Sederhana Namun Istimewa

Sederhana Namun Istimewa
#..?..#


__ADS_3

Hana masih ribut di grup chat, sibuk menanyakan siapa saja yang akan ikut malam ini. Dan, yang sudah dipastikan ikut yaitu Riko, Dimas, Ferdinan. Hanya mereka bertiga saja yang mengaku bisa datang, yang lain masih mikir.



Ting



Ponselku berbunyi, ada pesan masuk, dan setelah aku cek ternyata dari Hana.



"Nis, kamu datang yaa, plisss. Kalo Ibu kamu gak kasih izin kasi telponnya ke ibu biar aku yang ngomong,"



Begitulah isi pesan Hana yang berkali kali membujukku agar aku datang. Ya aku mau aja sih sebenarnya, tapi kalau ibu dan ayah gak kasih izin aku juga gak berani ngebantah.



Aku hanya meng iyakan saja, capek juga lama lama, haha.



\*\*\*\*\*



"Nisa, ibu minta tolong dong kamu ke warung bentar beliin minyak, soalnya ini ibu liat gak cukup lagi," ujar Ibu saat kami akan memasak untuk makan malam.



"Oh iya Bu, sebentar yah," jawabku dan langsung beranjak dari tempatku.


.


.


.


Aku membuka pintu, dan sedikit heran saat melihat sebuah sepeda motor berhenti di sebrang sana. Aku lekas berjalan ke halaman, dan karena saat ini sudah malam kira kira jam setengah delapan, aku sedikit kesusahan mengenali objek di depan mataku.



Semakin dekat dan semakin dekat, aku bisa mengenali siapa pemilik sepeda motor itu.



Deg



Ferdinan.



"Eh Nan, jadi manggangnya?" tanyaku lebih dulu menyapanya.



"Ya jadilah, makanya ayok, ikutan aja napa," ajaknya membujukku.



"Engga ah, aku gak ikut, gak dibolehin sama Ayah Ibu,"

__ADS_1



"Ish ayolah, yakali cuman kami berempat, dan Hana doang lho cewek,"



"Aku gak berani ngebantah, hehe," jawabku sambil nyengir kuda.



"Eh katanya Riko juga ikut, mana? kok gak keliatan?" lanjutku bertanya. Karena memang kesepakatan mereka Riko juga datang.



"Itu masih di belakang," jawabnya sambil menunjuk ke belakang, dengan wajah yang entahlah.



Dan tak lama, Riko datang, ternyata dia datang bersama teman sekelas kami juga, cewek, namanya Geby.



"Ayolah Nis, biar rame loh, biar dia juga ada temennya," ujar Riko ikut ikutan membujuk.



"Kalian saja, aku masih ada kerjaan,"



"Ck, ayok aja napa sih Nis? atau mau aku larikan saja dari sini?!" ujar Ferdinan memaksa, tapi masih bisa mengontrol emosi nya, terlihat dari nada nya yang lembut tapi penuh penekanan.



Dalam hatiku sebenarnya ingin sekali ikut, apalagi berboncengan dengan Ferdinan. Tapi apalah daya, aku juga sudah berusaha membujuk kedua orang tuaku, tapi mereka tidak mengizinkan ku keluar malam.




Itu kata Ibu saat aku minta izin. Kesal? Pastinya, hehe. Aku seperti anak kecil dimata mereka, yang akan kenapa kenapa jika aku keluar malam, padahal sama teman sekelas. Dan ini bukan acara hura-hura, Ibu tolonglah,, di zaman Ibu saja hal seperti ini di sebut hura-hura, aaa Ibuuuu.. Berawal dari minta izin, ujung ujungnya malah diceramahin, haha.



"*Ingat nak, keadaan keluarga kita, tidak usah terlalu ikut ikutan dengan mereka, mereka mungkin ada biaya untuk itu, sedangkan kita? Dan kamu tidak berpikirkah dari mana ikan kalian jika tidak dibeli? Dan semua bumbu bumbunya? Uang nak, uang. Kita* **bisa makan saja sudah syukur** . *Jadi nak, mengertilah*.."



Dan kata kata Ibu mampu membuatku bungkam. Tidak lagi melawan, tidak lagi merengek minta agar di izinkan. Apa yang dikatakan oleh Ibu benar, aku tidak seharusnya terbawa arus bersama mereka yang serba ada. Aku tahu Ibu bukan bermaksud melarangku untuk berteman, tapi lebih mengingatkan ku agar bisa mengontrol diri tidak ikut ikutan dengan gaya hidup mereka.



Aku langsung mengehela nafas dalam, dan langsung meminta maaf pada Ibu karena di awak tadi aku terkesan memaksa.


.


.


.


Dan setelah perdebatan panjang, dengan kaki ku sudah banyak di gigit nyamuk karena kelamaan berdiri berdebat dengan mereka, akhirnya mereka pergi melanjutkan perjalanan menuju kos Hana, dan aku lanjut ke warung membeli pesanan Ibu.


.


.

__ADS_1


.


Berhubung ini malam minggu, aku akan sedikit bersantai dulu. Aku ingin merilekskan pikiranku dari segala tumpukan tugas mulai senin sampai sabtu. Dan berhubung semua tugas ku sudah selesai kemarin, maka malam ini aku BEBAS, hahaha.



Aku kembali membuka hp ku, membuka sosial media Facebook. Tidak banyak yang kulakukan, hanya tarik ulur beranda saja. Aku kepikiran untuk melihat isi beranda sobat ku. Jemari lentikku lekas mengetikkan satu nama di kolom pencarian, dan aku membuka sosial media milik Hana. Aku mengobrak abrik isinya, terlihat disana foto profil nya dengan wajah imutnya, dengan foto sampul kartun tema romansa. Ku lihat lihat foto yang dia unggah, disana banyak sekali foto sewaktu dia SMP bersama teman temannya. Tak jarang juga ada kata-kata cinta yang menurutku alay bin lebay. Haha



Lanjut ke Nadia, dengan foto profil candid, foto sampul pemandangan. Foto-foto yang di unggah juga lumayan, ada bersama keluarga, saudara, dan teman SMP nya.



Putri, dengan foto profil wajahnya yang sangat cantik, dan juga foto sampul dengan wajahnya berlatar belakang danau. Sepertinya saat sedang rekreasi dengan keluarga. Aku mencari cari unggahannya, dan hanya beberapa foto yang aku dapatkan. Dia sepertinya tidak menyukai yang namanya mengunggah. Dia lebih menyukai privasi, haha.



Selesai stalking, aku lanjut kembali tarik ulur beranda, dan saat asyik dengan kegiatan itu, notifikasi dari grup 'manggang' masuk.



'*Ferdinan send photo*'



Aku lekas membukanya, dan melihat beberapa foto mereka yang sedang memannggan.



"Antar ke rumahku yaa," balas ku sambil bercanda. Iyalah bercanda, tidak mungkin mereka mengantar ikan itu kerumahku. Ada ada saja.



"Datang sini, enak aja," balas Hana



"Hahaha," balas ku dengan di ikuti emoticon tertawa.



Setelah itu aku memilih untuk tidur saja, sudah mengantuk juga. Jam juga sudah menunjukkan pukul 22.00. Saatnya untuk tidur, berkelana ke alam mimpi.


.


.


.


Ah sudah pagi ternyata. Baiklah mari kita mulai hari ini dengan senyuman termanis. Jika hari minggu tiba, aku memilih untuk membereskan rumah saja, juga menyiapkan seragamku untuk besok. Mulai dari mencuci seragam hingga menyetrikanya. Aku terbiasa melakukannya sendiri, dan sudah di ajarkan sejak duduk di kelas 4 SD.



Bayangkan saja anak sekecil itu sudah di ajarkan untuk menyetrika. Dan aku tidak keberatan sama sekali, karena aku juga senang bisa menyetrika baju sendiri saat usia ku masih cocoknya bermain di halaman rumah. Juga Ibu yang selalu sabar mengajariku bagaimana cara menyetrika baju yang benar. Ayah juga tak kalah semangatnya mengajariku menyetrika dan memasak.



Ya, menyetrika, mencuci baju, memasak, itu sudah diajarkan sejak aku duduk di bangku SD. Status sebagai anak satu satunya tidak membuatku menjadi manja, justru aku di tuntut untuk menjadi anak yang mandiri.



Aku merasa bangga pada diriku sendiri, walau saat itu hasilnya tidak begitu bagus, tapi aku bisa melakukannya. Mungkin didikan orang tua ku terkesan terlalu keras, tapi dunia akan lebih keras lagi saat kita sudah mengetahui banyak hal, saat kita beranjak dewasa. Mungkin itu sebabnya Ayah dan Ibu mendidikku dengan cara seperti ini, agar aku kuat. Karena nyatanya dunia tidak seindah saat kita masih kecil, yang masalah hidupnya hanya ketika disuruh untuk tidur siang tapi tidak mau. Dan setelah besar rasanya tidak ada kesempatan untuk bisa tertidur sedetikpun saat siang hati. Selelah itu jadi dewasa. Hufttt


__ADS_1


**Hallo gaes, apa kabar? Semoga sehat selalu ya, readers tercinta.. Author cuman mau bilang, jangan lupa like nya, komennya juga boleh, biar author makin semangat up nya😊 kalau ada salah tolong di ingatkan ya sayang,,, biar karya ini terus berkembang.. Author butuh dukungan kalian semuaa😊 bantu author ya teman teman... ini karya pertamaku, maklum kalau aku masih kurang pro, heheh. Makanya aku butuh kalian semua untuk membantu karyaku ini menjadi karya yang bagus..**


Sekian dulu ya gaes, see you di eps berikutnyaaa... Peluk jauh dari aku😉😘


__ADS_2