
Kinggg
Bel berbunyi, saatnya istirahat untuk sekedar refresh otak dan meregangkan otot yang sudah tegang.
Dan disinilah aku sekarang, duduk termenung di kursiku, memperhatikan lapangan sekolah yang sudah dipenuhi oleh siswa yang berjalan mondar mandir. Aku mengamati suasana lapangan dan kelas saat ini. Seorang diri, di kursiku.
Tidak ada niatan untuk beranjak sedikitpun dari duduk ku, aku sedang malas gerak. Ya walaupun memang tiap hari juga malas gerak sih, tapi kali ini malas nya berkali kali lipat.
Nadia, Hana, dan Putri juga sudah keluar katanya mau ke kamar mandi sebentar. Tadi mereka mengajakku, tapi dasar akunya saja yang memang malas.
Kelas yang ribut tidak mengusikku sedikit pun. Bagaimana tidak, bahkan jiwa ku saja entah sudah di belahan bumi bagian mana..
Jreng...
**Jangan kau salah menilaiku
Dengan semua sikap diamku ini
Jauh di dalam lubuk hatiku
Terukir indah
Namamu**
.....
Suara dua manusia yang sedang bernanyi sambil bermain gitar itu sedikit mengusik hatiku yang aman tentram damai. Suara mereka sungguh tidak ramah di telingaku.
Aku mengalihkan pandanganku dari jendela kelas, menoleh ke samping ku siapa gerangan yang sedang bernyanyi.
Saat aku menoleh, mataku dan mata Ferdinan langsung bertemu,
Deg deg serrr
Mata kami bersitatap sejenak, dan tidak lupa dia tersenyum ke arahku, dan detik berikutnya aku langsung memutuskan kontak mata kami. Aku langsung memalingkan wajahku. Entah sudah bagaimana bentuk wajahku saat ini.
Ternyata yang menjadi biduannya adalah Ferdinan, dan yang menjadi gitarisnya adalah Riko.
__ADS_1
"Ini dia nyanyi kenapa yang di tatap malah aku? yakali namaku terukir indah di dalam hatinya," gumamku dalam hati, tidak habis pikir dengan hal yang terjadi barusan. Untungnya Riko tidak memperhatikan kami.
Aku berusaha tenang, menetralisir persaanku. Saat ini jantungku berdetak dua kali lebih cepat, sangat tidak baik menatapnya lama lama. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung. Dan jangan lupakan juga terkena serangan diabetes karena senyumnya yan mengandung gula itu.
Aku akan lebih giat lagi mempelajari mapel kimia agar aku tahu seberapa banyak kandungan gula yang terdapat dalam senyumannya. Eh
Setelah lebih tenang, aku memutuskan untuk bangkit dari tempat dudukku. Aku memilih menemui Nadia dan yang lain, karena kebetulan mereka sudah datang dari kamar mandi.
Berlama lama disini hanya membuat hatiku tidak tenang, dan itu tidak baik untuk kesehatan hatiku yang siap meleleh mendengar lantunan lirik lagu itu masih saja mereka nyanyikan.
Aku juga tidak berani lagi melihat ke arah mereka, takut tambah cinta, haha.
Kami bercerita seperti biasa, bercerita dan bercanda, dan jangan lupakan, kami juga nge gosipin guru yang sedikit tidak waras menurut kami.
Kami terus bercerita, sampai bel istitahat selesai, namun guru yang masuk tak kunjung datang, maka kami lanjut gosip. Tanggung, hihi.
"Kita free class, guru yang masuk ga hadir katanya lagi sakit," ujar ketua kelas kami yang langusng di sambut sorak sorai bergembira dari penghuni 10 IPA².
.
.
"Masih tahap pdkt," jawab Nadia. Dia sekarang pdkt dengan tetangga kelas kami, IPA¹.
Sedangkan Hana sendiri sudah jadian dengan kakak kelas 12, sang ketua OSIS. Hebat juga teman aku satu ini, dapat ketos yang di idam idamkan wanita di sekolah ini karena ketampanannya dan ke-cool an nya. Tapi tidak denganku. Aku bahkan tidak tertarik sama sekali dengan ketos itu. Aku lebih tertarik kepada Ferdinan. Daya tariknya lebih besar, hehe.
Untuk Putri, dia sendiri tidak ingin pacaran dulu. Selain mau fokus sekolah, dia juga malas dekat dengan laki-laki. Katanya bikin repot saja.
"Beban hidupku saja sudah banyak, masa mau nambah lagi pake pacaran"
Itu yang dia ucapkan selalu. Prinsip kami berdua sama, bedanya, sekarang sepertinya aku mulai mengingkari janjiku. Aku jatuh cinta. Tapi apa boleh buat, hati tidak bisa di prediksi kapan dan kepada siapa dia akan berlabuh.
"Kamu Put, sama abang yang sana gimana? bisa lahh agak agak di gas.." goda Hana pada Putri.
"Dia baik loh, ganteng, dan dia juga keliatannya sangat menyukaimu," lanjut nya.
Ya, begitulah. Putri sedang di dekati seorang laki laki, yang juga tetangga sebelah, bedanya dia di IPA³. Siapa yang tidak menyukai dan tertarik kepada seorang Putri coba. Dia cantik jelita, pintar, baik hati pula. Laki laki mana yang tidak akan tertarik padanya. Hampir semua laki laki di sekolah ini menginginkan dia, bahkan kakak kelas pun merasa tersaingi karena bidadari satu ini. Mereka seakan takut pasangan mereka berpaling meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Baik sih baik, tapi buaya. Kalian tidak tahu saja sudah berapa mantannya dan dimana saja berserakan," aku menimpali mereka. Bukan aku cemburu, namun aku memang mengenal laki laki yang sedang berusaha mendekati Putri.
Dia Rivaldo, teman satu kelas ku saat SMP. Kami memang tidak terlalu dekat, dan aku memang tidak pernah dekat dengan laki laki manapun, baik itu teman sekelasku.
Tapi sedikit banyaknya aku tahu tentang dia yang playboy. Bukan hanya aku, tapi seluruh siswa se angkatan ku dulu sewaktu SMP tahu kalau dia itu playboy. Gelar itu sudah melekat sejak lama pada dirinya.
"Tapi kamu sedikit mirip Put, sama mantannya dia waktu kelas sembilan. Sangat mirip, bahkan aku sempat berpikir kau adalah mantannya. Dan saat pertama kali aku melihatmu, aku lansung kepikiran, pastu dia bakalan deketin kamu, dan itu terbukti," sambungku yang mengingat bagaimana reaksiku dulu saat pertama kali melihatnya.
"Hahaha" kami tertawa, kecuali Putri yang sudah cemberut, haha.
"Jadi kamu Nis, si ehm gimana" tanya Hana sambil senyum senyum menggodaku. Menaik turunkan alisnya, melihatku dengan tatapan mengejek.
"Apa sih, tau ah malas," ujarku langsung memalingkan wajahku sambil senyum senyum malu.
"Hahaha" langsung saja mereka menertawakanku. Puas sekali.
Kami lanjut bercerita, dan beberapa teman laki laki datang menghampiri kami, ikut bergabung. Salah satunya Dimas. Kami memang cukup akur, sering berantam malah, tala hanya sebatas adu mulut dan itu hanya candaan kami.
Dimas yang duduk tepat di belakang bangku yang ku duduki saat ini. Karena kami memang kumpul di meja Putri.
Dia memain mainkan rambutku dari belakang. Sepertinya dia begitu menyukai benda yang namanya rambut, sehingga dia sudah seperti seorang tukang salon yang sedang mengurus rambut pasiennya.
Bukan hanya denganku, tapi juga dengan teman yang lain, siapa saja perempuan yang duduk di dekatnya pasti dia akan memainkan rambut perempuan itu.
"Ehm, awas nanti ada yang marah, Mas hati hati noh ada pawangnya," kata Hana membuatku melotot. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu. Sepertinya aku memang salah bercerita tentang hal ini pada mereka. Dan bisa ku pastikan, berita bahwa aku menyukai Ferdinan akan segera timbul ke permukaan. Baiklah, akan ku siapkan jiwa dan ragaku, semoga saja semua akan baik baik saja.
Aku langsung melirik ke samping, dan benar saja Ferdinan ada disana. Untungnya dia membelakangi kami, dan semoga dia tidak mendengar ucapan Hana tadi.
Sebenarnya tidak masalah jika dia mendengarnya dan melihat kegiatan ku dan Dimas. Toh aku dan Dimas tidak melakukan apa apa, dan dengan Ferdinan, aku juga tidak memiliki hubungan apa apa. Jadi wajar wajar saja aku mau dekat dengan siapa.
Tapi entah kenapa, aku ingin menjaga hatinya, menjaga perasaannya agar dia tidak cemburu. Lucu bukan?
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Berarti sebentar lagi bel pulang akan berbunyi. Dan benar saja, tidak lama kemudian bel berbunyi, semua siswa lekas membereskan barang-barangnya dan bergegas keluar ruangan.
Seperti biasa, aku menunggu sebentar agar tidak berdesak desakan. Bikin pengap saja. Dan ketika sudah mulai lenggang, aku beranjak dari kursiku dan lekas pulang.
__ADS_1
Tidak ada drama bertemu Ferdinan, karena sepertinya dia pulang sudah sedari tadi. Motornya juga tidak ada lagi di parkiran. Kemarin bisa pulang sama karena memang aku yang memutuskan untuk pulang cepat disebabkan oleh perut yang keroncongan.