Sederhana Namun Istimewa

Sederhana Namun Istimewa
#Cinta??#


__ADS_3

Pukul 17.00 aku pulang dari kebun. Aku pulang lebih dulu karena aku akan membereskan rumah, mencuci piring dan memasak. Ayah dan Ibu masih di kebun, melanjutkan pekerjaan kami.



Setelah sampai, aku istirahat sebentar menghilangkan lelah di tubuhku, dan setelah sedikit berkurang, aku terlebih dulu mandi, kemudian setelah itu aku memulai pekerjaanku hingga semuanya selesai, Ayah dan Ibu juga sudah datang.



Saatnya makan malam, dan seletelahnya kami mengobrol sebentar, lanjut aku akan mengerjakan tugas ku hingga selesai. Kira kira seperti itulah rutinitasku di setiap harinya.



"Ah, akhirnya selesai..." ucapku girang karena akhirnya tugas ku selesai, dan waktunya untuk tidur.



Saat ini jam menunjukkan pukul 10.25, tepat sekali untuk tidur.



Aku lekas beranjak dari meja belajarku menuju kamar, karena ruang belajarku memang terpisah dati kamarku. Sengaja memang, karena aku lebih nyaman seperti ini.



Aku melewati Ayah dan Ibu yang juga menuju kamar mereka. Aku menyapa seperti biasa, dan kami masuk ke kamar kami masing-masing.



Aktivitas seharian ini cukup menguras tenaga ku, sehingga saat ini mataku tak sanggup lagi menahan kantuk yang sudah menyerang.



Aku membaringkan tubuhku, dan bersiap untuk segera masuk ke alam mimpi. Tapi belum sempat aku menutup mata ku, tiba tiba hp ku berdering tanda ada panggilan masuk.



"Ini siapa sih malam malam gini nelpon, ganggu orang mau tidur aja, capek iniii," aku mencari hp ku sambil menggerutu. Kesal malam malam begini, sudah mau istirahat juga, malah di ganggu.



"Halo," sapaku dengan nada ketus, aku mengangkat tanpa melihat nama siapa yang tertera di layar hp ku. Aku cukup jengkel karena tidurku sudah terganggu padahal mataku sudah sangat berat.



"Halo Nis, kamu udah ngantuk ya?" jawabnya dari sebrang sana.



"*Eh, kok suaranya kek* **gak asing yah**," aku langsung mengecek nama yang menelpon, dan langsung mataku bugar, gak ngantuk ngantuk lagi.


Ferdinan.


"*Wahh parah nih orang, ternyata beneran aku di telpon malam ini, hadehh*" gumamku dalam hati mengingat kembali perkataannya tadi siang saat mengantarkanku pulang.



"Hmmm," jawabku hanya dengan deheman saja. Biar di kira ngantuk, padahal sebenarnya udah enggak lagi karena dengar suaranya, hihi. Ya walaupun sebelumnya memang udah ngantuk sih...



"Hehehe maaf yah, yaudah kamu lanjut aja tidur, tapi jangan di matiin telponnya," ujarnya dengan nada lembut, selembut-lembutnya. Aku langsung saja senyum-senyum sendiri, salting dengar suaranya yang amat lembut itu.



"Iya, gapapa, aku juga tadi belum tidur kok,"

__ADS_1



"Yaudah tidur, udah malam, anak gandis gak baik begadang," ujarnya menyuruhku tidur.



"*Ya aku juga mau tidur tadi, dan soal begadang, sepertinya bukan aku yang membuatku begadang*," aku mengomel, dan di dalam hati tentunya.



"Iya, kamu juga tidur," jawabku dengan nada serak karena menahan kantuk, aku sudah hampir tertidur karena memang se ngantuk itu aku.



"Yaudah, jangan matiin tapii," katanya yang samar samar terdengar di telingaku. Aku tak lagi menyahut karena aku sudah terjun ke dalam dunia mimpi.



Hehe. Selamat malam dunia, sampai ketemu esok di hari yang baru lagi, dan selamat malam Ferdinan, sampai jumpa di alam mimpi.


*****


Kring....


Alrm hp ku berbunyi tanda sudah pagi. Aku lekas meraih hp ku yang tergeletak di samping bantal. Aku mengingat ingat mengapa hp ku ada disini, biasanya aku menaruhnya di atas meja yang ada di samping tempat tidurku.



"Ooh, pantas saja, semalam ternyata kami telponan," gumamku setelah mengingatnya.



Sepertinya dia yang mematikan sambungan telepon itu, karena seingatku aku sudah tertidur dan dia mengatakan agar tidak mematikan telponnya.



.


.


.


Aku sudah rapi dengan seragam ku, hari ini aku memakai seragam putih abu-abu lengkap dengan topi dan dasinya karena hari ini hari senin, dan akan melaksanakan upacara bendera, jadilah lengkap seperti ini.



"Yah, Bu, aku berangkat yah," pamitku pada Ayah dan Ibu sambil mencium tangan mereka.



"Iya nak, hati-hati yah," pesan Ibu.



Aku beranjak ke luar, dan saat aku membuka pintu, udara dingin langsung menembus kulitku, sampai ke tulang-tulangnya.



Pagi ini embun turun, dan sepertinya sebenyar lagi hujan. Dan sepertinya pagi ini tidak akan dilasanakan upacara. Aku lekas berlari ke kamar ku dan mengambil jaketku. Pantas saja tadi udaranya sedikit dingin, tapi tidak terlalu terasa, karena berada di dalam rumah.



"Kenapa nak? ada yang ketinggalan?" tanya Ibu yang melihatku kembali.


__ADS_1


"Ini Bu, mau ambil jaket, di luar ternyata turun embun, dan cuacanya dingin, sepertinya akan hujan," jawabku yang sudah mengambil jaketku.



"Ooh, yasudah, kamu hati-hati, jangan lupa pakai topinya," pesan Ibu dan ku iyakan.


.


.


.


Aku berdiri di tepi pasar menunggu angkutan umum datang yang akan membawaku ke sekolah pagi ini.



Sudah hampir 10 menit aku menunggu, namun aku tak kunjung berangkat. Bukan karena tidak ada angkutan yang lewat, namun karena semuanya padat dan tidak ada lagi tempat untuk aku bisa duduk.



Aku mulai khawatir. Hatiku mulai gelisah, takut telat. Ini sudah jam berapa, tapi aku belum juga beranjak dari tempatku. Jika aku meminta Ayah untuk mengantar, aku tidak tega dia harus kedinginan pagi pagi seperti ini.



Aku hanya berharap agar lekas ada angkutan umum, atau setidaknya siapa saja yang satu sekolah denganku dengan menaiki motor, aku ingin menumpang naik agar aku tidak telat.



"*Eh, kayak kenal deh*," ucapku dalam hati saat aku melihat lampu sepeda motor dari kejauhan. Aku kesulitan mengenali apa saja yang datang dari kejauhan karena kabut pagi ini cukup tebal.



Motor itu semakin dekat, dan sedikit bisa ku tebak siapa itu, dan, tepat.



Dia berhenti di sebrang sana, dan memanggilku.


"Ayo Nis, kamu ikut gak?" tanyanya, tak lupa tersenyum.


"Eh Nan, iya ikut," jawabku sambil sedikit berlari ke arahnya.



Dia Ferdinan. Lagi lagi Ferdinan. Sepertinya kami memang ditakdirkan untuk bersama. Eh



Motor Ferdinan melaju membelah jalanan yang masih sepi, dikarenakan masih pagi. Kami mengobrol kecil-kecilan, dan sesekali bercanda. Rintikan gerimis mulai turun membasahi permukaan bumi, menambah syahdu perjalanan kami pagi ini. Awww


.


.


.


Kami sudah sampai di parkiran sekolah. Ferdinan lekas memarkirkan motornya. Aku dengan setia memunggunya, dan kami berjalan bersama menuju ruangan kelas.



Aku tidak tahu seperti apa aku akan menggambarkan perasaanku saat ini. Yang jelas, aku bahagia, amat bahagia. Ada getaran yang menenangkan saat bersamanya. Jantungku berdetak dua kali lenih cepat saat bersamanya. Wangi parfumnya yang memanjakan hidungku, membuatku betah berlama lama berada duduk di boncengannya.



Inikah cinta? Aku tidak tahu jelas ini apa, yang jelas aku merasa dihargai, di jaga, dan diperhatikan. Aku nyaman. Ku harap ini tidak hanya sesaat. Aku harap ini selamanya.

__ADS_1



Hal yang baru aku dapatkan, dan itu dari dia. Hal-hal sederhana yang mampu meluluhkan hatiku, mengubah prinsip awal hidupku yang pernah mengatakan tidak akan jatuh cinta sebelum aku sukses. Tapi ternyata aku lebih dulu jatuh cinta, dan ku harap keputusanku untuk jatuh cinta saat ini tidak salah. Ku harap aku tidak akan kecewa.


__ADS_2