
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Pekerjaan kami selesai, tinggal memoles saja dengan memberikan sedikit hiasan agar terlihat menarik.
"Duh gaess akhirnya selesai..." seru Gina saat itu
"Iya nih, seneng banget, akhirnya setelah melalui drama panjang, haha" sambut Sarah girang
"Yaudah yok, beresin biar pulang, udah sore," ajak ku karena hari memang sudah mulai sore, pekerjaan ku di rumah menunggu kehadiran ku.
Kami segera membereskan peralatan yang kami gunakan, membuang sampah, dan tidak lupa juga menyapu rumah Sarah.
Tidak baik jika dibiarkan kotor dan berantakan begitu, kami sebagai generasi penerus bangsa yang baik dan benar, eak.. harus menunjukkan sikap yang baik dan benar pula di mulai sejak dini.
Asek
"Ayo anak anak, di minum dulu sebelum pulang, pasti kalian lelah.." ujar tante Mila, mamanya Sarah yang datang dari dapur dan membawakan jus jeruk di tambah keripik.
Mmmm lezat nyaaa haha.
"Wahhh makasi banyak tante, jadi ngerepotin. tau aja kalau tenggorokan kami kering kerontang, di landa haus dahaga, heheh" kata Ferdinan sambil nyengir kuda.
"Helpp! Plis Nisa.. Plis. Omaigatt itu mamanya Ferdinan ngidam apa pas ngandung, bisa manis gitu waaa" aku sungguh sangat sangat terpesona melihat keindahan ini.
Sebentar saja Tuhan, tolong hentikan waktu, sebentarrr saja, aku ingin melihat ciptaanMu yang sangat indah ini lebih lama lagi.
"Iya, sama sama, jangan sungkan yah.. dihabisini, tante mau balik ke dapur dulu.."
"Okey tan, makasi banyak yaaa" sahut semuanya serentak, dan seketika lamunan ku buyar, ambyarrr.
*****
"Tante... kami pamit pulang yaa,"
Kami pun berpamitan, menyalami tangan tante Mila satu per satu.
"Iya nak, hati hati yah, kapan kapan kalau ada waktu main ke sini lagi..." jawab tante Mila dengan ramah.
"Pasti tante, selain mau makan gratis aku juga mau sambil liatin anak tante yang super manis ini" jawab Ferdinan sambil mengedipkan satu matanya ke arah tanta Mila.
"Huuu dasar buaya darat! sekolah dulu sono yang bener baru cinta cintaan.."
"Huuuuu!!!!" kami semua serentak meneriaki Ferdinan.
Namun ada yang lain di hatiku, rasanya aku sedikit tidak terima dengan ucapannya barusan, membuatku langsung mengubah tatapan ku menjadi datar sedatar datarnya.
Tapi apa hak ku? Aku siapanya dia? Ah sudahlah, jangan di bawa hati. Lagipula dia bebas ingib dekat dengan siapapun.
__ADS_1
Tapi hati kecilku tidak rela...
"Ayo Nis, kita pulang bareng, kan?" ajak Ferdinan membuat lamunanku buyar.
"Hah?" jawab ku melongo seperti orang bodoh karena baru tersadar dari lamunan dan jiwa ku yabg terbang sudah kembali ke tubuh ku, haha.
"Ayo naik, tadi perginya kan kita barengan, pulang nya juga barengan lah, gak baik menelantarkan anak gadisnya orang, ga bertanggung jawab namanya mah.."
Tanggung jawab sih tanggung jawab. Tapi tanggung jawab juga lah sama hati gueh yang udah ambyar ini, ucapku dalam hati.
*****
"Nis, bakso yok. kamu taku kan tukang syomai yang di pangkalan ituu" seru Ferdinan saat kami berdua di atas motor dalam perjalanan pulang.
"Hah? apa??!" suaraku sedikit keras menjawabnya
"Makan baksoo Nis, makan bakso!!!!" teriaknya sedikit keras. Mungkin dia berpikir bahwa aku tidak mendengarnya. Padahal aku hah heh hah heh karena aku tak tahu dengan kalimat apa aku menjawabnya.
"Enggak ah, ga bawa duit aku, udah lah pulang aja Nan, kenapa sih udah sore juga. lagian cemilan tadi ga cukup apa?"
"Aku yang bayarin, udah tenang aja bentar doang kok, aku lapar ini,"
"Ga ada penolakan, pokoknya harus.!" lanjutnya saat aku hendak membuka suara.
"Kalo ujung ujungnya di paksa, ngapain nanya duluu markonah!" aku mengumpat, dan tentunya dalam hati, aku tidak berani melawan, hehe😌
*****
Kami sudah selesai makan bakso, dan saatnya kami pulang.
Di perjalanan pulang, kami hanya sekedar bincang bincang ringan, seperti apa tugas besok, udah selesai apa belum, yaa kira kira begitulah.
"Nis, pegangan ya, aku mau ngebut!" ujarnya memberikan instruksi.
"Ih woi Nan pelan pelan aja napa? aku takut heh,"
"Mana sini tangan kamu, pegangan yang kuat ya,"
Reflek aku mengalungkan tangan ku pada pinggangnya. Aku takut, sungguh.
Wangi semerbak yang kuhirup dari baju dan rambutnya membuatku sedikit rileks.
Sungguh sangat sangat nyaman. Dan hatiku? Oh tidak, ini kacau sekali!
Jantungku berdetak dengan kencang. Ku harap kau tidak merasakan debaran ini, aku maluuu, huhuu, batinku dalam hati.
__ADS_1
Motornya melaju membelah jalanan. Senja yang indah kala itu membuat momen ini semakin menjadi indah, tak terlupakan.
Lambat laun aku mulai rileks, mulai menikmati perjalanan ini. Mataku tak henti hentinga menatap langit senja yang indah itu, di tambah dengan orang yang membonceng ku saat ini.
Ah, indah sekali. Momen ini, momen yang terasa indah bagiku. Baru pertama kali aku berboncengan dengan cowok selain Ayah ku.
Istimewa momen ini, dan orangnya pun istimewa. Semoga selalu begini, batinku.
Kami telah tiba di rumah ku, jam saat ini menunjukkan pukul 18.00.
Ayah dan Ibu apakah sudah pulang? batinku bertanya tanya.
Lampu teras belum menyala, nampaknya belum pulang.
"Dah sampe.." ucap Ferdinan.
"Makasih yaaa tumpangannya, makasih juga traktirannya, hehe" ucapku tulus padanya, tak lupa memberikan senyuman terbaik yang ku miliki.
"Sama sama, aku pamit ya, maaf ga bisa singgah udah keburu malam. kamu langsung mandi, biar cantik," jawabnya padaku seraya tersenyum.
Aku hanya mengangguk saja sebagai jawaban ku. Aku tak mampu berbuat banyak saat bersamanya. Bukan hanya saat bersamanya, namun di setiap situasi. Yaa mau bagaimana lagi, aku tak ahli dalam hal itu.
Dan senyuman itu, hah sudahlah, aku tidak tahu apakah aku bisa tertidur dengan nyenyak malam ini setelah kejadian hari ini.
Aku lekas masuk ke dalam rumah, mengerjakan beberapa pekerjaan ku. Untungnya aku sudah terlebih dahulu mencuci piring saat akan pergi tadi. Jadi aku hanya perlu memasak nasi dan lauknya, setelah itu mandi.
Aku tak henti hentinya tersenyum sedari awal memasuki rumah. Bahkan ikan ku hampir saja gosong karena syik menghayal.
Aduh Nis, konsen dikit napa. Hampir aja gosong, kalo engga kena semprot sama Ibu nih, ucapku merutuki diriku sendiri yang ceroboh.
Aku bergegas mandi. Setelah aktivitas hari ini membuatku sedikit lelah, sehingga aku membutuhkan guyuran air agar tubuhku kembali segar, dan pikiran ku fresh.
Setelah aku selesai melaksanakan ritual mandiku, Ayah dan Ibu datang. Aku lekas menyambut mereka dengan senyuman terbaikku.
Aku tahu, mereka sangat lelag bekerja seharian ini. Di balik senyum yang mereka tujukan padaku, aku tahu mereka menyimpan begitu banyak beban. Banyak lelah dan banyak keringat yang telah bercucuran demi masa depanku.
Yah, Bu, aku tahu kalian lelah tapi kalian menutupinya dengan tersenyum. aku tahu, kalian menaruh harapan yang begitu besar kepadaku, untuk bisa mengubah kehidupan keluarga kita. Walaupun kalian tidak pernah menuntu apa apa dariku selain giat belajar, aku sebagai seorang anak, mengerti ala harapan kalian.
Doakan aku Yah, Bu, semoga kelak aku bisa menjadi anak kebanggaan kalian. Hidup kita menjadi layak, tidak susah seperti sekarang.
Doakan aku yaaa🤗
Kami sedikit berbincang bincang sebentar tentang aktivitas kami hari ini sambil mereka sedikit melepas lelah setelah berjalan jauh. Aku membuatkan teh putih hangat agar dahaga mereka lekas hilang.
Setelah itu, Ayah dan Ibu mandi, dan kami pun berkumpul untuk makan.
__ADS_1
Lauknya yang sederhana saja, ikan asin sambal, sayur rebus lengkap dengan sambal luarnya.
Sungguh nikmat, apalagi makan dengan orang tersayang. Rasa bahagianya tiada tara.