, setidaknya ada bahan lelucon, hehe.
Di grup ini juga tidak ada guru di dalamnya, termasuk wali kelas kami. Kami membuat grup khusus untuk kami siswa, dan ada grup khusus yang di dalamnya ada beberapa guru dan juga wali kelas. Sengaja memang, agar bisa nge gibah, haha.
Aku masih setia membaca setiap perdebatan mereka, sesekali aku juga tertawa kecil membaca isi pesan mereka. Aku tidak berniat ikut nimbrung, karena aku saja tidak pandai membuat lelucon. Yang ada nanti malah tidak nyambung.
__ADS_1
Sedangkan di grup chat kami berempat juga masih setia meng ghibah, dan sudah pasti membahas topik yang sama dengan yang di grup kelas.
"Siapa disini yang belum save nomor aku? Save yaa biar punya nomor orang ganteng,"
\*Ferdinan
Pesan masuk dari grup kelas yang menampilkan nama pengirim pesan itu membuatku mendelik. Percaya diri sekali dia. Tapi ya memang iya sih, haha.
\*\*\*\*\*\*
"Oke anak-anak, silahkan memakai jas lab nya, kita sekarang menuju lab kimia." ujar bu guru kimia saat itu.
"Baik Bu," jawab kamu serempak dan mulai memakai jas lab kami, membuka sepatu dan menbawa alat tulis beserta buku untuk mencatat hasil eksperimen kami saat di lab nantinya.
Hari ini kami akan praktek tentang pengaruh dari larutan asam kuat, asam lemah, basa kuat, dan basa lemah terhadap nyala suatu bola lampu. Alat yang kami perlukan yaitu papan komputer sebagai tempat kami merakit lampu, baterai, kabel dan dua buah paku.
Untuk larutannya, yang sederhana saja yang umumnya dipakai dalam kehidupan sehari hari, seperti pemutih kain, atau juga yang mengandung soda seperti adem sari. Untuk larutan yang tidak dapat di temukan, disediakan di lab, misalnya H2SO4 dan lain sebagainya.
"Ih cantik banget kamu Put kalo lagi ikat rambut kayak gini," ujarku memuji penampilan Putri saat itu. Dia yang terbiasa menggerai rambutnya setiap hari dan kini dia mengucirnya, sungguh sangat cantik sekali. Dengan rambut yang digerai saja dia sudah sangat cantik, dan sekarang dia mengucir ramburnya memberikan pemandangan yang baru, sungguh kecaktikannya bertambah berkali kali lipat. Aku saja yang perempuan terpesona, bagaimana dengan laki-laki? Pantas saja dia jadi incaran lelaki sejak dulu, bahkan saat di bangku SMP. Aku mengakui kecantikannya yang paripurna.
"Iii makasi loo, muachh hehe." katanya memasang wahah imut. Gemas sekali.
"Kamu juga cantik," lanjutnya lagi. Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar kata 'cantik' yang di tujukan padaku. Ya memang kodrat seorang wanita memang cantik, tidak mungkin ganteng. Tapi apakah kata cantik memang cocok untuk disandingkan denganku? Aku rasa tidak. Dan ku anggap ucapannya tadi hanya untuk sebuah penenang saja agar aku tidak terlalu minder. Tapi apakah betul aku cantik atau tidak? Atau itu hanya berlaku di mata teman ku saja? Mari kita overthinking.
__ADS_1
Kebetulan aku dan Putri satu kelompok saat ini. Masing masing kelompok terdiri dari 6 siswa, dan di kelompok kami di isi oleh dua laki-laki. Memang populasi laki-laki di kelas kami sangat minim, haha.
Kami melanjutkan praktikum kami, dan kami mulai merakitnya. Langkah pertama adalah memasang baterai pada papan komputer atau biasa di sebut papan ujian. Itu loh, yang biasa di pakai siswa saat ujian.. Baterai yang kami gunakan yaitu baterai ABC. Tau kan? Yang berwarna kuning itu. Kami menempelkannya menggunakan lakban hitam, dan selanjutnya memasang wayar di sekeliling papan, dan di wayar tersebut sudah ada satu bola lampu, tepatnya bola lapu senter yang kecil. Kedua Ujung wayar tadi di ikatkan paku, dan paku itulah yang akan di celupkan ke dalam larutan yang ada, dan tugas kami mengamati dan mencatat nyala lampu dari setiap larutan.
Hasil dari penelitian kami nantinya akan di buat menjadi satu makalah, dan akan di serahkan kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan.
"Ih cantil banget Put," celoteh tiba-tiba seseorang dari belakang kami. Aku yang sudah familiar dengan suara itu mencoba untuk biasa saja, sambil lanjut melakukan praktek, menukar laruran dan menguji cobanya.
"Ish apa sih Nan ganggu aja, sana pergi, kelompok kamu di sana tuh, nungguin," usir Putri yang sepertinya tidak suka di ganggu.
"Engga ah, mau liat kamu aja, cantik banget soalnya. Iya kan gaess," katanya lagi kekeh tetap berada disana. Meski aku tidak melihat wajahnya, aku tahu kalai dia sekarang sedang tersenyum lepas saat menggoda Putri.
Sedangkan aku yang mendengar hal itu hanya mampu diam, diam dan diam. Aku tidak menampik sedikit pun tentang kecantikan seorang Putri. Tapi entah memgapa rasanya hati keecilku sedikit tidak terima jika orang yang mengatakan hal itu adalah orang yang aku sukai dalam diam.
"Ih Ferdinan ah, sana sama kelompok kamu, ganggu aja. Buu liat Ferdinan Bu, dia ganggu," adu Putri kepada guru.
"Heh Ferdinan, sana sama kelompok kamu. Jangan ganggu kelompok orang aja, mentang-mentang ada cewek cantik," ujar Bu guru.
"Hehehe iya Bu, maaf" ujarnya berlalu pergi.
Lagi dan lagi, aku hanya diam, mencoba pura-pura sibuk dengan semua yang ku lakukan.
Ya, tadi itu Ferdinan. Hufft, aku tidak bisa lagi berkata kata. Baiklah, urusan hati nanti saja, sekarang saatnya konsentrasi pada larutan yang di depan mata, menyerahkan segenap jiwa dan raga untuk memberikan yang terbaik pada praktikum pertama ini, dan pastinya harus berusaha keras agar mendapatkan hasil yang memuaskan.
__ADS_1
"Nis, kamu gak kenapa kenapa kan?" tanya Putri di sela sela kegiatan praktek kami.