
"Pagi anak-anak,"
"Pagi Bu..."
Hari ini seperti biasa, kami kembali belajar seperti hari hari biasa karena UTS sudah selesai. Jam pertama ada les Bu Wati, wali kelas kami. Nampaknya dia ingin memberikan suatu berita penting.
.
.
.
"Baik, hari ini kita tidak belajar banyak, karena ibu ingin memberikan kabar gembira buat kalian semua," kata Bu Wati.
"Apa tuh buu?"
"Wihh apa nihh"
"Kabar apa bu?"
Seketika kelas menjadi heboh karena penasaran akan kabar gembira apa yang akan disampaikan oleh wali kelas kami.
"Hahaha tenang, tenang, ibu ingin memberikan undangan kepada kalian, ini undangan khusus dari ibu untuk anak anak ibu," ujar Bu Wati sambil meletakkan undangan tersebut di atas meja siswa paling depan. Kami langsung berkumpul ke meja itu untuk melihat. Kami membuka undangan itu, dan dengan seksama kami membaca nama yang tertera di sana.
"Wahh nikah donggg,"
"Selamat ibuu,"
"Yah nikah, wali kelas kami siapa dong bu? masa jadi anak tiri?"
"Yeay ke kondangan, makan gratis yeay,"
"Huuu,"
Berbagai macam reaksi dan tanggapan kami, ada yang ikut bahagia mendengar kabar gembira ini, ada juga yang loyo karena wali kelas ter cantik harus pergi terlebih lelaki di kelas ini. Belum juga nyampe satu semester udah main tinggal aja.
"Hahaha, Ibu tunggu kedatangan kalian yah, dan nanti soal wali kelas mungkin akan digantikan oleh Bu Rama atau bisa jadi Pak Rudi."
"Yahh ga asik lagi dong,"
"Eh Bu, calon Ibu ganteng gak?" tanya Karel membuat kami semua langsung menoleh ke arahnya. Kenapa bocil satu ini nanya gitu?
"Jelas ganteng dong, kalau tidak ganteng Ibu mana mau," jawab Bu Wati santai.
"Sebelas duabelas lah sama Ferdinan," lanjutnya membuat kami cekikikan, dan dibalas tawa juga oleh Ferdinan. Memang tidak bisa dipungkiri, Ferdinan itu sangat amat tampan, juga manis. Bu Wati saja sudah berkata seperti itu, jadi apa lagi yang mau diragukan dari ketampanan seorang Ferdinan. Tak salah jika dia jadi rebutan, haha.
"Nanti jangan dekat dekat ya Nan sama Ibu, nanti calon Ibu cemburu," katanya lagi menggoda Ferdinan. Aku yang mendengar itu langsung memutar bola mataku malas.
Kami hanya asyik bercerita dan bercanda sepanjang jam pelajaran, juga Bu Wati memberikan nasehat kepada kami agar tetap kompak dan tidak membuat ulah. Selesai cerita kami lekas mengambil gambar bersama Bu Wati sebagai kenang-kenangan, karena beliau tidak akan masuk lagi.
__ADS_1
Kami berpose, memberikan senyuman terbaik yang kami miliki.
Kring....
Bel berbunyi, saatnya jam istirahat. Kami mengakhiri kegiatan berfoto. Setelah Bu Wati keluar dari ruangan kami juga keluar ingin mengisi perut yang sudah kelaparan atau sekedar duduk di taman sekolah.
\*\*\*\*\*\*
Saat ini kami sudah selesai belajar, dan saatnya pulang. Tapi berhubung hari ini hari jumat dan sudah menjadi program mata pelajaran olahraga bahwa di hari jumat akan diadakan latihan renang ke kolam, dan itu wajib untuk seluruh siswa.
Jadi setiap hari jumat akan ada dua kelas yang ke kolam, dan hari ini adalah jadwal kelas kami bersama IPA¹.
"Ciee ciee Nadia.. bisa pacaran nih mereka di kolam nantii," ujar Hana menggoda Nadia. Nadia yang di goda langsung memasang wajah cemberut, tapi tidak dapat menyembunyikan raut bahagia nya atau lebih tepatnya salting.
"Ehm jadi nyamuk donggg," sambung Putri ikut ikutan, dan di sambut tawa kami bertiga. Sedangkan yang di goda langsung memalingkan wajahnya.
"Ish apa sih weee," rengek Nadia yang kami sambut dengan tawa terbahak bahak.
.
.
.
Kring...
Bel tanda pulang berbunyi. Kami yang jadwal kelas nya ke kolam tetap di ruangan, walaupun ada sebagian yang pulang lebih dulu untuk makan siang dan ambil baju. Tapi itu hanya untuk yang jarak rumahnya dekat dengan sekolah, selebihnya tinggal di kelas karena mereka sudah membawa bekal dan baju renang.
Aku yang tadi pagi lupa membawa baju renang dan baju ganti menjadi panik sendiri. Benar benar tidak ada yang aku bawa satupun, baik itu bekal atau baju karena aku memang benar benar lupa. Sebenarnya bisa saja aku pulang ke rumah untuk mengambil baju dan sekalian makan siang karena jarak rumahku dengan sekolah juga tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 15 menit jika berjalan kaki.
Sebenarnya tidak masalah. Bukan kah kami sering pulang bersama? Namun aku terlalu takut akan penolakan. Aku tidak yakin dia akan mau mengantarku pulang untuk mengambil baju.
Bukan apa-apa, namun belakangan ini dia sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, namun hatiku mengatakan dia mulai menjauh.
Aku selalu memperhatikan setiap hal yang dia lakukan padaku, sehingga perubahan sekecil apapun bisa aku rasakan.
Tapi semua itu aku tepis, dan aku memberanikan diri untuk meminta tolong padanya. Aku lekas beranjak dari tempat dudukku untuk menemuinya sebelum dia pulang. Karena sepertinya dia juga akan pulang terlebih dahulu. Kelamaan berfikir hanya akan membuang buang waktuku saja.
"Em Nan, bisa numpang sama kamu gak sebentar? aku mau pulang dulu ambil baju, cuman sekedar nganterin pulang aja, habis itu pas balik lagi ke sekolah aku sendiri aja," ujarku pelan kepadanya. Jujur aku gugup, karena dia juga tidak seperti biasanya.
"Eh Nis, maaf ya gak bisa, aku mau pulang bareng teman aku soalnya," ujarnya menolak.
"*Hufftt sudah kuduga*,"
"Ooh yaudah deh kalau gitu,"
Aku menghela nafas kecewa. Dan tepat sesuai dengan dugaanku. Aku segera berlalu dari sana menahan sesak di dada. Walaupun hanya penolakan kecil, tapi itu mampu membuat dadaku sesak.
Memangnya kenapa jika dia akan pulang bersama temannya? Apakah dia malu berboncengan denganku yang jelek ini? Bukankah selama beberapa bulan ini dia yang selalu memaksa ku untuk ikut dengannya? Tapi sekarang apa? Dan siapa temannya itu? Kenapa dia sampe gak mau sama aku? Yasudahlah, nasib jadi jelek.
__ADS_1
Aku lekas mencari teman yang kiranya bisa di ajak pulang. Dan akhirnya ada, karena dia jua sekalian ingin mengambil baju. Namanya Cindi. Untuk ketiga temanku? Mereka sudah pulang sedari tadi karena jarak kos mereka juga dekat dengan sekolahm hanya saja karena kami berbeda arah makanya kami tidak bersama.
Kami berdua lekas meninggalkan ruangan kelas. Dan saat sudah berada di gerbang sekolah, tiba tiba ada suara klakson motor dari belakang.
Tin
Tin
"Ayok Nis, jadi gak?" katanya dari arah belakang. Dan tanpa menoleh pun, aku sudah bisa menebak siapa pemilik sepeda motor itu, dan suara itu. Aku berpura pura tidak mendengarnya. Hatiku masih kesal dengan penolakannya beberapa menit yang lalu. Aku berpura pura tertawa bersama Cindi agar kepura puraanku terlihat lebih natural.
Karena tidak ada jawaban dariku, dia lekas melewati kami begitu saja. Aku sekilas meliriknya, dan dia diam begitu saja, lewat dari hadapan kami.
"Katanya mau pulang bareng teman, tapi ini apa? mana temannya yang dia bilang tadi? kenapa dia malah tiba-tiba ngajak aku lagi?" Aku bingung melihat sikapnya, seakan akan dia bukan Ferdinan yang aku temui di awal dulu. Dan lagian mana mungkin lagi aku akan pulang bersamanya, sedangkan aku sudah bersama Cindi. Mau aku kemanakan Cindi ini? Masa aku campakkan begitu saja.
"Maaf ya Nan, tapi aku juga tadi udah terlanjur kecewa," ucapku yang hanya mampu aku katakan di dalam hati.
.
.
.
Kami berdua lantas melanjutkan perjalanan kami, dan sampailah kami di rumahku. Aku makan terlebih dahulu, juga Cindi yang aku ajak. Tidak mungkin kan, jika aku makan tapi dia tidak? Teman macam apa itu.
Setelah selesai makan dan mengambil baju ganti dan baju renang, kami lekas pergi menuju kosan Cindi. Oh iya dia juga anak kos. Tapi berhubung jarak antara rumahku dan kosan nya jauh, kami memilih menaiki angkutan umum saja agar kami tidak terlambat.
.
.
.
Dan disinilah kami sekarang, dengan nafas yang ngos ngosan karena lelah berlari. Sepertinya kami berdua terlalu santai. Buktinya bus yang akan membawa kami ke kolam sudah datang, dan semua siswa sudah naik ke dalam bus, juga guru olahraga.
"Huh hah hoh haaahhh" kami masih mengatur nafas kami, menenangkan diri.
"Capeekk," ujarku menyenderkan bahuku di kursi penumpang.
"Lagian kalian kenapa bisa lama sih? untung aja aku perhatiin kalo kamu ga ada disini. kalau tidak, sudah bisa dipastikan kalian akan ketinggalan," ujar Hana. Tadi memang aku melihat Hana akan berjalan menuju arah rumahku, tapi karena batang hidung kami berdua sudah kelihatan, dia mengurungkan niatnya dan berteriak menyuruh kami berlari.
"Makan, trus ganti baju, hehe. lagian juga tadi ke rumah Cindi juga, karena dia juga engga bawa bekal sama baju," jawabku setelah bernafas dengan normal.
"Kenapa engga sama Ferdinan aja tadi? dia juga sepertinya pulang,"
"Aku mana tau," jawabku malas sambil mengangkaat bahuku pura-pura tidak peduli. Aku tidak akan menceritakan apalun tentang hari ini.
Berbicara tentang anak satu itu, aku lekas mengedarkan pandanganku mencari cari keberadaannya. Tidak ada, mungkin dia di bus satu lagi.
Bus berangkat, dan kami menikmati perjalanan kami hari ini, dari mulai berangkat, sampai di kolam, berlatih beberapa gerakan, hingga akhirnya kami pulang.
Ternyata asyik juga renang ramai ramai seperti ini. Putri juga ternyata bisa berenang, terlebih Nadia. Yang bengong-bengong di antara kami berempat hanya aku dan Hana, karena kami sedikutpun tidak tahu menahu tentang renang. Yang kami lakukan hanyalah cekikikan ketika di surug mempraktekkan gaya renang dan menolak dengan satu kaki atau dua kaki.
Kami berdua memang tidak bisa di ajak serius, haha.
__ADS_1
**Hallo gaess, jangan lupa like, komen nya yaa... Aku tungguu😉**