
Tin
Tin
Suara klakson motor itu membuatku langsung menoleh ke arah pintu. Siapa yang datang siang-siang begini? Apakah ada tamu yang ingin menemui Ayah dan Ibu?
Baiknya aku buka dulu, siapatau penting. Jika memang tamu Ayah atau Ibu akan aku sampaikan nanti saat mereka sudah tiba di rumah.
Ayah dan Ibu memang sedang pergi ke acara nikahan anaknya om, jadi kemungkinan mereka akan pulang malam.
"Eh Nan, kamu? ada apa?" tanyaku setelah membuka pintu dan ada Ferdinan disana. Aku sedikit terkejut, dan bertanya tanya ada apa gerangan dia datang kemari.
Pasalnya, ini hari minggu, dan seingatku kami juga tidak ada tugas kelompok. Dan jika pun ada, pasti yang lain mengaabari di grup.
"Engga, aku cuman mau liatin kamu lagi apa," jawabnya santai.
"Emang aku kenapa harus diliatin?"
"Ck, ga dikasi masuk nih ceritanya?" bukannya malah menjawab, dia malah nanya balik.
"Engga, sorry ga boleh. di rumah cuman ada aku, bukan mikir macam-macam, tapi nanti jadi bahan omongan tetangga," jawabku sedikit ketus
"Eh tapi duduk di teras aja sini dulu, heheh," sambungku langsung, karena bagaimana pun dia tamu. Tamu tak di undang, hadeh..
"Aku bikin minum dulu ya, mau minum apa?" tanyaku padanya yang sudah duduk di kursi. Dan aku berdiri di depan pintu.
"Engga usah Nis, kamu masuk aja, ganti baju, trus kita pergi." jawabnya membuatku bingung.
"Ganti baju? kenapa?"
"Jalan-jalan," jawabnya singkat jelas padat, dan terkesan santai, sangat santai.
"Malassss,"
"Ayolah Nis, gak bosan apa di rumah terus,"
"Siapa yang di rumah terus, senin sampe sabtu sekolah, pulangnya ke kebun, malam nya tidur. nah mumpung lagi hari minggu, aku mau tidur aja. dunia lebih indah jika di nikmati dengan tidur," jawabku sambil nyengir kuda.
"Ish ayolah.. ibu mana, biar aku izin mau bawa anak gadis nya jalan-jalan," sedikit memaksa, dan apa katanya tadi? Ibu? Bukannya aku sudah bilang,, kalau di rumah hanya ada aku? Atau dia lupa?
"Ibu lagi pergi sama Ayah, lagian kok nanya lagi? tadikan aku udah bilang kalau aku di rumah sendirian, gimana sih," ujarku sewot.
"Eh iya heheh, yaudah sana siap siap aku tungguin,"
"Enggaaaaaaa, aku gamau."
"Ck, ayolah, lagian Ayah sama Ibu kamu pasti pulangnya malam, gak bosan apa sendirian di rumah," ujarnya masih membujuk, lebih tepatnya memaksa.
"Gak tuh, biasa aja," jawabku cuek
"Nis." ujarnya menatapku tajam. Aku langsung ciut, tidak berani membantah.
"Ehehe iya iya, aku mau kok, tunggu bentar yah," jawabku cengengesan memasang wajah kikuk.
"*Hufft, selalu saja memaksa, untung sayang*," batinku sambil memilih baju.
"Ini pake yang mana sih aaarrggghh," ujarku frustasi memilih baju yang mana yang akan ku pakai. Kok jadi bingung gini sih..
"Ini aja kali yak, yaudahlah ini aja, kelamaan milih baju nanti dia badmood." Aku memilih menggunakan kaos polos berwarna putih dipadukan dengan celana jeans hitam kebiru biruan, dan tak lupa memakai jaket, siapatau nanti pulangnya sore. Aku memakai sepatu putih dengan rambut yang di kucir. Pelembap untuk anak sekolah dan bedak my baby, di akhiri dengan liptint warna nude. Bukan apa apa, hanya saja agar kelihatan lebih fresh.
Mau jalan-jalan sama cowok ganteng, tapi masa wajahnya pucat, heheh. Walaupun seadanya, tapi itu sudah lebih dari cukup. Lagian masih anak sekolah.
Setelah selesai, aku lekas menghampiri Ferdinan yang sedang duduk di kursi teras rumah. Semoga saja aku tadi tidak lama, batinku.
"Udah?" tanyanya yang melihat kedatanganku
Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.
"Yaudah yok," katanya sambil berjalan menuju motornya.
Aku lekas mengunci pintu rumah, dan bergegas menemuinya. Setelah aku naik, Ferdinan segera melajukan motornya.
__ADS_1
"Mau kemana nih?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Kamu maunya kemana?" bukannya menjawab, lagi lagi dia balik bertanya.
"Lah aku mana tau, kan kamu yang ajakin, kalo aku ya aku maunya di rumah aja sih, tidur sepanjang hari. tapi karena kam...."
"Udah Nis udah. kebun teh aja mau gak?" belum selesai aku berbicara sudah dia potong. Aku tidak jadi mengeluarkan unek unek ku.
"Aku sih yes." jawabku seadanya.
"Lagian aku di tanya mau kemana, aku saja tidak pernah kemana mana," gerutuku di belakang tapi dengan suara pelan. Entah dia mendengarnya tau tidak, aku tidak peduli.
"Pegangan Nis, aku mau balap," ujarnya
"Engga mau ah, malas. kalo mau balap ya balap aja," jujur saja, aku masih sungkan.
"Oh yaudah" dan seketika dia menambah kecepatan, sehingga aku langsung reflek memeluknya karena takut terjatuh.
"Hahaha, udah dibilangin juga. ngeyel sih jadi orang," katanya tertawa senang.
Aku diam saja, masih berusaha menetralkan hati dan pikiranku. Jujur saja, situasi seperti ini sangatlah tidak baik untuk kesehatan jantungku.
"Jangan di lepas Nis, nanti jatuh. aku juga yang kena," ujarnya yang merasakan pelukanku melonggar .
"Dih, dasar modus," jawabku ketus padahal aku salting parah. Wajahku pun tidak tahu lagi entah sudah bagaimana bentuk dan rupanya. Sepertinya sudah memerah saat ini.
"Siapa yang modus? kan emang bener harus di peluk, nanti kamu jatuh kan bahaya Anisaaa," jawabnya mengelak, menolak modus.
"Lagian sama cowok ganteng kok," ujarnya lagi. Percaya diri sekali anda. Ya walaupun benar sih, haha.
"Hillih bicit," ucapku mencibir. Tapi dalam hati membenarkan ucapannya, yang mengatakan dia ganteng. 100% aku mengakuinya.
Motornya terus melaju membelah jalanan yang lumayan padat, karena hari ini hari minggu, jadi banyak orang yang bepergian untuk sekedar piknik.
.
.
.
"Mau makan apa?" tanya Ferdinan setelah kami memilih tempat duduk untuk sekedar makan atau setidaknya minum dulu.
"Kayaknya roti bakar aja deh, kalau minumnya apa aja," jawabku yang saat itu melihat penjual roti bakar disana. Seketika aku ngiler, dan aromanya begitu menggugah selera menambah rasa lapar di perutku saja.
"Yaudah tunggu sebentar yah," katanya sambil beranjak pergi.
Aku menunggunya sambil melihat lihat pemandangan di depan mata. Sungguh indah, di suguhi tanaman hijau seperti ini. Mataku dan otak ku langsung segar sejak pertama kali sampai.
Di sini juga di pasang berbagai pernak pernik, di hias sedemikian rupa. Kebun teh ini sudah menjadi salah satu tempat wisata karena pemandangannya yang sungguh indah. Sangat cocok jika ingin berfoto ria, dengan latar belakang hijau hijau.
Aku membayangkan jika aku berfoto di sini, pasti akan sangat cantik. Bukan orangnya, tapi pemandangannya, hehe.
Juga ada beberapa penjual beraneka macam jajanan, dan salah satunya roti bakar tadi. Bahkan sudah ada cafe. Ah berbicara tentang makanan, aku mengedarkan pamdanganku mencari sosok Ferdinan. Dan itu dia. Dia sedang berjalan ke arahku dengan membawa plastik berisi roti bakar dan air mineral.
"Nih, makan dulu abis itu menjelajag, hehe" ujarnya sambil memberikan roti bakar itu padaku. Dan dengan senang hati aku menerimanya.
"Makasiiiii.." jawabku sambil tersenyum, atau lebih tepatnya nyengir kuda.
"Punya kamu mana? engga makan?" tanyaku karena tidak melihat dia memegang roti. Masa iya hanya aku saja yang makan.
"Itu, bagi dua" katanya sambil menunjuk roti yang aku pegang.
"Hah? mana kenyang Nannn," aku tidak terima. Yang benar saja bagi dua.
"Yakin mau makan sendiri? itu dua porsi soalnya. kalo yakin ya gapapa, aku beli lagi. biar kamu kenyang, biar gemuk haha," jawabnya yang membuatku langsung memeriksa isi plastiknya.
Dan benar saja, itu dua porsi. Hampir saja, hehe.
"Eh hehe, maap yaa, yaudah ini," aku memberikan satu bungkus padanya.
__ADS_1
Kami memakannya dalam diam, tidak ada yang bersuara.
Setelah selesai makan dan membuang sampah pada tempatnya, kami lekas berrkeliling di sana. Kami mencoba beberapa permainan. Ternyata disini juga sudah di lengkapi dengan wahana permainan, meskipun masih beberapa.
"Nis, liat sini, oke senyum" katanya menginstruksi ku. Ferdinan mengambil beberapa gambar saat aku sedang bermain di wahana.
Setelah puas bermain, kami memutuskan menyusuri area lain. Kami mengunjungi tempat yang ada tulisan Kebun Teh XX. Kami berfoto bersama dengan mencoba beberapa aksesori. Aksesoris yang di maksud yakni topi dan keranjang, sehingga kami sudah mirip seperti petani teh yang sedang memetik daun teh.
Kami mencoba beberapa gaya, dari mulai yang normal hingga alay. Tak lupa juga berfoto sendiri sendiri.
.
.
.
"Terimakasih ya pak," ucap kami bersamaan, sambil membayar uang parkir.
Setelash puas menjelajah di kebun teh, saatnya kami ke puncak. Hari yang belum gelap, masih sekitar pukul 16.00. Dan juga, puncak searah dengan arah jalan kami pulang, jadi bisa dibilang kami singgah di sana.
"Mau nyoba apa dulu ini," kata Ferdinan setelah kami sampai di puncak, dan disana sudah terdapat banyak wahana, tidak lupa dekor dekor untuk photoboot.
"Kayaknya ga usah naik wahana deh Nan, gak kuat aku," jawabku memasang wajah takut. Bagaimana tidak, waahananya semua seperti menguji nyali, dan aku yang takut dengan ketinggian tentu saja tidak berani.
"Hahaha takut ya? yaudah kita foto aja, emm disana aja," usulnya sambil menunjuk satu tulisan yang bertuliskan "i love u"
Blush..
Deg deg serrr
Pipiku langsung saja bersemu merah. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan senyuman. Salting woee, tolong.
Dan hatiku, tolong kerjasamanya. Dia hanya sekedar meminta foto bersama. Dan tulisan itu, itu hanyalah sebuah tulisan yang wajar wajar saja di pasang, dan dia juga mengajakmu berfoto disana bukaan berarti dia mencintaimu. Itu hanyalah sebuah tulisan, dan karena tulisan nya indah, bagus juga, jadinya cantik untuk background foto.
Dan teruntuk jantungku, berdetaklahh sebagaimana detak jantung orang normal.
Dan pikiranku, tolong tenang, jangan rusak momen ini.
"Nisa, sini.. ngapain bengong disana," teriaknya yang ternyata sudah sampai di tulisan itu. Aku yang tersadar segera menghampirinya.
"Kenapa hm? lapar yah? nanti habis ini kita makan yaa," ujarnya lembut, selembut lembutnya sampai aku hampir saja pingsan mendengar suara lembutnya. Hallah alay, haha.
"Eng enggak kok gapapa, heheh," jawabku tersenyum kikuk. Jika seperti ini terus bagaimana aku bisa tenang. Ferdinan tolonglah, jangan buat aku salting begini, hadehh.
"Ehm ya-yaudah katanya mau foto," kataku lagi memalingkan wajahku. Pasalnya dia menatapku dengan tatapan yang entahlah. Aku jadi gugup dibuatnya.
"Ehm, bang, boleh minta tolong fotoin gak?" tanyanya meminta tolong pada salah satu orang yang kebetulan lewat di depan kami.
"Oh bisa bang bisa," jawab orang itu.
Ferdinan lekas memberikan hp nya, dan kami segera ber pose. Ada yang normal, ada yang alay. Bahkan ada juga pose peluk, haha. Ada ada saja. Hatiku semakin tak karuan dibuatnya.
Setelah foto berlatar belakang tulisa "i love u" kami masih mencoba berfoto dengan latar belakang berbeda beda, termasuk pemandangan di puncak. Dan sepertinya memori hp kami akan penuh. Di sebabkan foto kami yang sangat banyak.
Lelah dengan kegiatan foto, kami akhirnya memilih untuk makan. Kali ini kami makan ditemani jagung bakar dan teh manis dingin. Sepertinya nikmat. Kami tidak ada niatan untuk makan makana berat.
Setelah selesai makan, kami lekas pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Ternyata lama juga. Dan masih sama seperti ketika pergi tadi, dia masih saja modus minta di peluk. Dan karena malas debat aku turuti saja. Sudah lelah berjalan kesana kemari, malas untuk adu mulut, yang juga pada akhirnya aku yang kalah.
Dan, sudah sampai. Aku lekas masuk ke dalam rumah setelah dia pulang. Membersihkan tubuhku, dan makan. Aku bermain hp sebentar, terlihat Ferdinan mengirim foto padaku.
"Aku sudah sampai di rumah, dan ini foto kita tadi. lucu lucu semua. Dan selamat malam, selamat beristirahat" begitu isi pesannya.
Aku lekas membuka foto foto itu, dan benar saja, ratusan foto terpampan di layar. Sepertinya penyimpanan ku akan habis, haha. Aku membukanya satu per satu, sesekali tersenyum ketika melihat pose yang aneh. Lucu sekali.
Aku lekas tidur. Mataku sungguh mengantuk. Ayah dan Ibu tidak pulang malam ini. Mungkin besok mereka baru akan pulang.
__ADS_1
Baiklah, mari kita tidur. Cukup untuk hari ini, dan sampai jumpa senin, semoga harimu besok indah.