
"Baik anak-anak, silahkan pulang ke rumah masing-masing dan sampai bertemu hari senin," instruksi dari wakasek kesiswaan.
"Dan jangan lupa belajar, karena kita akan mengadakan UTS." lanjutnya
"Baik Pak.." jawab kami serempak, dengan berbagai macam bentuk wajah ketika mendengar kata UTS. Ada yang bersemangat karena sudah mepersiapkannya dari awal, ada yang gelisah galau merana, ada yang wajahnya sudah cemberut, ada juga yang biasa saja, terkesan tidak peduli.
"Baiklah, silahkan pulang" ujar bapak wakasek membubarkan barisan kami.
Sebagian banyak dari siswa/i langsung lemas ketika di pulangkan. Harusnya sih bahagia karena hari ini kami pulang lebih cepat. Namun mendengar kata UTS membuat semangat itu hilang entah kemana.
*****
Sesuai yang telah di umumkan pada sabtu lalu, hari ini adalah UTS hari pertama. Aku mengerjakan soal dengan baik, walaupun sedikit ngos ngosan karena hari ini mata pelajaran yang di ujikan adalah matematika peminatan. Tapi berhubung karena aku sudah belajar tadi malam, sedikit banyaknya aku bisa menjawab. Semoga saja hasilnya sesuai harapan.
.
.
.
Hari demi hari berlalu, dan UTS pun tinggal hitungan hari. Lebih tepatnya besok hari terakhir UTS. Tidak ada kesulitan yang berarti selama UTS ini. Semua berjalan dengan baik dan lancar.
"Besok mapel apa yah," gumamku dan segera melihat roster ujian untuk besok.
"Ah Agama, oke baiklah, sepertinya hanya perlu mengingat ayat-ayat nya saja, selebihnya aman,"
Aku lekas membuka buku pelajaran, membaca materi-materi dan menghapal beberapa ayat yang mungkin bisa saja muncul pada soal ujian.
Tidak butuh waktu lama, karena mapel Agama termasuk mata pelajaran yang bisa dibilang mudah. Aku lekas mencari keberadaan hp ku, berniat melihat lihat isinya sejenak sebelum aku istirahat.
Dengan buku yang masih terbuka, aku bermain hp. Lalu ku buka salah satu sosial media ku, dan seketika hatiku bergetar saat tau Ferdinan sedang online. Padahal dia hanya sebatas online saja, tapi mengapa hatiku sampai ada acara bergetar segala??
Aku lekas mengiriminya pesan. Entah keberanian dari mana? Entahlah, tapi aku ingin memastikan apakah dia belajar atau tidak. Terkadang manusia satu ini rada-rada malas.
**Mode pesan**:
*👩:Woee belajar... besok masih ujian, jangan main hp terus
👦:Hahaha iya iyaa, ini lagi belajar
👩:Belajar apaan sambil main hp? Mana bisa konsen
👦:Bisa dikit dikit
👩:Hadehh dikit pulaa, emang lagi belajar apa kalau boleh tauu
👦:Belajar untuk mencintaimu selamanya🤗😂*
Blush
Aku langsung senyam senyum gak jelas membaca isi pesannya barusan.
"*Dih, gombal*" hanya itu kata yang mampu aku ketik. Aku masih saja senyum senyum. Salting hey. Jika saja tidak ada Ibu di belakang mejaku, sudah dapat di pastikan aku akan lompat-lompat saking senangnya. Ini saja hampir teriak.. Baper adek bang, hiks.
"Nak, kenapa senyum-senyum? Awas loh kesambet," tegur ibu ku yang melihatku senyum senyum sendiri.
"Hehe gak papa bu," jawabku nyengir kuda.
"Yaudah kalo gak papa kenapa senyum senyum? ada cowok ya? dia bilang apa?" tanya ibu. Kenapa ibuku jadi kepo seperti ini?
"Eh enggak kok bu, beneran engga ada apa apa," jawabku yang masih nyengir kuda. Aku juga was-was jangan sampai ibu mengambil hp ku dan melihat percakapan kami. Bisa habis aku.
"Yaudah kalo gitu belajar aja," jawab ibu akhirnya.
__ADS_1
"*Hufftt, amannn*"
"Hehe iya bu, udah selesai kok, ini Nisa mau beresin buku, abis itu istirahat,"
"Ooh yasudahlah kalau begitu, istirahat saja sana, besok masih ujian.. Ibu juga mau istirahat,"
"Iya bu,"
"Yasudah nak, ibu masuk ke kamar yah,"
"Oke ibuuuu, selamat malam, i love youuuu,"
Ibu hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkahku. Setelah ibu masuk kamar, aku juga lekas membereskan meja belajarku dan masuk ke dalam kamar.
Aku masih terus senyum senyum mengingat isi pesan dari Ferdinan tadi. Aku bahkan membacanya berulang ulang hingga akhirnya aku tertidur.
.
.
.
Ah, sudah pagi ternyata. Aku segera beranjak dari tempat tidurku, dan melakukan tugas, setelah itu bersiap untuk pergi ke sekolah. Hari ini langkahku terasa lebih ringan dari hari hari sebelumnya. Bagaimana tidak, hari ini hari terakhir UTS, dan mapel nya juga bukan mapel yang bikin kribo. Jadii, this day make me happy. Apalagi sudah mendapat vitamin penambah imun dari sang pujaan hati, Ferdinan. Ehehe
Aku berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelas ku. Sudah lumayan ramai, karena aku juga sedikit lama dari biasanya. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahku. Aku belum bisa move on dari kata kata Ferdinan tadi malam. Ah indah sekali jika hidup dengan mencintai seseorang.
"Eh Nan, belajar gak tadi malam?" tanya salah satu teman Ferdinan.
Saat itu aku telah sampai di ambang pintu kelas, dan ternyata Ferdinan sudah datang. Tumben sekali anak itu cepat datang. Biasanya juga lima menit sebelum bel berbunyi.
"Ha? iya belajar," jawabnya santai tapi terkesan tidak santai. Entahlah
"Iya belajar, belajar untuk mencintaiku kan Nan?"
Aku hanya lewat saja, berjalan ke arah bangku ku melewati mereka yang berkumpul di meja guru. Aku seolah tidak peduli pada apa yang mereka bahas, tapi diam diam telingaku mendengar tajam apa yang mereka bicarakan.
Ferdinan juga sepertinya berpura pura cuek, tidak melihatku sedikit pun. Tidak masalah, lagian aku juga tidak ingin menunjukkan kedekatanku dengan Ferdinan.
.
.
.
Kring...
Bunyi bel sekolah pertanda ujian telah selesai, dan saatnya pulang. Aku menghela nafas, lega rasanya ujian telah selesai. Akhirnya bisa tenang.
Aku beranjak dari tempat duduk ku, ingin pulang. Suasana juga sudah mulai sepi, jadi tidak akan berdesak desakan.
Tin
Tin
Suara klakson motor itu mengalihkan perhatianku dari jalanan. Saat ini aku sedang berjalan meleeati tempat parkir dan akan menuju gerbang. Aku langsung menoleh ke samping, dan sudah ada Ferdinan di sana dengan senyum terbaik yang dia punya.
Aku mengerutkan keningku seolah bertanya "Ada apa?"
"Ayok aku antar," katanya menawarkan diri untuk mengantarku pulang.
"Yakin bisa langsung pulang? engga kayak kemaren kemaren lagi?" aku tidak yakin akan langsung di bawa pulang, karena belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya saat dia juga menawarkan diri mengantarku pulang. Rumahku tidak ada jalan tekongan-tekongannya, tidak ada persimpangan untuk menuju rumahku. Hanya lurus saja. Tapi dia malah membuat tikungan-tikungan dsn persimpangan menuju rumahku.
Singgah kesana kemari, sehingga membuatku semakin lama sampai di rumah. Bikin repot saja.
__ADS_1
"Hehe, mau ngajakin makan juga sih," katanya dengan wajah tak berdosa.
"Tapi bentar doang kok, abis itu kita langsung pulang deh, janji. lagian kenapa harus cepat cepat pulang," lanjutnya ketika melihat aku ingin protes.
"Ayolah Nis, udah lama loh kita gak makan bakso," ujarnya lagi membujuk ketika aku hanya diam saja.
"Mmm yaudah deh" jawabku akhirnya setelah sekian lama berpikir. Tidak tega juga melihat wajahnya memelas seperti itu, haha.
"Yeay, yaudah naik," ujarnya kegirangan. Aku terkekeh kecil dibuat tingkahnya yang seperti anak kecil itu.
"Iya iya, jangan ngebut tapii," peringatku padanya.
"Ay ay kapten," lalu dia menjalankan motornya, sesuai kesepakatan tidak ngebut.
.
.
.
"Bang, baksonya dua" kata Ferdinan memesan terlebih dahulu dan di jawab iya oleh kang bakso.
Kami lekas mencari tempat duduk yang kiranya pas untuk memikmati makan kali ini. Kami memilih duduk di meja depan saja, dengan alasan agar bisa melihat lihat kendaraan yag lewat. Padahal itu hanya alasanku saja agar aku tidak terlalu kaku karena satu meja dengan cowok guanteng. Jika di dalam tidak bisa mengalihkan mata, tapi di sini bisa mengalihkan perhatian walaupun hanya secuil.
Padahal sudah biasa, bukan baru pertama kalinya kami makan bersama seperti ini. Tapi entah kenapa rasanya hatiku selalu saja tidak bisa santai, bahkan sekarang lebih tidak santai lagi disebabkan pesan tadi malam itu.
Jujur saja, aku semakin canggung.
"Di makan Nis, jangan diliatin aja, mau pulang kan? atau masih mau lama lama sama aku?" tanyanya menggodaku dengan menaik turunkan alisnya.
Aku yang tersadar langsung mendehem menetralkan suasana hati dan jantungku. Apakah aku bisa terbang saja? Rasanya tidk tahan jika makan berdua seperti ini, saling berhadapan.
Sepanjang makan, aku hanya menundukkan kepalaku saja, tidak berani mengangkatnya. Padahal aku sengaja memilih tempat duduk di depan agar bisa mengalihkan pandanganku pada jalanan, tapi ternyata semuanya sirna saat dia malah duduk di hadapanku.
"Udah?" tanyanya padaku yang sudah selesai meneguk secangkir teh.
"Ho oh" jawabku mengibas ibaskan tangan ku karena kepedasan. Bakso ku kebanyakan saos, dan pedasnya baru terasa sekarang.
"Hahaha muka kamu merah banget," ujarnya menertawakan ku yang kepedasan. Puas sekali dia menertawakan ku. Dasar. Aku hanya menatapnya tajam, sambil terus mengibas ibaskan tanganku. Kenapa pedasnya gak berhenti sih...
"Minum air hangat gih, biar sembuh," ujarnya sambil menyodorkan segelas air putih hangat padaku.
Aku langsung saja meminumnya karena memang sudah kepedasan sejak tadi.
"Hah huh hah kenapa makin panasss, ini lidahku penas woee!" aku menatap kesal kearahnya merasa dia telah mengerjaiku. Ini makin panas seperti terbakar rasanya. Yang di tatap malah tertawa membuatku semakin jengkel.
"Udah santai aja, bentar lagi juga pedasnya ilang," jawabnya santai.
Dan benar saja, sekarang pedasnya berangsur hilang, dan sudah membaik.
"Gimana? udah enakan?"
"Hmm iya," jawabku nyengir.
"Makanya kalo ga tahan pedas gak usah sok sokan mau makan pedas, repot kan," katanya sewot. Entah sejak kapan dia jadi cerewet begini?
.
.
__ADS_1
.
Setelah membayar baksonya, kami lekas pulang, dan dia benar benar menepati janjinya, hanya untuk makan bakso.