
Setelah kejadian tugas artikel kemarin, aku dan Ferdinan semakin dekat dan dekat. Tak jarang kami pergi ke sekolah bersama.
Aku juga sudah mulai memiliki teman. Aku berteman dengan Hana, di tambah Putri, dan juga Nadia tentunya. Kami berempat membuat circle pertemanan, haha.
Putri, ternyata dia tidak seburuk yang aku kira. Dia orangnya baik, ramah, apalagi jika sudah mengenalnya dengan baik, bisa dipastikan akan nyaman berteman dengan dia.
*****
Hari ini seperti biasa, kami ke sekolah, belajar, istirahat, pulang. Itu sudah menjadi rutinitas kami sebagai siswa yang siap membangun bangsa dan negara tercinta ini. Kami tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan. Eak
Tring...
Bunyi bel jam pelajaran kedua hari ini, kimia. Guru yang mengajar kimia di kelas kami tidak masuk, ada urusan katanya. Tapi beliau sudah memberikan tugas 2 hari yang lalu yang akan kami kerjakan hari ini dan di kumpul hari ini juga saat jam istirahat tiba.
"Nis, ini gimana cara ngerjainnya sih?" Tresya bertanya padaku yang kesusahan mengerjakannya
"Ya gatau Ca, aku mulai bingung ini, plus otakku lagi nge blank." jawabku yang juga merasakan kesusahan. Otakku yang cerdas ini entah kemana piginya, heheh.
"Hufftt, nanti kabarin ya kalo udah dapat, aku mengharapkan mu, muuaacchh" ujarnya sambil berlalu meninggalkan ku di meja sendirian.
"Ck anak ini, selalu saja sesukanya. lihat saja, aku tak akan lagi memberikannya kepadamu, huh." aku berdecak kesal melihat tingkah laku teman semejaku ini. Tidak habis fikir.
Aku kembali mengerjakan soal, mencari cari jalan apa yang akan ku tempuh dan dengan cara apa aku bisa menemukan jawabannya.
Namun sudah berbagai jalan ku tempuh, dan sudah berbagai cara ku lakukan, aku tak kunjung menemukan jawabannya.
Lelah bekerja dan berfikir sendiri, aku berjalan jalan mencoba bertanya pada teman teman yang lain. Barangkali mereka ada yang sudah menemukan jawaban.
Namun sudah beberapa orang yang ku tanya, mereka sama denganku. Tidak menemukan apa apa.
"Ini soal apa sih heh," gerutuku dalam hati sambil terus bertanya pada yang lain.
"Woi Mas, udah nemu jawaban yang nomor 4 gak?" tanyaku pada Dimas, dia siswa laki laki yang lumayan pintar di kelas kami.
"Belom weh, coba kita tanya sama Rasti," jawabnya memberikan saran.
"Yaudah ayo,"
Rasti teman sekelas kami yang paling pandai, ternyata sudah menemukan jawabannya. Dia memberikan bukunya pada kami, dan dengan senang hati kami memerimanya dan lekas menyalin.
"Aku dulu woi," ujar Dimas merebut buku itu dari tangan ku.
"Bentar heh, baru juga nyatat lima kata, sabar lah," ucapku tak mau kalah merebut buku itu kembali.
"Aku dulu"
"Enggak, aku dulu"
"Aku,"
"Aaaa Dimasss akuu duluuu," ujarku dengan nada memelas sambil terus berusaha merebut buku itu dari tangannya.
"Ini anak jahil banget dah," batinku
"Aaa Dimasss," suara itu membuat moodku anjlok. Terdengar seperti nada orang mengejek. Aku langsung murung, dan tanpa sepatah kata aku pergi dari sana, tidak peduli lagi sama itu buku. Aku terlanjur kesal.
Dan itu suara Ferdinan. Sepertinya dia memperhatikan kami sedari tadi. Entahlah, yang jelas mood ku hancur berantakan berkeping keping, huh.
__ADS_1
Aku duduk manis menunggu Dimas selesai, walau wajahku sebenarnya tidak bersahabat, dan tidak berapa lama kemudian dia menghampiriku dan memberikan buku itu padaku. Aku dengan wajah masih kesal menerima bukunya dan dia dengan wajah tidak berdosa dengan santainya datang dan pergi.
"Makasih." ucapku tulus tidak tulus.
Seandainya dari tadi aku duduk manis, mengalah untuk tidak berebut sepertinya mood ku akan baik baik saja. Hah yasudahlah.
Tring...
Bel berbunyi tandanya jam pelajaran telah usai dan saatnya jam istirahat.
Aku tidak ke kantin, dan kebetulan juga Hana, Putri, dan Nadia tidak ada yang ke kantin. Alhasil aku pergi ke meja Hana, sekedar bercerita.
Putri dan Nadia masih terlihat belum beranjak dari meja mereka, sepertinya mereka sibuk, entahlah.
Aku dan Hana mulai bercerita, bagaimana kami saat berada di bangku SMP dulu. Bagaimana ambis nya kami saat menjadi anak SMP dan bisa bisanya niat belajar kami sekarang anjlok, haha.
Kami bercerita tentang semuanya, kami memulainya dari awal, tentang keluarga, cita cita , hingga sampai ke topik cinta.
"Eh Na, liat noh Ferdinan," kataku sambil menunjuk Ferdinan menggunakan daguku.
Saat itu dia juga sedang berkumpul dengan teman-temannya. Mereka tidak jauh dari posisi kami saat ini. Jika kami di barisan kedua, maka mereka di barisan sampingnya.
Sepertinya mereka sedang bercanda, dan saling tertawa. Aku yang melihat hal itu langsung saja terhipnotis dengan senyum yang dia miliki. Manis, sangat sangat manis.
Mataku tidak berhenti memandang ke arahnya, entah dia sadar atau tidak, yang jelas dia sangat asyik bercerita bersama teman-temannya.
Hana menoleh ke belakang ke arah yang ku maksud. Karena saat itu posisinya Hana membelakangi mereka dan aku memghadap arah mereka.
"Ciee ada yang lagi naksir seseorang nih," goda Hana padaku
"Ish apa sih Na, siapa coba yang gak terhipnotis sama senyuman dia itu. manis, sungguh sangat sangat manis," ujarku masih memandangi pemandangan yang sungguh indah ini.
"Hah? serius?"
"Iya, dan besokmya dia langsung pakai papan nama, dan dari situ aku tahu namanya. kami juga sempat berkenalan saat itu," jelas Hana menceritakan
Aku manggut-manggut saja mendengar cerita Hana. Aku kembali melihatnya, dan kembali dia tertawa lepas.
Ingin rasanya aku terbang saja, batinku dan tanpa sadar aku juga ikut tersenyum.
"Ehm, awas diabetes," ujar Hana menyadarkanku dari lamunanku.
Aku langsung tersentak, maluuu ketahuan liatin anaknya orang, haha.
"Hahaha, udah embat aja, aku dukung 100%" kata Hana sambil tertawa melihat wajahku yang masam.
"Liat nanti aja deh, takutnya dia ada yang punya," jawabku santai, padahal aku senang Hana mendukungku, haha.
Diam diam aku berdoa dalam hati agar kelak kami bisa bersama, hehe.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, aku lekas membereskan barang barangku, dan berdiri dari kursiku, siap untuk pulang ke rumah memakan apa saja yang ada, karena aku sudah sangat sangat kelaparan.
Mengerjakan soal kimia yang bisa di bilang sangat susah tadi membuat perutku amat sangat kelaparan. Cacing cacing di perutku sudah demo minta makanan.
Aku berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah yang dipercepat, berharap bisa segera sampai di rumah agar aku lekas makan.
Entahlah, di otakku saat ini hanya makan makan dan makan. Jika biasanya aku sabar menunggu siswa yang lain pulang agar tidak berdesak desakan, tapi tidak kali ini.
__ADS_1
Aku tidak peduli lagi.
"Eh tunggu, tadi apa? aku cerita sama Hana? tetang Ferdinan? lah mampus aku. bisa-bisanya aku cerita kalo aku suka sama dia, wahh gawat nih, bisa heboh satu kecamatan kalo gini ceritanya. lagian kok tolol amat sih Nis pake cerita segala haduhhh ribet nih urusannya" aku bermonolog sendiri merutuki kebodohanku. Bisa bisanya aku menceritakan hal seprivat itu kepada orang lain.
Ya walaupun kami sudah berteman, tapi ini masih tahap awal, aku belum benar benar mengenali sifat mereka.
"Dan kalo sampe Ferdinan tahu, gimana dong? hadehh Nisaaa Nisa, ah tau ah semoga aja Hana ga bocor," gumamku kembali dalam hati.
Ya mau bagaimana lagi, sudah terlanjur cerita, hadehhh.
Tin tin
Suara klekson motor yang terasa familiar bagiku membuyarkan lamunanku. Aku yang sedang berjalan sambil menunduk layaknya orang yang sedang merenung, mendongak menatap manusia satu ini.
"Kamu kenapa jalan lemas gitu, kayak udah ga makan setahun aja," tegurnya
"Lapar," jawabku singkat jelas padat, di dukung oleh ekspresi malas dan niat tidak niat mau menjawab.
"Lapar banget yah? sampe mukanya kusut gitu,"
"Hmm," aku hanya berdehem saja, pikiranku sedang kacau karena mulutku yang sangat lancang bercerita hal se privat itu. Harusnya tidak ada yang tahu, cukup aku saja.
"Hahaha, lucu kamu kalo cemberut gitu. yaudah ayo aku anterin pulang, daripada kelamaan nunggu angkutan umum,"
"Enggak, makasih,"
"Enggak ada penolakan Nisa, cepetan naik nanti kelamaan kamu tambah lapar dan berubah jadi singa, haha" ujarnya memaksa diikuti tawa di akhir kalimatnya.
"Hufft selalu saja memaksa," gumamku pelan, tidak tahu dia mendengar atau tidak, aku tidak peduli, dan lekas naik. Tidak ada gunanya melawan, yang ada tambah emosi karena yang di lawan pun orang yang suka memaksakan kehendaknya sendiri. Sangat tidak berperikemanusiaan.
Kali ini dia langsung mengantarku pulang, tidak singgah ke tempat yang aneh aneh, sebenarnya tidak aneh, tapi dia suka sekali mengubah arah jalan ke rumahku.
Tapi kali ini sepertinya dia memang takut aku memgamuk, haha. Aku lekas turun dari motor.
"Langsung makan yah, jangan main hp dulu," katanya memperingatkan ku.
"Iyaa, makasi yaa" jawabku seadanya.
"Yaudah aku pulang ya, nanti malam aku telpon," pamitnya segera melajukan motornya meninggalkan aku yang masih bengong di pinggir jalan.
Apa katanya tadi?
Telpon?
Nanti malam?
What.!!?
Yasudahlah, terserah dia saja. Aku sih yes, haha.
Dan kalian know lah dia siapa, siapa lagi kalau bukan sang pangeran, Ferdinan. Heheh
Aku lekas menuju rumah, dan masuk setelah selesai membuka sepatuku terlebih dahulu.
Aku sudah sangat kelaparan. Tapi sebelumnya aku mengusahakan untuk ganti baju dulu, baru setelahnya makan.
Dan setelah selesai makan, perutku sudah membaik, cacing-cacing di dalam sepertinya sudah kenyang. Baiklah, mari kita ke kebun, membantu Ayah dan Ibu. Aku tidak ingin menjadi anak durhaka yang bersenang senang saja di rumah. Aku juga ingin membantu mereka. Selagi masih di samping mereka, aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama mereka, menemani mereka di umur mereka yang sudah tidak muda lagi.
__ADS_1
Aku sadar, setelah tamat SMA tidak akan banyak lagi waktuku untuk terus bersama mereka. Aku punya cita-cita ingin kuliah, dan pastinya akan ke kota. Dan sudah bisa di pastikan, aku tidak akan berada di sisi mereka dan aku akan jarang pulang. Maka dari itu, aku ingin memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya untuk bisa dekat dengan mereka.